<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3509747544273203794</id><updated>2012-01-03T00:04:43.936+07:00</updated><category term='musik'/><category term='Suku'/><category term='tradisi'/><category term='budaya'/><category term='Seni'/><category term='tari'/><title type='text'>etnikprogresif</title><subtitle type='html'>Seni budaya kalimantan</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>mbah dinan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10973480357642906490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-zT11WGzH8D8/TrzZyXePTwI/AAAAAAAABGU/mvgB2aMy4Zc/s220/etnikprogresif.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>52</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3509747544273203794.post-6532729820276793156</id><published>2011-01-03T20:03:00.000+07:00</published><updated>2011-01-03T20:03:15.751+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Selayang Pandang Kalimantan Barat</title><content type='html'>&lt;div class="wp-caption alignleft" id="attachment_280" style="width: 310px;"&gt;&lt;a href="http://etnikprogresif.blogspot.com/" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" class="size-medium wp-image-280" height="180" src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/jldiponegoro19741.jpg?w=300&amp;amp;h=180" title="JL. DIPONEGORO1974" width="300" /&gt; JL. DIPONEGORO 1974&lt;/a&gt;&lt;div class="wp-caption-text"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;Kalimantan Barat adalah sebuah provinsi&amp;nbsp; di Indonesia&amp;nbsp; yang terletak di Pulau Kalimantan, dan beribukotakan&amp;nbsp; Pontianak. Luas wilayah Provinsi Kalimantan Barat adalah 146.807 km² (7,53% luas Indonesia). Merupakan provinsi terluas keempat setelah Papua, Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah. Daerah Kalimantan Barat termasuk salah satu daerah yang dapat dijuluki propinsi “Seribu Sungai”. Julukan ini selaras dengan kondisi geografis yang mempunyai ratusan sungai besar dan kecil yang diantaranya dapat dan sering dilayari. Beberapa sungai besar sampai saat ini masih merupakan urat nadi dan jalur utama untuk angkutan daerah pedalaman, walaupun prasarana jalan darat telah dapat menjangkau sebagian besar kecamatan.Walaupun sebagian kecil wilayah Kalbar merupakan perairan laut, akan tetapi Kalbar memiliki puluhan pulau besar dan kecil (sebagian tidak berpenghuni) yang tersebar sepanjang Selat Karimata dan Laut Natuna yang berbatasan dengan wilayah Provinsi Kepulauan Riau. Jumlah penduduk di Provinsi Kalimantan Barat menurut sensus tahun 2000 berjumlah 4.073.430 jiwa (1,85% penduduk Indonesia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="wp-caption alignright" id="attachment_281" style="width: 310px;"&gt;&lt;a href="http://etnikprogresif.blogspot.com/" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" class="size-medium wp-image-281" height="191" src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/jltanjungpura11-5-19751.jpg?w=300&amp;amp;h=191" title="JL. TANJUNGPURA 11-5-1975" width="300" /&gt; JL. TANJUNGPURA 11-5-1975&lt;/a&gt;&lt;div class="wp-caption-text"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;Sejarah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Menurut kakawin Nagarakretagama (1365), Kalimantan Barat menjadi taklukan Majapahit, bahkan sejak zaman Singhasari yang menamakannya Bakulapura. Menurut Hikayat Banjar (1663), negeri Sambas, Sukadana dan negeri-negeri di Batang Lawai (nama kuno sungai Kapuas) pernah menjadi taklukan Kerajaan Banjar sejak zaman Hindu. Sejak 1 Oktober 1609, Kerajaan Sambas menjadi daerah protektorat VOC-Belanda. Sesuai perjanjian 20 Oktober 1756 VOC-Belanda akan membantu Sultan Banjar Tamjidullah I untuk menaklukan kembali daerah-daerah yang memisahkan diri diantaranya Sanggau, Sintang dan Lawai (Kabupaten Melawi). Menurut akta tanggal 26 Maret 1778 negeri Landak dan Sukadana diserahkan kepada VOC-Belanda oleh Sultan Banten. Inilah wilayah yang mula-mula menjadi milik VOC-Belanda selain daerah protektorat Sambas. Pada tahun itu pula Pangeran Syarif Abdurrahman Alkadrie direstui VOC-Belanda sebagai Sultan Pontianak yang pertama dalam wilayah milik Belanda tersebut. Pada tahun 1789 Sultan Pontianak dibantu Kongsi Lan Fang diperintahkan VOC-Belanda untuk menduduki negeri Mempawah. Pada tanggal 4 Mei 1826 Sultan Adam dari Banjar menyerahkan Jelai, Sintang dan Lawai (Kabupaten Melawi) kepada pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Pada 1855, negeri Sambas dimasukan ke dalam wilayah Hindia Belanda mejadi Karesidenan Sambas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="wp-caption alignleft" id="attachment_282" style="width: 310px;"&gt;&lt;a href="http://etnikprogresif.blogspot.com/" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" class="size-medium wp-image-282" height="211" src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/gedung_pertemuan_kota_besar_ptk_sekarang_balai_prajurit_196.jpg?w=300&amp;amp;h=211" title="GEDUNG_PERTEMUAN_KOTA_BESAR_PTK_SEKARANG_BALAI_PRAJURIT_1961" width="300" /&gt; GEDUNG PERTEMUAN KOTA BESAR PTK SEKARANG BALAI PRAJURIT 1961&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Zaman pemerintahan Hindia Belanda berdasarkan Keputusan Gubernur Jenderal yang dimuat dalam STB 1938 No. 352, antara lain mengatur dan menetapkan bahwa ibukota wilayah administratif Gouvernement Borneo berkedudukan di Banjarmasin dibagi atas 2 Residentir, salah satu diantaranya adalah Residentie Westerafdeeling Van Borneo dengan ibukota Pontianak yang dipimpin oleh seorang Residen. Pada tanggal 1 Januari 1957 Kalimantan Barat resmi menjadi provinsi yang berdiri sendiri di Pulau Kalimantan, berdasarkan Undang-undang Nomor 25 tahun 1956 tanggal 7 Desember 1956. Undang-undang tersebut juga menjadi dasar pembentukan dua provinsi lainnya di pulau terbesar di Nusantara itu. Kedua provinsi itu adalah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Iklim di kalimantan barat beriklim tropik basah, curah hujan merata sepanjang tahun dengan puncak hujan terjadi pada bulan Januari dan Oktober suhu udara rata-rata antara 26,0 s/d 27,0.kelembapan rata-tara antara 80% s/d 90%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="wp-caption alignright" id="attachment_283" style="width: 310px;"&gt;&lt;a href="http://etnikprogresif.blogspot.com/" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" class="size-medium wp-image-283" height="202" src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/dyaks.jpg?w=300&amp;amp;h=202" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;Suku Bangsa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Daerah Kalimantan Barat dihuni oleh Penduduk Asli Dayak dan kaum pendatang lainnya dari Sumatra dan kaum urban dari tiongkok dan daerah di Indonesia lainnya. Suku Bangsa yang Dominan Besar yaitu Dayak ,Melayu dan Tionghoa, yang jumlahnya melebihi 90% penduduk Kalimantan Barat. Selain itu, terdapat juga suku-suku bangsa lain, antara lain Bugis, Jawa, Madura, Minangkabau, Sunda, Batak, dan lain-lain yang jumlahnya dibawah 10%.&lt;br /&gt;Suku Dayak terdiri dari : (1) Rumpun Kanayatn , (2) Rumpun Ibanic , (3) [[ Rumpun Bidoih ( Kidoh-Madeh ) , (4) Rumpun Banuaka", (5) Rumpun Kayaanic (6) Rumpun Uut Danum dan Kelompok Dayak yang lainnya seperti:&lt;br /&gt;1. Suku Iban ( Ibanic )&lt;br /&gt;2. Suku Bidayuh ( Bidoih )&lt;br /&gt;3. Suku Seberuang ( Ibanic)&lt;br /&gt;4. Suku Mualang ( Ibanic )&lt;br /&gt;5. Suku Kanayatn&lt;br /&gt;6. Suku Mali&lt;br /&gt;7. Suku Sekujam&lt;br /&gt;8. Suku Sekubang&lt;br /&gt;9. Suku Kantuk ( Ibanic )&lt;br /&gt;10. Suku Ketungau ( Ibanic )&lt;br /&gt;11. Suku Desa ( Ibanic )&lt;br /&gt;12. Suku Hovongan ( Kayanic )&lt;br /&gt;13. Suku Uheng Kereho ( Kayanic )&lt;br /&gt;14. Suku Babak&lt;br /&gt;15. Suku Badat&lt;br /&gt;16. Suku Barai&lt;br /&gt;17. Suku Bugau ( Ibanic )&lt;br /&gt;18. Suku Bukat ( Kayanic )&lt;br /&gt;19. Suku Galik ( Bidoih )&lt;br /&gt;20. Suku Gun ( Bidoih )&lt;br /&gt;21. Suku Jangkang ( Bidoih )&lt;br /&gt;22. Suku Kalis ( Banuaka" )&lt;br /&gt;23. Suku Kayan&lt;br /&gt;24. Suku Kayaan ( Kayaanic)&lt;br /&gt;25. Suku Kede ( Ibanic )&lt;br /&gt;26. Suku Keramai&lt;br /&gt;27. Suku Klemantan&lt;br /&gt;28. Suku Pos&lt;br /&gt;29. Suku Punti&lt;br /&gt;30. Suku Randuk&lt;br /&gt;31. Suku Ribun ( Bidoih )&lt;br /&gt;32. Suku Cempedek&lt;br /&gt;33. Suku Dalam&lt;br /&gt;34. Suku Darok&lt;br /&gt;35. Suku Kopak&lt;br /&gt;36. Suku Koyon&lt;br /&gt;37. Suku Lara ( Kanayatn )&lt;br /&gt;38. Suku Senunang&lt;br /&gt;39. Suku Sisang&lt;br /&gt;40. Suku Sintang&lt;br /&gt;41. Suku Suhaid ( Ibanic )&lt;br /&gt;42. Suku Sungkung ( Bidayuh )&lt;br /&gt;43. Suku Limbai&lt;br /&gt;44. Suku Mayau&lt;br /&gt;45. Suku Mentebak&lt;br /&gt;46. Suku Menyangka&lt;br /&gt;47. suku-suku sungai Mayuke&lt;br /&gt;48. Suku Sanggau&lt;br /&gt;49. Suku Sani&lt;br /&gt;50. Suku Sekajang&lt;br /&gt;51. Suku Selayang&lt;br /&gt;52. Suku Selimpat&lt;br /&gt;53. Suku Dusun&lt;br /&gt;54. Suku Embaloh ( Banuaka" )&lt;br /&gt;55. Suku Empayuh&lt;br /&gt;56. Suku Engkarong&lt;br /&gt;57. Suku Ensanang&lt;br /&gt;58. Suku Menyanya&lt;br /&gt;59. Suku Merau&lt;br /&gt;60. Suku Muara&lt;br /&gt;61. Suku Muduh&lt;br /&gt;62. Suku Muluk&lt;br /&gt;63. Suku Ngabang&lt;br /&gt;64. Suku Ngalampan&lt;br /&gt;65. Suku Ngamukit&lt;br /&gt;66. Suku Nganayat&lt;br /&gt;67. Suku Panu&lt;br /&gt;68. Suku Pengkedang&lt;br /&gt;69. Suku Pompang&lt;br /&gt;70. Suku Senangkan&lt;br /&gt;71. Suku Suruh&lt;br /&gt;72. Suku Tabuas&lt;br /&gt;73. Suku Taman&lt;br /&gt;74. Suku Tingui&lt;br /&gt;75. Rumpun Uut Danum di Kalimantan Barat: Dohoi, Cohie, Pangin, Limbai, Sebaung&lt;br /&gt;* Sak Senganan ( Ibanic Moslem )&lt;br /&gt;* Suku Melayu&lt;br /&gt;lain-lain:&lt;br /&gt;1. Suku Banjar&lt;br /&gt;2. Suku Pesaguan&lt;br /&gt;3. Suku Bugis&lt;br /&gt;4. Suku Sunda&lt;br /&gt;5. Suku Jawa&lt;br /&gt;6. Suku Madura&lt;br /&gt;7. Suku Minang&lt;br /&gt;8. Suku Batak&lt;br /&gt;9. dan lain-lain&lt;br /&gt;* Tionghoa&lt;br /&gt;1. Hakka&lt;br /&gt;2. Tiochiu&lt;br /&gt;3. dan lain-lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bahasa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang secara umum dipakai oleh masyarakat di Kalimantan Barat. Selain itu bahasa penghubung yaitu bahasa Melayu Pontianak, Melayu Sambas dan Bahasa Senganan menurut wilayah penyebarannya, Demikian juga terdapat beragam jenis Bahasa Dayak, Menurut penelitian Institut Dayakologi terdapat 188 dialek yang dituturkan oleh suku Dayak dan Bahasa Tionghoa seperti Tiochiu dan Khek/Hakka. Dialek yang di masksudkan terhadap bahasa suku Dayak ini adalah begitu banyaknya kemiripannya dengan bahasa Melayu, hanya kebanyakan berbeda di ujung kata seperti makan (Melayu), makatn (Kanayatn), makai (Iban), makot (Melahui). Khusus untuk rumpun Uut Danum, bahasanya boleh dikatakan berdiri sendiri dan bukan merupakan dialek dari kelompok Dayak lainnya. Dialeknya justru ada pada beberapa sub suku Dayak Uut Danum sendiri. Seperti pada bahasa sub suku Dohoi misalnya, untuk mengatakan makan saja terdiri dari minimal 16 kosa kata, mulai dari yang paling halus sampai ke yang paling kasar. Misalnya saja ngolasut (sedang halus), kuman (umum), dekak (untuk yang lebih tua atau dihormati), ngonahuk (kasar), monirak (paling kasar) dan Macuh (untuk arwah orang mati). Bahasa Melayu di kalbar terdiri atas beberapa jenis, antara lain Bahasa Melayu Pontianak, dan Bahasa Melayu Sambas. Bahasa Melayu Pontianak sendiri memiliki logat yang sama dengan bahas Melayu Malaysia dan Melayu Riau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Agama&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mayoritas penduduk Kalimantan Barat memeluk agama Islam (35%), Katolik (28%), Protestan (10%), Buddha (6,4%), Hindu (0,2%), lain-lain (1,7%).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pendidikan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perguruan Tinggi/Universitas di Kalimantan Barat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1. Universitas Tanjungpura&lt;br /&gt;2. Sekolah Tinggi Pastoral Santo Agustinus Keuskupan Agung Pontianak (STP ST. AGUSTINUS KAP)&lt;br /&gt;3. Politeknik Negeri Pontianak&lt;br /&gt;4. STIPER Panca Bhakti Pontianak&lt;br /&gt;5. STAIN Pontianak&lt;br /&gt;6. STMIK Pontianak&lt;br /&gt;7. Politeknik Kesehatan&lt;br /&gt;8. Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan PGRI Pontianak&lt;br /&gt;9. Universitas Muhammadiyah&lt;br /&gt;10. ASMI Pontianak&lt;br /&gt;11. ABA Pontianak&lt;br /&gt;12. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Widya Dharma&lt;br /&gt;13. Akademi Sekretari dan Manajemen Widya Dharma&lt;br /&gt;14. Akademi Bahasa Asing Widya Dharma&lt;br /&gt;15. Akademi Manajemen Informatika dan Komputer Widya Dharma&lt;br /&gt;16. Politeknik Tonggak Equator (POLTEQ)&lt;br /&gt;17. STIE Pontianak&lt;br /&gt;18. Universitas Pancabakti&lt;br /&gt;19. STIH Singkawang&lt;br /&gt;20. Universitas Kapuas, Sintang&lt;br /&gt;21. Unit Program Belajar Jarak Jauh Universitas Terbuka&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Batas wilayah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Utara berbatasan dengan Sarawak, Malaysia Timur&lt;br /&gt;Selatan berbatasan dengan Laut Jawa&lt;br /&gt;Barat berbatasan dengan Laut Natuna, Selat Karimata dan Samudra Pasifik&lt;br /&gt;Timur berbatasan dengan Provinsi Kalimantan Timur dan Provinsi Kalimantan Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="wp-caption aligncenter" id="attachment_324" style="width: 310px;"&gt;&lt;a href="http://etnikprogresif.blogspot.com/" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" class="size-medium wp-image-324 " height="200" src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/gubernur-terima-laporan-hasil-audit-bpk-perwakilan-kalbar-dari-kepala-bpk-perwakilan-kalbar-foto-hentakun.jpg?w=300&amp;amp;h=200" title="gubernur terima Laporan hasil Audit BPK Perwakilan Kalbar dari Kepala BPK Perwakilan Kalbar FOTO HEntakun" width="300" /&gt; Cornelis, MH., Gubernur Kalimantan Barat&lt;/a&gt;&lt;div class="wp-caption-text"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;Pemerintahan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ibu kota Kalimantan Barat adalah kota Pontianak&lt;br /&gt;Kabupaten dan Kota&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;No. &amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Kabupaten/Kota—–Ibu kota&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1 &amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kabupaten Bengkayang—–Bengkayang&lt;br /&gt;2 &amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kabupaten Kapuas Hulu—–Putussibau&lt;br /&gt;3 &amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kabupaten Kayong Utara—–Sukadana&lt;br /&gt;4 &amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kabupaten Ketapang—–Ketapang&lt;br /&gt;5 &amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kabupaten Kubu Raya—–Sungai Raya&lt;br /&gt;6 &amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kabupaten Landak—–Ngabang&lt;br /&gt;7 &amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kabupaten Melawi—–Nanga Pinoh&lt;br /&gt;8 &amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kabupaten Pontianak—–Mempawah&lt;br /&gt;9 &amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kabupaten Sambas—–Sambas&lt;br /&gt;10 &amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; Kabupaten Sanggau—–Sanggau&lt;br /&gt;11 &amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kabupaten Sekadau—–Sekadau&lt;br /&gt;12 &amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kabupaten Sintang—–Sintang&lt;br /&gt;13 &amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kota Pontianak—–Pontianak&lt;br /&gt;14 &amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kota Singkawang—–Singkawang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Daftar gubernur&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Adji Pangeran Afloes 1957 &amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;1958&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Djenal Asikin Judadibrata 1958 – 1 959&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Johanes Chrisostomus Oevang Oeray 196 0 – 1966&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Soemardi, Bc. HK 1967 – 1972&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Kol. Kadarusno 1972 – 1977&lt;/li&gt;&lt;li&gt; H. Soedjiman 1977 – 1987&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Brigjen H. Parjoko Suryokusumo 1987 – 1993&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Mayjen H. Aspar Aswin 1993 – 13 Januari 2003&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Usman Jafar 13 Januari 2003 – 14 Januari 2008&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Drs.Cornelis MH 14 Januari 2008 – sekarang&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;b&gt;Pertanian &amp;amp; Perkebunan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kalimantan Barat memiliki potensi pertanian dan perkebunan yang cukup melimpah. Hasil pertanian Kalimantan Barat diantaranya adalah padi, jagung, kedelai, dan lain-lain. Sedangkan hasil perkebunan diantaranya adalah karet, kelapa sawit, kelapa, lidah buaya, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="wp-caption alignleft" id="attachment_285" style="width: 310px;"&gt;&lt;a href="http://etnikprogresif.blogspot.com/" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" class="size-medium wp-image-285" height="236" src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/20090515_020511_z-dayak-ant.jpg?w=300&amp;amp;h=236" width="300" /&gt; tari dayak&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Seni dan Budaya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tarian Tradisional&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tari Monong / Manang / Baliatn, merupakan tari Penyembuhan yang terdapat pada seluruh masyarakat Dayak. tari ini berfungsi sebagai penolak / penyembuh / penangkal penyakit agar si penderita dapat sembuh kembali penari berlaku seperti dukun dengan jampi-jampi. tarian ini hadir disaat sang dukun sedang dalam keadaan trance, dan tarian ini merupakan bagian dari upacara adat Bemanang / Balian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tari Pingan, Merupakan Tarian Tunggal pada masyarakat Dayak Mualang Kabupaten Sekadau yang di masa kini sebagai tari hiburan masyarakat atas rezeki / tuah / makanan yang diberikan oleh Tuhan. Tari ini menggunakan Pingan sebagai media atraksi, dan tari ini berangkat dari kebudayaan leluhur di masa lalu, yang berkaitan erat dengan penerimaan / penyambutan tamu / pahlawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tari Jonggan merupkan tari pergaulan masyarakat Dayak Kanayatn di daerah Kubu Raya, Mempawah, Landak yang masih dapat ditemukan dan dinikmati secara visual, tarian ini meceritakan suka cita dan kebahagiaan dalam pergaulan muda mudi Dayak. Dalam tarian ini para tamu yang datang pada umumnya diajak untuk menari bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tari kondan merupakan tari pergaulan yang diiringi oleh pantun dan musik tradisional masyarakat Dayak Kabupaten sanggau kapuas, kadang kala kesenian kondan ini diiringi oleh gitar. kesenian kondan ini adalah ucapan kebahagiaan terhadap tamu yang berkunjung dan bermalam di daerahnya. kesenian ini dilakukan dengan cara menari dan berbalas pantun.&lt;br /&gt;&lt;div class="wp-caption alignright" id="attachment_288" style="width: 310px;"&gt;&lt;a href="http://etnikprogresif.blogspot.com/" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" class="size-medium wp-image-288" height="225" src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/pic_7746.jpg?w=300&amp;amp;h=225" width="300" /&gt; tari melayu kreasi&lt;/a&gt;&lt;div class="wp-caption-text"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;Kinyah Uut Danum, adalah tarian perang khas kelompok suku Dayak Uut Danum yang memperlihatkan kelincahan dan kewaspadaan dalam menghadapi musuh. Dewasa ini Kinyah Uut Danum ini banyak diperlihatkan pada acara acara khusus atau sewaktu menyambut tamu yang berkunjung. Tarian ini sangat susah dipelajari karena selain menggunakan Ahpang (Mandau) yang asli, juga karena gerakannya yang sangat dinamis, sehingga orang yang fisiknya kurang prima akan cepat kelelahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tari Zapin pada masyarakat Melayu kalimantan Barat, Merupakan suatu tari pergaulan dalam masyarakat, sebagai media ungkap kebahagiaan dalam pergaulan. jika ia menggunakan properti Tembung, maka disebut Zapin tembung, jika menggunakan kipas maka di sebut Zapin Kipas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="wp-caption alignleft" id="attachment_318" style="width: 310px;"&gt;&lt;a href="http://etnikprogresif.blogspot.com/" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" class="size-medium wp-image-318" height="285" src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/12.jpg?w=300&amp;amp;h=285" title="Sapek buatan Afanan - Sanggar Tari Spektrum - Pontianak" width="300" /&gt; Sapek buatan Afanan - Sanggar Tari Spektrum - Pontianak&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div class="wp-caption-text"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;Alat Musik Tradisional &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Gong / Agukng, Kollatung (Uut Danum) merupakan alat musik pukul yang terbuat dari kuningan, merupakan alat musik yang multifungsi baik sebagai mas kawin, sebagai dudukan simbol semangat dalam pernikahan. maupun sebagai bahan pembayaran dalam hukum adat.&lt;br /&gt;Tawaq ( sejemis Kempul ). merupakan alat musik untuk mengiringi tarian tradisional masyarakat Dayak secara umum. Bahasa Dayak Uut Danum menyebutnya Kotavak.&lt;br /&gt;Sapek. merupakan alat musik petik tradisional dari Kapuas hulu dikalangan masyarakat Dayak Kayaan Mendalam kabupaten Kapuas hulu. Pada masyarakat Uut Danum menyebutnya Konyahpik (bentuknya) agak berbeda sedikit dengan Sapek.&lt;br /&gt;Balikan / Kurating. merupakan alat musik petik sejenis Sapek, berasal dari Kapuas Hulu pada masyarakat Dayak Ibanik, Dayak Banuaka”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kangkuang Merupakan alat musik pukul yang terbuat dari kayu dan berukir, terdapat pada masyarakat Dayak Banuaka Kapuas Hulu. Keledik / kedire”. Merupakan alat musik terbuat dari labu dan bilah bambu di mainkan dengan cara ditiup dan dihisap. terdapat di daerah Kapuas Hulu. Pada suku Dayak Uut Danum di sebut Korondek. Entebong. Merupakan alat musik Pukul sejenis Gendang, yang banyak terdapat di kelompok Dayak Mualang di daerah Kabupaten Sekadau. Rabab (rebab), yaitu alat musik gesek, terdapat pada suku Dayak Uut Danum. Kohotong, yaitu alat musik tiup, terbuat dari dahan semacam pelepah tanaman liar di hutan seperti pohon enau. Sollokanong (beberapa suku Dayak lain menyebutnya Klenang) terbuat dari kuningan, bentuknya lebih kecil dari gong, penggunaannya harus satu set. Terah Umat (pada Dayak Uut Danum), alat musik ketuk seperti pada gamelan Jawa. Alat ini terbuat dari besi (umat) maka di sebut Terah Umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="wp-caption alignleft" id="attachment_289" style="width: 187px;"&gt;&lt;a href="http://etnikprogresif.blogspot.com/" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" class="size-full wp-image-289" height="196" src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/index1.jpg?w=177&amp;amp;h=196" width="177" /&gt; mandau&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div class="wp-caption-text"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;Senjata Tradisional &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mandau (Ahpang : sebutan Uut Danum) sejenis Pedang yang memiliki keunikan tersendiri, dengan ukiran dan kekhasannya. Pada suku Dayak Uut Danum hulunya terbuat dari tanduk rusa yang di ukir, sementara besi bahan Ahpang (Mandau) terbuat dari besi yang di tambang sendiri dan terdiri dari dua jenis yaitu Bahtuk Nyan yang terkenal keras dan tajam sehingga lalat hinggap pun bisa putus tapi mudah patah dan Umat Motihke yang terkenal lentur, beracun dan tidak berkarat. Keris, Tumbak, Sumpit (Sohpot: sebutan Uut Danum), Senapang lantak, Duhung (Uut Danum), Isou Bacou atau parang yang kedua sisinya tajam (Uut Danum), Lunjuk atau sejenis tumbak untuk berburu (Uut Danum).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SASTRA LISAN&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Bekana. merupakan cerita orang tua masa lalu yang menceritakan dunia khayangan atau Orang Menua pangau ( dewa – dewi ) dalam Mytrologi Dayak Ibanik: Iban , Mualang, Kantuk, Desa dll. Bejandeh. Sejenis bekana tapi objek ceritanya beda Nyangahatn. Doa tua pada masyarakat Dayak Kanayatn.&lt;br /&gt;&lt;div class="wp-caption alignright" id="attachment_290" style="width: 135px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Pada suku Dayak Uut Danum, sastra lisannya terdiri dari Kollimoi (jaman kedua), Tahtum (jaman ketiga), Parung, Kandan, dan Kendau. Pada jaman tertua atau pertama adalah kejadian alam semesta dan umat manusia. Pada sastra lisan jaman kedua ini adalah tentang kehidupan manusia Uut Danum di langit. Pada jaman ketiga adalah tentang cerita kepahlawanan dan pengayauan suku dayak Uut Danum ketika sudah berada di bumi, misalnya bagaimana mereka mengayau sepanjang sungai Kapuas sampai penduduknya tidak tersisa sehingga dinamakan Kopuas Buhang (Kapuas yang kosong atau penghuninya habis) lalu mereka mencari sasaran ke bagian lain pulau Kalimantan yaitu ke arah kalimantan Tengah dan Timur dan membawa nama-nama daerah di Kalimantan Barat, sehingga itulah mengapa di Kalimantan Tengah juga ada sungai bernama sungai Kapuas dan Sungai Melawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahtum ini jika dilantunkan sesuai aslinya bisa mencapai belasan malam untuk satu episode, sementara Tahtum ini terdiri dari ratusan episode. Parung adalahsastra lisan sewaktu ada pesta adat atau perkawinan. Kandan adalah bahasa bersastra paling tinggi dikalangan kelompok suku Uut Danum (Dohoi, Soravai, Pangin, Siang, Murung, dll)yang biasa digunakan untuk menceritakan Kolimoi, Parung, Mohpash, dll. Orang yang mempelajari bahasa Kandan ini harus membayar kepada gurunya. Sekarang bahasa ini sudah hampir punah dan hanya dikuasai oleh orang-orang tua. Sementara Kendau adalah bahasa sastra untuk mengolok-olok atau bergurau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="wp-caption alignleft" id="attachment_291" style="width: 210px;"&gt;&lt;a href="http://etnikprogresif.blogspot.com/" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" class="size-medium wp-image-291" height="300" src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/tenun-16-preview.jpg?w=200&amp;amp;h=300" title="tenun sintang-kalbar" width="200" /&gt; tenun ikat sintang-kalbar&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div class="wp-caption-text"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;TENUN&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Kain Tenun Tradisional terdapat di beberapa daerah, diantaranya: – Tenun Daerah Sambas, – Tenun Belitang daerah Kumpang Ilong Kabupaten Sekadau, – Tenun Ensaid Panjang Kabupaten Sintang, – Tenun Kapuas Hulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kerajinan Tangan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Tikar Lampit, di Pontianak dan daerah Bengkayang, Sintang, Kapuas Hulu. – Ukir-ukiran, perisai, mandau dll terdapat di Pontianak dan Kapuas Hulu. – Kacang Uwoi (Tikar Rotan bermotif) khas suku Dayak Uut Danum. – Takui Darok (Caping lebar bermotif) khas suku Dayak Uut Danum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kue Tradisional&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Lemang. terbuat dari pulut di masukan ke dalam bambu, merupakan makanan tradisional masyarakat masa lampau yang kini masih dilestarikan. Lemper. terbuat dari pulut yang di isi daging / kacang terdapat didaerah Purun merupakan makanan tradisional Lepat. terbuat dari tepung yang di dalamnya di masukan pisang. Jimut. kue tradisional pada masyarakat Dayak Mualang daerah Belitang Kabupaten Sekadau , yang terbuat dari tepung yang dibentuk bulatan sebesar bola pimpong. Lulun. sejenis lepat, yamg isimya gula merah, terdapat di daerah Belitang kab sekadau Lempok. Terdapat di pontianak dibuat dari Durian (hampir semua suku Dayak dan Melayu mempunyai kebiasaan membuat Lempok) Tumpi’. terdapat pada&lt;br /&gt;&lt;div class="wp-caption alignleft" id="attachment_294" style="width: 310px;"&gt;&lt;a href="http://etnikprogresif.blogspot.com/" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" class="size-full wp-image-294" height="225" src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/b6dd0c54e7abdda5c9bc4c1cebe74ee1.jpg?w=300&amp;amp;h=225" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="wp-caption-text"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;masyarakat Dayak kanayatn, yang terbuat dari bahan tepung. Tehpung. Kue tradisional pada dayak Uut Danum, terbuat dari beras pulut yang ditumbuk halus dan digoreng. Kue ini biasanya di buat pada acara adat, bentuknya ada yang seperti perahu, gong dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Masakan dan makanan Tradisional&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Masakan Asam Pedas di daerah Pontianak Masakan Bubur Pedas daerah Sambas Kerupok basah Makanan Khas kapuas Hulu Ale-ale Makanan Khas Ketapang Pansoh ( Masakan daging di dalam bambu ) pada masyarakat Dayak Nasi Akuang. terdapat di Pontianak, masakan khas tiong hoa Mie Tiau terdapat di kota Pontianak dan sekitarnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3509747544273203794-6532729820276793156?l=etnikprogresif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/feeds/6532729820276793156/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2011/01/selayang-pandang-kalimantan-barat.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/6532729820276793156'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/6532729820276793156'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2011/01/selayang-pandang-kalimantan-barat.html' title='Selayang Pandang Kalimantan Barat'/><author><name>mbah dinan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10973480357642906490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-zT11WGzH8D8/TrzZyXePTwI/AAAAAAAABGU/mvgB2aMy4Zc/s220/etnikprogresif.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3509747544273203794.post-529978846514631255</id><published>2011-01-03T19:48:00.001+07:00</published><updated>2011-01-11T19:24:33.490+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Seni'/><title type='text'>Wayang Banjar</title><content type='html'>&lt;div class="wp-caption alignleft" id="attachment_350" style="width: 235px;"&gt;&lt;a href="http://blogonol.blogspot.com/tag/wayang%20banjar/" rel="attachment wp-att-350" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" class="size-medium wp-image-350" height="300" src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/dsc023811.jpg?w=225&amp;amp;h=300" title="wayang kulit banjar" width="225" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="wp-caption-text"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;Kesenian wayang kulit di Indonesia antara lain dapat ditemui di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Lombok, dan Kalimantan Selatan. Wayang kulit di Kalimantan Selatan dinamakan Wayang Kulit Banjar, karena pendukung kesenian ini adalah etnis Banjar. Secara fisik ukuran wayang kulit Banjar lebih kecil dibanding wayang kulit Jawa. Atau lebih mendekati ukuran wayang kulit Bali. Ritme gamelan yang mengiringi wayang kulit Banjar cenderung cepat dan keras, sehingga berbeda jika dibanding dengan musik gamelan Jawa. Wayang kulit Banjar juga tidak mengenal waranggana (para wanita yang membantu menyanyikan lagu atau gending) yang ada dalam pementasan wayang kulit di Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gamelan wayang kulit Banjar umumnya terbuat dari besi, berbeda dengan gamelan wayang kulit Jawa yang rata-rata terbuat dari logam perunggu. Di tahun 1900 musik gamelan Selendro lengkap seperti gamelan Jawa masih berkembang, terutama pewaris keluarga istana yaitu keluarga gusti-gusti. Menurut Sarbaini (seniman/budayawan), di tahun 1990 di Barikin adalah tempat peleburan besi gangsa membuat gamelan Selendro, tapi tidak diberi kuningan. Ketika itu sudah berkembang gamelan Banjar mini yakni yang dibuat dari baja dan besi yang terdiri dari sarun satu, sarun dua (sarantam), kanung, dan dawu serta agung kecil dan agung besar, ditambah dengan kangsi, gendang atau babun terdiri dari babun besar dan babun kecil. Babun besar untuk iringan wayang kulit dan wayang gung, sedangkan babun kecil untuk selingan iringan tembang dan tarian baksa atau topeng.Di Kalimantan Selatan, penonton wayan kulit masih dominan berada di belakang kelir (tenda) sehingga yang mereka tonton adalah bayang-bayang dari wayang tersebut. Hal ini agak berbeda dengan wayang kulit Jawa yang mana kebanyakan penontonnya menonton langsng dari atas panggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku Urang Banjar dan Kebudayaannya (2005) disebutkan bahwa bentuk kesenian wayang di Indonesia berinduk pada kebudayaan asli Jawa, meskipun cerita yang ditampilkan disadur dari pengaruh kebudayaan Hindu. Bentuk kesenian wayang tertua adalah wayang Purwa. Dari wayang purwa ini berkembang menjadi jenis-jenis wayang di Kalimantan Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Hikayat Banjar tertulis bahwa seni wayang sudah mulai tumbuh di kerajaan Negara Dipa seperti; bawayang gung, manopeng, bawayang gadongan, bawayang purwa, babaksan dan sebagainya. Merupakan kesenian yang biasa dipertunjukan di kerajaan Negara Dipa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai asal usul wayang telah banyak dibicarakan di kalangan ilmuwan. Dr. J.L.A. Brandes berpendapat bahwa wayang termasuk dalam 10 unsur kebudayaan yang telah ada di Nusantara sebelum masuknya kebudayaan Hindu. Saking tuanya usia pertumbuhan seni pertunjukan wayang tak heran bila wayang telah mendarah daging di kalangan masyarakat dan begitu kuat pengaruh wayang melekat dalam alam pikiran masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://etnikprogresif.blogspot.com/tag/wayang%20banjar/" rel="attachment wp-att-351" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img alt="" class="size-medium wp-image-351" height="224" src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/dsc01659.jpg?w=300&amp;amp;h=224" title="layar wayang" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;Berhubungan dengan seni pertunjukan wayang, ada yang beranggapan bahwa pada mulanya pertunjukan wayang oleh sebagian masyarakat dijadikan semacam pertunjukan upacara yang lazim disebut Syamanisme. Namun di kemudian hari, wayang dipertunjukkan untuk mengisi upacara manjagai (menunggu pengantin) sesudah upacara perkawina. Maka pada malam harinya diadakanlah pertunjukan kesenian, seperti Mamanda, Wayang Gong, Rudat, Wayang Kulit dan acara Bakisah (kisah yang dibawakan penutur cerita). Biasanya acara bajagaan pengantin ini berlangsung selama tiga malam. Dalam pewayangan, peran dalang sangat penting sebagai penghubungan dengan arwah nenek moyang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan penelitian, kebanyakan suku-suku di kepulauan nusantara memang memiliki kebiasaaan melakukan upacara Syaman. Tidak heran apabila suku Banjar dengan teater wayang pun merupakan kegiatan upacara, dimana penyajian wayang Banjar diadakan pada malam hari dianggap roh-roh nenek moyang berkelana, disamping wayang Banjar lebih menekankan penyajiannya pada penonton melalui bayang-bayang. Menurut Gunadi (2006) pada masyarakat Banjar dikenal beberapa jenis wayang berdasarkan niat dari pementasannya, seperti Wayang Karasmin yakni untuk hiburan atau keramaian, Wayang Tahun yang dipentaskan setelah selesai panen padi sebagai tanda syukur, dan Wayang Tatamba yang diselenggarakan karena sang dalang telah berhasil menyembuhkan sakit seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu adapula pertunjukkan wayang Banjar yang berkaitan dengan spiritual yakni Wayang Sampir. Pementasan Wayang Sampir terkait dengan hajatan/nazar. Dalam penyajian wayang upacara ini, dalang bertindak sebagai pemimpin upacara yang memiliki kemampuan dalam mengusir roh-roh jahat yang sering mengganggu ketenteraman manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengusir roh-roh jahat tersebut yang punya hajatan harus menyiapkan sajian 41 macam kue tradisional Banjar, juga menyajikan piduduk terdiri dari; beras ketan, gula habang, nyiur (kelapa), benang-jarum dan duit recehan yang dimasukkan dalam ancak dan digantungkan dipanggung pegelaran wayang.Upacara wayang sampir dilakukan malam pada malam hari setelah diadakan upacara mengantar sesajen. Pimpinan upacara wayang sampir ini adalah seorang dalang yang mengidentifikasikan dirinya sebagai Semar dan selanjutnya menyebut dirinya Bapakku Dalang. Dalang inilah dalam upacara tersebut memainkan wayang kulit sambil diiringi bunyi gamelan yang dimainkan oleh sekelompok penabuh. Dalam acara ini Bapakku Dalang memanggil (mengundang) Batara Kala beserta penghuni alam gaib lainnya.Upacara wayang sampir ini ditekankan kepada penghormatan dan pemberian sesajen kepada para makhluk gaib. Pada acara ini disampaikan juga penghormatan kepada Sang Pencipta Akhirat, para Malaikat, para Nabi-nabi, para Wali, dan para keramat.&amp;nbsp; Selain itu diundang untuk hadir dalam upacara itu para Datu, para pahlawan, para dewa, para Batara, Jin-jin, Hantu-hantu, Kuyang-kuyang, para Bidadari, para penghuni candi, penghuni gunung, penunggu pulau, penunggu danau dan tidak ketinggalan pula seluruh punduduk desa sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="wp-caption alignleft" id="attachment_352" style="width: 310px;"&gt;&lt;a href="http://etnikprogresif.blogspot.com/tag/wayang%20banjar" rel="attachment wp-att-352" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" class="size-medium wp-image-352" height="224" src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/dsc01655.jpg?w=300&amp;amp;h=224" title="wayang banjar" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Dalam dialog antara Bapakku Dalang dengan Batara Kala (Sangkala), bahwa mereka itu semua dipanggil dan diundang untuk menyaksikan hiburan dan menyantap sesajen yang telah disediakan, dengan satu permintaan agar keluarga Datu Taruna dan penduduk desa mereka jangan lagi diganggu. Setelah itu menurut penuturan Bapakku Dalang, Sang Batara Kala didudukkan di punggung nyiur gading (punggung Bapakku Dalang) untuk menonton pertunjukan Wayang semalam suntuk.&lt;br /&gt;Wayang sampir ini masih tetap eksis pada daerah-daerah tertentu seperti di Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Tengah. Jelaslah di sini teater wayang Banjar (sampir) adalah warisan kesenian zaman para Hindu. Artinya kehadiran wayang Banjar di daerah Kalimantan Selatan jauh sebelum zaman kerajaan Islam di Banjarmasin. Mengingat wayang Banjar datangnya dari Jawa, dalam hal ini kerajaan Negara Dipa Amuntai mengikuti tradisi Jawa (Majapahit), dimana sekitar tahun 1300 sampai dengan tahun 1400 masehi Majapahit yang Hindu telah melebarkan kekuasaannya termasuk Borneo (Kalimantan) dan tidak ketinggalan dalam menjalankan misi keagamaan melalui media pertunjukan wayang. Jadi dapat diperkirakan awal masuknya wayang kulit ke kerajaan Negara Dipa sekitar abad ke-14. Mengenai tokoh awal yang mengembangkan wayang Banjar belum diperoleh data dan informasi yang akurat. Teater wayang kulit Banjar terus berproses dari zaman kerajaan Negara Dipa ke kerajaan di Negara Daha, hingga terbentuknya kerajaan Islam Banjarmasin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru dalam masa kerajaan Islam Banjarmasin, kesenian teater wayang kulit Banjar dengan warna lokal, mendapat minat yang bagus dari masyarakat Banjar. Karena sebelum Islam, penyajiannya meniru pada apa yang disajikan oleh dalang Jawa. Datu Taya yang melakukan adaptasi cerita wayang kulit dan menjadikan seni pertunjukan khas teater wayang kulit Banjar dan punya kelainan dengan wayang kulit Jawa baik bentuk wayangnya, lagu gemelan penggiring maupun cara memainkannya benar-benar mempunyai nilai-nilai krusial dan esensial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau menurut alur perkembangan dalang yang dimulai dari dalang Datu Taya, menelurkan dua dalang yakni Dalang Salak (Martapura awal abad ke-17) dan Dalang Mita (akhir abad ke-17). Dalang Salak berlanjut pada Dalang Rening (Amuntai awal abad ke-18) yang menelurkan Dalang Utuh Kacil (Ilung Barabai abad ke-19) dan Dalang Ketut (Barikin akhir abad ke-19) hingga Dalang Tulur (Barikin awal abad ke-20). Generasi penerus Dalang Tulur adalah Dalang Utuh Aini (alm) asal Barikin namun menetap di Banjarmasin, Dalang Kardi (Hulu Sungai Selatan), Dalang Masri dari Jambu Hilir (Hulu Sungai Selatan), Dalang Rundi dari Tapin, Dalang Dimansyah di Barikin (Hulu Sungai Tengah), Dalang Idrus dari Binuang (Tapin), Dalang Buserazudin (Hulu Sungai Selatan), Dalang Sastrawijaya (Hulu Sungai Selatan), dan dalang muda lainnya seperti Dalang Darlansyah, Dalang Kusran, Dalang Maspuri, dan Dalang Saidi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wayang kulit Banjar terbuat dari bahan baku kulit binatang yang dibikin oleh ahli tatah sungging wayang, diantaranya Tarmidzi (Hulu Sungai Tengah) yang berguru dari Dalang Tulur. Selain membuat wayang kulit, Tarmidzi juga membuat tatahan/ukirtan wayang pada Tutujah yakni alat untuk membuat lubang dalam menanam padi atau biji-bijian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="wp-caption alignright" id="attachment_353" style="width: 310px;"&gt;&lt;a href="http://etnikprogresif.blogspot.com/tag/wayang%20banjar/" rel="attachment wp-att-353" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" class="size-medium wp-image-353 " height="224" src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/dsc01656.jpg?w=300&amp;amp;h=224" title="wayang banjar" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Cerita atau lakon dalam pertunjukan seni teater wayang kulit Banjar dikenal dengan lakon “carang” atau bukan cerita pakam (pakem) tapi sumber cerita dari Mahabharata, dalam perlakonan selalu membawa misi perilaku karakter yang baik dan yang jahat dalam aksi laku simbolik. Teknis penyajian dengan lakon carangan adalah penyajian wayang kulit Banjar yang berfungsi sebagai tontonan.&lt;br /&gt;Dalam pertunjukan wayang kulit Banjar, bahasa yang digunakan adalah bahasa Banjar. Ada kecenderungan jika dalam pergelaran wayang kulit menggunakan bahasa Indonesia maka terasa seperti ada aspek seni yang hilang. Hal ini menyiratkan betapa erat hubungan bahasa Banjar dengan kesenian tradsionalnya. Menurut Dalang Dimansyah sebagaimana dikutip dari Gunadi (2006), kejayaan pementasan wayang kulit Banjar di Kalimantan Selatan terjadi pada tahun 1970-1990-an. Dan juga pada masa itulah masa kejayaan bagi ahli tatah sungging, Tarmidzi, karena banyak pesanan pembuatan wayang dari para dalang atau dari daerah lain di luar Kalimantan Selatan. Setelah tahun 1990-an permintaan pementasan wayang mulai turun secara drastis, dan pembuatan wayang juga terhenti. Sepinya permintaan pementasan wayang mengakibatkan para dalang harus mencari usaha alternatif lain untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Entah sampai kapan mereka bertahan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sumber:&amp;nbsp;&lt;a href="http://bubuhanbanjar.wordpress.com/" target="_blank"&gt;bubuhanbanjar&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3509747544273203794-529978846514631255?l=etnikprogresif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/feeds/529978846514631255/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2011/01/wayang-banjar.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/529978846514631255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/529978846514631255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2011/01/wayang-banjar.html' title='Wayang Banjar'/><author><name>mbah dinan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10973480357642906490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-zT11WGzH8D8/TrzZyXePTwI/AAAAAAAABGU/mvgB2aMy4Zc/s220/etnikprogresif.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3509747544273203794.post-1247808046804676502</id><published>2011-01-03T19:38:00.002+07:00</published><updated>2011-01-11T19:25:14.584+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suku'/><title type='text'>Urang Banjar Meratus</title><content type='html'>&lt;div class="wp-caption alignleft" id="attachment_366" style="width: 310px;"&gt;&lt;a href="http://blogonol.blogspot.com/tag/urang%20banjar%20meratus/" rel="attachment wp-att-366" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" class="size-full wp-image-366" height="183" src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/balai-kundan.jpg?w=300&amp;amp;h=183" title="balai kundan" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="wp-caption-text"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;“Orang Banjar Meratus” merupakan alternatif nama yang penulis wacanakan untuk menyebut orang Bukit atau yang sekarang populer disebut etnis Dayak Meratus. Alternatif nama tersebut bisa saja dipakai karena nama sebuah etnis bisa saja berubah dan diterima dengan baik oleh etnis yang bersangkutan. Seperti nama Dayak Meratus yang populer dalam beberapa tahun terakhir adalah sebutan lain dari etnis Bukit, terutama sejak meletusnya konflik antaretnis di Kalimantan Tengah, dimana etnis Bukit menunjukkan rasa solidaritasnya kepada etnis Dayak dengan memposisikan dirinya sebagai bagian dari Dayak dengan nama Dayak Meratus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penamaan “Banjar Meratus” sebagai alternatif nama lain dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa orang Bukit yang tinggal di pegunungan Meratus sebenarnya “lebih Banjar” dibanding Dayak? Hal itu dapat dilihat dari beberapa relasi antara keduanya (Bukit-Banjar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, dalam hal asal muasal orang Banjar. Berbagai kajian para pakar seperti Noerid Haloei Radam dalam disertasinya “Religi Urang Bukit”, menunjukkan bahwa orang Dayak Meratus memiliki “hubungan genealogis” terutama dengan orang Banjar Hulu. Menurut Noerid Haloei Radam, sejumlah puak seperti Bukit, Ngaju atau Ma’anyan dari kalangan masyarakat peladang yang sebelumnya mendiami kawasan hilir DAS (Daerah Aliran Sungai) Barito dan atau DAS Martapura telah melakukan kontak yang intensif dan aktif dengan dunia luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merekalah pembawa perubahan dalam arti yang sebenarnya. Ketiga kelompok etnis tersebut (Bukit, Ngaju, dan Ma’anyan) merupakan orang Banjar Asli yang dinamakan dengan Banjar Arkais dengan segala aktivitas perkembangan berikutnya. Diantara ketiga puak itu, orang Banjar Arkais dari unsur Bukitlah yang lebih mendekati sebagai nenek moyang orang Banjar Hulu atau nenek moyang Dayak yang bermukim di pegunungan Meratus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Banjar Arkais tersebut mampu beradaptasi dengan segala perubahan dari dunia luar, termasuk mengadopsi, mengolah dan mengembangkan informasi seperti bahasa yang kemudian memunculkan Bahasa Banjar Arkais yang kosa katanya lebih banyak berasal dari Bahasa Melayu Kuno. Bahasa Banjar Arkais itu berkembang selanjutnya menjadi Bahasa Banjar Modern akibat sentuhan yang intensif oleh Kebudayaan Melayu Islam melalui tulisan-tulisan Arab-Melayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Noerid Haloei Radam, menurut Alfani Daud (1997) orang Banjar modern itu terbentuk dari adanya pertemuan dan percampuran antar kelompok Ngaju, Ma’anyan, dan Bukit yang menghasilkan tiga kelompok subetnis, yaitu Banjar Kuala, Banjar Batang Banyu, dan Banjar Pahuluan. Ketiga subetnis inilah yang sekarang disebut Etnis Banjar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, relasi genealogis. Dalam foklore berupa mitos yang berkembang di kalangan etnis Dayak Meratus di daerah pegunungan Meratus Kabupaten Tapin disebutkan bahwa antara orang Meratus dan orang Banjar Hulu khususnya berasal dari satu rumpun induk yang sama yakni keturunan dua kakak beradik (bahasa Banjar: dua badangsanak) Intingan (Palui Anum) dan Dayuhan (Palui Tuha). Keduanya berasal dari desa Banua Halat. Versi dari Dayak Meratus di Loksado mereka bernama Bambang Basiwara dan Si Ayuh (Sandayuhan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut cerita orang-orang tua Banua Halat Kabupaten Tapin , dinamakan Banua Halat karena di masa awal perkembangan Islam di Kalimantan Selatan khususnya di daerah merupakan kampung yang membatasi tempat tinggal masyarakat yang memeluk agama Islam dengan masyarakat yang tetap bertahan dengan kepercayaan lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Islam masuk ke Banua Halat, Intingan tertarik dan menyatakan meninggalkan kepercayaan lamanya dengan memeluk agama Islam. Sedangkan saudaranya Dayuhan beserta keluarga dan pengikutnya yang tetap berkeinginan mempertahankan kepercayaan dan adat istiadat nenek moyangnya, berpindah ke daerah terpencil di pegunungan Meratus. Keturunan Dayuhan membangun desa-desa di Mancabung, Harakit, Balayawan, dan Danau Darah di pegunungan sekitar Tapin.&lt;br /&gt;Desa Banua Halat menjadi daerah perbatasan antara kedua bersaudara tersebut, namun demikian Dayuhan dan keturunannya tetap menganggap Intingan dan anak cucunya sebagai saudara kandungnya dengan panggilan “Dangsanak” yang artinya “Saudara Kandung”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, kesamaan bahasa. Sebagaimana telah dikemukakan di muka, bahwa bersandar pada mitos, mantera suci, dan berbagai bentuk peralatan upacara menunjukkan bahwa orang Dayak Meratus yang sekarang bermukim di pegunungan Meratus, nenek moyang mereka dahulunya berasal dari tepian sungai dan pesisir pantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan itu juga didukung oleh alat pelacak utama perkembangan suatu kaum yakni fakta-fakta kebahasaan. Bahasa Banjar mempunyai dua dialek bahasa yaitu Bahasa Banjar Kuala dan Bahasa Banjar Hulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Noerid Haloei Radam (1987) bahasa orang Dayak Meratus dan bahasa Banjar (Hulu) merupakan dua bahasa yang berasal dari satu rumpun yang sama yakni Bahasa Banjar Arkais. Atau dalam istilah lain bahasa yang digunakan orang Dayak Meratus dan orang Banjar Hulu hanyalah dua intonasi (aksen) dari satu bahasa yakni Bahasa Banjar Hulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan Radam itu selaras dengan pendapat para ahli lainnya seperti Hammer (dalam Cense dan Uhlenback, 1958), Aspandi Adul (1975), dan Abdurrahman Ismail dkk., (1979), dan Alfani Daud (1997) yang pada intinya menyatakan hal sama. Kesimpulan para ahli itu tentu saja telah melemahkan pendapat Tjilik Riwut dalam bukunya “Kalimantan Membangun” yang memasukkan kelompok orang Bukit di pegunungan Meratus ke dalam kelompok Dayak Ngaju, dengan menyebut mereka sebagai “Dayak Bukit”. Padahal bahasa orang Bukit sangat berbeda jauh dengan bahasa orang Ngaju.&lt;br /&gt;Hasil penelitian kebahasaan dewasa ini juga menjelaskan bahwa Bahasa Banjar Arkais adalah bahasa yang tertua di samping Bahasa Melayu Sambas, Melayu Brunei dan Bahasa Iban (Radam, 1996). Meski disadari pula bahwa Bahasa Banjar juga serumpun dengan Bahasa Melayu dan kedua-duanya termasuk ke dalam rumpun kebahasaan yang besar yakni Bahasa Austronesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di segi kebahasaan terdapat fakta-fakta berupa istilah-istilah/nama peralatan upacara etnis Dayak Meratus yang merujuk pada kehidupan di muara sungai atau di daerah pesisir pantai, seperti: perahu malayang (perahu terapung-apung), tihang layar (tiang layar), dan balai bajalan (balai berpindah-pindah). Orang Dayak Meratus juga mempergunakan istilah yang berkonotasi dengan sungai dan laut untuk menyebut huma sebagai pulau (laut tempat berlayar, dan laut tempat memohon. Mereka menyebut kegiatan menanam padi sebagai kegiatan mengantarkan padi tulak balayar (pergi berlayar), dan kegiatan balian batandik (balian menari) dalam upacara ma’anyanggar Banua (upacara melindungi kampung dari marabahaya) disebut balian bakalaut (balian pergi ke laut).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, sistem Keyakinan. Alasan kultural yang menunjukkan bahwa orang Dayak Meratus bukanlah “orang gunung” sebagaimana yang banyak disangkakan orang selama ini adalah sistem keyakinan. Dalam hal ini, Noerid Haloei Radam mencatat bahwa di kalangan orang Dayak Meratus Bukit dikenal adanya tiga kelompok roh pemelihara kawasan pemukiman dan tempat tinggal, yaitu Siasia Banua, Bubuhan Aing, dan Kariau yang umumnya berkaitan dengan daerah perairan pantai yang sekarang dihuni oleh orang Banjar Hulu dan Banjar Kuala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil penelitian Noerid Haloei Radam menunjukkan bahwa hingga sekarang belum ditemukan folklore orang Dayak Meratus berupa mite, legenda, dan dongeng yang di dalamnya berisi petunjuk bahwa nenek moyang orang Dayak Meratus berasal dari daerah pegunungan tertentu. Justru sebaliknya, banyak sekali ditemukan folklore orang Meratus yang menurut hasil kajian/analisis Radam justru berisi petunjuk bahwa nenek moyang mereka berasal dari suatu dataran rendah di suatu muara sungai yang terletak di tepi laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para tetuha orang Dayak Meratus memang mengatakan bahwa nenek moyang mereka dahulunya tinggal di kampung-kampung yang sekarang ini telah dihuni oleh orang Banjar. Kepindahan nenek moyang mereka ke gunung-gunung dilakukan dengan memudiki sungai-sungai guna menghindarkan diri dari konflik sosial, politik, ekonomi, dan agama dengan orang Banjar yang lebih unggul posisi tawarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kolektif bahwa orang Dayak Meratus pada mulanya tinggal di dataran rendah juga didukung oleh Alfani Daud (1997) yang menyatakan bahwa orang Dayak Meratus yang ada sekarang kemungkinan adalah sisa-sisa dari imigran Melayu gelombang pertama (proto melayu) yang terdesak ke pegunungan Meratus oleh kedatangan kelompok imigran yang datang belakangan (deutro melayu). Oleh karena mereka dahulunya migran Melayu yang datang lebih awal, maka bahasa mereka adalah bahasa Banjar kuno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, dalam hal sistem penguburan, apa yang dilakukan orang Dayak Meratus tidak berbeda dengan orang Banjar umumnya yang beragama Islam, yakni dikubur langsung ke dalam tanah. Yang membedakan keduanya, hanyalah doa-doa yang digunakan sesuai dengan keyakinan masing-masing.&lt;br /&gt;Sistem penguburan yang dilakukan Dayak Meratus justru sangat berbeda dengan sistem penguburan sekunder yang ada pada etnis Dayak pada umumnya, karena etnis Dayak Meratus, tidak mengenal “penguburan kedua” yakni upacara penghantaran roh dan wadah kubur seperti yang terdapat upacara Tiwah, sandong, dan marabia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sekarang ini, orang Dayak Meratus lebih memposisikan diri mereka sebagai bagian dari “Dayak”, maka dengan mengacu kepada “hubungan kekerabatan” yang dimiliki keduanya, posisi itu dapat digeser dengan menjadikan mereka sebagai bagian dari “Banjar” yang mempunyai kekhasan tersendiri, seperti religi, adat istiadat, dan bertempat tinggal dipegunungan Meratus. Posisi “Banjar Meratus” di sini merupakan sebuah subetnis dari etnis Banjar, di samping subetnis Banjar Kuala, subetnis Banjar Hulu (Pahuluan), dan subetnis Banjar Batang Banyu. Sebagai subetnis dari etnis Banjar, maka mereka dapat dipanggil dengan sebutan “orang atau bubuhan Banjar Meratus”, seperti halnya panggilan orang atau bubuhan Banjar Hulu, bubuhan Banjar Kuala, dan bubuhan Banjar Batang Banyu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://bubuhanbanjar.wordpress.com/%20"&gt;bubuhanbanjar&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3509747544273203794-1247808046804676502?l=etnikprogresif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/feeds/1247808046804676502/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2011/01/urang-banjar-meratus.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/1247808046804676502'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/1247808046804676502'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2011/01/urang-banjar-meratus.html' title='Urang Banjar Meratus'/><author><name>mbah dinan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10973480357642906490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-zT11WGzH8D8/TrzZyXePTwI/AAAAAAAABGU/mvgB2aMy4Zc/s220/etnikprogresif.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3509747544273203794.post-8068721475205543648</id><published>2010-12-31T03:23:00.002+07:00</published><updated>2011-01-11T19:25:45.301+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tradisi'/><title type='text'>Adat Mangkok Merah dan Pamabakng</title><content type='html'>&lt;a href="http://etnikprogresif.blogspot.com/tag/mangkok%20merah" rel="attachment wp-att-395" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" class="alignleft size-full wp-image-395" height="240" src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/fafga.jpg?w=104&amp;amp;h=78" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Adat Mangkok Merah dan Pamabakng” adalah sebuah judul yang sengaja  diangkat dari permukaan, karena adat mangkok merah dan pamabakng telah  di kenal oleh masyarakat luas  diluar etnis Dayak terutama dalam gerakan meyeluruh masayarakat Dayak  takala penumpasan gerakan Paraku G-30-S PKI di Kalimantan Barat pada  tahun 1967. Demikian pula adat Pamabakng yang cukup dikenal karena telah  beberapa kali diberlakukan terutama dalam upaya perdamayan akibat  kerusuhan etnis yang terjadi di Kalimantan Barat dan tragedy berdarah di  markas Armet Nagabang beberapa tahun yang lalu. Walupun Adat ini sudah  cukup dikenal dikalangan masyarakat luas, namun adat ini perlu diangkat  dalam suatu tulisan demi untuk persamaan presepsi tentang adat itu  karena selama ini mungkin terdapat perbedaan presepsi dikalangan  masayarakat luas bahkan dikalangan masayarakat Dayak sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua jenis adat ini mempunyai keunikan tersendiri ibarat dua sisi  yang bersebaranagan namaun mempunyai keterkaitan yang sangat erat.  Mangkok Merah adalah adat yang bersifat sakral dan memaksa untuk  mengarahkan masa demi tujuan tertentu sementara pamabakng adalah adat  yang bersipat sakral yang harus dipatuhi dalam upaya perdamaian akibat  adanya suatu komplik berdarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian selain bersebrangan dan mempunyai keterkaitan yang  sangat erat, kedua adat ini fungsinya seolah-olah bertentangan. Terlepas  dari pendapat pro dan kontra secara esensi adat ini perlu dipertahankan  dan di lesatarikan, namun apakah ia masih tetap dipertahankan dan  dilestarikan, namun apakah ia masih tetap ditaati dan di patuhi terutama  di era globalisasi yang serba moderen ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;ADAT MANGKOK MERAH&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan jenis alat peraganya, pada mulanya adat ini bernama mangkok  jaranang. Jaranang adalah sejenis tanaman akar yang mempunyai getah  berwrana merah. Getah akar jaranang ini di pergunakan sebagai penganti  warna cat merah karena pada waktu itu orang belum mengenal cat. Akar  jaranang yang berwarna merah ini dioleskan pada dasar mangkuk bagian  dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu ia disebut mangkok merah. Pada jaman dahulu apabila  dalam suatu kasus pihak pelaku tidak bersedia di selesaikan secara adat  maka pihak ahli waris korban yang merasa dihina dan dilecehkan  kehormatan, harkat dan martabatnya atas kesepakatan dan musyawarah ahli  waris segera melakukan aksi belas dendam melalui pengerah masa secara  adat yang disebut adat mangkok merah. Kasus tersebut biasanya mangkuk  menyangkut kasus parakng- bunuh ataupun kasus pelecehan seksual dan lain  sebagainya yang sifatnya mengarah kepada pelecehan dan penghinaan  terhadap ahli waris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Alat Peraga dan Maknanya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Alat paraga mangkok merah terdiri dari :&lt;br /&gt;• Sebuah mangkuk sebagi tempat/sarana untuk meletakkan alat paraga lainnya.&lt;br /&gt;• Dasar mangkuk bagian dalam dioles dengan getah jaranang berwarna merah yang mengandung pengertian “ Pertumpahan darah “.&lt;br /&gt;• Bulu/sayap ayam yang mengandung pengertian “ Cepat “, segera, kilat, seperti terbang”.&lt;br /&gt;• Tabur atap daun ( ujung atap yang terbuat dari daun rumbia) mengandung  pengertian bahwa yang membawa berita itu tidak boleh terhambat oleh  hujan karena ada terinak ( payung ).&lt;br /&gt;• Longkot api ( bara kayu api baker yang sudah di pakai untuk memasak di  dapur ) yang mempunyai pengertian bahwa yang membawa berita tidak boleh  terhambat oleh petang/gelap malam hari, karena sudah disedikan  penerangan api colok dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat para mangkok merah dikemas dalam mangkok yang telah diberi warna  merah jaranang kemudian di bungkus dengan kain. Beberapa orang yang di  tunjuk utnuk menyampaikan berita sekaligus mengajak seluruh jajaran ahli  waris itu sebelumnya di berikan arahan mengenai maksud dan tujuan  mangkok merah itu, siapa saja yang harus ditemui, kapan berkumpul,  tempat berkumpul dan lain sebagainya. Tentu saja mereka yang membawa  berita mangkok merah tersebut tidak boleh menginap bahkan singah terlalu  lamapun tidak boleh. Walau hujan lebat dan petang gelap sekalipun  mereka harus meneruskan perjalanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang diuraikan dalam pendahuluan, bahwa yang melatar  belakangi terjadinya adat mangkok merah itu karena akibat adanya suatu  yang tidak mau diselasaikan secara adat oleh pelakunya sehingga dianggap  telah menghina dan melecahkan harkat dan martabat ahli waris korban.  Damai kehormatan,harakat dan maratabat ahli waris sehingga mereka  mengadakan upaya pembalasan dengan mengumpulkan ahli waris melalui adat  mangkok merah. Misalnya seorang yang mati terbunuh apabila dalam waktu  24 jam tidak ada tanda-tanda upaya penyelesaian secara adat maka pihak  ahli waris korban segera menyikapinya dengan suatu upaya pembelasan,  karena perbuatan sipelaku di anggap telah menentang pihak ahli waris  korban dan ia pantas dihajar sebagai binatang karena tidak beradat.  Selanjutnya digelarlah adat mangkok mereah seperti yang telah di  jelaskan di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai mana di jelaskan di atas bahwa gerakan mangkok merah muncul  untuk membela kehormatan, harkat dan martabat ahli waris yang telah  dihina dan dilecehkan. Dengan demikian tentu saja gerakan ini menjadi  tangung jawab ahli waris. Menurut masyarakat adat Dayak Kanayatn  susunan/turunan page waris samdiatn itu dapat digambarkan menurut garis  lurus yaitu :&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Saudara Sekandung ( tatak pusat ) disebut samadiatn.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sepupu satu kali ( sakadiritan ) di sebut kamar kapala.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sepupu dua kali ( dua madi’ ene’ ) di sebut waris.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sepupu tiga kali ( dua madi’ ene’ saket ) di sebut waris.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sepupu empat kali ( saket ) di sebut waris.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sepupu lima kali ( duduk dantar ) di sebut waris.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sepupu enam kali ( dantar ) di sebut waris.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sepupu tujuh kali (  dantar page ) di sebut waris.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sepupu delepan kali ( page ) masih tergolong waris.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sepupu sembilan kali, dah baurangan tidak tergolong waris.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian tersebut jelaslah bahwa yang mulai disebut waris adalah pada  turunan sepupu tiga kali atau dua madi’ene’, sehinga mereka yang  termasuk dalam turunan ini di anggap sebagai kepala waris atau waris  kuat. Merekalah yang berhak memimpin gerakan ini sifatnya mangkok  mereah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana telah di jelaskan dalam pendahuluan maka sifat-sifat yang terkandung didalam adat mengkok merah tersebut adalah :&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Seluruh acara pelaksanaan adat mangkok merah dari mulai  bermusyawarah/mufakat hinga pemberangkatan bala, sarat prilaku-prilaku  mistik relegius, oleh karena itu adat bersifat sakral.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pihak ahli waris yang dituju atau yang menerima berita mengkok merah  demi menjunjung tinggi harkat dan martabat serta kehormatan ahli waris  mereka harus ikut. Apabila mereka tidak ikut, mereka dapat dicap sebagai  pengecut dan tidak menaruh rasa malu. Dengan demikaian mereka terpaksa  harus ikut. Jadi dalam adat mangkok merah terdapat sifat mengikat atau  memaksa.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;Menelusuri proses pelaksanaan adat mangkok mereah, ternyata bahwa  pelkasanan dan penangung jawab adat mengkok merah adalah selauruh  jajaran ahli waris korban di pimpin oleh ahli waris dua madi’ ene’  sebagai kepala waris. Sedangkan sasarannya adalah pihak pelaku yang  tidak bersedia membayar hukuman adat senhinga di anggap telah melecahkan  dan menghina pihak ahli waris korban. Apabila bala telah bernagkat  menuju sasaran hampir tidak ada alternatif lain untuk pencegahan,  kecuali dengan upaya adat dimana pihak pelaku harus memasang adat  pamabang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;ADAT PAMABAKNG&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sebagai mana telah diuraikan diatas bahwa adat mangkok merah dan adat  pamabang ibarat dua sisi yang berseberangan dan mengandung makna yang  bertentangan namun keduanya mempunyai keterikatan yang sangat erat.  Telah diuraikan pula pelaksanaan adat mangkok merah mempunyai dampak  yang sangat negatif, akan tetapi sebagai alat ia sangat tergantung  kepada pemakaiyannya. Dengan demikian ia dapat pula berdampak positif,  misalnya penggunaan adat mangkok merah pada saat pemumpasan paraku  G-30-S PKI di Kalimantan Barat pada tahun 1967.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Alat Peraga&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu adat pamabankng mempunyai dampat yang sangat positip  mengupayakan penyelasaian komplik sejarah damai. Bala yang akan menyerag  setelah mengadakan pengerahan masa melalaui adat mangkok merah. Harus  cepat di antisipasi oleh pengurus adat , dalam hal ini temenggung  dibantu oleh pasirah dan pangaraga. Mereka harus segera memeberi tahu  sekaligus memerintahkan kepada ahli waris di bantu oleh masayarkat  kampung untuk memasang adat pamabakng, dengan alat paraganya sebagai  berikut :&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt; 1 buah tempayan jampa diletakkan di atas jarungkakng banbu kuning ditutup pahar dengan posisi telungkup.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kemudian ada pelantar di taruh di atas talam lengkap dengan topokng (  tempat sirih ) dan beras beserta alat-alat palantar lainnya lengkap  dengan ayam 1 ekor sedapatnya berwarna putih, tidak berwarna merah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;buah bendera berwarana putih yang dipasang di dekat tampayan jampa.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kemudian di dekat tempayan jampa harus ada papangokng ( penggung kecil dari kayu ) untuk meletakkan palantar.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Disekitar pamabang terhampar bide untuk tempat duduk dan bermusyawarah  dengan bala  yang akan datang.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tempayan jamba melambangkan tubuh korban jika terjadi pada kasus pembunauhan, dan sebagai tanda pengakuan adat bagi pelaku.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ayam putih dan bendera putih sebagai simbol perdamaian.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Beras banyu sebagai simbol perampunan sekaligus untuk menenangkan hati yang sedang dilanda emosi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Topokng tempat sirih dipergunakan untuk menyapa bala yang datang.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Pamabankng harus ditunggu oleh temenggung dan jika temenggung tidak  ada/berhalangan, pamabakng di tunggu oleh pasirah atau oleh tua-tua adat  yang dianggap mengerti tentang adat. Selain mengerti tentang adat orang  yang menunggu pemabankng haruslah orang yang bijaksana dan biasanya  pula harus orang yang punya ilmu dalam mengatasi kasus seperti itu  misalnya mantra dan jampi-jampi yang di sebut sanga bunuh, bungkam, kata  gampang, pelembut hati seperti pangasih dan lain-lain masksudnya agar  saran serta naseihat dsb. Dapat dipakai oleh pihak bala yang sedang  emosi.&lt;br /&gt;Apa bila keadaan yang sangat gawat dan rawan, pamabankng dapat di pasang  lebih dari satu yaitu dipersimpangan jalan masuk dan di ujung pante (  pelataran ). Maksudnya adalah apabila pamabakng yang satu tetap  dilangar, masih adalagi pamabnag lain yang terakhir. Pamabakng yang  terakhir ini merupakan pertahanan terakhir sehinga apabila pamabang  terakhir inipun di langar maka tidak ada alternatif lain selain harus  mengadakan perlawanan dan perang kelompok ahli warispun tidak dapat  terelakan. Perbuatan ini dapat menyebabkan ririkngnya adat raga nyawa,  artinya adat raganyawa tidak dibayar. Namun sepanjang sejarah perjalanan  adat hal seperti ini tidak pernah terjadi. Pada saat bala tiba di  tempat pamabang, segera penunggu pamabakng menyapanya dengan topokng  sekaligus di persilakan duduk. Ia mulai membentakangkan arti dan makana  pamabakng bahwa pihak pelaku mengaku bersalah dan bersedia  menyelasaikannya secara hukum adat. Biasanya setelah mendengar  penjelasan itu pihak bala melampisan emosinya dengan menikamkan  senjatnya ketanah di sertai dengan tangisan karena hatinya kesal tidak  mendapat perlawanan.&lt;br /&gt;Maka yang paling penting dari adat pamabakng ini adalah :&lt;br /&gt;1. Jika pamabakng tidak di pasang, dapat diartikan :&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Bahwa pihak pelaku menetang pihak ahli waris korban untuk berkelahi atau perang antar kelompok ahli waris.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pihak pelaku tidak mau sama sekalai membayar adat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pengurus adat seolah-olah membiarkan dan malahan menghasut kedua belah  pihak untuk saling menyerang.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;2. Jika pamabakng sudah terpasang dapat di artikan :&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Kasus tersebut sudah di tangan pengurus adat&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pihak pelaku sudah mengakui kesalahannya dan besedia membayar hukuman adat.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Adat pamabakng adalah adat bahoatn artinya hanya untuk dipajang bukan  untuk di bayarkan. Setelah bala datang mereka harus di bore baras banyu  dan selanjutnya dilakukan persembanhan kepada jubata. Pamabakng teteap  terpasang selama adat belum diselesaikan dan paling lama selama 3 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://yohanessupriyadi.blogspot.com/%20" target="_blank"&gt;yohanessupriyadi&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3509747544273203794-8068721475205543648?l=etnikprogresif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/feeds/8068721475205543648/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/12/adat-mangkok-merah-dan-pamabakng-adalah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/8068721475205543648'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/8068721475205543648'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/12/adat-mangkok-merah-dan-pamabakng-adalah.html' title='Adat Mangkok Merah dan Pamabakng'/><author><name>mbah dinan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10973480357642906490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-zT11WGzH8D8/TrzZyXePTwI/AAAAAAAABGU/mvgB2aMy4Zc/s220/etnikprogresif.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3509747544273203794.post-6934351609369558063</id><published>2010-09-26T12:45:00.002+07:00</published><updated>2011-01-11T19:25:55.544+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Senjata Suku Dayak</title><content type='html'>&lt;h3&gt;Senjata Khas  Utama Suku Dayak&lt;/h3&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://isenmulang.com/wp-content/uploads/2010/05/sumpit.jpg"&gt;&lt;img alt="" height="320" src="http://isenmulang.com/wp-content/uploads/2010/05/sumpit.jpg" title="sumpit" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sipet / Sumpitan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merupakan senjata utama suku dayak. Bentuknya bulat dan berdiameter 2-3 cm, panjang 1,5 â€“ 2,5 meter, ditengah-tengahnya berlubang dengan diameter lubang Â¼ â€“ Â¾ cm yang digunakan untuk memasukan anak sumpitan (Damek). Ujung atas ada tombak yang terbuat dari batu gunung yang diikat dengan rotan dan telah di anyam. Anak sumpit disebut damek, dan telep adalah tempat anak sumpitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Lonjo / Tombak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibuat dari besi dan dipasang atau diikat dengan anyaman rotan dan bertangkai dari bambu atau kayu keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Telawang / Perisai&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://isenmulang.com/wp-content/uploads/2010/05/telawang.jpg"&gt;&lt;img alt="" height="252" src="http://isenmulang.com/wp-content/uploads/2010/05/telawang.jpg" title="telawang" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Terbuat dari kayu ringan, tetapi liat. Ukuran panjang 1 â€“ 2 meter dengan lebar 30 â€“ 50 cm. Sebelah luar diberi ukiran atau lukisan dan mempunyai makna tertentu. Disebelah dalam dijumpai tempat pegangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mandau&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://isenmulang.com/wp-content/uploads/2010/05/mandau.jpg"&gt;&lt;img alt="" height="252" src="http://isenmulang.com/wp-content/uploads/2010/05/mandau.jpg" title="mandau" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Merupakan senjata utama dan merupakan senjata turun temurun yang dianggap keramat. Bentuknya panjang dan selalu ada tanda ukiran baik dalam bentuk tatahan maupun hanya ukiran biasa. Mandau dibuat dari batu gunung, ditatah, diukir dengan emas/perak/tembaga dan dihiasi dengan bulu burung atau rambut manusia. Mandau mempunyai nama asli yang disebut â€œMandau Ambang Birang Bitang Pono Ajun Kajauâ€�, merupakan barang yang mempunyai nilai religius, karena dirawat dengan baik oleh pemiliknya.&lt;br /&gt;Batu-batuan yang sering dipakai sebagai bahan dasar pembuatan Mandau dimasa yang telah lalu yaitu: Batu Sanaman Mantikei, Batu Mujat atau batu Tengger, Batu Montalat.Mandau adalah senjata tajam sejenis parang berasal dari kebudayaan Dayak di Kalimantan. Mandau termasuk salah satu senjata tradisional Indonesia. Berbeda dengan parang, mandau memiliki ukiran â€“ ukiran di bagian bilahnya yang tidak tajam. Sering juga dijumpai tambahan lubang-lubang di bilahnya yang ditutup dengan kuningan atau tembaga dengan maksud memperindah bilah mandau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kumpang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://isenmulang.com/wp-content/uploads/2010/05/kumpang.jpg"&gt;&lt;img alt="" height="252" src="http://isenmulang.com/wp-content/uploads/2010/05/kumpang.jpg" title="kumpang" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kumpang adalah sarung bilah mandau. Kumpang terbuat dari kayu dan lazimnya dihias dengan ukiran. Pada kumpang terikat pula semacam kantong yang terbuat dari kulit kayu berisi pisau penyerut dan kayu gading yang diyakini dapat menolak binatang buas. Mandau yang tersarungkan dalam kumpang biasanya diikatkan di pinggang dengan jalinan rotan. Menurut literatur di Museum Balanga, Palangkaraya, bahan baku mandau adalah besi (sanaman) mantikei yang terdapat di hulu Sungai Matikei, Desa Tumbang Atei, Kecamatan Sanaman Matikei, Katingan. Besi ini bersifat lentur sehingga mudah dibengkokan. Mandau asli harganya dimulai dari Rp. 1 juta rupiah. Mandau asli yang berusia tua dan memiliki besi yang kuat bisa mencapai harga Rp. 20 juta rupiah per bilah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan baku pembuatan mandau biasa dapat juga menggunakan besi per mobil, bilah gergaji mesin, cakram kendaraan dan besi batang lain. Piranti kerja yang digunakan terutama adalah palu, betel, dan sebasang besi runcing guna melubangi mandau untuk hiasan. Juga digunakan penghembus udara bertenaga listrik untuk membarakan nyala limbah kayu ulin yang dipakainya untuk memanasi besi. Kayu ulin dipilih karena mampu menghasilkan panas lebih tinggi dibandingkan kayu lainnya. Mandau untuk cideramata biasanya bergagang kayu, harganya berkisar Rp. 50.000 hingga Rp. 300.000 tergantung dari besi yang digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mandau asli mempunnyai penyang, penyang adalah kumpulan-kumpulan ilmu suku dayak yang didapat dari hasil bertapa atau petunjuk lelulur yang digunakan untuk berperang. Penyang akan membuat orang yang memegang mandau sakti, kuat dan kebal dalam menghadapi musuh. mandau dan penyang adalah merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan turun temurun dari leluhur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dohong&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senjata ini semacam keris tetapi lebih besar dan tajam sebelah menyebelah. Hulunya terbuat dari tanduk dan sarungnya dari kayu. Senjata ini hanya boleh dipakai oleh kepala-kepala suku, Demang, Basir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: &lt;a href="http://www.isenmulang.com/" target="_blank"&gt;isen mulang&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3509747544273203794-6934351609369558063?l=etnikprogresif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/feeds/6934351609369558063/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/09/senjata-suku-dayak.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/6934351609369558063'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/6934351609369558063'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/09/senjata-suku-dayak.html' title='Senjata Suku Dayak'/><author><name>mbah dinan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10973480357642906490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-zT11WGzH8D8/TrzZyXePTwI/AAAAAAAABGU/mvgB2aMy4Zc/s220/etnikprogresif.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3509747544273203794.post-7725933848351831534</id><published>2010-09-19T17:59:00.002+07:00</published><updated>2011-01-11T19:27:15.071+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tradisi'/><title type='text'>Upacara Tiwah Adat Dayak</title><content type='html'>&lt;a href="http://pakarbisnisonline.blogspot.com/2010/01/upacara-tiwah-adat-dayak.html"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://etnikprogresif.blogspot.com/" rel="attachment wp-att-420" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" class="size-full wp-image-420" height="200" src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/tiwah.png" title="Tiwah" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Upacara Tiwah atau Tiwah Lale atau Magah Salumpuk liau Uluh Matei ialah upacara sakral terbesar untuk mengantarkan jiwa atau roh manusia yang telah meninggal dunia menuju tempat yang dituju yaitu Lewu Tatau Dia Rumpang Tulang, Rundung Raja Dia Kamalesu Uhate, Lewu Tatau Habaras Bulau, Habusung Hintan, Hakarangan Lamiang atau Lewu Liau yang letaknya di langit ke tujuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perantara dalam upacara ini ialah :&lt;br /&gt;Rawing Tempun Telun, Raja Dohong Bulau atau Mantir Mama Luhing Bungai Raja Malawung Bulau, yang bertempat tinggal di langit ketiga. Dalam pelaksanaan tugas dan kewajibannya Rawing Tempun Telun dibantu oleh Telun dan Hamparung, dengan melalui bermacam-macam rintangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendaraan yang digunakan oleh Rawing Tempun Telun mengantarkan liau ke Lewu Liau ialah Banama Balai Rabia, Bulau Pulau Tanduh Nyahu Sali Rabia, Manuk Ambun. Perjalanan jauh menuju Lewu Liau meli\ewati empat puluh lapisan embun , melalui sungai-sungai, gunung-gunung, tasik, laut, telaga, jembatan-jembatan yang mungkin saja apabila pelaksanaan tidak sempurna, Salumpuk liau yang diantar menuju alam baka tersesat. Pelaksana di pantai danum kalunen dilakukan oleh Basir dan Balian. Untuk lebih memahami uraian selanjutnya, beberapa istilah perlu diketahui :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian yang Perlu Dipahami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1.     Jiwa atau Roh.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.    Jiwa/roh manusia yang masih hidup di dunia disebut Hambaruan atau Semenget.&lt;br /&gt;b. Jiwa/roh orang yang telah meninggal dunia disebut Salumpuk Liau. Selumpuk Liau harus dikembalikan kepada Hatalla. Prinsip keyakinan Kaharingan menyatakan bahwa tanpa diantar ke lewu liau dengan sarana upacara Tiwah, tak akan mungkin arwah mencapai lewu liau. Bila dana belum mencukupi, ada kematian, pelaksanaan upacara Tiwah boleh ditunda menunggu terkumpulnya dana dan bertambahnya jumlah keluarga yang akan bergabung untuk bersama melaksanakan upacara sakral tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upacara besar yang berlangsung antara tujuh sampai empat puluh hari tentu saja membutuhkan dana yang tidak sedikit, namun karena adanya sifat gotong royong yang telah mendarah daging, maka segala kesulitan dapat diatasi. Tumbuh suburnya prinsip saling mendukung dalam kebersamaan menumbuhkan sifat kepedulian yang sangat mendalam sehingga kewajiban melaksanakan upacara Tiwah bagi keluarga-keluarga yang ditinggalkan didukung dan dilaksanakan bersama oleh mereka yang merasa senasib dan sepenanggungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Salumpuk Bereng yaitu raga manusia yang telah terpisah dari jiwa karena terjadinya proses kematian. Setelah mengalami kematian, salumpuk bereng diletakkan dalam peti mati, sambil menunggu pelaksanaan upacara Tiwah, salumpuk bereng dikuburkan terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d.    Pengertian dosa&lt;br /&gt;Tiga hukuman dosa yang harus ditanggung oleh Salumpuk liau akibat perbuatan semasa hidupnya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1). Merampas, mengambil isteri orang, mencuri dan merampok. Hukuman yang harus dijalani oleh Salumpuk liau untuk perbuatan ini ialah menanggung siksaan di Tasik Layang Jalajan. Untuk selamanya mereka akan menjadi penghuni tempat tersebut. Di tempat itu pula Salumpuk liau harus mengangkat barang-barang yang telah dicuri atau dirampok ketika hidup di dunia. Barang-barang curian tersebut akan selalu dijunjung sampai pemilik barang yang barangnya dicuri meninggal dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2). Ketidakadilan dalam memutuskan perkara bagi mereka yang berwewenang memutuskannya, yaitu para kepala kampung, kepala suku dan kepala adat. Mereka juga akan dihukum di Tasik Layang Jalajan untuk selamanya dalam rupa setengah kijang dan setengah manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3). Tindakan tidak adil atau menerima suap atau uang â€œSorokâ€œ bagi mereka yang bertugas mengadili perkara di Pantai Danum Kalunen (dunia). Mereka akan dimasukkan ke dalam goa-goa kecil yang terkunci untuk selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2.    Jenis dan Nama Peti Mati :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;a. Runi yaitu jenis peti mati yang terbuat dari batang kayu bulat, bagian tengahnya dibuat berongga/diberi lubang dan ukuran lubang tengah disesuaikan dengan ukuran salumpuk bereng yang akan diletakkan di situ.&lt;br /&gt;b.    Raung yaitu peti mati terbuat dari kayu bulat, seperti peti mati pada umumnya, ada tutup peti  pada bagian atas.&lt;br /&gt;c.    Kakurung, yaitu jenis peti mati pada umumnya terbuat dari papan persegi empat panjang, dengan tutup dibagian atas.&lt;br /&gt;d.    Kakiring, peti mati berbentuk dulang tempat makanan babi,  kakinya berbentuk tiang panjang ukuran satu depa.&lt;br /&gt;e.    Sandung, berbentuk rumah kecil berukuran tinggi, dengan  empat tiang.&lt;br /&gt;f.    Sandung Raung, berbentuk rumah kecil berukuran tinggi, dengan enam tiang.&lt;br /&gt;g.    Sandung Tulang, berbentuk rumah kecil berukuran tinggi, dengan satu tiang.&lt;br /&gt;h. Sandung Rahung, umumnya digunakan oleh mereka yang mati terbunuh. Sandung Rahung juga disebut Balai Telun karena Rawing Tempun Telun akan memberikan balasan kepada si pembunuh.&lt;br /&gt;i.    Tambak, di kubur di dalam tanah bentuknya persegi empat.&lt;br /&gt;j.    Pambak, juga dikubur dalam tanah, namun bentuknya sedikit berbeda dengan Tambak.&lt;br /&gt;k.    Jiwab,  bentuknya menyerupai sandung namun tanpa tiang.&lt;br /&gt;l.    Sandung Dulang, tempat menyimpan abu jenazah.&lt;br /&gt;m.    Sandung Naung, tempat menyimpan tulang belulang.&lt;br /&gt;n.    Ambatan, patung-patung yang terbuat dari kayu dan diletakan disekitar sandung.&lt;br /&gt;o.    Sapundu, patung terbuat dari kayu berukuran besar dan diletakan di depan rumah.&lt;br /&gt;p.    Sandaran Sangkalan Tabalien yaitu patung besar jalan ke langit.&lt;br /&gt;q.    Pantar Tabalien yaitu Pantar kayu jalan ke lewu liau.&lt;br /&gt;r.    Sandung Balanga, yaitu belanga tempat menyimpan abu jenazah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upacara Tiwah adalah upacara sakral terbesar yang beresiko tinggi, maka pelaksanaan dan persiapan segala sesuatunya harus dilakukan dengan benar-benar cermat, karena kalau terjadi kekeliruan atau pelaksanaan tidak sempurna, para ahli waris yang ditinggalkan akan menanggung beban berat, diantaranya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1).    Pali akan pambelum itah harian .&lt;br /&gt;2).    Tau pamparesen itah limbah gawie toh .&lt;br /&gt;3).    Indu kakicas, pambelum itah harian andau .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak persyaratan yang harus dipenuhi, diantaranya harus tersedia hewan korban seperti kerbau, sapi, babi, ayam, bahkan di masa yang telah lalu persyaratan yang tersedia masih dilengkapi lagi dengan kepala manusia. Makna persembahan kepala manusia ialah ungkapan rasa hormat dan bakti para ahli waris kepada salumpuk liau yang siap diantar ke Lewu Liau. Mereka yakin bahwa kelak di kemudian hari apabila salumpuk liau telah mencapai tempat yang dituju yaitu Lewu Liau, maka sejumlah kepala yang dipersembahkan, sejumlah itu pula pelayan yang dimilikinya kelak. Mereka yang terpilih dan kepala mereka yang telah dipersembahkan dalam upacara sakral tersebut, secara otomatis Salumpuk liau-nya akan masuk Lewu Liau tanpa harus di-tiwah-kan walau keberadaan mereka di Lewu Liau hanya sebagai pelayan. Namun di masa kini hal tersebut telah tidak berlaku lagi. Kepala manusia digantikan oleh kepala kerbau atau kepala sapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pelaksana upacara sakral&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Balian&lt;br /&gt;Balian adalah seorang perempuan yang bertugas sebagai mediator dan komunikator antara manusia dengan makhluk lain yang keberadaannya tidak terlihat oleh kasat mata jasmani manusia. Balian menyampaikan permohonan-permohonan manusia kepada Ranying Hatalla dengan perantaraan roh baik yang telah menerima tugas khusus dari Ranying Hatalla untuk mengayomi manusia.&lt;br /&gt;Tidak setiap orang sekalipun berusaha keras, mampu melakukan tugas dan kewajiban sebagai Balian. Biasanya hanya orang-orang terpilih saja. Adapun tanda-tanda yang mungkin dapat dijadikan pedoman kemungkinannya seorang anak kelak dikemudian hari bila telah dewasa menjadi seorang Balian, antara lain apabila seorang anak perempuan lahir bungkus yaitu pada saat dilahirkan plasenta anak tidak pecah karena proses kelahiran, namun lahir utuh terbungkus plasentanya, juga sikap dan tingkah laku anak sejak kecil berbeda dengan anak-anak pada umumnya, ia pun banyak mengalami peristiwa-peristiwa tidak masuk akal bagi lingkungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    Basir.&lt;br /&gt;Basir seperti halnya Balian adalah mediator dan komunikator manusia dengan makhluk lain yang keberadaannya tidak terlihat oleh mata jasmani. Di masa silam, Basir selalu seorang laki-laki yang bersifat dan bertingkah laku seperti perempuan, namun untuk masa sekarang hal tersebut sudah tidak berlaku lagi. Dalam dunia spiritual Basir memiliki kemampuan lebih, dalam hal pengobatan, khususnya penyembuhan penyakit yang berkaitan dengan hal-hal yang bersifat mistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.    Telun atau Pisur&lt;br /&gt;Telun atau Pisur adalah pangkat atau jabatan dalam agama Kaharingan. Telun bertugas hanya akan hal-hal yang berkaitan dengan upacara-upacara adat keagamaan. Telun tidak termasuk dalam jabatan atau anggota Kerapatan Adat. Dengan demikian Telun tidak punya suara dalam Putusan Kerapatan Adat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.    Mahanteran&lt;br /&gt;Mahanteran atau Manjangen adalah mediator dan komunikator manusia dengan Rawing Tempun Telun. Biasanya seorang Mahanteran atau Manjangen, selalu duduk di atas gong, sambil memegang duhung dan batanggui sampule dare&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[caption id="attachment_421" align="alignleft" width="156" caption="Upacara Tiwah"]&lt;b&gt;&lt;a href="http://banuadayak.wordpress.com/2010/09/19/upacara-tiwah-adat-dayak/tiwah1/" rel="attachment wp-att-421"&gt;&lt;img alt="" class="size-full wp-image-421" height="153" src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/tiwah1.jpg" title="tiwah" width="156" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;[/caption]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses Pelaksanaan Upacara Tiwah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diawali dengan musyawarah para Bakas Lewu , yang hasilnya diumumkan bahwa dalam waktu dekat akan diadakan Upacara Tiwah , sehingga siapapun yang berniat meniwahkan keluarganya mengetahui dan dapat turut serta. Setelah diumumkan, siapapun yang ingin bergabung terlebih dahulu harus menyatakan niatnya dengan menyebutkan jumlah salumpuk liau yang akan diikutsertakan dalam upacara Tiwah. Setelah pendataan jumlah salumpuk liau yang akan bergabung untuk diantarkan ke Lewu Liau, barulah ditentukan dengan pemilihan siapa dari para Bakas Lewu yang pantas menjadi â€œBakas Tiwahâ€� .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pemilihan Bakas Tiwah, barulah pembicaraan lebih detail dilaksanakan. Detail pembicaraan antara lain menyangkut jumlah kesanggupan yang akan diberikan oleh pihak-pihak keluarga yang telah menyatakan diri akan bergabung. Kesanggupan itu menyangkut masalah konsumsi, hewan-hewan yang akan dipersembahkan sebagai korban juga bersama memutuskan siapa pelaksana Upacara Tiwah itu nantinya, apakah Mahanteran atau Balian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping ditawarkan kebutuhan-kebutuhan upacara Tiwah sesuai dengan kemampuan masing-masing keluarga salumpuk liau, masih ada beberapa persyaratan yang wajib harus disediakan oleh pihak keluarga. Salah satunya, minimal wajib menyediakan seekor ayam untuk setiap Salumpuk liau. Upacara diadakan di rumah Bakas Tiwah, dengan waktu pelaksanaan ditentukan musyawarah. Pada hari yang ditentukan, semua keluarga berkumpul di rumah Bakas Tiwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari pertama :&lt;br /&gt;Upacara diawali dengan mendirikan sebuah bangunan berbentuk rumah yang dinamakan Balai Pangun Jandau yang artinya mendirikan balai hanya dalam satu hari. Persyaratan yang harus dipenuhi ialah seekor babi yang harus dibunuh sendiri oleh Bakas Tiwah. Setelah Balai Pangun Jandau selesai dibangun, Bakas Tiwah melakukan Pasar Sababulu yaitu memberikan tanda buat barang-barang yang akan digunakan untuk upacara Tiwah nantinya dan menyediakan Dawen Silar yang nantinya akan digunakan untuk Palas Bukit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari kedua :&lt;br /&gt;Hari kedua mendirikan Sangkaraya Sandung Rahung yang diletakkan di depan rumah Bakas Tiwah, gunanya untuk menyimpan tulang belulang masing-masing salumpuk liau. Setelah itu seekor babi dibunuh diambil darahnya untuk memalas Sangkaraya Sandung Rahung. Di sekitar Sangkaraya Sandung Rahung dipasang bambu kuning dan lamiang atau Tamiang Palingkau, juga kain-kain warna kuning dan bendera Panjang Ngambang Kabanteran Bulan Rarusir Ambu Ngekah Lampung Matanandau .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hari kedua ini alat-alat musik bunyi-bunyian seperti gandang, garantung, kangkanung, toroi, katambung dan tarai mulai dibunyikan. Namun terlebih dahulu semua peralatan musik, juga semua perkakas yang akan digunakan dalam upacara Tiwah dipalas atau disaki dengan darah binatang yang telah ditentukan.&lt;br /&gt;Pada hari itu pula seorang Penawur mulai melaksanakan tugasnya menawur untuk menghubungi salumpuk liau yang akan diikutsertakan dalam upacara Tiwah tersebut agar mengetahui dan memohon izin kepada para Sangiang, Jata, Naga Galang Petak, Nyaring, Pampahilep. Juga pemberitahuan diberikan kepada Sangumang, Sangkanak, Jin, Kambe Hai, Bintang, Bulan, Patendu, Jakarang Matanandau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang hadir dalam acara tersebut berbusana Penyang Gawing Haramaung, Baju Kalambi Barun Rakawan Salingkat Sangkurat, Benang Ranggam Malahui, Ewah Bumbun dengan memakai ikat kepala atau Lawung Sansulai Dare Nucung Dandang Tingang, serta di pinggang diikat dohong Sanaman Mantikei. Pada leher dikalungkan Lamiang Saling Santagi Raja. Ketika bendera dinaikkan di atas sangkaraya, mereka yang hadir baik laki-laki atau perempuan, tua, muda, berdiri mengelilingi sangkaraya, dilanjutkan Menganjan untuk menyambut dan menghormati para Sangiang yang telah hadir bersama mereka untuk mengantarkan Salumpuk liau menuju Lewu Liau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ketiga:&lt;br /&gt;Pada hari ketiga, babi, sapi atau kerbau diikat di tiang Sangkaraya. Kemudian tarian Manganjan diawali oleh tiga orang yang berputar mengelilingi Sangkaraya. Semua bunyi-bunyian saat itu ditabuh, pekik sorak kegembiraan terdengar disana-sini, suasana meriah riang gembira. Pada hari itu beras merah dan beras kuning ditaburkan ke arah atas. Setelah Menganjan selesai, mulailah acara membunuh binatang korban. Darah binatang yang dibunuh dikumpulkan pada sebuah sangku dan akan digunakan untuk membasuh segala kotoran. Diyakini bahwa darah binatang yang dikorbankan tersebut adalah darah Rawing Tempun Telun yang telah disucikan oleh Hatalla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian darah tersebut digunakan untuk menyaki dan memalas semua orang yang berada dalam kampung tersebut, juga memalas batu-batuan, pangantuhu, minyak sangkalemu, minyak tatamba, ramu, rakas, mandau, penyang, karuhei, tatau serta semua peralatan yang digunakan dalam upacara Tiwah itu. Di samping untuk memalas, darah binatang korban tadi juga dicampur beras, kemudian dilemparkan ke atas, serta segala penjuru, juga ke arah mereka yang hadir dalam upacara. Dengan melempar beras yang telah dicampur darah Rawing Tempun Telun tersebut diharapkan semua jadi baik, jauh dari segala penyakit dan gangguan, panjang umur dan banyak rezeki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ke empat&lt;br /&gt;Pada hari empat ini diyakini bahwa Salumpuk liau pun turut hadir serta aktif berperan serta dalam perayaan Tiwah tersebut namun kehadirannya tidak terlihat oleh mata jasmani. Salumpuk liau jadi semakin bahagia dan gembira ketika para keluarga, baik ayah, ibu, anak, paman, bibi, kakek neneknya hadir berkumpul di situ, dan menemui mereka yang hadir dalam perayaan tersebut, mereka menggosokkan air kunyit ke telapak tangan dan kaki mereka yang hadir, menuangkan minyak kelapa di kepala para tamu, sambil menuangkan baram dan anding serta menawarkan ketan, nasi, kaki ayam, serta lemak babi yang diakhiri dengan menyuguhkan rokok dan sipa .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu di dekat Sangkaraya didirikan tiang panjang bernama Tihang Mandera yang maknanya pemberitahuan kepada siapapun yang datang ke kampung tersebut bahwa dalam kampung tersebut sedang berlangsung pesta Tiwah, berarti kampung tersebut tertutup bagi lalu lintas umum. Mereka yang belum memenuhi persyaratan yang harus dilakukan dalam pesta Tiwah, antara lain belum disaki atau dipalas dilarang menginjakkan kaki di kampung itu. Tidak mentaati aturan, resiko tanggung sendiri. kemungkinan ditangkap, pada hari itu pula dibunuh lalu ditaruh di Sangkaraya, dipotong kepalanya sebagai pelengkap upacara Tiwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian seorang penawur duduk di atas gong, sambil manangking Dohong Nucung Dandang Tingang. Pertama-tama penawur berkomunikasi dengan semua orang yang telah meninggal dunia untuk memberitahukan bahwa mereka yang nama-namanya disebut akan diantarkan ke Lewu Liau. Kemudian berkomunikasi dengan para Sangiang, Jata, untuk memohon perlindungan bagi semua sanak keluarga salumpuk liau yang ditiwahkan serta para hadirin yang hadir dalam upacara tersebut agar dijauhkan dari sakit penyakit serta jauh dari kesusahan selama terlaksananya upacara Tiwah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunikasi selanjutnya ditujukan kepada setan-setan, kambe dan jin-jin agar tidak mengganggu jalannya upacara, jangan sampai terjadi kematian mendadak, orang terluka, sakit, jangan terjadi tulah malai dan jangan sampai terjadi perkelahian. Setelah itu Antang penghuni Tumbang Lawang Langit dipanggil untuk mengamati, serta menjaga kemungkinan datangnya musuh yang berniat mengganggu proses pelaksanaan upacara sakral tersebut. Setelah itu burung elang datang dan terbang melayang-layang di diatas tempat upacara Tiwah berlangsung untuk mengawasi suasana serta menjaga keamanan kampung itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pada bangunan Balai Pangun Jandau diletakkan sebuah gong yang berisi beras kuning, rokok, sirih, maksudnya sebagai parapah bagi tamu-tamu dan para ahli waris Salumpuk liau yang sedang di-tiwah-kan juga diikat Sulau Garanuhing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya penawur berkomunikasi kepada Gunjuh Apang Pangcono yaitu â€œRaja Paliâ€œ Sang Penguasa segala bentuk larangan yang harus ditaati penduduk bumi. Pemberitahuan dan permohonan izin pelaksanaan Tiwah yang dilaksanakan selama tujuh atau empat puluh hari dimaksud untuk menghindari kesalahpahaman Raja Pali akan peristiwa sakral tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses selanjutnya didirikan Hampatung Halu, yang diikat sebutir manik hitam dengan tengang beliat yang ditanam pada tanah perbatasan kampung dimana upacara Tiwah sedang dilangsungkan dengan perkampungan lain yang tidak sedang mengadakan upacara Tiwah. Sejak hari itu hukum pali mulai dilaksanakan oleh para ahli waris Salumpuk liau. Batas waktu pelaksanaan hukum pali telah ditentukan yang artinya bukan selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun larangan-larangan itu adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;1.    Pali makan rusa â€“ dilarang makan rusa.&lt;br /&gt;2.    Pali makan kijang.&lt;br /&gt;3.    Pali makan kancil/pelanduk&lt;br /&gt;4.    Pali makan kelep  dan kura-kura.&lt;br /&gt;5.    Pali makan kera.&lt;br /&gt;6.    Pali makan Beruk&lt;br /&gt;7.    Pali makan Buhis&lt;br /&gt;8.    Pali makan Kalawet&lt;br /&gt;9.    Pali makan Burung Tingang /Burung Enggang.&lt;br /&gt;10.    Pali makan Burung Tanjaku.&lt;br /&gt;11.    Pali makan Ahom .&lt;br /&gt;12.    Pali makan Mahar .&lt;br /&gt;13.    Pali makan Ular.&lt;br /&gt;14.    Pali makan Tahatung.&lt;br /&gt;15.    Pali makan Angkes.&lt;br /&gt;16.    Pali makan buah rimbang.&lt;br /&gt;17.    Pali makan daun keladi.&lt;br /&gt;18.    Pali makan ujau.&lt;br /&gt;19.    Pali makan dawen bajai- daun bajai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain larangan menyantap beberapa jenis binatang dan tumbuh-tumbuhan, juga ada pali berkelahi. Bila terjadi perkelahian maka mereka yang berkelahi wajib membayar denda kepada Bakas Tiwah Jipen ije dan kewajiban potong babi, darah babi digunakan untuk menyaki mereka yang berkelahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari keempat :&lt;br /&gt;Kanjan diawali oleh empat orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari kelima :&lt;br /&gt;Hari ini Pantar Tabalien didirikan. Pantar Tabalien yaitu jalan yang akan dilalui salumpuk liau menuju Lewu Liau, berbentuk tiang yang terbuat dari kayu ulin atau kayu besi yang menjulang tinggi ke atas, dengan tinggi mencapai 50 sampai 60 meter dari tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari ini pula hewan-hewan yang dikorbankan yaitu kerbau atau sapi diikat di sapundu dan mereka yang hadir mengelilingi sapundu tersebut, menganjan tanpa henti baik siang maupun malam. Saat itu pula Sandung dan Pambak tempat menyimpan salumpuk bereng mulai dibuat, yang setelah siap terlebih dulu dipalas dengan darah kerbau, sapi atau babi. Kemudian selama tujuh hari Sandung tersebut dipali yaitu selama tujuh hari mereka yang lalu lalang di kampung tersebut terkena pali dan wajib menyerahkan sesuatu miliknya berupa benda apa saja untuk menetralisir pali yang menimpanya. Kemudian Talin Pali diputuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah Tajau atau belanga dengan ukuran besar dan mahal harganya diletakkan disamping patung besar yang terbuat dari kayu, namanya Sandaran Sangkalan Tabalien, Ingarungkung dengan Lalang Pehuk Barahan. Keyakinan suku Dayak belanga berasal dari langit ketujuh oleh karena itu siapapun yang ingin diantar ke Lewu Liau yang terletak di langit ketujuh wajib memenuhi persyaratan sebuah belanga, dan tentu saja juga menyediakan binatang-binatang korban karena sejak hari ke lima dan seterusnya akan banyak masyarakat berdatangan, berkumpul, bergabung menganjan mengelilingi hewan-hewan yang akan dikorbankan, baik siang maupun malam untuk menghormati Salumpuk liau yang segera akan dihantar ke tujuan. Keperluan masak memasak lebih dilengkapi lagi, bambu dan daun itik mulai dikumpulkan karena makanan akan dimasak di dalam bambu, kemudian dibungkus dengan daun itik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncak Upacara&lt;br /&gt;Terlebih dahulu oleh Bakas Tiwah, Basir dikenakan pakaian khusus yang memang telah dipersiapkan untuk upacara. Penawur dan masyarakat yang hadir untuk menyaksikan upacara telah berkumpul di Balai. Basir dan Balian didudukkan diatas Katil Garing dan siap memegang sambang/ ketambung . Posisi duduk Basir di tengah dan diapit oleh dua orang, serta empat orang duduk di belakangnya. Penawur mengawali Tatulak Balian yang artinya buang sial, maksudnya membuang segala bencana yang mungkin terjadi selama prosesi sakral berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu persyaratan yang diminta oleh Hatalla dengan perantaraan Rawing Tempun Telun kepada mereka yang melaksanakan upacara Tiwah ialah sifat ksatria, memiliki keberanian luar biasa, gagah perkasa pantang menyerah. Sikap ini diekspresikan dengan datangnya sebuah Lanting Rakit dari sebelah hulu. Kedatangan rombongan tamu saat upacara Tiwah dengan membawa binatang-binatang korban seperti kerbau, sapi, babi, ayam, tidak begitu saja diterima. Mereka yang datang, terlebih dahulu di uji keberaniannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu rombongan tamu turun dari lanting rakit yang ditumpangi, mereka disambut dengan laluhan, taharang dan manetek pantan. Batang kayu bulat yang panjangnya dua meter, diikat melintang pada tiang setinggi pinggang dan diletakkan di depan rumah Bakas Tiwah. Kepada tamu yang datang, Bakas Tiwah bertanya asal usul rombongan yang baru saja datang, tujuan kedatangan juga nama dan jenis binatang yang dibawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian rombongan tamu akan menjawab pertanyaan tersebut bahkan tidak lupa menceritakan tindak kepahlawanan yang pernah mereka lakukan. Untuk membuktikan kebenaran perkataan mereka, Bakas Tiwah meminta kepada para tamunya untuk memotong kayu penghalang yang ada di depan mata mereka. Bila mampu memotong hingga patah berarti benar mereka adalah para ksatria yang memiliki keberanian luar biasa, gagah perkasa pantang menyerah, baru kemudian mereka dipersilahkan bergabung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ketujuh yang disebut hari manggetu rutas pakasindus yaitu hari melepaskan segala kesialan kawe rutas matei, pada hari ketujuh inilah salumpuk liau mengawali perjalanan menuju Lewu Liau diawali dengan penikaman dengan menggunakan tombak atau lunju pada binatang korban yang telah dipersiapkan, dan diikat di sapundu tempat dimana masyarakat yang hadir telah menganjan siang malam tanpa henti.&lt;br /&gt;Tidak setiap orang diperkenankan menikam binatang korban, semua ada aturannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara pertama :&lt;br /&gt;1). Bakas Tiwah menikam lambung kanan, dinamakan kempas bunuhan. Ia berhak mendapatkan paha kanan dari binatang yang ditombaknya.&lt;br /&gt;2). Seorang perempuan ahli waris salumpuk liau, bekas tikamannya disebut pekas bunuhan. Ia berhak mendapatkan paha kiri dari binatang yang telah ditombaknya&lt;br /&gt;3). Salah seorang wakil masyarakat yang hadir dalam upacara. Bekas tikamannya disebut timbalan bunuhan. Ia berhak mendapatkan dada dan jantung binatang korban yang telah ditombaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara kedua :&lt;br /&gt;1).    Tikaman pertama dilaksanakan oleh Bakas Tiwah, kemudian ia  berhak menerima paha kanan binatang yang telah ditombaknya.&lt;br /&gt;2). Tikaman kedua oleh kepala rombongan yang datang dengan lanting rakit dan telah berhasil memotong pantan, ia berhak mendapat paha kiri binatang yang ditombaknya.&lt;br /&gt;3).    Tikaman ketiga oleh Bakas Lewu, kemudian ia berhak mendapatkan dada dan jantung binatang yang ditombaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disusul dengan Kanjan Hatue yaitu tarian kanjan yang hanya dilakukan oleh laki-laki. Selesai kanjan hatue dilanjutkan acara masak memasak mempersiapkan makanan untuk Sangiang, Nyaring, Pampahilep, Sangkanak, kambe, burung bahotok, burung papau, burung Antang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada ketentuan cara memberi makan kepada mereka yang tidak terlihat mata jasmani yaitu dilempar ke arah bawah ditujukan kepada salumpuk liau yang sedang diantar ke Lewu Liau, lemparan ke arah kanan ditujukan kepada Raja Untung dan para Sangiang. Lemparan ke arah belakang ditujukan kepada Raja Sial. Kemudian diulangi lagi, ke arah belakang ditujukan kepada Sangumang dan Sangkanak, ke arah atas ditujukan kepada Bulan, Bintang, Matahari, Patendu, Kilat dan Nyahu. Selesai acara pemberian makan kembali masyarakat yang hadir berkumpul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tibalah saatnya salumpuk bereng digali/diambil dari tempat penyimpanan sementara. Tulang belulang yang ditemukan dikumpulkan, dan pada hari itu pula dimasukkan dalam tambak atau pambak atau sandung . Kemudian pantar didirikan dan dilanjutkan hajamuk atau hapuar. Upacara dianggap selesai apabila seluruh prosesi upacara telah dilaksanakan lengkap, dengan demikian keluarga yang ditinggalkan merasa lega karena telah berhasil melaksanakan tugas dan kewajibanya kepada orang-orang yang dicintai. Salumpuk liau telah sampai ke tempat yang dituju yaitu Lewu Liau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah hari ketujuh, Basir dan Balian diberi kesempatan beristirahat namun hanya sehari saja karena setelah itu acara akan dilanjutkan lagi selama tiga hari berturut-turut. Maksud acara lanjutan yang juga dilengkapi dengan potong babi, minum tuak/baram adalah ungkapan rasa syukur dan terima kasih oleh ahli waris salumpuk liau kepada para tamu yang telah hadir bersama mereka. Terima Kasih dan selamat jalan, itulah ungkapan yang ingin mereka sampaikan. Kepada Rawing Tempun Telun tidak lupa mereka selalu mohon perlindungan. Pada hari yang sama diadakan juga acara Balian Balaku Untung yaitu dengan perantaraan Rawing Tempun Telun mohon rezeki kepada Hatalla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai ungkapan terima kasih kepada Basir, Balian, Mahanteran dan Penawur yang telah terlibat aktif sebagi perantara dalam semua prosesi upacara demi mengantarkan salumpuk liau ke lewu liau, tanda mata diberikan kepada mereka, bahkan ketika mereka yang melaksanakan upacara akan pulang ke kampung dan rumah mereka masing-masing, masyarakat yang telah turut hadir dalam upacara Tiwah berbondong-bondong mengantarkan mereka sampai ketempat yang dituju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balian Balaku Untung&lt;br /&gt;Merupakan salah satu upacara adat yang bertujuan meminta umur panjang, banyak rezeki serta mendapat berkat dari Ranying Hatalla. Permohonan kepada Hatalla tersebut mereka lakukan dengan perantaraan Rawing Tempun Telun yang dalam upacara Balian Balaku Untung disebut Mantir Mama Luhing Bungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam upacara ini persyaratan yang lazim disediakan ialah bawui buku baputi atau babi kerdil yang berwarna putih. Namun boleh juga kerbau atau sapi. Setelah segala macam persyaratan dan sesajen disiapkan, upacara segera dimulai. Diawali dengan seorang penawur, yang dengan sarana beras, menabur-naburkan beras ke segala arah. Dengan perantaraan seorang penawur, mereka memohon kepada roh beras yang ditawurkannya untuk menyampaikan kepada Mantir Mama Luhing Bungai agar bersedia turun ke bumi untuk menyampaikan persembahan mereka kepada Penguasa Alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lupa dengan perantaraan penawur pula mereka memohon izin kepada salumpuk liau atau jiwa-jiwa orang yang telah meninggal dunia bahwa di bumi sedang diadakan upacara Balian Balaku Untung. Juga disebutkan alasan upacara tersebut mereka adakan. Adapun alasannya karena sebagai manusia yang masih harus melanjutkan hidupnya di Pantai Danum Kalunen, mereka masih membutuhkan rezeki dan umur panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah roh beras yang ditawurkan naik menuju ke tempat Mantir Mama Luhing Bungai di Batang Danum Jalayan di langit ketiga yaitu di negeri Batu Nindan Tarung, pesan dan tujuan dilaksanakannya upacara adat tersebut disampaikan. Setelah dipahami maksud dan tujuannya, kemudian beberapa Sangiang mengambil alih tugas tersebut. Sangiang-sangiang itulah yang nantinya menjadi perantara manusia menuju Tahta Ranying Hatalla.&lt;br /&gt;Para Sangiang yang sering kali terlibat dalam  melaksanakan tugas tersebut, antara lain:&lt;br /&gt;1.    Mantir Mama Luhing Bungai.&lt;br /&gt;2.    Raja Tabela Basandar Ranjan Kanarohan Rinyit Kangantil Garantung.&lt;br /&gt;3.    Tarung Lingu, Kanyumping Linga, Asun Tandang Panangkuluk Enteng.&lt;br /&gt;4.    Bulan Pangajin Sambang Batu Bangkalan Banama.&lt;br /&gt;5.    Balu Indu Iring Penyang.&lt;br /&gt;6.    Haramaung Lewu Danum Jalayan.&lt;br /&gt;7.    Pambujang Linga.&lt;br /&gt;8.    Pambujang Hewang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangiang-Sangiang yang bersedia menjadi perantara tersebut akan langsung turun ke bumi dan memasuki rumah tempat upacara dilaksanakan. Mereka tidak lama berada di rumah tersebut karena harus segera mengantarkan korban persembahan serta permohonan manusia ke hadirat Penguasa Alam. Mereka naik ke atas menuju langit ketujuh dengan melalui empat puluh lapisan embun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melewati empat puluh lapisan embun, barulah mereka mencapai langit pertama, lalu langit kedua dan seterusnya. Setiap langit ada penjaga pintu gerbang, dan setiap penjaga gerbang berhak pula menerima sesajen yang khusus telah disiapkan bagi mereka. Apabila sesajen diterima dengan baik, lalu mereka menukar sesajen tersebut dengan Bulau Untung Panjang . Lalu mengutus salah seorang dari penjaga pintu gerbang setiap lapisan langit bergabung dalam rombongan untuk turut serta mengantarkan Bulau Untung Panjang menuju Tahta Ranying Hatalla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian setiap melewati lapisan langit, jumlah rombongan menjadi semakin besar karena dari setiap langit yang dilalui, seorang sangiang akan turut serta. Dengan demikian setelah mencapai langit keenam, jumlah rombongan sangiang yang dipimpin oleh Rawing Tempun Telon atau Mantir Mama Luhing Bungai telah bertambah enam orang. Menjelang pintu ke tujuh, Raja Anging Langit telah menunggu di depan pintu gerbang langit ke tujuh untuk mengucapkan salam. Bersama Raja Anging Langit, turut serta Indu Sangumang yang nantinya akan bertugas mengetuk Pintu Tahta Kerajaan Ranying Hatalla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memasuki pintu langit ketujuh, lalu ke Tasik Malambung Bulau, Tumbang Batang Danum Kamandih Sambang, Gohong Rintuh Kamanjang Lohing tempat tinggal Tamanang Handut Nyahu dan Kereng Tatambat Kilat Baru Tumbang Danum Nyarangkukui Nyahu Gohong Nyarabendu Kilat, tempat Raja Sapaitung Andau. Baru kemudian menuju Bukit Bulau Nalambang Kintan Tumbang Danum Banyahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu menuju Bukit Tunjung Nyahu Harende Kereng Sariangkat Kilat. Disinilah Banama Tingang , kendaraan berbentuk perahu yang mereka tumpangi berhenti. Hanya tiga dari rombongan Sangiang tersebut yang melanjutkan perjalanannya menuju Tahta Ranying Hatalla.&lt;br /&gt;Mereka adalah :&lt;br /&gt;1.    Mantir Mama Luhing.&lt;br /&gt;2.    Raja Tunggal sangumang.&lt;br /&gt;3.    Indu Sangumang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota rombongan lainnya hanya sampai di tempat tersebut dan harus bersabar menantikan ketiga temannya melanjutkan perjalanan menuju Tahta Ranying Hatalla. Sambil membawa Bulau Gantung Panjang atau Batun Bulau Untung yang telah diserahkan oleh para penjaga lapisan langit, ketiganya menuju ke tempat Raja Sagagaling Langit di Bukit Bagantung Langit, untuk membersihkan Bulau Batu Untung yang mereka bawa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tempat itu mereka pergi lagi menuju Bukit Garinda Hintan tempat Angui Bungai Tempulengai Tingang, lauk Angin Manjala Buking Tapang untuk mangarinda Bulau Batu Untung. Setelah itu dengan menumpang Lasang Nyahu, yaitu sejenis perahu yang melaju cepat, mereka menuju Bukit Hintan Bagantung Langit tempat kediaman Raja Mintir Langit. Di sana mereka membuka gedung tujuh tempat Putir Sinta Kameluh( . . . tidak terbaca, ns).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Indu Sangumang mengetuk pintu, kemudian masuk dan menghadap Singgasana Ranying Hatalla. Indu Sangumang memohon berkat bagi Bulau Batu Untung (. . . tidak terbaca, ns.) setelah berkat diberikan mereka kembali menuju arah Bukit Tunjung Nyahu, dan di tempat tersebut telah menunggu 40 Mantir Untung yang langsung meletakkan Bulau Batu Untung pada kendarah cinta kasih yang tak dapat direnggangkan oleh kekuatan apapun jua. Dengan demikian proses tugas para Sangiang telah selesai dan mereka kembali ke dunia dengan melalui tujuh lapisan langit, empat puluh lapisan embun, langsung menuju rumah di mana upacara sedang berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menjelaskan segala sesuatunya kepada perantara dalam hal ini balian, maka para Sangiang pamit untuk kembali ke tempat mereka masing-masing, namun terlebih dahulu mereka menyantap sesajen yang telah disediakan khusus bagi mereka pada sebuah kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pengecekan apakah permohonan tersebut dikabulkan atau ditolak dengan cara sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum upacara dimulai, disediakan rotan yang panjangnya tujuh depa dan beras tujuh sukat. Panjang rotan benar-benar telah diukur oleh tukang tawur atau balian, panjangnya tujuh depa dengan disaksikan oleh banyak orang. Begitu pula beras sebanyak tujuh sukat. Setelah upacara selesai, diadakan pengecekan ulang. Apabila ukuran rotan menjadi lebih panjang yaitu lebih dari tujuh depa seperti hasil pengukuran semula, begitu juga jumlah beras lebih dari tujuh sukat, berarti permohonan mereka diterima dengan baik. Permohonan telah dikabulkan. Akan tetapi apabila setelah diukur kembali panjang rotan kurang dari tujuh depa, begitu pula jumlah beras kurang dari tujuh sukat, berarti permohonan mereka ditolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manawur Tamparan Munduk Balian Hapan Tiwah&lt;br /&gt;(Bahasa Dayak Ngaju)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Bara solak tamparan munduk balian, palus mimbing behaas ietuh : Ehem behas, harenjet ganan, hai ganan, belum nantuguh labatang entang bulau, datuh labate habaring jari hampit riwut manyan Raja. Nyimak saturi malayu, Hapan juyang bangkang halelan tingang, runting tajahan burung nampasut, kilau nampasut tingang ije kadadang, nampuras tingkah nampuras bungai ije kapating, malugaku bitim kilau banama nyandang liara nampilaku balitam, netek ajung hatalumbang jadri hampalua uluh pantai danum kalunen bara balanai bintan penyang, nampahanjung luwuk kampungan bunu, bara busi renteng bapampang pulu, ie babalai sansiri koenjat antang, basali mangkuk sarangiring laut.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Kuntep kamaras, ban penu kaningagang sara dia jaka teburan garing tabela belum, dia jaka penankekei, bara usuk lisum pananjuri bara wain tapan, Terai nduan tambekan etuh ijamku enteng nasihku hanyim, nyahungku indum luang reawei, panati danum kalunen, akan jamban payaruhan tisue luwuk kampungan bunu, nyahuangku bitim, antang manamuei manajah riak renteng tingang, raja tabela basandar ranjang.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Nyangkabila balitan kenyui mangaja, mantilung kanaruhan ringgit, kangatil garantung, Katabelan oleh balai mihing nyapundu runjan anak Sali nyalung marusuk hintan, nyahuan ie tingang hadurat lunuk, akan pantai danum kalunen, nyangkabilae tambun nyalentur labehu, akan luwuk kampungan bunu, ije puna hampang jawah hempeng, palumpang langit busun kenyui juhai hanyi, panasiran Hawun. Ije mapan batu jadi randung banama namburak karangan jari talin pambuhui riwut hanya mananteng hanyin, burung lingu kanyumping linga, ason tandang panangkului enteng uluh lewu danum jalajan, uluh rindang labehu pali tuntang kare bulau pangajin sambang batu bangkalan banama. Balu indu iring pinang, uluh lewu danum jalayan, hayak manenteng hanyin katabelan uluh balai ltuyang katabelan uluh balai suling bulau, katabelan uluh balai entas,katabelan uluh balai nyaho, telu puluh ruang tuntang katabelan uluh balai Palangka nambulang tambun, anak salibayung antang, mahutu Penyang, uras nyahuan usang, hadurut lunuk hayak mandurut papan talawang mahapan tantang burung dahiang, malentui gentui daren lintung, hapaharis rayung baya tandak, lapik banama antng manamuei tapeting ayung, kenyui mangja.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Ie jari bitim behas, jadi barakandung peteh, pantai danum kalunen, entan bulau, batiang janjin, luwuk kampungan bunu, jadi peteh manyiret. Kilau lanting darai janji manalan. Mampahulang naharantung nyalung, te kareh tandakm panjang, halawu bumbung dawen purun, karungutm ambu harenda pandung, bulau tambun , jadi sukup tuntur, kilau bulan bele manyinai nenteng sukup palakue tingkah pahawang nangkunyahe tatau. Kilat baputi dia kanatah hintan, hijir bahenda dia nanggalung bulan, tawurku belum baun pingan rungan etan bulau bahanjung mangkuk saramurung laut, bahing jarambang, nipas marung garing gantungan, pusuk rawung bambau ukei, hayak enum bandadang, te palus manjakah behas tuh auch :&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Ije, due, telu, epat, lime, jahawen, uju ije kalabien ketun sintung uju due kalambungan ketun lambung hanya, te palus manekap katambung, nampara nampulilang liau.&lt;br /&gt;Toh ie auch :&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Liiiiii liala â€“ liaang liau matei randang are mananjung ambun. Saran kuwu bajumbang nihau nambahui rahu nawan bulan, palus teneng tendur gandang nyaring menteng randah are babalai bungking lunuk, rintuh rinau, tuwung siakung tatau, basali tanduh babulung bulau, mikeh are bunu baletuk ngandang andau panurean dare, talawang, batesei manturana pakaluyang bulau, are timpung jari tampahar harus laut, unduk ampah tanjung ambun buang, bulau balemu mantap kasalananggalung petak sintel manajung halentur liau, mahapan pahulanger bulan, tiling petak jajulana kahem pahulanger bulan nyaluluk. Te palus teneng gandang tambun jete, hapamuntung luang kalang labehu handalem rintuh rinau tuwung ihing . . . Hatalla baparung rangkang huang danum, sama manetep tuwung tambun rayung tatau, manipas ulek lawin lanting raja. Mangat sama ela balisang panjang ije gawang tingang rata ela balakas ambu, dinun due kasambutin antang awang matei hila ngaju, nasat kabangkang nayu-nayu, hasapau dawen birun bukit, hatingkap pusuk rahing tarung, awang matei junjun helu, nihau tutuk panambalun tambun, jadi nyahuangku buli batang danum katimbungan nyahu, gohong santik malelak bulau, tanjung rahu ngalingkang bulan halaliangku buli sandung garing, kamalesan karatu lumpung matanandau, bahalap nyapau pisih rarindap langit kamalipir burung piak liau, hakalusang patung.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Nyamping bulan lembut nyarahan andau pandang, pandang kaninding saramin sina rarajak saruk suling ringun tingang, kalalambang tambun, mateiu lunjang lenjut. Kanalantai lamiang kanungket bajihi tambun, bajihi bulau tarahan tawe-tawe manyamei halampat nyahu nangkuang burung piak liau hatarusan pantung baya tau mansanam kaban lumpat lawang langit ie gagahan Telun mama Tambun bunu kandayu lanting jahawen, kanyaki liau Randin tandang, meto rama batanduk garing, bahalap bajela rohong bakadandang uru jejerupan perun tambun.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Awang matei ,nambit mambahete halaiyangku buli bukit pasahang braung, kamalesang kereng rohanjang tulang, buli pampang raung, kamelasang kereng buli hatelangkup rabia, kanarah hanjaliwan matei lunjang lenjut, kanahintip talampe, tapalumpang limpet.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Bahalap nyaluang, uei ringka, pakur layang antang, nambaji garing handue uju hansasulang, kabantikan asai menteng ije tawae, jalan liau matei nabasan dohong, nakaje andau bunu nalanjat pandange , sama netep garing kapandukae munduk jiret sihung kabahena, kabahena bajanda, ela naharantung bahing pantung sambang, ela nyampilek bambi hengan lohing belum tumbang kapanjungan panjung, haring saluhan antang nahuei, bakulas aku muta tingang, parakanan renteng bantus manela bungai hajanjala tundu-tundu balaku badandang lantaran tanjung Ambun, jalangku manjurung tawur namuei langit balalu batehan laberuh luwuk enon, sandung danun dua kapamarau langit, tanduhangku mangkat entan bulan mangaja lambang bulau bara gantung totok timung tandak, liau matei sambile mangantau sambung santin karunya bapilu nihau ulang bajambilei, hindai aku mungkang tandakm, tawur ije halawu bumbung daren purun hindai menjung karungut etan bulau harende pandung, balau tambun â€“te palus malik tinai tekap sambang, te toh iye auch :&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Manturan behas te iyoh-iyoh bitim tawur ela tarewen matei halawu bumbung daren purun, ela sabanen ajung hatilalian hariran etan bulan, harende pandunge balau tambun, basa tawangku panamparan belum, bara hemben horan.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Patiana pamalempang bara zaman totok panambalon tambun puna bitim behaas pantis kambang kabanteran bulau balitam etam bulau tahutun lelak lumpung matanandau, pantis kambang garing manyangen, ie hajamban teras kayu engang tingang hatatean lohing kayu anduh nyahu ie halalawu bukit kagantung gandang harenda kereng nunyang, malangka langit. Palus nangkalume putir Selung Tamanang ewen ndue Raja Nangking langit, mijen timpung uju hatantilap pahangan hanya hatalamping, ie palus hajanjuri hanjak, nyahu mangaruntung langit, panatekei humba kilat malambai ambun kapamalem malentur balitam, totok tambalun tambun hayak enon haganggupa ie palus kaput biti alem, pain bukit tunjung nyahu lilap, hanggupa tanda puruk kereng sariangkat kilat halawu. Petak sintel hambalambang tambun, harenda riang dedet habangkalan garantung. Belum tandah hakaluwah nyakelang uru jajarupen purun tambun, haring lamabat hambalaun nyampali, kanarah lintung talawang, ie duam kauju andau, belum nahabulun urung, naring tingkah singan behau belum runja-runjat ampin bilis manyang mananjak, pangarawang baun tiwing panjang hari tapu-tapu tingkah sahempun pasang bara tumbang danum, ie palus mandawen handadue manumbung dinun hatantelu, palus karimahan soho manggandang bara jalayan bulu, danum nyamuk pasang bara tumbang danum. Kueh maku leteng kambang nyahun tarung, puna bitim hai kuasam belum, tampan jata bara huang danum, enon suka nilap batu kilat tinting balitam datuh jema hamaring, puna selung Hatalla bara lawang labehu langit, ie umbet kanumpuh bujang, sedang handiwung kesampelau belum, te palus hatarung pulu ngalingkang pulau, luntur bahandang batinting lima balas.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Akan batang danum ngabuhi bulau burung tumpah bua nyembang hatuen burung kajajirak laut, palus mandung bitim marantep kilau hendan bulau, nangkuyang bilatamu nahajib tingkah lanting rabia, te bukum jadi handiwung pakandung pusue, sawang bapangku anak, pandung malelak bulau, ie umbet bula katugalam belum sadang bintang patendum hamaring.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Ie rawei banama baongkar puat, ajung jawu dagange handiwung banbaukei pusu pundung malelak bulau, bauhat rentai nyangkabilan bawak nambuku tisim, galigir bintang, nambatang suling, ringun tingang, mandawen simbel bulau bakatantan jari bulau jandau. Ie mangambang bulau, taparuyang rayuh, malelak hintan tapang rundang rundai babehat babatu pating, bateras nyalung Kaharingan belum. Baluhing gohong, paninting aseng, ie rawei awang hatue kamampan bunu nantaulah anju tanjuren teken.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Hababiyan karayan tantanjuk rangkan , bapa manambang bitim kilau manambang banana manungkah laut, manangkep balitam, ruwan manangkep ajung hatatean hareran.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Ie palus rawei masak manalajan pating ripu mangantien tundu palus nangkung nangkuluk gentu nanpung penyang. Nundun balitam tingkah nundum paturung, ie lentu-lentu oleh tingang tempun hemben horan naji-najing antang sangiang totok tambalun tambun palus nagaggre gangguranan arae, nasuwa sebutan bitim, ie parei, tangkenya mampan baun tiowong panjang parei karumis mampan jalan, parei tanjujik helang uhat&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://pakarbisnisonline.blogspot.com/2010/01/upacara-tiwah-adat-dayak.html"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3509747544273203794-7725933848351831534?l=etnikprogresif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/feeds/7725933848351831534/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/09/upacara-tiwah-adat-dayak.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/7725933848351831534'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/7725933848351831534'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/09/upacara-tiwah-adat-dayak.html' title='Upacara Tiwah Adat Dayak'/><author><name>mbah dinan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10973480357642906490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-zT11WGzH8D8/TrzZyXePTwI/AAAAAAAABGU/mvgB2aMy4Zc/s220/etnikprogresif.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3509747544273203794.post-404820209260739728</id><published>2010-09-19T17:34:00.002+07:00</published><updated>2011-01-11T19:28:19.774+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tradisi'/><title type='text'>Upacara Adat Nyabakng Oleh Suku Dayak Bakati</title><content type='html'>&lt;a href="http://etnikprogresif.blogspot.com/" rel="attachment wp-att-411" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" class="size-medium wp-image-411" height="225" src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/pic_4292.jpg?w=300" width="300" /&gt; &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas dari kursi bis, perjalanan disambung dengan sepeda motor selama tiga puluh menit dari kota Kecamatan Sanggau Ledo, menyusuri jalan tanah campur batu bersusun menuju Kampung Segiring, Desa Pisak, Kecamatan Tujuh Belas itu, melintasi hamparan kebun lada, jagung dan karet disela-sela batas rumah penduduk. Sumber hidup kami ini bergantung pada tiga jenis komoditi ini. Kalau karet sifatnya harian, jagung bulanan. Sedang lada dan padi, tahunanan (Sais, Wakil Ketua Badan Pemusyawaratan Desa, Desa Pisak, 2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki perkampungan Dayak Bakati yang sebagian besar warganya bertanam karet, jagung, lada itu, tak ada lagi rumah betang yang menandainya sebagai sebuah kampung Dayak. Rumah betang merupakan tempat tinggal bersambung pada masyarakat Dayak di Kalimantan dan Malaysia Timur yang memiliki filosofi kebersamaan, demokratis dan ekologis itu telah musnah seiring karena faktor politik pada 1904 dimana kebijakan Pemerintah Kolonial Belanda untuk memusnahkan rumah betang (Paulus Florus,et.al., 2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah betang sebagai gambaran keadaan kampung Dayak Bakati di daerah ini sudah berganti dengan rumah-rumah tunggal berdinding semen, jendela kaca. Sebagian besar, bahkan sudah berhias parabola berikut aksesoris seperti pemutar cakram video. Sekilas kampung Segiring sudah menjadi kampung yang modern. Sebagian besar warga memiliki perabot rumah tangga modern, alat dapur mengunakan listrik dan gas, bahkan gaya hidup modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ditengah perubahan kehidupan tradisional menuju modern itu ternyata menyisakan persoalan pelik. Dari tujuh puluh enam kepala keluarga kampung ini, kini tinggal sebagian kecil yang masih memegang teguh adat, budaya dan kepercayaan asli Dayak Bakati semisal ritual Nyabangk, yakni ritual upacara adat menutup siklus tahun perladangan yang lama dan membuka tahun perladangan yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya delapan kepala keluarga yang masih berpegang dan melanjutkan tradisi yang diwariskan Roda Dua Mansa nenek moyang mereka yang berasal dari Pemagen (panglima atau pemenggal kepala) yang hidup beranak pinak di Segiring. Roda Dua Mansa ini memperanakan Supai Mak Upik, Sadani Mak Ngaji dan Santak Mak Batakng. Dari keluarga inilah, selanjutnya warga Segiring berasal hingga kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi masyarakat perkotaan, padi atau beras hanyalah sekadar barang kebutuhan sehari-hari. Komoditas yang dapat dibeli asalkan ada uang. Tetapi, bagi masyarakat adat Dayak Bakatiâ€™ di daerah Kabupaten Bengkayang, padi dan beras bukanlah semata-mata komoditas semata, melainkan berkat Jebata (Sang Pencipta) yang harus disyukuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padi dan beras adalah sumber kehidupan masyarakat Dayak Bakatiâ€™. Karena itu, seluruh rangkaian proses produksi padi itu tidak terlepas dari campur tangan Jebata yang harus selalu dipandang sebagai rangkaian perjalanan hidup itu sendiri. Tidak mengherankan kalau masyarakat Dayak Bakati menganggap seluruh alur proses produksi padi : matuk (meminta izin untuk menggarap ladang baru), numa (membersihkan belukar di areal ladang), nabet (menebang pohon), najak (memotong cabang-cabang pohon yang telah tumbang dijadikan hamparan), nyauk (mengeringkan pohon yang ditebang dan siap dibakar), ngeraih (membuat pembatas api di sekeliling ladang), natak (membakar), nyabiong (menempatkan semangat padi) dan nyabangk atau upacara adat tutup tahun sebagai suatu kronologis penting dalam siklus aktivitas perladangan hidup mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menghayati rangkaian proses itu dalam bentuk-bentuk kegiatan ritual berkaitan dengan kegiatan perladangan yang sudah bermakna religius dan selalu dihubungkan dengan kebesaran Jebata.&lt;br /&gt;Dalam semangat itu pulalah upacara adat Nyabangk masyarakat Bakati di Kabupaten Bengkayang, Kalbar, pada 19-21 Mei 2007 lalu harus dipahami. Nyabangk itu sendiri sebenarnya sudah menjadi kegiatan rutin tahunan masyarakat Bakatiâ€™ dan selalu dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Jebata atas hasil panen padi atau pertanian lainnya yang diperoleh dan selanjutnya memohon berkat dan lindungan untuk tahun berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaannya, para tua-tua adat yang terdiri dari Amak Sabangk dan Amak Gandangk serta anggota masyarakat yang merayakanya memberi makan roh-roh Pemagen dengan sesaji yang terdiri dari : daging, darah, kepala, hati (anjing, babi, ayam), beras kuning, beras pulut, nasi panggang, lambang (lemang), sirih, pinang, kapur, gambir, besi, tembako, air tawar, tepung beras, tumpi, ketupat, telur ayam kampung, kundur, timun, ampa padi, lenjuang, pelangkang, tapai tuak, tuak jandungk, nasi buis, pekasam babi hutan, udang, ikan, kepiting, siput, daun durian dan langsat, batang pisang, ratih padi, biji timun dan nasi sungki serta apar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaji itu dipersembahkan di lima tempat yakni di wilayah Marindu ditetapkan sebagai daerah penungkul (tapal batas wilayah) satu. Penungkul dua di jalan Sei Pisak dan penungkul tiga di jalan Gunung Temuak. Selanjutnya tempat yang keempat di Benen (lokasi penyembahan), dan tempat terakhir di Pungok yaitu rumah adat yang letaknya di tengah-tengah kampung. Persembahan sesaji ini selain dilakukan di lima tempat di atas, juga dilakukan di rumah Ama Sabangk dan Ama Gandangk serta warga yang merayakannya. Biasanya disudut setiap bilik rumah ada tempat pemujaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bedanya jenis bahan sesaji antara di lima tempat dan di rumah Amak Sabangk, Amak Gandangk dan anggota adalah pada jenis binatang yang akan dipersembahkan. Di rumah anggota tidak perlu anjing. Anjing hanya sesaji dipersembahkan di daerah penungkul. Hal ini dilakukan karena anjing merupakan simbol memiliki panca indera yang tajam. Dapat menjaga wilayah dari berbagai macam kejahatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pungok berukuran lima kali lima meter ini tak disangka menyimpan misteri Dayak Bakatiâ€™. Sedikitnya tiga puluh tengkorak manusia disimpan dalam tiga keranjang di atas bilik. Tengkorak-tengkorak itu dikumpulkan oleh puak-puak Dayak Bakatiâ€™ sebelum tradisi mengayau pada masyarakat Dayak dihentikan tahun 1894 pada Perjanjian Damai Tumbang Anoi yang di prakarsai oleh Pemerintah Kolonial Belanda di Kalimantan Tengah (Edi Petebang, 2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua diantaranya dikenali, Senyarong Kijang dan Sumang Manyurut. Tengkorak Senyarong Kijang adalah seorang perempuan digdaya dijamannya berasal dari Sempauk, namun jauh kalah dengan kedigdayaan Sudung Mak Pancer. Sedangkan Sumang Manyurut seorang lelaki pemberani dan perkasa berasal dari Siding yang takluk di kayau Santak Mak Batangk asal Segiring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://etnikprogresif.blogspot.com/" rel="attachment wp-att-412" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img alt="" class="size-medium wp-image-412" height="208" src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/800px-dayak_kanayatn.jpg?w=300" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Prosesi ritual adat Nyabangk ini terdiri dari : Takubu, Bapasah, Tangga Tonguh, Nyirang ka Pungok, Penampen Paing Tawar dan Nariu.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Takubu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh tua-tua adat dan warga yang melaksanakan kegiatan upacara adat Nyabangk berkumpul di rumah Amak Sabangk yang kini dijabat Simin, tepat jam 18.30 WIB. Mereka melakukan musyawarah untuk membagi peran mempersiapkan perlengkapan ritual adat untuk di bawa ke Pungok, tujuh ratus meter dari rumah Amak Sabakng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 20.00 WIB seluruh perlengkapan pun lengkap. Perjalanan menuju Pungok pun dimulai. Tua Simin, Tua Liak, Tua Siung, Tua Juim, Tua Kujin, Tua Siton, Tua Akun dan Tua Arin berjalan perlahan, sebab jalan licin baru saja hujan turun. Selang dua puluh menit, rombongon telah tiba di Pungok. Setibanya di Pungok seluruh tua-tua memohon doa kepada Jebata sambil membawa sesaji untuk mohon izin membesihkan peralatan yang akan digunakan untuk ritual Nyabangk pada tahun ini. Selanjutnya mereka membersihkan sabangk (gendang diameter 80 cm, panjang 4 meter), mengeluarkan : linang, gong, tawak, manduh, bandih. Selanjutnya mereka menggoreng tumpe (kue sejenis cucur) dan melatuk (menggongseng) jagung dan padi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulit gendang direndam selama tiga puluh menit. Sebab, kulit rusa ini akan lembut dan lebih mudah dimasukkan ke sabangk setelah selama setahun mengering tidak dipergunakan jika direndam dengan air lebih dahulu. Setelah Amak Gandangk, Liak yang juga Kepala Dusun ini ditemani Siung, Juim, Kujin, Siton, Aring, Akun dan Simin memasukkan kulit ke Sabangk, maka usailah kegiatan ritual Takubu. Mereka mengunci pintu Pungok dan kembali ke rumah masing-masing untuk istirahat sejenak, sebab besok pagi jam 04.00 upacara Bapasah akan dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bapasah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sebelum fajar tiba, tepat jam 04.00 Amak Sabangk, Amak Gandangk dan enam anggotanya keluar teratur meninggalkan bilik rumah Amak Sabangk berjalan ke Pungok. Temaram lampu pelita minyak tanah menerangi perjalanan mereka. Amak Sabangk memimpin, disusul Amak Gandangk dan anggota yang lain. Maksud kedatangan mereka untuk bapasah. Bapasah suatu ritual adat untuk memohon para orang-orang besar yang mereka sebut sebagai Pemagen (panglima perang) untuk datang makan sesaji yang akan dipersembahkan. Tujuh pemagen yang sangat mereka kenal dan berjasa menyelamatkan mereka. Karena itulah Amak Sabangk, Amak Gandangk dan timnya harus tariu (memanggil) : Santak Mak Batangk, Sadani Mak Ngaji, Supai Mak Pile, Sapuk Sekilat, Saparang Mak Baye, Sudukng Mak Pancer dan Samue Nok Nonggoi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dini hari itu, sabangk bertalu-talu di tabuh. Seketika itu pula suara lolongan anjing di sudut kampung dan jangkrik yang sempat menyeramkan, berlalu dari pendengaran. Sambil menabuh sabangk, Akun mengisap rokok kreteknya sambil menghitung tujuh puluh tujuh pukulan yang harus di tabuh. Selanjutnya, Amak Sabangk berikat kain putih di kepala mengarah ke timur, terbitnya fajar mengucapkan doa memohon pada tujuh pemagen untuk hadir menyantap makan yang telah dihidangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai mengucapkan doa, Amak Sabang memukul bandih 14 kali. Maksudnya, sebagai tanda bunyi irama Ngeliluk (irama seni musik khusus tahun baru) boleh dimulai. Sementara itu pada waktu yanga sama, Liak dan Aring memukul linang (satu set alat musik terbuat dari kuningan berupa gong kecil berjumlah 8 buah) tanpa gandangk (gendang kulit rusa berdiameter 25 cm, panjang 60 cm) dan sabangk (gendang kulit rusa berdiameter 50 cm, panjang 4 meter).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima menit berjalan, ngeliluk pun usai. Irama ngeliluk diganti dengan irama dindong (irama seni musik khusus untuk penghormatan pemagen). Bedanya dengan ngeliluk, dindong iramanya sedikit lebih cepat dan sabangk boleh ditabuh oleh dua orang bersamaan. Begitu irama dindong usai, ayam mulai turun dari pohon, Pungok dan sekitarnya mulai terang. Dapur warga sekitar perlahan mengepulkan asap, tanda aktivitas pagi di mulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tangga Tonguh&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;Usai Bapasah selama dua jam dua puluh menit, para tua-tua adat segera kembali ke rumah Amak Sabangk. Mereka terlihat agak tergesa-gesa. Aring keluar lebih dahulu membawa bokor berisi sesaji, disusul Akun, Liak, Simin dan beberapa anggota lainnya. Penyeledikan penulis, mereka harus mengelola waktu dengan cermat dan tepat. Sebab, ritual Tangga Tonguh ini dilakukan pada pagi menjelang siang. Hal ini, erat hubungannya dengan pola hidup Pemagen dan Jebata yang kontras dengan kehidupan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;â€œJadi, pada waktu yang tepat mereka bisa hadir di undang. Jika kesiangan atau waktunya tidak tepat, maka akan fatal (Simin, 2007). Sementara rombongan dalam perjalanan, rumah Amak Sabangk telah dibuka. Mereka duduk sejenak sambil merokok mendiskusikan perlengkapan yang belum lengkap. Sebab, bahan yang dibutuhkan harus lengkap. Jika tidak, maka akan fatal. Berdasarkan pengalaman, jika salah satu terlupakan meskipun kecil maka berdampak bukan saja pada warga sekampung. Tapi, justru salah satu dari tua-tua ini bisa sakit, bahkan menghantar mereka pada kematian. Karenanya, Amak Sabangk selalu melakukan ceklist satu persatu perlengkapan ritual yang dibutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu lengkap, ritual tangga tonguh pun digelar tepat jam 06.30. Seluruh tua-tua adat serempak mengucapkan doa. Telunjuk mereka selalu dicelupkan ke mangkok kecil berisi minyak kelapa. Maksudnya, mereka membuat jembatan supaya ketujuh pemagen datang pula ke rumah para tua-tua adat dan anggotanya untuk di beri makan sambil memohon kepada Jebata. Usai mengucap doa, Aring naik ke bale (kotak khusus tempat padi hasil panen tahun lalu) dan meletakan sesaji ke atas meja penyembahan di sudut kanan atas bilik rumah Amak Sabangk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan Bapasah, ritual Tangga Tonguh ini memohon kepada Jebata, bukan kepada Pemagen. â€œDisini kita berhubungan dengan ritual adat ucapan syukur tutup tahun padi yang lalu dan memanjatkan doa untuk memohon berkat berlimpah pada tahun mendatang. Jadi ini khusus ritual adat proses siklus perladangan (Simin, 2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah jam berlalu, dari dapur Tua Aring mengambil seekor ayam putih dan menyembelihnya. Darah ayam ditadah dalam sebuah mangkok. Dua helai bulunya dicabut, hatinya dimasak untuk segera dicampur dengan segenggam nasi putih yang ditadah dalam daun simpur (pohon berdaun lebar, daunnya digunakan untuk membungkus nasi). Selanjutnya bandih dipukul sebanyak 27 kali. Tua Arin dan Simin bergilir turun naik bale membawa sesaji diletakkan diatas meja penyembahan, sambil berdoa kepada Jebata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara ini diakhiri dengan pembacaan doa ngares bia untuk pemagen, napel nyirih dan cuci tangan pakai tapai tuak beras ketan. Barulah mereka bisa datang untuk makan sesaji yang disiapkan kata Simin, sambil melihat derajat matahari sebagai petunjuk waktu ke luar rumah. Diluar, telah siang. Jam 09.30 tua-tua adat makan bersama selanjutnya berpacu dengan waktu untuk menggelar ritual Nyirang Ka Pungok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Nyirang Ka Pungok&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Jam 12.00, Pungok kembali dibuka. Tua-tua adat menurunkan dua tengkorak manusia. Sebelum diturunkan, ritual adat dan sesaji dipersembahkan kepadanya. Beberapa pelangkang dibuat untuk dipersiapkan memberi sesaji di empat lokasi. Pelangkang utama lebih dahulu dibuat, ditanam persis di timur di luar rumah adat. Pelangkang utama dihiasi dengan daun kelapa muda dan kain serta telur ayam kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpacu dengan waktu, Amak Sabangk selanjutnya memukul bandih sebanyak 21 kali. Hal ini sebagai tanda bahwa ritual adat sudah pada tahap Nyirang Ka Pungok. Selanjutnya, tua-tua berdoa untuk memberi sesaji tengkorak. Ayam di semblih, darahnya diambil dimasukan dalam mangkok sebagai perlengkapan sesaji. Akun mengambil kepala ayam, selanjutnya diikatkan pada daun kelapa muda persis sejajar dengan dua tengkorak manusia di atas tempayan tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai mempersembahkan sesaji, linang, bandih, tawak, sabakng pun di tabuh. Ruangan berdebu dan berpasir inipun, kini kelihatan agak bersih. Bahkan, dengan semakin ramainya anak-anak yang datang untuk menonoton turut berkontribusi membersihkan ruangan seiring irama ngeliluk dan dindong yang di bunyikan. Sebuah pemandangan indah bak panggung teater rakyat. Irama ngeliluk dan dindong ini ternyata menghantar tua-tua adat untuk beristirahat selama 180 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Penampen Paing Tawar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tepat jam 15.00, usai istirahat singkat, tua-tua berkumpul ke Pungok. Mereka mempersiapkan penampen paing tawar, bokor berisi air kundur, minyak kelapa yang disimpan dalam sebatang bambu kecil dan batu yang diikat melilit ditaruh dalam mangkok. Selama dua puluh menit mereka di Pungok, kini kembali turun sambil membawa seekor ayam dan berjalan ke rumah-rumah warga yang menjadi anggota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri-ciri warga yang menjadi anggota ini mudah ditentukan. Karena setiap sudut bilik rumah terdapat tempat penyembahan. Bahkan, para tua-tua sangat mengenalinya dan bisa membedakannya. Prosesi acara penampen paing tawar ini sangat meriah. Meriah, karena kunjungan ini boleh diikuti oleh anak-anak. Sementara seluruh anggota keluarga yang mau dikunjungi telah siap menerima kedatangan rombongan. Mereka mempersiapkan tuak dan jamuan sederhana terhadap rombongan yang datang. Jika dalam keluarga tersebut ada anggota keluarganya sakit, maka salah satu diantara tua-tua akan melakukan ritual pengobatan. Caranya mengisap bagian yang sakit. Namun, bagi yang sehat, tua-tua adat hanya mengoleskan minyak kelapa pada bagian leher, kepala dan pundak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Nariu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Usai acara penampen paing tawar, tua-tua kembali ke Pungok. Mereka akan menggelar acara nariu (prosesi menurunkan tengkorak untuk di beri makan dan selanjutnya di kembalikan ke asalnya seperti semula sambil menari dan memanggil dan memohon pada Jebata). Prosesi tariu ini diawali dengan menyembelih ayam, darahnya diambil untuk sesaji. Kepala ayam ditusuk dengan daun kelapa, ditaruh persis di atas sabangk. Tua-tua kembali mempersiapkan perlengkapan untuk ritual nariu. Puluhan penari nariu pun telah berkumpul di Pungok. Para penari ini telah siap dengan asesorisnya, giring-giring (gelang terbuat dari kuningan) di kaki dan kalung terbuat dari taring (gigi) aneka binatang hutan di leher.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum nariu, para penari harus menyimak nasihat Amak Sabangk dan Tua Aring. Jika terjadi sesuatu pada proses nariu, mereka harus duduk manis dan yang lain segera menentramkan. Karena itu, sebelum menari dan nariu, penari wajib mendapat paing tawar (air penawar) dari Amak Sabangk. Mereka harus mengikuti ritual buah ngawah. Maksudnya, agar seluruh penari tidak kesurupan dan acara tidak kacau balau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat jam 15.30, prosesi nariu pun dimulai. Nariu ini diawali dengan sesaji bapatek dan bapadu. Selanjutnya berturut-turut menyembelih ayam, anjing hitam dan babi. Ketika tua-tua membunuh anjing, tengkorak di atas bilik segera diturunkan. Puluhan penari lelaki, bertelanjang dada dibawah siap menerima lebih kurang 30 tengkorak manusia dari atas. Seorang tua-tua mengulurkan tengkorak tiga kali yang disimpan di tiga keranjang.&lt;br /&gt;Begitu keranjang pertama turun, para penari nariu mengelilingi tengkorak dengan irama lambat. Namun, begitu keranjang kedua dan tiga turun irama tarian berubah. Makin lama, makin cepat dan suasana menakjubkan. Sementara itu, disudut timur suara seekor babi menjerit menambah suasana haru. Babi dibunuh, darahnya dipercikan ke tengkorak. Tiga keranjang tengkorak lalu diangkat kembali satu per satu kembali ke posisi asalnya, yakni diatas bilik Pungok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabangk ditabuh Tua Akun bertalu-talu, Amak Sabangk mengucapkan doa, petanda tariu dimulai. Penabuh sabangk, pemukul linang, bandih, tawak harus prima, sebab ritual tariu ini butuh waktu sekitar satu jam. Selama satu jam, musik harus kontinyu. Sebab, musik ini sebagai pengiring ritual menurunkan dan menaikkan tengkorak butuh waktu yang cukup. Tidak heran, jika penabuh sabangk dua orang. Sebaliknya pula, penari nariu pun harus cekatan melaksanakan tugasnya, menurunkan dan menaikkan keranjang berisi tengkorak. Selama proses ini, para penari mandi keringat. Usai melaksanakan tugasnya, perlahan mereka terlihat mulai lelah, seiring dengan gelapnya hari di luar Pungok, pertanda hari mulai malam dan mereka pun bergegas akan mengantar sesaji ke tiga wilayah penungkul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kemalaman, Amak Sabangk dan Amak Gandangk membagi jumlah yang hadir menjadi tiga kelompok. Tujuannya agar setiap kelompok membawa sesaji untuk diletakkan di tiga penjuru kampung. Sebagai penukul di Marindu, Jalan Sei Pisak dan Jalan Gunung Temuak. Lokas ini diyakini sebagai penunggu kampung yang senantiasa melindungi dan menjaga warga dari malapetaka yang akan menyerang warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara aktivitas tiga kelompok berjalan, Amak Sabangk membawa sesajian ke Benen (penyembahan) sekitar tujuh meter ke arah timur dari Pungok. Di lokasi ini terdapat pohon leban tertua, tempayan dan beberapa asesoris penyembahan dijadikan pamali untuk di sentuh, apalagi ditebang. Dengan dipersembahkannya sesaji di Benen ini, maka ritual-ritual siklus perladangan selanjutnya sah dilakukan warga berlanjut pada hari-hari berikutnya.&lt;br /&gt;Penulis menyaksikan, meski diguyur gerimis prosesi ritual tariu (bagian akhir ini) dipenuhi antusias warga untuk menyaksikannya. Mulai anak-anak hingga orangtua. Hanya pertanyaannya, apakah kehadiran mereka untuk sekadar menonton keunikan adat budaya Bakati di tengah badai modernisasi atau sebaliknya justru mendorong semangat untuk tetap melestarikan adat, budaya dan hukum adat sebagai warisan pada generasi Dayak Bakati di masa datang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Teater Rakyat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Jika dipandang dari sudut seni pertunjukan, upacara ritual Nyabank ini erat kaitannya dengan seni pertunjukan, khususnya teater. Sebetulnya unsur semua cabang seni masuk dalam peristiwa ritual ini. Ada seni rupa, tari, musik dan teater. Unsur teaterikal yang menonjol antara lain ketika semua proses dialog antara pemimpin upacara dengan para penari saat upacara nariu. Namun lebih dari itu, unsur teater juga masuk dalam rangkaian setiap upacara dimana terjadi dialog dan monolog dengan sesama petugas upacara dan antara imam yang memimpin upacara dengan para makhluk gaib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika unsur seni ritual ini dilepas atau diambil unsur pertunjukan teaternya bisa diadopsi dan dapat menjadi ide teaterikal yang kemudian diolah menjadi sebuah pertunjukan panggung, barangkali bisa menjadi suatu bentuk teater yang indah. Tentu saja harus dipilah antara ritual dan non ritualnya. Pemisahan itu dapat dilakukan ketika telah mengalami proses transformasi. Agak sulit memang menemukan unsur seni tradisi yang murni hiburan sebab seperti juga yang dikatakan oleh Edi Sedyawati bahwa seni pertunjukan di kalangan masyarakat tradisional mempunyai fungsi antara lain:&lt;br /&gt;1. Pemanggil kekuatan gaib&lt;br /&gt;2. Penyemput roh-roh pelindung untuk hadir di tempat pemujaan&lt;br /&gt;3. Memanggil roh-roh baik untuk mengusir roh-roh jahat&lt;br /&gt;4. Peringatan pada nenek moyang dengan menirukan kegagahan maupun kesigapannya&lt;br /&gt;5. Pelengkap upacara sehubungan dengan peringatan tingkat-tingkat hidup seseorang (Edi Sedyawati, 1980).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyimak uraian di atas, jelaslah bahwa sebetulnya kita kaya akan seni terutama seni pertunjukan yang didalamnya ada teater, music dan tari. Sekarang, tinggal bagaimana kita melakukan proses transformasinya dengan baik dan benar agar unsur ritulanya tidak hilang begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sumber&amp;nbsp; Acuan&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Edi Petebang, Dayak Sakti, Pengayauan, Tariu, Mangkok Merah, Pontianak, Institut Dayakologi,  cetakan ke 3, 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Edi Sedyawati, Pertumbuhan Seni Pertunjukan, Jakarta: 1980.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majalah Kalimantan Review, Juni 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paulus Florus, et.al., Kebudayaan Dayak, Aktualisasi dan Transformasi, Pontianak, Institut Dayakologi, cetakan ke 2, 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simin, Amak Sabangk-Sesepuh Dayak Bakatiâ€™ di Desa Pisak Kecamatan Tujuhbelas Kabupaten Bengkayang, diwawancarai Mei 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sais, Wakil Ketua Badan Pemusyawaratan Desa, Desa Pisak, diwawancarai Mei 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posting: John Roberto Panurian, S.Sn-http://sengalangburongcomunity.blogspot.com/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3509747544273203794-404820209260739728?l=etnikprogresif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/feeds/404820209260739728/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/09/upacara-adat-nyabakng-oleh-suku-dayak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/404820209260739728'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/404820209260739728'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/09/upacara-adat-nyabakng-oleh-suku-dayak.html' title='Upacara Adat Nyabakng Oleh Suku Dayak Bakati'/><author><name>mbah dinan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10973480357642906490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-zT11WGzH8D8/TrzZyXePTwI/AAAAAAAABGU/mvgB2aMy4Zc/s220/etnikprogresif.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3509747544273203794.post-4813081377274647018</id><published>2010-09-19T16:46:00.003+07:00</published><updated>2011-01-11T19:31:02.934+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suku'/><title type='text'>Dayak Kanayatn</title><content type='html'>&lt;a href="http://etnikprogresif.blogspot.com/" rel="attachment wp-att-402" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" class="size-medium wp-image-402" height="291" src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/41.jpg?w=300" width="300" /&gt; &lt;/a&gt;karena suku ini termasuk suku pengembara, yang menjelajah diseluruh bagian provinsi ini. Selain itu, dari sejarah konflik antar etnik di Kalbar, kelompok suku ini terlibat secara dominan dan langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan saudara-saudaranya di kawasan timur-barat, tidak ada cirri khas kebudayaan yang amat menonjol dari suku ini. Dalam batas tertentu, peradaban suku ini tergolong rendah dibandingkan dengan suku-suku Dayak lainnya. Yang paling menonjol, misalnya; dari persenjataan perang, suku ini tidak mengenal Mandau, mereka menggunakan tangkitn, yang tidak menggunakan sarung. Memakainya cukup di tenteng dengan cara di panggung. Tangkitn ini tidak ada hulu, hanya dililit dengan kain merah dan putih, yang dikenal sebagai tangkulas. Suku ini juga tidak mengenal perisai atau gunapm sebagai pasangan dari Mandau, sebagaimana suku Dayak lainnya. Factor kesamaan hanya terlihat pada rumah tinggal, menurut informan saya, nenek moyang mereka memang pernah tinggal dirumah panjang, yang dikenal sebagai rentetn.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut beberapa sumber, kelompok suku ini merupakan bagian terbesar dari seluruh kelompok etnik Dayak di Kalimantan, dengan menyumbang sekitar 600.000 jiwa, yang tersebar di berbagai kabupaten/kota. Informan saya menyebutkan angka ini relative pasti, karena faktanya ada dua kabupaten di Kalimantan Barat yang hamper 90% penduduknya di kategorikan sebagai Dayak Kanayatn, yakni Kabupaten Bengkayang dan Kabupaten Landak. Kedua kabupaten ini, sebelum pemekaran tahun 1999 merupakan bagian dari Kabupaten Sambas dan Kabupaten Pontianak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://banuadayak.wordpress.com/2010/09/19/399/pict0042/" rel="attachment wp-att-403" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img alt="" class="size-full wp-image-403" height="240" src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/pict0042.jpg" width="180" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Merekonstruksi Identitas Dayak Kanayatn&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;Upaya merekonstruksi identitas bukanlah perkara yang mudah. Namun, dalam kerangka pengkajian sejarah asal usul suatu bangsa, yang dalam perkembangannya seringkali salah kaprah, dan penuh dialektika, penelusuran amat kita diperlukan. Pada bagian pertama, saya sudah menulis tentang pasang surut identitas pada Orang Dayak secara umum di Kalbar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian ini, saya akan mencoba merekonstruksi identitas Orang Dayak sub-Kanayatn yang sangat kesohor di Kalbar. Sebagaimana identitas Dayak yang pernah mengalami pasang surutnya di Kalbar, pada orang Dayak Kanayatn, justru identitas mereka tidak jelas. Beberapa klaim terjadi antara orang-orang Dayak yang berbahasa Bakati, Banyaduâ€™ yang kini mendiami wilayah Kabupaten Bengkayang dengan orang-orang Dayak yang berbahasa Baahe, Bajanya, Banana, Badamea, ataupun yang berbahasa Bajare yang kini mendiami beberapa wilayah di Kabupaten Kubu Raya, Kabupaten Pontianak, Kabupaten Landak, sebagian Kabupaten Bengkayang, sebagian Kota Singkawang dan sebagian Kabupaten Sambas. Saling klaim ini menunjukan bahwa ada sesuatu yang keliru dalam menafsirkan identitas mereka oleh orang luar dan teranjur tersosialisasi sejak lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari berbagai catatan para pelancong Eropa, dikatakan bahwa ketika pertama kali dating di Kalimantan, mereka telah menemukan cukup banyak orang Dayak yang tinggal dikaki-kaki gunung dan hutan belantara. Petualangan Earld, seorang Nahkoda Kapal Stamford Inggris yang berlayar dari Singapura untuk melakukan transaksi dagang dengan Kesultanan Sambas pada tahun 1834 di sepanjang pantai Sambas membuktikan pendapat itu. Earld, misalnya pernah bertemu dengan beberapa orang Dayak yang menggunakan perahu kecil yang terbuat dari kayu bulat dalam perjalanannya mencari sebuah lokasi koloni Cina di Singkawang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menduga, bahwa orang Dayak yang dimaksud Earld itu adalah orang Dayak Kanayatn. Dugaan ini mungkin sesuai dengan hasil penelitian seorang antropolog Dayak Salako, Simon Takdir, (2003). Dikemukakannya bahwa Orang Dayak Kanayatn dulunya tinggal dan menetap di kawasan pesisir pantai, tak jauh dari bukit Senujuh, kawasan sungai sambas. Oleh Dunselman (dalam Cence and Uhlenbeck, 1958;15) orang-orang yang ini disebutnya sebagai Old Kendayan atau Kendayan Tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita merujuk pada temuan mirasi bangsa Austronesia menurut Kern dan Von Heine (Soekmono, 1990) bangsa Indonesia demikian juga Suku Dayak termasuk keturunan bangsa Austronesia ini . Dan sangat mungkin, maka orang-orang Dayak sebagaimana ditemui Earld di sepanjang sungai Selakau dan sungai Sambas pada waktu itu, termasuk keturunan bangsa ini (lihat Simon Takdir;2003).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Collins (1989) yang meringkaskan pendapat Bellwood (1985), sekurang-kurangnya 7.000 tahun lalu, perintis Austronesia dari daratan Cina (mungkin Zheijang dan Fujian) mendiami Pulau Taiwan dan tinggal disitu sekitar seribu tahun. Dari Taiwan, mereka bermigrasi lagi kea rah selatan melalui Filipina kearah barat Borneo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Stanley Karnow (1964) peta perjalanan migrasi bangsa Austronesia dari daratan Asia menuju pulau Kalimantan dan kepulauan Indonesia lainnya melalui Semenanjung Malaka. Mereka yang menuju Kalimantan Barat bagian utara ada yang memasuki muara â€“muara sungai besar yang menjorok ke perhuluan/perbukitan (mungkin saja sungai Sambas atau sungai Selakau). Beberapa kelompok kecil sempat menetap dikawasan ini dan berbaur dengan penduduk yang sudah ada sebelumnya (Takdir;2003;6). Oleh Wonojwasito, (1957) penduduk asli ini di sebutnya sebagai bangsa Weddoide dan Negrito.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wonojwasito menjelaskan bahwa kelompok Weddoide dan Negrito telah mendiami kepulauan Borneo sejak zaman prasejarah dan kebudayaan mereka dinamakan kebudayaan Paleolitikum, kebudayaan batu tua, karena mereka belum mengenal pemakaian alat dari logam. Namun begitu, penduduk lama ini telah lenyap sama sekali di Kalimantan (Loebis, 1972).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari teori Collins, Stanley, Simon dan Wonojwasito diatas, saya menduga ada terjadi perkawinan silang antara kelompok Weddoide dan Negrito dengan kelompok migrant yang baru tiba dari Taiwan ini. Hasil perkawinan silang ini, kemudian dikenal sebagai bangsa Austronesia, yang bercirikan mata terlihat sipit, agak pendek, kulit kuning langsat, dan sangat terampil memainkan pedang (Takdir;2003).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga dapat melihat cukup banyak sisa warisan budaya bangsa Weddoide yang masih bertahan dan dapat dilihat pada bangsa Austronesia (termasuk Dayak Kanayatn) ini, antara lain adalah menjadikan hewan anjing sebagai hewan sembelih dan kurban pada jubata (dewa). Prosesi menjadikan hewan anjing sebagai bentuk persembahan ini, dengan mudah kita lihat pada ritual adat perang pada orang Dayak Kanayatn sekarang ini. Binatang ini menjadi hewan buruan, mungkin karena mudah ditangkap bangsa Weddoide yang masih memiliki peralatan dari batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merujuk kamus bahasa sanskerta/kawi, istilah Kanayatn berasal dari kata kana + yani. Kana : sana, yana : jalan, yani : sungai (Prawiroadmojo, 1981). Menurut informan saya, mungkin saja ketika melakukan perjalanan, para pelancong, peneliti dari Eropa, Cina ataupun penulis Hindu telah menemukan sebuah komunitas manusia disepanjang aliran sungai Selakau dan sungai Sambas menetap dan membentuk pemukiman yang berada di sebelah sana sungai atau jalan. Maksudnya yaitu suku Kanayatn berada disebelah utara sungai selakau, atau disebelah utara jalan raya, atau di sebelah utara dari wilayah kelompok Austronesia (lihat Simon;2003)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain ciri-ciri tersebut di atas, ciri lain dari warisan budaya nenek moyang bangsa Autronesia adalah mengkremasikan jenasah orang yang sudah meninggal, yakni dengan membakarnya. Hal ini dinyatakan oleh King (1993), Praktek pembakaran jenazah oleh orang Kalimantan umumnya dianggap untuk menunjukan pengaruh Hindu-India, padahal sekarang kita tahu bahwa pembakaran itu adalah bentuk budaya Austronesia yang sangat awal di Kalimantan, dan bentuk yang sangat belakangan di India.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://etnikprogresif.blogspot.com/" rel="attachment wp-att-404" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" class="size-medium wp-image-404" height="229" src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/32.jpg?w=300" width="300" /&gt; etnikprogresif&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang Dayak Kanayatn, lahan atau tempat pembakaran jenasah itu disebut patunuan. Walaupun sekarang ini jenasah tidak dikremasi lagi, tempat mengubur jenasah (kuburan) tetap disebut patunuan, bukan pasuburatn. Bukti patunuan ini masih ditemukan di hutan Lago, Menjalin, Kalbar. Prosesi pemakaman ini, tentu saja mirip dengan budaya Hindu, sebuah agama besar di Nusantara yang masuk pada pertengahan abad 4 SM sampai awal kedatangan Islam pada abad 16 SM sebagaimana ditulis oleh Ahmad dan Zaini (1989).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad dan Zaini menemukan bahwa di sekitar kawasan bukit Sarinakng, Selakau sekarang ini, pernah ditemukan sebuah kerajaan Hindu yang berdiri tahun 1291, dengan rajanya yang bergelar Ratu Sepudak. Namun, kerajaan ini menjadi hilang, ketika Islam masuk ke Sambas dan mendirikan Kerajaan Islam Sambas. Rakyat dari kerajaan Hindu ini, yang tidak mau masuk Islam kemudian bermigrasi ke hulu melalui sungai Selakau, dan kemungkinan mendirikan pemukiman dan menetap dikawasan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bulan September 2008 lalu, saya berkunjung ke Selakau. Tepat ditep jembatan, pasar selakau, terdapat plang nama yang tertulis; Selakau, 6 Km. Dengan beberapa teman, saya berinisiatif menyusuri sungai Selakau, yang disebut-sebut sebagai salah satu jalan migrasi antar bangsa masa itu. Tak jauh dari sungai Selakau, menjulang tinggi sebuah bukit yang bernama bukit sarinakng (bhs.Melayu; bukit selindung).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut informan saya, pada waktu itu dibukit Sarinakng ini adalah pantai. Namun adanya proses alam maka timbul daratan baru yaitu kota Selakau sekarang. Sarinakng yang dulu berada di pantai kini berada jauh dari pantai. Sarinakng ini selanjutnya disebut Salako Tuha (Selakau Tua) dan baru disebut Salako Mudaâ€™ (Selakau Muda) atau pasar Selakau sekarang ini. Kenapa di sebut Salako ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut informan saya, nama Salako itu berasal dari Salak Ako. Ako di sana dikenal sebagai nama salah satu jenis anjing hutan. Orang-orang diperkampungan, menurut informan ini sering mendengar salak anjing Ako, siang maupun malam. Karena anjing Ako ini mengganggu, binatang ini dimusnahkan begitu saja oleh mereka. Berbeda dengan leluhurnya bangsa Weddoide, Orang-orang ini tidak mau makan daging anjing. Bagi mereka, anjing adalah binatang sial. Alam supranatural tidak mau berteman dan memberikan kekuatan magis pada orang yang makan anjing sebab badannya sudah kotor. Karena itu keturunan dari orang-orang ini, yang kemudian dikenal sebagai Dayak Kanayatn amali (dilarang) memakan daging anjing. Orang Kanayatn yang memakan daging anjing sekarang ini telah mereka kontak dengan suku-suku Indonesia lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya berkunjung disalah satu kampong dikawasan Salak Ako, saya menemukan sebuah kampong lama, namanya kampong Baron. Kampong ini hanya dihuni sekitar 14 keluarga Dayak, yang telah menikah dengan orang-orang Cina, bekas penambang emas di Buduk. Beberapa peninggalan yang menjadi cirri khas Dayak Kanayatn seperti timawakng, kompokng, padagi, patunuan dan sebagainya masih ada. Saya juga masih menemukan disekitar kampong ini masih ditemukan pohon buah-buahan yang sudah tua, misalnya pohon durian, cempedak, asam kalimantan, dan lain-lain serta tempat pemujaan (tempat keramat) yang disebut Padagi/Panyugu yang sudah tidak terurus, pecah-pecahan keramik yang tersebar dilokasi bekas bantang, tepian mandi dan tempat keramat lainnya. Menurut informan saya, di lokasi bukit Sarinakng ini pernah ditemukan sebuah Nekara pada bulan Mei 1991, yang kini di simpan di Museum Negeri Pontianak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Migran Dari Sarinakng&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dalam menelusuri identitas ini, kita dapat merujuk pada beberapa teori. Misalnya Nothofer dalam Sari 14 (1996;34) sebagaimana dikutif Aloy (2008;12). Menurut Nothofer, tanah asal usul suatu keluarga dapat dibaca dari keragaman bahasa dan isolek yang mengurainya. Hipotesisnya adalah bahwa makin lama suatu daerah didiami oleh penutur isolek-isolek yang berasal dari suatu bahasa purba makin tinggi tingkat keragaman isoleknya. Sebaliknya, kalau penutur suatu isolek yang timbul beberapa abad sesusah terpisahnya suatu bahasa pura yang meninggalkan tanah asal usulnya untuk mendiami daerah yang baru, maka waktu ntuk timbulnya isolek yang beranekaragam ditempat yang baru itu sangat berkurang. Selanjutnya ia menyimpulkan bahwa dengan menganalisis keragaman bahasa, kita dapat menelusurinya dari asal usul penutur (manusia) yang mewarisi, membawa dan menyebarkan bahasa tersebut. (Aloy;2008;13).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebaran manusia purba dapat ditelusuri melalui aliran sungai. Hal ini dimungkinkan, karena jaman dahulu, transportasi utama masyarakat adalah sungai. Earld, pedagang dari Singapura yang berkunjung pada sebuah koloni Cina di pantai barat Borneo tahun 1834 mengatakan, untuk masuk kepedalaman, mereka harus melalui sungai yang membentang luas dan dalam. Sungai-sungai tersebut bercabang-cabang (J.B.Wolters;1918;3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan aliran sungai yang berhulu di bukit Bawakng dan bukit-bukit kecil lainnya, saya menduga bahwa migrasi orang-orang dari Sarinakng kemungkinan dilakukan secara berkelompok dan bergelombang. Alasan migrasi, umumnya karena arus migrasi yang massif dari orang-orang yang tidak mereka kenal yang mengancam keamanan dan penghidupan religi serta bercocok tanam (Supriyadi;2005;69).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling tidak ada lima kelompok kecil. Kelompok pertama menyusuri sungai Sebangkau dan menetap di Paranyo (bhs. Melayu; pelanjau), sebagian kecil meneruskan perjalanan hingga dimuara sungai, Pemangkat. Kelompok kedua melakukan perjalanan dengan menyusuri sungai Bantanan, dan menetap di Tabing Daya (17 Km dari Sekura sekarang), kemudian menyebar lagi di Kuta Lama (dekat pasar Galing sekarang). Dari Kuta Lama, ada dua kelompok kecil yang memisahkan diri lagi dengan menyusuri Sungai Enau dan menetap di Jaranang (desa Sungai Enau sekarang). Sebuah kelompok lagi terus menyusuri sungai ke hulu dna menetap di Bapantang Batu Itapm (Batu Itapm sekarang). Di Batu Itapm inilah mereka lama menetap bahkan sampai sekarang. Generasi dari Batu Itapm ini kemudian menyebar sampai kedaerah distrik Lundu Malaysia. Di Malaysia sekarang mereka menempati 24 kampung dengan populasi 9.558 jiwa, antara lain kampong Rukapm, Biawak, Paon, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis juga memiliki keyakinan bahwa generasi yang bertahan di Sarinakng, Tabing Daya dan Kuta Lama telah memeluk agama Islam dan menyebut dirinya Melayu. Keyakinan penulis ini berasal dari temuan bahwa sejumlah informan tua (70an tahun) didaerah ini walaupun sudah beragama Islam tetap menyebut bahwa kakek dan nenek mereka dulu adalah orang Darat (Dayak red), bahkan ada yang mengatakan Ayah dan Ibu mereka adalah orang Darat (Dayak red).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok lain yang bermigrasi dengan menyusuri hulu sungai selakau melalui sungai sangokng dan menetap dibeberapa kampong yang terebar di kawasan Kota Singkawang sekarang ini. Selanjutnya, ada yang terus mudik dan naik di Timawakng Aboâ€™ dan pindah ke Puaje (jembatan dekat simpang Monterado). Mereka ini kemudian mengembangkan bahasa yang dikenal sebagai bahasa ba damea/ba dameo.&lt;br /&gt;Dari Sarinakng, sekelompok besar menyusuri hulu sungai selakau hingga di daerah Lao, daerah Serukam sekarang ini. Dari Lao, sekelompok kecil lagi bermigrasi ke daerah Sawak dan Gajekng serta Pakana dan sekitarnya. Mereka inilah yang kemudian mengembangan orang Dayak yang berbahasa Baahe dan Bananaâ€™.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana di tempat asalnya, Sarinakng, Tabing Daya, Batu Itapm, Kuta Lama, Jaranang, yang telah memeluk Islam, orang-orang di Pakana ini juga telah memeluk Islam. Penelitian Owat (2005) di Pakana, menyatakan bahwa pada masa lalu, Pakana merupakan pusat penyebaran Islam ditanah Dayak. Bukti-bukti ada infiltrasi Islam ditempat ini masih nyata. Dari Pakana, orang-orang yang tidak mau memeluk Islam bermigrasi lagi, menyusuri Sungai Mempawah hingga ke Karangan, Menjalin, Takong, Toho dan Sangkikng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan peta migrasi diatas, di tinjau dari bahasa yang dikembangkannya, ada tujuh kelompok sub suku Dayak di daerah ini: (1) Baahe logat Karimawatn Sakayu (Dayak Mampawah), (2) Baahe logat Sangah (Dayak Bukit), (3) Bajare (Dayak Gado), (4) Bananaâ€™, Banyaduâ€™(Dayak Banyuke), (5) Balangin, Bampape (Dayak Landak), (6) Badamea/Badameo (Dayak Salako) dan (7) Bakati (Dayak Rara dan Dayak Bakati;) (lihat Atok;2008;8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam analisisnya, Atok menjelaskan bahwa (1 dan 2) bisa berkomunikasi dengan baik karena 90% perbendaharaan bahasanya relative sama, walaupun ada perbedaan fonemiknya (bunyi bahasanya). (1 dan 3) bisa berkomunikasi dengan mencampur bahasa masing-masing tapi saling mengerti apa yang dimaksud. (1,2, dan 4) sebagian besar bisa berkomunikasi dengan baik menggunakan bahasa Baahe kedua logat yang ada. (5 dan 6) bisa berkomunikasi karena masih cukup banyak perbendaharaan kata yang sama dan umumnya komunikasi dengan lancar dengan bahasa Badameo. Sedangkan (1,2,3,4,5,6, dan 7) bisa berkomunikasi dengan baik menggunakan bahasa campuran Baahe-Badameo-Bajare.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi inilah yang menurut Atok dapat menjelaskan bahwa rumpun subsuku ini berasal dari moyang yang sama, bangsa Austronesia di daerah Sarinakng. Saat ini mereka mengidentifikasi diri kedalam 3 kelompok yaitu Dayak Kanayatn (1-5), Dayak Salako (6) dan (7) Dayak Banyadu/ Bakati. Untuk mempertegas kelompok ini dapat dilihat dari penyelenggaraan adat pesta padi, orang Kanayatn dan orang Salako menyelenggarakan Naik Dango sedangkan orang Bakati/ Banyadu menyelenggarakan Makadio. Kedua acara adat ini sesungguhnya memiliki prosesi, makna dan nilai-nilai religius yang sama. Penyebutan yang banyak ini menurut penulis karena pada masa lalu komunikasi belum berjalan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://etnikprogresif.blogspot.com/" rel="attachment wp-att-405" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img alt="" class="size-medium wp-image-405" height="295" src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/pantak1.jpg?w=300" width="300" /&gt; etnikprogresif&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Siapakah Dayak Kanayatn ?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Timbul pertanyaan, siapakah Dayak Kanayatn itu ? Istilah Kanayatn dikalangan suku Dayak yang berbahasa Bakati/ Banyadu, Bajare, Banana, Baahe, Badamea/Badameo masih diperdebatkan hingga hari ini. Bagi orang Bakati, istilah Kanayatn ini berasal dari nama salah satu jenis rotan untuk menjemur pakaian serta nama sebuah sungai di wilayah Ledo sekarang ini. Sedangkan pada orang Banana, Baahe, Badamea, Bajare, istilah Kanayatn diperoleh dari kata Nganayatn (persembahan kepada Jubata karena pekerjaan telah selesai).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita melihat dua versi istilah ini, maka pada orang Bakati, istilah tersebut merujuk pada nama tempat, sedangkan pada orang Banana, Baahe, Bajare, Badamea merujuk pada budaya khususnya religi dan sastra lisan. Namun, dalam sastra lisannya, semua suku, baik Bakati/Banyadu maupun Banana, Baahe, Bajare, Bampape dan Badamea masih mengarahkan tempat persembahan kepada Jubata di sebuah tempat bernama Bukit Bawakng, Kecamatan Lembah Bawang Kabupaten Bengkayang sekarang ini. Saya pernah dua kali berkunjung di salah satu kampong dikawasan lembah bawang ini, yakni kampong Jaruk Param. Di kawasan ini, semua penduduk berbahasa Bakati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, wajar saja kalau klaim atas identitas Kanayatn tetap terjadi, sepanjang belum ada rekonsiliasi diantara penutur bahasa-bahasa tersebut. Kesulitan menganalisis klaim identitas ini, dikarenakan tidak adanya referensi ilmiah ataupun laporan perjalanan yang ditulis para pelancong, misionaris ataupun aparatur pemerintah colonial ketika itu. Beberapa laporan yang ada, tidak ada yang secara tegas menunjukan istilah Dayak Kanayatn.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah Dayak Kanayatn secara jelas hanya tergambar dari tulisan Pastor Donatus Dunselman OFM.Cap tahun 1949 dengan judul Bijdrage Tot De Kennis Van Detaal En Adat Der Kendajan-Dajaks van West Kalimantan. Menarik bahwa dikemudian hari, hasil penelitian Dunselman ini diadobsi secara menyeluruh oleh kalangan elit politik Dayak yang mengidentifikasikan dan mengunifikasikan dirinya sebagai Kanayatn pada tahun 1980-an. Secara sistematis, sosialisasi identitas politik ini mewarnai sejarah Kalbar dengan actor utama para politisi, akademisi dan praktisi LSM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua periode kemunculan identitas ini, yang memiliki argumentasi tersendiri. Periode pertama di wakili oleh adopsi dari hasil penelitian Pastor Donatus Dunselman diatas. Periode ini berjalan kira-kira sejak tahun 1980-an hingga tahun 2000. Periode lainnya adalah sebuah periode kritikal identitas yang ditandai dengan upaya untuk mengembalikan identitas Dayak Kanayatn kepada mereka yang paling berhak, yakni Dayak yang berbahasa ba nyadu dan ba kati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Periode pertama, saya sebut periode politik identitas. Sebagaimana disebutkan diatas, tulisan Pastor Donatus mungkin dengan cepat menyebar dikalangan misionaris Katolik diberbagai kawasan. Sosialisasi identitas baru ini menjadi lebih tersalurkan dengan dukungan dari petugas-petugas paroki, yang setiap minggu berkunjung ke kampong-kampung Dayak. Hasilnya, identifikasi sebagai Dayak Kanayatn muncul dikalangan Dayak yang sebelumnya belum begitu mengenal identitas ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Identitas baru ini kemudian dibaca sebagai sebuah kekuatan yang hebat dalam hal populasi. Ini penting untuk proyeksi kekuatan politik. Dalam politik, besaran populasi dan persatuan para elit Dayak di Kabupaten Sambas dan Kabupaten Pontianak ketika itu menjadi sangat penting sebagai bagian dari strategi politik yang dikembangkan pemerintah Indonesia untuk mengkooptasi dan sekaligus merangkul kekuatan politik Dayak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian pertama buku ini, saya juga menjelaskan mengenai sejarah perpolitikan di Kalbar yang berubah ketika perubahan rezim, dari Orde Lama ke Orde Baru, awal tahun 1970-an. Perubahan rezim ini disatu sisi mengecilkan peran politik Orang Dayak, namun disisi lain mempererat persatuan mereka dengan strategi baru.&lt;br /&gt;Ditopang oleh kaburnya literatur yang menjelaskan secara detail periode ini, dalam perspektif politik identitas yang terjadi pada Dayak Kanayatn, saya mengamati sebuah organisasi yang mengatasnamakan Dayak Kanayatn, dibentuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pada tanggal 23 Maret 1985 yang bernama Dewan Adat Dayak Kanayatn. Walaupun masih terdapat simpang siur disana-sini tentang sejarah pembentukan organisasi ini, saya kemudian mengkaitkannya secara positif dengan kepiawaian para tokoh politik orang Dayak, memanfaatkan politik pada era Orde Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut statistic tahun 1980, populasi orang-orang Dayak yang berbahasa ba ahe, ba nana, ba inyam, ba nyadu, ba kati, ba dameo, ba langin cukup besar. Mereka hamper menguasai 20% dari seluruh populasi Dayak di Kalbar, dengan penyebaran yang dominan di Kabupaten Sambas dan Kabupaten Pontianak. Karena itu, kelompok etnik ini merupakan pemilih potensial untuk memenangkan Golkar, sebuah partai pendukung pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bubarnya Partai Persatuan Dayak (PD) pada tahun 1960, memaksa serangkaian perpecahan dikalangan internal politisi Dayak Kalbar. Mempersiapkan diri menyongsong Pemilu 1971, bekas pengurus PD memisahkan diri. Kelompok pertama menyatakan bergabung di Partindo. Kelompok ini dimotori oleh J.C. Oevaang Oeray, Gubernur Kalbar. Beberapa aktivis politik lainnya menyatakan bergabung di Partai Katolik, kelompok ini dipimpin oleh F.C. Palaoensoeka, anggota DPR RI. Namun perpecahan ini menjadi kentara ketika, perubahan politik nasional berlangsung sedemikian cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa pemerintahan Golkar, pemenang Pemilu 1971, partai-partai politik berupaya di sederhanakan. Partai Katolik dan beberapa partai nasionalis lainnya berfusi menjadi Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dan beberapa partai Islam berfusi kedalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Sebagai partai pemerintah, Golkar mengkonsolidasikan tiga elemen penting; ABRI, Birokrat dan Golkar sendiri, atau dikenal dengan istilah ABG.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca kencendrungan politik kelompok etnis Dayak yang beragam di Kalbar, ada enam kelompok sub-etnik Dayak yang menarik perhatian Golkar. Dengan beragam cara, elit Golkar meminta para elit-elit Dayak agar bergabung ke dalam Golkar untuk mewakili masyarakat Dayak. Beberapa Dayak Golkar™ ini diberikan tempat dalam berbagai upacara-upacara kenegaraan, dan daerah. Beberapa diantaranya menduduki posisi dalam bidang pemerintahan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;namun tidak ada lebih dari pada pemerintah kecamatan.&lt;br /&gt;Bagi rezim yang memerintah, tentu saja elit-elit Dayak ini berfungsi untuk mengamankan suara Golkar dalam pemilu yang telah diatur. Mengingat kemenangan Golkar telah ditetapkan sebelumnya, jumlah perbedaan suaranya dapat dipertanyakan. Pada pemilu 1977, J.C. Oevaang Oeray berkampanye untuk Golkar. Kemudian, Oeray diberikan jabatan anggota DPR RI di Jakarta. Pada pemilu 1977, Oeray dan Aloysius Aloi ditunjuk sebagai anggota DPR; G.P Djaoeng dan Moses Nyawath duduk di DPRD I; Rahmad Sahudin di Kabupaten Pontianak. dan Willem Amat duduk di DPRD II Sangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemenangan Golkar di kelompok pemilih Dayak memunculkan keinginan kuat untuk melembagakan orang-orang Dayak untuk bergabung di Golkar, sebagaimana kebiasaan Golkar yang membentuk organisasi-organisasi sayap partai. Di dorong keberhasilan mobilisasi Dayak dengan menggunakan adat sebagai bumper pemersatu pada peristiwa demonstrasi Cina tahun 1967 diseluruh wilayah Kabupaten Pontianak, adat dibidik Golkar sebagai prioritas. Lembaga-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lembaga adat yang tersebar di level kewilayahan local berusaha di strukturisasi.&lt;br /&gt;Keinginan ini ditangkap dengan cerdas oleh seorang Temenggung di Pahauman, Kabupaten Pontianak. Harapannya, para politisi Dayak dari Golkar menggunakan istilah 'Kanayatn atau 'Kendayan' untuk mengumpulkan suara orang Banana'-Ahe dan varian sejenisnya yang mayoritas, khususnya di Kabupaten Pontianak kala itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan dingin F. Bahaudin Kay, Temenggung Binua Temila Ilir I Pahauman mewujudkan ambisi itu. Kay dengan cekatan melaksanakan musyawarah adat se-Kecamatan Sengah Temila pada tanggal 23-24 Mei 1978 di Gedung Serba Guna Pahauman. Meski sebagian biaya musyawarah ini didukung Golkar, menurut Kay, biaya musyawarah tersebut juga ditanggung oleh masyarakat adat yang dimobilisasi oleh pengurus adat disetiap tingkatan, mulai dari Timanggong, Pasirah dan Paraga. Oleh Kay, seluruh kepala keluarga diwajibkan mengumpulkan sumbangan satu kaleng beras dan satu kaleng beras ketan serta uang Rp.100,-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, musyawarah dibungkus dengan upaya menyeragamkan hukum adat (unifikasi) dan mencatat / membukukan (kondefikasi) hukum adat di Kecamatan Sengah Temila, namun sesi akhir dari musyawarah itu memutuskan untuk membentuk wadah adat ditingkat kecamatan yang diberi nama Badan Koordinator Adat (BKA) Kecamatan Sengah Temila. Sebagai organisasi adat, simbol/ lambang adat juga ditetapkan. Simbol tersebut terdiri dari gantang dan pamipis dalam lingkaran segi lima dan dasarnya terdiri dari sebuah balok yang bertulisan motto adat ADIL KA TALINO BACURAMIN KA SARUGA BASENGAT KA JUBATA. Musyawarah juga menetapkan F. Bahaudin Kay sebagai koordinator BKA yang baru saja terbentuk untuk masa bhakti 1979-1983.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukses pelaksanaan MUSDAT se-Kecamatan Sengah Temila di Pahauman, beberapa tahun kemudian, Kay dan teman-temannya menginisiasi pelaksanaan MUSDAT di level kabupaten. Ini bersamaan dengan pindahnya Kay di Mempawah sebagai salah sebagai Kepala Unit Produksi (KUP) Asuransi Jiwasraya Mempawah. Di Mempawah, dengan tekad dan kemauan yang kuat, Kay yang terpilih sebagai salah satu pengurus GOLKAR di Kabupaten Pontianak menginisiasi pembentukan panitia MUSDAT level kabupaten. Melalui rapat, Kay terpilih sebagai ketua dengan sekretaris Thomas Mekan. SH. Rapat-rapat kegiatan panitia di kantor lurah Anjungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MUSDAT I ini berhasil terlaksana pada tanggal 23-25 Maret 1985, bertempat digedung SMP Negeri I Anjungan. MUSDAT dibuka oleh Bupati Kabupaten Pontianak, Drs. H. Muchali Taufik, dihadiri oleh para tokoh dan pemuka masyarakat adat, serta utusan /peserta dari 10 kecamatan dalam Kabupaten Pontianak. Musyawarah ini di rekam oleh Drs.Tarsisius Uryang selaku notulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama MUSDAT I, banyak peserta yang pro dan kontra atas istilah Dayak Kanayatn, untuk menyebut diri mereka. Seorang bekas peserta mengatakan kepada saya, bahwa ia tidak setuju ada pengelompokan suku Dayak. Menurutnya, Dayak akan kuat bila identitasnya sebagai Dayak yang satu tetap dipertahankan. Namun argumen itu tidak sama sekali muncul dimusyawarah, karena dilihatnya semua peserta orang-orang Golkar, yang ia kenal. Ia sendiri berterus-terang simpatisan sebuah partai non Golkar, yakni PDI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana tradisinya, hasil pada sesi akhir dapat kita tebak. Secara aklamasi peserta mengesahkan hasil MUSDAT, antara lain; mengesahkan pembentukan wadah adat ditingkat kabupaten yang diberi nama â€œDEWAN ADAT DAYAK KANAYATN KABUPATEN PONTIANAK, menetapkan pengurus Dewan Adat Dayak Kanayatn Kabupaten Pontianak masa Bhakti 1985-1990 dengan ketua umum F. Bahaudin Kay dan sekretaris umum adalah Thomas Mekan SH, sedangkan R.A. Racmad Sahudin Bsc dan Drs. M. Ikot Rinding masing â€“ masing sebagai ketua dan sekretaris penasehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari informan saya, DAD dilengkapi pula dengan seksi seksi. Menurutnya, yang sangat strategi adalah bahwa DAD ini berkedudukan di Mempawah ibu kota Kabupaten Pontianak. Yang unik, hampir seluruh keputusan MUSDAT level kabupaten ini, mengadopsi hasil MUSDAT se-Kecamatan Sengah Temila pada tahun 1983 lalu. Menurut penulis, ini bagian tak terpisahkan dari strategi politik Kay yang sangat ahli dalam berorganisasi. Sebagai Ketua Umum DADK Kabupaten, Kay juga mampu melakukan strategi ini dengan baik. Buktinya, hanya dalam kurun waktu tidak lebih dari 6 (enam) bulan setelah selesai MUSDAT ini, ia berhasil membentuk Dewan Adat Dayak Kanayatn di 10 kecamatan dalam Kabupaten Pontianak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika seluruh kecamatan sudah memiliki DAD Kecamatan, pengurus DAD Kabupaten Pontianak segera melakukan konsolidasi. Kepada saya, Kay menceritakan, pada rapat yang diadakan di rumah Y. Jampari Lacon di Anjungan pada tanggal 12 Juni 1985, pengurus DADK menuangkan bahwa program pertama yang diselenggarakan adalah mengadopsi upacara adat naik dango yang sebelumnya hanya diadakan ditingkat kampong setelah panen padi usai, menjadi naik dango level kabupaten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya Kay menulis; untuk menjaga agar organisasi itu tetap eksis, biasanya harus ada kegiatan “kegiatan dan pertemuan“ pertemuan periodik yang dilaksanakan oleh pengurus organisasi, ibarat bunga yang sering disiram supaya tidak layu dan tetap segar (Kay;2005;7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kay tidak ingin organisasi besar yang dipimpinnya tanpa kegiatan. Ia berkeinginan agar masyarakat Dayak tahu, bahwa mereka ini Kanayatn. Bahwa mereka ini telah punya wadah persatuan, yakni DAD. Gaung ini secara jelas ditulis Kay;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;â€œNaik Dango ini merupakan kegiatan rutinitas agar wadah ini tetap eksis tidak statis dan mandek senantiasa mempunyai kegiatan dan dapat memberikan gaung bagi dewan adat agar dikenal baik diluar maupun diluar masyarakat kanayatn (Kay;2005;11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah organisasi Dayak pertama pada era Orde Baru dan secara resmi Kanayatn mulai diperkenalkan sebagai identitas baru bagi Dayak yang ada di Kabupaten Pontianak dengan motto: Adil Ka Talino, Ba Curamin Ka saruga Ba Sengat Ka Jubata. Dengan prestasinya ini, F. Bahaudin Kay, yang juga wakil bendahara DPD Golkar Kab. Pontianak periode 1983-1988 pada PEMILU tahun 1992, terpilih sebagai anggota DPRD Kabupaten Pontianak untuk periode 1992-1997 dari GOLKAR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pembentukan DAD Kanayatn dilevel kabupaten, istilah Dayak Kanayatn kemudian dipopulerkan berbagai kalangan melalui tulisan dimedia massa, buku-buku serta program-program radio pada tahun-tahun sesudahnya. Misalnya tulisan mengenai Dayak Kanayatn di Buletin Mimbar Untan yang ditulis oleh Martinus Ekok (Albert;2008;36).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tanggal 1 April 1992, beberapa orang Dayak di Pontianak juga mengadakan siaran radio berbahasa Dayak Kanayatn di RRI Pontianak, yang adalah bahasa baa he, ba nana' yang menyebar di Kabupaten Pontianak dan Sambas. Peran siaran radio ini sangat besar dalam mensosialisasikan identitas Kanayatn untuk orang-orang yang berbahasa Banana'-Ahe, dan varian sejenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa akademisi Universitas Tanjungpura juga segera melakukan penelitian dan mempublikasikannya dengan dukungan Proyek Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia. Mereka diantaranya; Donatus Lansau, Yoseph Thomas Lay dan Yohanes Yan Pius, dkk dengan menerbitkan buku Struktur Bahasa Kendayan (1981), morfologi dan Sintaksis Bahasa Kendayan (1984), dan Morfologi Kata Kerja bahasa Kendayan (1985). Ironisnya, sebagai peneliti, mereka tidak pernah menyatakan kembali nama Kanayatn sebagai suku Dayak yang berbahasa ba ahe/ba nanaâ€™/ba dameo/ba jare.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Dewan Adat Dayak Kanayatn yang prestisius itu, saya juga mempelajari sebuah organisasi social kemasyarakatan, dikenal sebagai LSM. Pada tahun 1981, sekelompok intelektual Dayak yang dipimpin oleh A.R. Mecer di Kota Pontianak mendirikan sebuah LSM, namanya Yayasan Karya Sosial Pancur Kasih. Selain mengelola persekolahan, LSM ini juga mendirikan lembaga penelitian yang dikenal dengan Institute Dayakologi Research and Development (IDRD). Melalui penelitiannya dan kemudian di publikasikan, IDRD semakin mengentalkan identitas baru ini, melalui Majalah Kalimantan Review (KR) serta buku-buku terbitannya. Tanpa sadar, peran banyak pihak telah mempopulerkan identitas baru ini yang berdampak sangat besar pada perubahan-perubahan berikutnya, hingga hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritik atas siapa yang berhak mengunakan identitas Kanayatn ini semakin meluas dikalangan intelektual Dayak sendiri pada akhir tahun 2002. Beberapa intelektual Dayak mulai sadar bahwa ada kekeliruan dalam penamaan istilah Dayak Kanayatn yang terlanjur sangat popular di Kalbar ini. Salah satunya, Simon Takdir, alumnus Ateneo de Manila University, Philippnes, Departement of Sociology &amp;amp; Anthropology, major: Cultural Anthropology.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui penelitiannya, Simon mengkritik dari awal penamaan istilah Kanayatn/ Kendayan yang ditulis Pastor Donatus Dunselman diatas. Lebih lanjut Simon menjelaskan; Ketika saya mengecek dilapangan, para informan (emik) memberikan keterangan yang berbeda dengan apa yang didapat dan ditulis oleh Dunselman (etik) (Simon; 2003;15). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Simon, mungkin kesalahan Dunselman karena ia bukan berprofesi sebagai antropolog. Selanjutnya ia menulis; Sebagai seorang social scientist saya menyangsikan artikel Dunselman di atas. Tentu berbeda dengan hasil karya yang bukan antropolog. Bagaimanapun juga, dalam bidang ilmiah tidak ada sesuatu pun yang dianggap pasti; semuanya dapat dipersoalkan dan pada kenyataanny memang dipersoalkan (Simon; 2003;15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritik Simon sebagai antropolog mungkin saja cukup beralasan, sebab ia melakukan penelitian berdasarkan kaidah-kaidah ilmiah, ilmu social yang berbeda dengan sekedar tulisan harian. Selanjutnya ia menulis,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;â€œPenelitian Dunselman banyak dilakukan di kampung Tiakng Tanyukng (hal.21) Mempawah Hulu. Saya tahu bahwa Daerah Tiang Tanyukng dekat dengan desa-desa orang bakatiâ€™ (Jirak, Sebangki, Ti,purukng) dan desa-desa orang banyaduâ€™ (pentek, semade, perigi). Kontak antar komunitas dalam hal bahasa, pertukaran barang, perkawinan dan sebagainya sangat tinggi di Tiang Tanjung. Barangkali Dunselman bertanya seperti ini, Urakng ahe ba kita nian? Informan itu menjawab, Aku nian urakng Kanayatn.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dugaan Simon, mungkin saja Dunselman menyimpulkan informasi yang didapatnya tanpa mengorek dari informan yang lain lagi. Simon menduga bahwa informan yang diwawancarai pastor ini mungkin dulunya orang Kanayatn yang berbahasa Ba Nyadu dan Ba Kati, tapi ketika itu sudah menikah dan menetap di Tiang Tanjung sehingga ia mengidentifikasikan dirinya sebagai warga Tiang Tanjung yang berbahasa baa he/ba nana.&lt;br /&gt;Menurut Simon, disinilah letak kekeliruan itu sehingga terjadi pengadopsian nama yang salah bagi sebuah suku dimasa lalu. Dalam teorinya, Simon memaparkan kepada saya bahwa sebenarnya yang paling berhak menggunakan istilah Dayak Kanayatn itu adalah mereka-mereka yang berbahasa ba nyaduâ€™ dan ba katiâ€™.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dasarnya adalah ada Binua Kanayatn. Binua kanayatn ini meliputi Kinande, Papan Gersik, Papan Tembawang, Papan Uduk, Sejaruk Param, Sejaruk Tembawang, Bekuan, Bombai dan Pacong di Kecamatan Samalantan Kabupaten Sambas (sekarang Kecamatan Lembah Bawang Kabupaten Bengkayang). Kepala binua mereka yang masih diingat antara lain Daeng (almarhum), Kuyu (almarhum) dan Loge (Takdir;2003;17)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Argumentasi Simon ini juga didukung oleh sebuah penelitian ilmiah oleh intelektual Dayak tahun 1997. Vincent Julivin dan Nico Andas, misalnya. Mereka menulis; menurut beberapa sumber, pada tahun 1984 orang-orang yang berdialek ba kat dan ba nyadu yang sekolah di Nyarungkop masih disebut orang kanayatn oleh orang-orang dari Samalantan dan Pahauman. Menurut orang Dayak Bukit Talaga orang Kanayatn itu adalah orang-orang yang tidak pasih berbicara dialek ahe/ba nana. Mereka misalnya tidak mampu mengucapkan kata-kata yang berakhiran dengan: -utn, -ant, -ikng, - ukng, -ekng, secara baik dan benar. Dan yang tidak pasih berbahasa ahe/ba nana itu adalah orang-orang Dayak (Kanayatn) Banyuke yang berdialek mpape, banyadu, dan balangin (V. Julivin dan Nico Andas (1997)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai peneliti social, Simon menyimpulkan bahwa mereka yang tidak pasih berbahasa ba ahe/ba nanaâ€™ adalah mereka yang non-ba ahe/non-ba nana, yaitu orang yang Nganayatn (ucapan yang tidak tepat seperti penutur asli) dalam ucapan (lapal) ba ahe/ba nana-nya. Jadi mereka yang non-ba ahe/non-ba nanaadalah Kanayatn. Dengan demikian, menurut Simon, yang fasih berarti bukan Kanayatn (kandayan). Lalu Dayak apa mereka yang ba ahe /ba nana ini? (Takdir;2003;17).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritik-kritik atas identitas Dayak Kanayatn ini mulai masuk dikalangan masyarakat Dayak sendiri diperkampungan. Pada tahun 2001, misalnya, sekelompok pemuka Adat Dayak di wilayah Binua Temila yang dipimpin oleh Timanggong Maniamas Miden Sood melakukan musyawarah adat. Seluruh peserta musyawarah, sepakat untuk mengembalikan identitas aslinya, Dayak Bukit.&lt;br /&gt;Namun, menurut Simon, istilah Dayak Bukit pun tidak tepat untuk nama Dayak dikawasan Temila itu. Simon menulis;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;â€œPada umumnya, suku Dayak Salako dulunya lebih senang tinggal di bukit, termasuk juga suku lain termasuk suku Kanayatn sendiri. Jadi tidak tepat kalau ada penggolongan Dayak Bukit atau Dayak bukan Bukit. Orang Bukit juga terdapat di pegunungan Meratus, di Thailand, di Taiwan (suku Alisan), di Panatubo (Pilipina) dan sebagainya (Simon;2003;17).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh aktivis Dayak, pergulatan mengenai istilah kanayatn ini mulai diangkat kepermukaan dalam berbagai diskusi, atau forum seminar (lihat Bulletin Simpado, Edisi I Jan-Maret 2004, yang ditulis Kristianus Atok ). Beberapa buku, salah satunya berjudul; Dayak Kanayatn Menggugat (Atok;2003) juga merupakan bagian dari kritisme atas pengentalan identitas tersebut diatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://yohanessupriyadi.blogspot.com/"&gt;&lt;b&gt;Yohanes Supriyadi&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3509747544273203794-4813081377274647018?l=etnikprogresif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/feeds/4813081377274647018/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/09/oleh-yohanes-supriyadi-caption.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/4813081377274647018'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/4813081377274647018'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/09/oleh-yohanes-supriyadi-caption.html' title='Dayak Kanayatn'/><author><name>mbah dinan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10973480357642906490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-zT11WGzH8D8/TrzZyXePTwI/AAAAAAAABGU/mvgB2aMy4Zc/s220/etnikprogresif.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3509747544273203794.post-4326388638589951008</id><published>2010-09-14T22:08:00.001+07:00</published><updated>2011-01-11T19:30:20.424+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>PIDATO SOEKARNO: Ganyang Malaysia</title><content type='html'>&lt;div style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" class="size-medium wp-image-338" height="165" src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/3l2yr1jj1t.jpg?w=300" width="300" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perseteruan antara Indonesia dan Malaysia kembali mencuat. Ketegagan negeri serumpun kali ini dipicu dari ditangkap dan disiksanya tiga petugas kelautan Indonesia oleh kepolisian Malaysia. Kejadian ini mengingatkan kita akan sejarah. Dimana, pada tahun 1962-1966 Indonesia juga sempat terlibat cekcok dengan Negri Jiran. Kala itu, persoalan dipicu ulah Malaysia yang dahulu dikenal dengan Persekutuan Tanah Melayu ingin menggabungkan Brunei, Sabah, dan Serawak menjadi Federasi Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan tersebut, sontak saja dikecam oleh Presiden Indonesia yang kala itu dijabat Soekarno. Bung Karno menilai, Malaysia adalah boneka Inggris, dan langkah tersebut akan mengganggu keamanan di Indonesia. Bung Karno memproklamirkan gerakan Ganyang Malaysia melalui pidato bersejarah pada 12 April 1963 (dalam video disebutkan 13 April 1964 dengan pidato yang berbeda-pen). kutipan pidato Sang Proklamator Indonesia tersebut;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kalau kita lapar itu biasa&lt;br /&gt;Kalau kita malu itu juga biasa&lt;br /&gt;Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar!&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kerahkan pasukan ke Kalimantan hajar cecunguk Malayan itu!&lt;br /&gt;Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Doakan aku, aku kan berangkat ke medan juang sebagai patriot Bangsa, sebagai martir Bangsa dan sebagai peluru Bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Serukan serukan ke seluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Yoo... ayoo... kita... Ganjang...&lt;br /&gt;Ganjang... Malaysia...&lt;br /&gt;Ganjang... Malaysia&lt;br /&gt;Bulatkan tekad&lt;br /&gt;Semangat kita badja&lt;br /&gt;Peluru kita banjak&lt;br /&gt;Njawa kita banjak&lt;br /&gt;Bila perlu satoe-satoe!&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Menyikapi pidato Bung Karno, Malaysia pun murka. Mereka mendemo Kedubes RI di Kualalumpur dan merobek-robek foto Soekarno. Bahkan, demonstran juga sempat membawa lambang burung garuda kepada Tunku Abdul Rahman dan meminta agar dia menginjaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, polemik tersebut mereda setelah posisi Soekarno digantikan Soeharto. Pada 28 Mei 1966, Indonesia dan Malaysia pun sepakat untuk berdamai, dan penandatanganan perdamaian dilakukan pada 11 Agustus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bisa kita lihat dari pidato tersebut bahwa kedaulatan Indonesia dianggap HARGA MATI oleh Soekarno, Sang Proklamator Indonesia.........&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://news.okezone.com/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3509747544273203794-4326388638589951008?l=etnikprogresif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/feeds/4326388638589951008/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/09/pidato-soekarno-malaysia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/4326388638589951008'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/4326388638589951008'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/09/pidato-soekarno-malaysia.html' title='PIDATO SOEKARNO: Ganyang Malaysia'/><author><name>mbah dinan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10973480357642906490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-zT11WGzH8D8/TrzZyXePTwI/AAAAAAAABGU/mvgB2aMy4Zc/s220/etnikprogresif.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3509747544273203794.post-4052894263215877567</id><published>2010-09-14T14:39:00.002+07:00</published><updated>2011-01-11T19:29:16.864+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tradisi'/><title type='text'>Ngayau</title><content type='html'>&lt;div style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" class="size-full wp-image-332" height="225" src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/image1.jpg" width="300" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ngayau merupakan tradisi Suku Dayak yang mendiami pulau Kalimantan, baik Dayak yang tinggal di Kalimantan Barat maupun Kalimantan lainnya. Pada tradisi Ngayau yang sesungguhnya, Ngayau tidak lepas dari korban kepala manusia dari pihak musuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna dari Ngayau mempunyai arti turun berperang dalam rangka mempertahankan status kekuasaan misalnya mempertahankan atau memperluas daerah kekuasaan yang dibuktikan banyaknya kepala musuh. Semakin banyak kepala musuh yang diperoleh semakin kuat/perkaya orang yang bersangkutan. Ngayau juga merupakan lambang kekuasaan dan status kedudukan orang dayak. Disamping itu ngayau dahulu di posisikan sebagai pemenuhan mas kawin seorang pria bila pengantin wanitanya mensyaratkan adanya kepala seperti dalam cerita legenda Ne' Dara Itam dan Ria Sinir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini tradisi memburu kepala atau "ngayau" tidak lagi diamalkan dan telah diharamkan sejak zaman penjajahan. Banyak pihak berpendapat bahawa, "lelaki Dayak yang berhasil memperoleh kepala dalam ekspedisi ngayau akan menjadi rebutan atau kegilaan para wanita" ini kerana ia melambangkan keberanian dan satu jaminan dan kepercayaan bahawa lelaki tersebut mampu menjaga keselamatan wanita yang dikawininya. Sebenarnya kenyataan itu tidak 100% tepat, malah masih dipersoalkan. Dikatakan demikian kerana menurut cerita lisan masyarakat Dayak (Iban) di Rumah-Rumah panjang, selain orang Bujang ada juga individu yang telah berkeluarga menyertai ekspedisi memburu kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh itu, paling tepat kalau kita katakan bahwa, Ngayau" dijalankan untuk mendapat penghormatan masyarakat. Dalam arti lain "ngayau" juga berperanan untuk menaikan taraf sosial seseorang. Orang yang pernah memperoleh kepala dalam "ngayau" akan diberi gelar "Bujang Berani", serta dikaitkan dengan hal-hal sakti. Ternyata bahawa masyarakat dayak, seperti Dayak Iban Tradisional tidak memandang "Ngayau" sebagai perkara yang memudaratkan. Malah berdasarkan cerita lisan masyarakat Iban juga, "ngayau" sentiasa dikaitkan dengan bebagai positif. Misalnya, "Ngayau sebagai lambang keberanian, Simbol Kelelakian, serta martabat Sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adat Ngayau pertama kali dilakukan urang Libau Lendau Dibiau Takang Isang (kayangan) yang saat itu sebagai tuai rumah (kepala kampung) yang bernama Keling. Berkat keberaniannya dan kegagahannya dia diberi gelar keling Gerasi Nading, Bujang Berani kempang (keling merupakan orang yang gagah berani). Gelar tersebut diberikan oleh seseorang tetua Iban yang bernama Merdan Tuai Iban yang saat itu tinggal di Tatai Bandam (masuk dalam wilayah Lubuk Antu Sarawak Malaysia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asal usul kata ngayau umumnya terdapat kesepakatan di kalangan suku Dayak. Namun, kapan ngayau dimulai dan bagaimanakah sejarahnya, agaknya masih simpang siur dan sering muncul dalam berbagai versi. Hal itu disebabkan belum ada studi dan catatan sejarah mengenai asal mula ngayau secara detail dan kronologis. Hanya ada catatan mengenai kesepakatan bersama seluruh etnis Dayak Borneo untuk mengakhirinya. Ini terjadi pada pada 22 Mei - 24 Juli 1894, ketika diadakan Musyawarah Besar Tumbang Anoi di Desa Huron Anoi Kahayan Ulu Kalimantan Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar adanya bahwa sebelum perjanjian Tumbang Anoi disepakati, terjadi praktik headhunting bahkan di kalangan sesama Dayak. Praktik ngayau antarsesama Dayak ini sukar dibantah dan memang demikianlah adanya. Dayak Jangkang misalnya, dahulu kala bermusuhan dengan Dayak Ribunt. Padahal, keduanya tidak berjauhan tempat tinggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apakah faktor yang menyebabkan pengayauan antarDayak ini terjadi?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saling mengayau di antara sesama Dayak, sejatinya bukanlah semata-mata mencari kepala musuh sebagai tanda bukti kekuatan dan kebanggaan sebagaimana selama ini dipersepsikan banyak orang. Alasan ini terlampau sederhana! Lebih dari itu, dilatari juga oleh nafsu balas dendam dan sebagai cara mempertahankan diri: menyerang lebih dulu sebelum diserang. Ini mirip dengan pepatah Latin si vis pacem, para bellum (jika Anda menginginkan damai, siap sedialah untuk perang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" class="size-medium wp-image-333" height="225" src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/antu-pala.jpg?w=300" title="kepala kayau" width="300" /&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;Masuknya agama Katolik di tengah-tengah etnis Dayak, terutama dengan datangnya misi Katolik ke pulau Borneo di pengujung abad 18, membawa pengaruh baik. Perlahan-lahan ajaran Katolik tentang balas dendam (mata ganti mata, gigi ganti gigi) merasuk dalam hidup orang Dayak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaran Kristen yang radikal untuk tidak balas dendam dengan hukum mata ganti mata, tulang ganti tulang segera merasuk etnis Dayak. Ajaran cinta kasih ini menyadarkan masyarakat Dayak untuk segera menghentikan tradisi mengayau ini. Musyawarah ini dihadiri para kepala adat se-Kalimantan yang berkumpul dan bersepakat untuk menghentikan pengayauan antarsesama Dayak. Namun, pertemuan yang berbuah kesepakatan Tumbang Anoi sendiri diprakarsai pemerintah Hindia Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngayau berasal dari kata kayau yang berarti musuh. J.U. Lontaan, op.cit. hal. 532. Selanjutnya, untuk mendukung pendapatnya, Lontaan mengutip Alfred Russel Wallage dalam The Malay Archhipelago, 1896: 68, headhunting is a custom originating in the petty wars of village with village and tribe with tribe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat berbagai versi etimologi ngayau. Sebagai contoh, Fridolin Ukur dalam buku Tantang Jawab Suku Daya menyebut bahwa ngayau mencari kepala musuh. Sedangkan bagi Dayak Lamandau dan Delang di Kalimantan Tengah, mengayau berasal dari kata kayau atau kayo; yang artinya mencari. Mengayau berarti menÂ¬cari kepala musuh. Jadi, mengayau ialah suatu perbuatan dan tindak-budaya mencari kepala musuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dayak Jangkang, ngayau juga disebut ngayo. Berasal dari kata yao yang berarti: bayang-bayang, mengahantui, meniadakan, atau memburu kepala musuh sebagai prasyarat atau pesta gawai. Ada gawai khusus untuk merayakan kepala musuh dengan tarian perang, yakni gawai naja bak (pesta kepala).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, serta merta perlu diberikan catatan pada apa yang disebutkan perbuatan dan tindak-budaya ini. Kedengarannya aneh di telinga untuk saat ini. Namun, jika menyelami keyakinan etnis Dayak lebih mendalam maka kita akan segera menjadi mafhum di balik tradisi mengayau ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngayau tidak terlepas dari keyakinan komunitas Dayak sebagai sebuah entitas. Hal ini dapat ditelusuri dari cerita lisan dan tradisi yang diturunkan dari mulut ke mulut. Menurut keyakinan yang dipegang teguh, orang Dayak yakin mereka adalah keturunan makhluk langit. Ketika turun ke dunia ini, menjadi makhluk yang paling mulia dan, karena itu, menjadi penguasa bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keyakinan ini, pada gilirannya, membawa konsekuensi orang Dayak lalu memandang rendah entis lain. Jika menganggu dan mengancam keberadaan dan kelangsungan hidup mereka, etnis lain dapat disingkirkan. Namun, harus ada alasan yang kuat untuk itu. Darah hewan, apalagi manusia, tabu untuk ditumpahkan. Jika sampai terjadi, mereka akan menuntut balas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip bahwa mata ganti mata, gigi ganti gigi benar-benar diterapkan. Meski mengalami penyempurnaan dan penyesuaian, sisa-sisa praktik ini â€œmata ganti mata, gigi ganti gigi ini masih diteruskan di Jangkang hingga hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal-pasal hukum adat Kecamatan Jangkang masih terasa kental nuansa penuntutan atas pertumpahan darah ini. Terbukti dari diaturnya secara detail pasal-pasal yang menetapkan pengadilan atas perkara dari mulai yang terkecil kasus pertumpahan darah hingga mengakibatkan kematian, yang dalam bahasa Dayak Jangkang disebut dengan Adat Pati Nyawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satuan untuk menghitung ganti atas pertumpahan darah unik, disebut dengan tael. Di masa lampau, menghilangkan nyawa manusia baik sengaja (misalnya tertembak waktu berburu) maupun secara sengaja maka si pelaku akan mengalami kesulitan membayarnya. Seisi keluarga dan sanak saudara akan turut terlibat membantu. Bahkan, bukan tidak mungkin sampai seumur hidup pelaku menunaikan kewajibannya membayar Adat Pati Nyawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Adat Pati Nyawa? Secara harfiah, pati berarti sari atau inti. Kata pati kerap muncul dalam bahasa Dayak dengan inisial dan pembagian Djo (lihat Ethnologue: Languages of the World, Fifteenth edition, Dallas, Djongkang: A language of Indonesia (Kalimantan) ISO 639-3: djo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, pati nyawa adalah pengganti nyawa yang hilang. Tentu saja, hukum pati nyawa ini tidak berlaku dalam ngayau. Dan hanya berlaku dalam keadaan normal saja, sebab pekik ngayau haruslah datang dari aump dan merupakan hasil dari permufakatan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, ngayau pun harus disertai alasan-alasan yang kuat dan masuk akal bagi komunitas Dayak dan harus melalui hasil mufakat bersama. Disebut komunitas, karena suatu kampung biasanya menempati sebuah batang atau rumah panjang. Sebelum melancarkan pengayauan, malam harinya diadakan musyawarah bersama yang dalam bahasa Dayak Jangkang disebut boraump. Semua peserta wajib memberikan pendapat dan penilaian. Keputusan diambil dengan berpangkal tolak pada suara dan pendapat mayoritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patut diberi catatan tambahan bahwa ngayau di kalangan suku Dayak umumnya, dan Dayak Djongkang khususnya, bukan sekadar memanggal kepala musuh. Ada filosofi yang melatarinya. Banyak kandungan hikmah, meski sekilas tampak sadis, di balik itu semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang luar yang kurang memahami secara mendalam filosofi dan latar di balik tradisi ngayau, sehingga menarik simpulan entimema: orang Dayak biadab, sadis, pemburu kepala manusia, dan headhunting. Tentang labeling bahwa Dayak adalah pemburu kepala manusia ini, Wikimedia bahkan mencatatnya sebagai budaya yang semestinya harus serta merta diberikan catatan bahwa itu adalah gambaran Dayak masa lampau. Perjanjian Tumbang Anoi yang difasilitasi Pemerintah Kolonial Belanda menghapuskan budaya ngayau ini. Di beberapa subsuku memang masih berlangsung, namun di Kalbar tradisi mengayau sudah berakhir pada sekitar sejak tahun 1938.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toh demikian, Wikipedia yang tidak tahu sejarahnya masih mencatat demikian, Headhunting was an important part of Dayak culture, in particular to the Iban and Kenyah. There used to be a tradition of retaliation for old headhunts, which kept the practise alive. External interference by the reign of the Brooke Rajahs in Sarawak and the Dutch in Kalimantan Borneo curtailed and limited this tradition. Apart from massed raids, the practice of headhunting was limited to individual retaliation attacks or the result of chance encounters. Early Brooke Government reports describe Dayak Iban and Kenyah War parties with captured enemy heads. At various times, there have been massive coordinated raids in the interior, and throughout coastal Borneo, directed by the Raj during Brooke's reign in Sarawak. This may have given rise to the term, Sea Dayak, although, throughout the 19th Century, Sarawak Government raids and independent expeditions appeared to have been carried out as far as Brunei, Mindanao, East coast Malaya, Jawa and Celebes. Tandem diplomatic relations between the Sarawak Government (Brooke Rajah) and Britain (East India Company and the Royal Navy) acted as a pivot and a deterrence to the former's territorial ambitions, against the Dutch administration in the Kalimantan regions and client Sultanates.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mengherankan, dalam literatur dan laporan-laporan tertulis pada zaman kolonial, Dayak dicap sebagai suku asli Borneo yang tidak berkeadaban. Meski para peneliti dan ahli antropologi tidak memasukkan Dayak sebagai suku terakhir di Nusantara yang mempraktikkan headhunting, toh stereotipe sebagai pengayau masih melekat kuat minimal hingga kerusuhan etnis terjadi di Sambas pada 19 Januari 1999 di Desa Parit Setia, Kecamatan Jawai, Sambas dan kemudian merambat ke Sampit pada 18 Februari 2001.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang melihat pertalian kejadian itu, meski sebenarnya berbeda dalam hal casus belli dan eskalasi. Akan tetapi, satu yang sama: solidaritas di kalangan etnis Dayak tumbuh menghadapi bahaya dari luar. Dalam konteks mempertahankan diri dan melakukan tindakan menyerang lebih dulu sebelum diserang ini, dapat dipahami latar dan filosofi ngayau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan kemajuan jaman, Upacara adat Ngayau yang sering dilakukan mempunyai makna mengisyaratkan atau memberitahukan generasi muda tentang peristiwa Ngayau pada jaman dulu. 1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan-bahan yang dipersiapkandalam upacara ngayau, antara lain:&lt;br /&gt;- 7 piring pulut (ketan)&lt;br /&gt;- 7 piring tempe (pulut yang dicampur dengan beras)&lt;br /&gt;- 7 piring rendai (terbuat dari beras ketan yang disangrai)&lt;br /&gt;- 7 butir telur ayam matang&lt;br /&gt;- 1 piring berisi: sirih, gambir (sedek), rokok, kapur pinang, buah pinan, tembakau, 7 buah ketupat yang diikat, beras dicampur pulut, 7 jalong cubit, seikat benang yang diikatkan di sungki (ketupat/lepat diikat dengan daun).&lt;br /&gt;- 1 piring utai bekaki (tepung pulut dicampur dengan tepung beras dibuat hiasan seperti tutup sersang, bintang, bintang banyak, udang, pesawat, dan sebagainya).&lt;br /&gt;-3 piring udah berisi bahan-bahan yang digunakan dalam upacara dan ditempatkan dalam ancak yang terbuat dari potongan bambu yang dirangkai dengan seutas tali.&lt;br /&gt;- 2 ekor babi (boleh jantan atau betina).&lt;br /&gt;- 3 ekor ayam jantan&lt;br /&gt;- tengkorak manusia sebagai simbol&lt;br /&gt;- 1 buah kelapa tua sebagai simbol kepala manusia&lt;br /&gt;- minuman tuak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peralatan perang antara lain :&lt;br /&gt;- sangkok atau tombak&lt;br /&gt;- terabi (perisai)&lt;br /&gt;- tersang (ancak) terbuat dari bambu untuk menyimpan sesajian&lt;br /&gt;- mandau&lt;br /&gt;- 1 buah bendera dengan 5 warna :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- merah     = sifat berani&lt;br /&gt;- hijau     = lambang kesuburan&lt;br /&gt;- kuning    = melambangkan ketulusan&lt;br /&gt;- hitam     = melambangkan perlindungan  dari orang yang bermaksud tidak baik.&lt;br /&gt;- putih     = melambangkan hati dan pikiran yang suci/jernih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat-alat yag digunakan :&lt;br /&gt;- grumung (gong kecil)&lt;br /&gt;- tawak (gong besar)&lt;br /&gt;- gendang&lt;br /&gt;-bebendai (gong sedang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prosesi Upacara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Ngantar pedara (ngantar sesajen)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sebelum turun mengayau, satu minggu sebelumnya para wanita mempersiapkan segala perangkat adat yang dipergunakan untuk membuat sesajen (pedara).&lt;br /&gt;Persiapan untuk membuat sesajen disebut engkira, yaitu mempersiapkan segala bahan-bahan yang digunakan untuk upacara. Sedangkan kaum laki-laki mempersiapkan segala peralatan untuk berperang dan mendata pengaroh (jimat) serta begiga (berburu), mencari lauk pauk untuk persediaan perbekalan selama ngayau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Para Kesatria perang duduk secara berderet lalu bermacam-macam sesajen yg masing-masing terdiri dari 7 piring dihidangkan di depan kesatria. 7 piring mempunyai makna 7 lapis langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Membaca mantra dilakukan oleh kepala kampung lalu mengibaskas ayam diatas kepala ksatria perang sebanyak tiga kali dan dilakukqan secara berulang-ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kepala kampung mengajak ketua adat yang dipilih untuk membuat sesajen yang diawali dengan pembacaan mantra atau jampi-jampi, lalu ketua adat mencurahkan air tuak sebanyak 7 kali untuk memanggil roh nenek moyang yang dianggap sebagai pelindung dalam perang untuk melindungi dan membantu selama berperang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Mencurahkan atau membuang tuak sebanyak 3 kali untuk mengundang orang-orang dari kayangan untuk hadir dirumah Betang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Ketua adat meminum tuak supaya roh-roh nenek moyang yang sudah berada dirumah Betang untuk melakukan kompromi dalam membuat sesajen yang dipersembahkan kepada roh-roh nenek moyang yang hadir di rumah Betang. Dalam membuat sesajen, yang pertama diambil adalah pulut sebagai lambang perekat kebersamaaan, dimana dalam perang diperlukan adanya persatuan dan kesatuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Kepada kampung mempersiapkan para tamu untuk menikmati hidangan yang disajikan oleh kedua wanita, maknanya adalah para tamu diharapkan untuk mendukung kegiatan/ peperangan yang akan dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Kepala kampung mengajak para ksatria perang meminum tuak maknanya memberikan semangat kepada ksatria dalam menghadapi peperangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Kepala kampung mengambil tumpe lalu menaburkan padi yang telah disanangrai yang melambangkan bahwa masyarakat Dayak Iban mempunyai hati nurani yang jujur dan luhur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Mengambil sirih dan perlengkapan seperti :rokok, daun apok, serta perlengkapan sesajen yang lain masing-masing diambil 5 batang untuk setiap satu piring, lalu ditaruh diacak yang didirikan ditiang tengah dari rumah Betang/tiang ranyai agar orang-orang panggau (kayangan) bersama dengan para tamu dirumah Betang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Turun Ngayau&lt;br /&gt;1. Kepala adat membaca mantra untuk peralatan perang supaya diberkati oleh ketua-ketua adat yang telah mendahului.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kepala adat memotong ayam dilakukan diatas`tangga dan diambil darahnya untuk mengolesi kaki dan dahi para ksatria yang akan berperang agar diberkati. Setelah itu mencabut bulu ayam dan dioleskan didahi para tamu agar tridak diganggu oleh roh-roh jahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Para ksatria perang mengambil peralatan perang (pedang dan perisai) sertau mandau yang diselipkan dipinggang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Lalu para ksatria menuruni tangga rumah Betang dengan korban satu ekor babi dengan maksud agar orang panggau (kayangan) ikut bersama dan membantu dalam perang.&lt;br /&gt;5. Para ksatria mengatur strategi supaya dapat memotong kepala musuh yang berada didaerah-daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Terjadilah pertempuran atau mengayau, musuh akhirnya kalah dan dipotong kepalanya yang dilambangkan dengan kelapa tua atau tengkorak manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Setelah berhasil memotong kepala musuh, para ksatria meluapkan kegembiraan dengan menari-nari lalu mengatur strategi untuk kembali ke rumah Betang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Para ksatria meletakkan hasil perolehan selama perang didepan tangga menuju rumah Betang sambil bercengkerama mengisahkan pengalaman mereka selama perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. 2 orang wanita dan pawangnya menuruni tangga rumah Betang untuk mengantar sesajen untuk memberkati hasil perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Tuai rumah mengibaskan ayam dan memilih orang-orang yang akan membuat sesajen yang akan dipersembahkan kepada orang panggau ( kayangan ) yang telah membantu perang. 3 piring ditempelkan kepada 3 ancak yang terbuat dari bambu lalu dipasang pada tangga menuju rumah Betang untuk persembahan. Menurut kepercayaan mereka, sesajen ini selama 3 hari tidak boleh diganggu karena dapat mendetangkan musibah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki rumah Betang&lt;br /&gt;1. Setelah terdengar bunyi-bunyian alat musik sebagai pertanda bahwa para kesatria perang diperbolehkan untuk menaiki rumah betang dengan terlebih dahulu dibacakan mantera, lalu para ksatria dikibas dengan ayam, mencabut bulu ayam, memotong babi lalu dioleskan di dahi barulah menaiki tangga rumah betang. Sampai pada tangga paling atas dicurahkan tuak, lalu tuai rumah memberikan minuman tuak untuk memberi semangat kepada para ksatria perang yang telah berhasil memotong kepala musuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Setelah di rumah betang, kepala kampung menyiapkan sesajen lalu mengibaskan ayam kepada para ksatria perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ayam dipotong darahnya dioleskan ke kepala musuh (tengkorakmanusia) yang berhasil dipotong dan buah kelapa (sebagai simbol), mencabut bulu ayam lalu di oleskan di dahi para ksatria, sesajen diletakkan atau digantung diancak yang ditaruh pada tiang ranjai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Para ksatria perang dengan membawa kepala musuh dan kelapa menari bersama dengan para wanita mengelilingi tiang ranyai sebagai ungkapan syukau kepada para panggau (orang kayangan) yang telah membantu perang, lalu mengelilingi rumah betang. 2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kepustakaan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. http://ceritadayak.blogspot.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. jodhi yudono pada http://ai-pengayu.blogspot.com/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3509747544273203794-4052894263215877567?l=etnikprogresif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/feeds/4052894263215877567/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/09/ngayau.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/4052894263215877567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/4052894263215877567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/09/ngayau.html' title='Ngayau'/><author><name>mbah dinan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10973480357642906490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-zT11WGzH8D8/TrzZyXePTwI/AAAAAAAABGU/mvgB2aMy4Zc/s220/etnikprogresif.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3509747544273203794.post-7264287774784592389</id><published>2010-09-12T12:05:00.001+07:00</published><updated>2011-01-11T11:21:04.173+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Sekilas Musik Panting Kalimantan Selatan</title><content type='html'>&lt;a href="http://etnikprogresif.blogspot.com/" rel="attachment wp-att-344" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" class="size-medium wp-image-344 " height="225" src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/db1.jpg?w=300" title="dendang banua" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musik Panting adalah musik tradisional dari suku Banjar di Kalimantan Selatan. Disebut musik Panting karena didominasi oleh alat musik yang dinamakan Panting, sejenis gambus yang memakai senar (panting) maka disebut musik Panting. Pada awalnya musik Panting berasal dari daerah Tapin, Kalimantan Selatan. Panting merupakan alat musik yang dipetik yang berbentuk seperti gambus Arab tetapi ukurannya lebih kecil. Pada waktu dulu musik panting hanya dimainkan secara perorangan atau secara solo. Karena semakin majunya perkembangan zaman dan musik Panting akan lebih menarik jika dimainkan dengan beberapa alat musik lainnya, maka musik panting sekarang ini dimainkan dengan alat-alat musik seperti babun, gong,dan biola dan pemainnya juga terdiri dari beberapa orang. Nama musik panting berasal dari nama alat musik itu sendiri, karena pada musik Panting yang terkenal alat musiknya dan yang sangat berperan adalah Panting, sehingga musik tersebut dinamai musik panting. Orang yang pertama kali memberi nama sebagai musik Panting adalah A. Sarbaini. Dan sampai sekarang ini musik Panting terkenal sebagai musik tradisional yang berasal dari Kalimantan Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada umumnya orang yang memainkan musik Panting adalah masyarakat Banjar. Tokoh yang paling terkenal sebagai pemain Panting adalah A. Sarbaini. Dan ada juga grup-grup musik Panting yang lain. Tetapi sekarang ini seiring dengan adanya perkembangan zaman grup musik Panting menjadi semakin sedikit bahkan jarang ditemui. adapun instrumen yang digunakan adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;* Panting, alat musik yang berbentuk seperti gabus Arab tetapi lebih kecil dan memiliki senar. Panting dimainkan dengan cara dipetik.&lt;br /&gt;* Babun, alat musik yang terbuat dari kayu berbentuk bulat, ditengahnya terdapat lubang, dan di sisi kanan dan kirinya dilapisi dengan kulit yang berasal dari kulit kambing. Babun dimainkan dengan cara dipukul.&lt;br /&gt;* Gong, biasanya terbuat dari aluminium berbentuk bulat dan ditengahnya terdapat benjolan berbentuk bulat. Gong dimainkan dengan cara dipukul.&lt;br /&gt;* Biola, sejenis alat gesek.&lt;br /&gt;* Suling bambu, dimainkan dengan cara ditiup.&lt;br /&gt;* Ketipak, bentuknya mirip tarbang tetapi ukurannya lebih kecil, dan kedua sisinya dilapisi dengan kulit.&lt;br /&gt;* Tamburin, alat musik pukul yang terbuat dari logam tipis dan biasanya masyarakat Banjar menyebut tamburin dengan nama guguncai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://etnikprogresif.blogspot.com/" rel="attachment wp-att-345" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img alt="" class="size-medium wp-image-345" height="126" src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/db3.jpg?w=300" title="dendang banua" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut cara penyajiannya Panting termasuk jenis musik ansambel campuran. Karena terdiri dari berbagai jenis alat musik. Dalam pertunjukan musik Panting, biasanya jumlah pantingnya sebanyak 3 buah dan ditambah alat-alat musik lainnya. Musik panting disebut juga dengan nama japin apabila penyajiannnya diiringi dengan tarian. Musik panting disajikan dengan lagu-lagu yang biasanya bersyair pantun. Pantun tersebut berisi nasehat ataupun pantun petuah, dan pantun jenaka. Lagu yang dinyanyikan monotor, yang artinya musik tersebut dinyanyikan tanpa ada reff. Pemain musik Panting memainkan musik tersebut dengan cara duduk, para pemain laki-laki duduk dengan bersila, sedangkan pemain perempuan duduk dengan bertelimpuh. Para pemain musik Panting pada umumnya mengenakan pakaian Banjar. Yang laki-laki mengenakan peci sebagai tutup kepala sedangkan pemain perempuan menggunakan kerudung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Sebagai hiburan, karena musiknya dan syair-syairnya yang kadang-kadang jenaka dan dapat menghibur orang banyak. Oleh karena itu, musik panting sering digunakan pada acara perkawinan.&lt;br /&gt;* Sebagai sarana pendidikan, karena didalam musik Panting syainya berisi tentang nasehat-nasehat dan petuah.&lt;br /&gt;* Sebagai musik yang memiliki nilai-nilai agama, karena musik-musiknya mengandung unsur-unsur agama.&lt;br /&gt;* Untuk mempererat tali silaturahmi antar sesama warga masyarakat.&lt;br /&gt;* Sebagai kesenian musik tradisional yang berasal dari Kalimantan Selatan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3509747544273203794-7264287774784592389?l=etnikprogresif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/feeds/7264287774784592389/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/09/sekilas-musik-panting-kalimantan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/7264287774784592389'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/7264287774784592389'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/09/sekilas-musik-panting-kalimantan.html' title='Sekilas Musik Panting Kalimantan Selatan'/><author><name>mbah dinan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10973480357642906490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-zT11WGzH8D8/TrzZyXePTwI/AAAAAAAABGU/mvgB2aMy4Zc/s220/etnikprogresif.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3509747544273203794.post-5977025860256950127</id><published>2010-09-12T11:45:00.002+07:00</published><updated>2011-01-11T20:01:35.784+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Catatan Sejarah Kalimantan Selatan</title><content type='html'>&lt;div style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" class="size-full wp-image-269" height="225" src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/300px-gedung_mahligai_pancasila.jpg" title="300px-Gedung_Mahligai_Pancasila" width="300" /&gt;&lt;/div&gt;Sejarah Pemerintahan di Kalimantan Selatan  diperkirakan dimulai ketika berdiri Kerajaan Tanjung Puri sekitar abad  5-6 Masehi. Kerajaan ini letaknya cukup strategis yaitu di Kaki  Pegunungan Meratus dan di tepi sungai besar sehingga di kemudian hari  menjadi bandar yang cukup maju. Kerajaan Tanjung Puri bisa juga disebut  Kerajaan Kahuripan, yang cukup dikenal sebagai wadah pertama hibridasi,  yaitu percampuran antarsuku dengan segala komponennya. Setelah itu  berdiri kerajaan Negara Dipa yang dibangun perantau dari Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada abad ke 14 muncul Kerajaan Negara Daha yang  memiliki unsur-unsur Kebudayaan Jawa akibat pendangkalan sungai di  wilayah Negara Dipa. Sebuah serangan dari Jawa menghancurkan Kerajaan  Dipa ini. Untuk menyelamatkan, dinasti baru pimpinan Maharaja Sari  Kaburangan segera naik tahta dan memindahkan pusat pemerintahan ke arah  hilir, yaitu ke arah laut di Muhara Rampiau. Negara Dipa terhindar dari  kehancuran total, bahkan dapat menata diri menjadi besar dengan nama  Negara Daha dengan raja sebagai pemimpin utama. Negara Daha pada  akhirnya mengalami kemunduran dengan munculnya perebutan kekuasaan yang  berlangsung sejak Pangeran Samudra mengangkat senjata dari arah muara,  selain juga mendirikan rumah bagi para patih yang berada di muara  tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin utama para patih bernama &lt;b&gt;MASIH&lt;/b&gt;. Sementara tempat tinggal para &lt;b&gt;MASIH&lt;/b&gt; dinamakan &lt;b&gt;BANDARMASIH&lt;/b&gt;. Raden Samudra mendirikan istana di tepi sungai Kuwin untuk para patih &lt;b&gt;MASIH &lt;/b&gt;tersebut. Kota ini kelak dinamakan &lt;b&gt;BANJARMASIN&lt;/b&gt;, yaitu yang berasal dari kata &lt;b&gt;BANDARMASIH&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerajaan  Banjarmasin berkembang menjadi kerajaan maritim utama sampai akhir abad  18. Sejarah berubah ketika Belanda menghancurkan keraton Banjar tahun  1612 oleh para raja Banjarmasin saat itu panembahan Marhum, pusat  kerajaan dipindah ke Kayu Tangi, yang sekarang dikenal dengan kota  Martapura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal abad 19, Inggris mulai melirik  Kalimantan setelah mengusir Belanda tahun 1809. Dua tahun kemudian  menempatkan residen untuk Banjarmasin yaitu Alexander Hare. Namun  kekuasaanya tidak lama, karena Belanda kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babak  baru sejarah Kalimantan Selatan dimulai dengan bangkitnya rakyat  melawan Belanda. Pangeran Antasari tampil sebagai pemimpin rakyat yang  gagah berani. Ia wafat pada 11 Oktober 1862, kemudian anak cucunya  membentuk &lt;b&gt;PEGUSTIAN&lt;/b&gt; sebagai lanjutan Kerajaan  Banjarmasin, yang akhirnya dihapuskan tentara Belanda Melayu Marsose,  sedangkan Sultan Muhammad Seman yang menjadi pemimpinnya gugur dalam  pertempuran. Sejak itu Kalimantan Selatan dikuasai sepenuhnya oleh  Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daerah ini dibagi menjadi sejumlah &lt;i&gt;afdeling&lt;/i&gt;,  yaitu Banjarmasin, Amuntai dan Martapura. Selanjutnya berdasarkan  pembagian organik dari Indisch Staatsblad tahun 1913, Kalimantan Selatan  dibagi menjadi dua afdeling, yaitu Banjarmasin dan Hulu Sungai. Tahun  1938 juga dibentuk Gouverment Borneo dengan ibukota Banjarmasin dan  Gubernur Pertama dr. Haga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Indonesia  merdeka, Kalimantan dijadikan propinsi tersendiri dengan Gubernur Ir.  Pangeran Muhammad Noor. Sejarah pemerintahan di Kalimanatn Selatan juga  diwarnai dengan terbentuknya organisasi Angkatan Laut Republik Indonesia  ( ALRI ) Divisi IV di Mojokerto, Jawa Timur yang mempersatukan kekuatan  dan pejuang asal Kalimantan yang berada di Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan  ditandatanganinya Perjanjian Linggarjati menyebabkan Kalimantan  terpisah dari Republik Indonesia. Dalam keadaan ini pemimpin ALRI IV  mengambil langkah untuk kedaulatan Kalimantan sebagai bagian wilayah  Indonesia, melalui suatu proklamasi yang ditandatangani oleh Gubernur  ALRI Hasan Basry di Kandangan 17 Mei 1949 yang isinya menyatakan bahwa  rakyat Indonesia di Kalimantan Selatan memaklumkan berdirinya  pemerintahan Gubernur tentara ALRI yang melingkupi seluruh wilayah  Kalimantan Selatan. Wilayah itu dinyatakan sebagai bagian dari wilayah  RI sesuai Proklamasi kemerdekaaan 17 agustus 1945. Upaya yang dilakukan  dianggap sebagai upaya tandingan atas dibentuknya Dewan Banjar oleh  Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyusul kembalinya Indonesia ke bentuk  negara kesatuan kehidupan pemerintahan di daerah juga mengalamai  penataaan. Di wilayah Kalimantan, penataan antara lain berupa pemecahan  daerah Kalimantan menjadi 3 propinsi masing-masing Kalimantan Barat,  Timur dan Selatan yang dituangkan dalam UU No.25 Tahun 1956.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan  UU No.21 Tahun 1957, sebagian besar daerah sebelah barat dan utara  wilayah Kalimantan Selatan dijadikan Propinsi Kalimantan Tengah.  Sedangkan UU No.27 Tahun 1959 memisahkan bagian utara dari daerah  Kabupaten Kotabaru dan memasukkan wilayah itu ke dalam kekuasaan  Propinsi Kalimantan Timur. Sejak saat itu Propinsi Kalimantan Selatan  tidak lagi mengalami perubahan wilayah, dan tetap seperti adanya. Adapun  UU No.25 Tahun 1956 yang merupakan dasar pembentukan Propinsi  Kalimantan Selatan kemudian diperbaharui dengan UU No.10 Tahun 1957 dan  UU No.27 Tahun 1959.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;dibawah ini bebrapa catatan sejarah banjarmasin&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* 8000 SM : Migrasi I, Manusia ras Austrolomelanesia mendiami gua-gua di pegunungan Meratus. Ras ini melanjutkan migrasi ke pulau Papua dan Australia. Fosilnya ditemukan di Gua Babi di Gunung Batu Buli, Desa Randu, Muara Uya, Tabalong.&lt;br /&gt;* 2500 SM : Migrasi II yaitu bangsa Melayu Proto dari pulau Formosa (Taiwan) ke pulau Borneo dengan membawa adat ngayau yang menjadi nenek moyang suku Dayak (rumpun Ot Danum).&lt;br /&gt;* 1500 SM : Migrasi bangsa Melayu Deutero ke pulau Borneo.&lt;br /&gt;* 400 : Migrasi orang India (Tamil) menyebarkan agama Hindu ke Kalimantan, bersamaan dengan migrasi orang Sumatera yang membawa bahasa Melayu dan mulai tumbuhnya Bahasa Banjar archais.&lt;br /&gt;* 242 - 1362 : Berdirinya Kerajaan Tanjungpuri di Tanjung, Tabalong yang didirikan suku Melayu.&lt;br /&gt;* 600 : Suku Dayak Maanyan melakukan migrasi ke pulau Bangka selanjutnya ke Madagaskar.&lt;br /&gt;* 1025 : migrasi suku Melayu dari Kerajaan Sriwijaya akibat serangan tentara Cola Mandala (India).&lt;br /&gt;* 1355 : Ampu Jatmika mendirikan pemukiman dan Candi Laras dengan pondasi tiang pancang ulin yang disebut kalang-sunduk di wilayah rawa daerah aliran sungai Amas dan menobatkan dirinya sebagai raja Kerajaan Negara Dipa.&lt;br /&gt;* 1355 : Ampu Jatmika menaklukan penduduk asli wilayah Banua Lima yaitu lima daerah aliran sungai (DAS) yaitu Batang Alai, Tabalong, Balangan, Pitap, dan Amandit serta daerah perbukitan (Bukit), selanjutnya mendirikan Candi Agung di Amuntai Tengah, Hulu Sungai Utara.&lt;br /&gt;* 1360 : Lambung Mangkurat, Patih Kerajaan Negara Dipa berangkat ke Majapahit untuk melamar Raden Putra, sebagai calon suami Putri Junjung Buih.&lt;br /&gt;* 1362 : Wilayah Barito, Tabalong dan Sawuku menjadi daerah taklukan Kerajaan Majapahit. Hancurnya Kerajaan Nan Sarunai, kerajaan Suku Dayak Maanyan karena serangan Majapahit. Pangeran Suryanata dari Majapahit berhasil menjadi raja Negara Dipa.&lt;br /&gt;* 1362 - 1448 : berdirinya Kerajaan Negara Dipa dibawah Maharaja Suryanata.&lt;br /&gt;* 1385- 1421 : masa pemerintahan Pangeran Surya Gangga Wangsa&lt;br /&gt;* 1421 - 1436 : masa pemerintah Raden Carang Lalean&lt;br /&gt;* 1436 - 1448 : masa pemerintahan Putri Kalungsu&lt;br /&gt;* 1448 - 1526 : Masa Kerajaan Negara Daha, Raden Sekar Sungsang dengan gelar Maharaja Sari Kaburungan menjadi Raja pertama.&lt;br /&gt;* 1448 : Bandar Muara Bahan ditetapkan sebagai Bandar kerajaan menggantikan Bandar Muhara Rampiau, ditunjuk Patih Arya Taranggana putera Aria Magatsari memimpin di bandar itu.&lt;br /&gt;* 1448 - 1486 : masa pemerintahan Raden Sekar Sungsang dengan gelar Maharaja Sari Kaburangan&lt;br /&gt;* 1486 - 1515 : masa pemerintahan Raden Paksa dengan gelar Maharaja Sukarama&lt;br /&gt;* 1511 : migrasi suku melayu akibat runtuhnya Kerajaan Malaka diserang Portugis, migrant ini mendiami sepanjang sungai Kuin.&lt;br /&gt;* 1515 : Maharaja Sukarama wafat, diwasiatkan yang menjadi raja adalah Pangeran Samudra.&lt;br /&gt;* 1515 - 1519 : masa pemerintahan Arya Mangkubumi, arya Mangkubumi dibunuh Saâ€™ban atas suruhan Pangeran Tumanggung; Pangeran Samudra melarikan diri ke hilir Barito.&lt;br /&gt;* 1518-1521 : Pati Unus, Sultan Demak menaklukan kerajaan-kerajaan Kalimantan seperti Tanjungpura/Sukadana, Lawai, Sambas sebelum menyerang Portugis di Malaka pada 1521.&lt;br /&gt;* 1519&amp;nbsp; 1526 : masa pemerintahan Pangeran Tumanggung (Raden Panjang).&lt;br /&gt;* 1520 : penobatan Raden Samudera oleh Patih Masih sebagai raja di Muara Kuin dengan gelar Pangeran Samudera.&lt;br /&gt;* 6 September 1526 : pertempuran antara Kerajaan Banjar dipimpin Pangeran Samudra dengan Kerajaan Negara Daha dipimpin Pangeran Tumenggung di Jingah Besar, Pangeran Samudra dibantu Kesultanan Demak.&lt;br /&gt;* 24 September 1526 : kemenangan Pangeran Samudra dan pembentukan Kesultanan Banjar, dengan memasukkan Kerajaan Nagara Daha.&lt;br /&gt;* 1526-1545 : Masa pemerintahan Pangeran Samudera.&lt;br /&gt;* 24 September 1526/6 Zulhijjah 932 H : Pangeran Samudera memeluk Islam dengan gelar di dalam khutbah Sultan Suryanullah/Sultan Suriansyah.&lt;br /&gt;* 1550-1570 : Masa pemerintahan Sultan Rahmatullah (Raja II) di Banjarmasin&lt;br /&gt;* 1570-1620 : Masa pemerintahan Sultan Hidayatullah (Raja III) di Banjarmasin&lt;br /&gt;* 1520-1620 : Masa pemerintahan Marhum Panembahan dengan gelar Sultan Musta'inbillah (Raja IV) di Banjarmasin hingga 1612.&lt;br /&gt;* 1596 : Belanda merampas 2 perahu lada dari Banjarmasin yang berdagang di Kesultanan Banten.&lt;br /&gt;* 14 Februari 1606 : Ekspedisi Belanda dipimpin Koopman Gillis Michaelszoon tiba di Banjarmasin, karena perangainya yang buruk Michaelszoon tewas terbunuh.&lt;br /&gt;* 1612 : Belanda membakar Istana Raja Banjar Lama (kampung Keraton) di Kuin, sehingga ibukota kerajaan dipindahkan dari Banjarmasin ke Martapura.&lt;br /&gt;* 1620 - 1637 : masa pemerintahan Ratu Agung dengan gelar Sultan Inayatullah (Raja V).&lt;br /&gt;* 1634 : VOC-Belnda menirim 6 kapal dibawah pimpinan Gijsbert van Londensteijn kemudian ditambah beberapa kapal di bawah pimpinan Antonie Scop dan Steven Batrentz.&lt;br /&gt;* 1635 : VOC-Belanda mendirikan kantor dagang di Banjarmasin di bawah pimpinan Wollebrandt Gelenysen de Jonge sejak 29 November 1635.&lt;br /&gt;* 1637 - 1642 : masa pemerintahan Ratu Anom dengan gelar Sultan Saidulllah (Raja VI).&lt;br /&gt;* 1638 : seorang Asisten Belanda terbunuh di Benua Anyar, pertempuran juga menewakan 64 orang bangsa Belanda, selanjutnya 27 orang Martapura terbunuh, dibalas 40 orang Belanda tewas.&lt;br /&gt;* 1642 - 1660 : masa pemerintahan Pangeran Ratu dengan gelar Sultan Rakyat Allah (Raja VII).&lt;br /&gt;* 1660 - 1663 : masa pemerintahan Raden Bagus dengan gelar Sultan Amrullah Bagus Kasuma (Raja VIII).&lt;br /&gt;* 1660 : Diadakan perjanjian perdamaian antara Belanda dan Banjar; Pangeran Dipati Tuha (anak Sultan Saidullah) mengamankan wilayah Tanah Bumbu dari pendatang. [2]&lt;br /&gt;* 1663 - 1679 : masa pemerintahan Pangeran Suryanata II degan gelar Sultan Agung.&lt;br /&gt;* 1664 : perubahan nama Banjarmasih menjadi Banjarmassingh (dialek Belanda).&lt;br /&gt;* 1668 : Portugis mendatangkan pendeta Katolik bernama Jentigmilia ke wilayah Kesultanan Banjarmasin.[3]&lt;br /&gt;* 1680 - 1700 : masa pemerintahan Sultan Tahlilullah/Amrulllah Bagus Kusuma kembali.&lt;br /&gt;* 1700 - 1734 : masa pemerintahan Sultan Hamidullah/Ilhamidullah/Tahmidullah I.&lt;br /&gt;* 1734-1759 : Masa pemerintahan Sultan Tamjidillah I di Martapura.&lt;br /&gt;* 1734 : Puana Dekke miminjam tanah di wilayah Tanah Kusan kepada Sultan Tamjidullah I yang dinamakan kampung Pagatan, kelak menjadi Kerajaan Pagatan pada masa Sultan Sulaiman.&lt;br /&gt;* 1759 - 1761 : masa pemerintahan Pangeran Muhammad Aliuddin Aminullah.&lt;br /&gt;* 1761- 1801 : masa pemerintahan Sultan Tahmidullah II/Sunan Sulaiman Saidullah&lt;br /&gt;* 1780 : Pangeran Mangku (Gusti Ali) bin Pangeran Prabu menjadi raja Sampanahan.[2]Kota Banjarmasin di bawah otoritas Pangeran Dapa, putera tertua Sultan Banjar[4]&lt;br /&gt;* 14 Mei 1787 : Pangeran Amir (kakek Antasari) menyerang Martapura dengan tentara Bugis, namun ditangkap Belanda, selanjutnya diasingkan ke Srilangka.&lt;br /&gt;* 1801 - 1825 : masa pemerintahan Sultan Sulaiman Saidullah.&lt;br /&gt;* 1815 - 1816 : Inggris menguasai Maluka, Liang Anggang, Kurau dan Pulau Lamai (kelak dinamakan Distrik Maluka, dibawah Alexander Here yang menjadi Resident-commissioner sejak 1812.[5]&lt;br /&gt;* 1825 - 1857 : masa pemerintahan Sultan Adam al-Watsiqu billah.&lt;br /&gt;* 1835: Zending dari Jerman mulai bekerja di selatan Kalimantan.[6]&lt;br /&gt;* 15 Muharam 1251 H/1825 : Undang Undang Sultan Adam (UUSA 1825).&lt;br /&gt;* 1852 : pengangkatan Pangeran Tamjidillah II sebagai Sultan Muda, merangkap Mangkubumi yang sudah dijabatnya sebelumnya menggantikan Ratu Anom Mangku Bumi Kencana.&lt;br /&gt;* 30 April 1856 : Belanda menerima konsesi tambang batu bara yang ditandatangani Sultan Adam.&lt;br /&gt;* 9 Oktober 1856 : Pengangkatan Pangeran Hidayatullah sebagai Mangkubumi, sedangkan Sultan Muda tetap Pangeran Tamjidillah II.&lt;br /&gt;* 1 November 1857 : Sultan Adam wafat.&lt;br /&gt;* 3 November 1857 - 25 Juni 1859 : Masa pemerintahan Sultan Tamjidillah II, yang disetujui Belanda sebagai raja Banjar.&lt;br /&gt;* 3 November 1857 : pertemuan rencana perang melawan Belanda di Martapura, antara Pangeran Hidayatullah, Pangeran Prabu Anom dan Nyai Ratu Kamala Sari (permaisuri Sultan Adam).&lt;br /&gt;* 23 Februari 1858 : Pangeran Prabu Anom (anak Sultan Adam) dibuang ke Bandung.&lt;br /&gt;* September 1858 : Tumenggung Jalil tidak mau lagi membayar pajak kepada Belanda.&lt;br /&gt;* 2 Februari 1859 : kedatangan bantuan tentara Belanda dengan Kapal Arjuna, namun 3 hari kemudian dipulangkan lagi ke Batavia.&lt;br /&gt;* Februari 1859 : Ratu Kemala Sari dan anak-anaknya menyerahkan kerajaan dengan Pangeran Hidayatullah.&lt;br /&gt;* 28 April 1859 : Pecahnya Perang Banjar, Pasukan Antasari dengan 300 prajurit menyerang tambang batubara milik Belanda di Pengaron, Serangan di Marabahan, Serangan di Gunung Jabuk, Serangan di Tabanio, dipimpin Demang Lehman, H. Buyasin dan Kyai Langlang, Serangan di Pulau Petak, Pulau Telo, dan disepanjang Sungai Barito, dipimpin Tumenggung Surapati dan Pambakal Sulil, Sweeping di Banua Lima, dipimpin Tumenggung Jalil, Pambakal Gafur, Duwahap, Dulahat, dan Penghulu Abdul Gani, dan Serangan terhadap Kapal Cipanas di Martapura&lt;br /&gt;* 29 April 1859, tambang batu bara Oranye Nassau diserbu.&lt;br /&gt;* 1 Mei 1859, pasukan Antasari menyerang tambang batu baru Juliana Hermina, serangan di Kalangan, Banyu Irang, dan Bangkal dipimpin Pangeran Arya Ardi Kesuma.&lt;br /&gt;* Juni 1859 : pertempuran di Sungai Besarah dipimpin Pambakal Sulil&lt;br /&gt;* 8 Juni 1859 : Belanda mengumumkan keadaan darurat perang.&lt;br /&gt;* 12 Juni 1859 : bantuan tentara Belanda datang dengan Kapal Arjuna, Celebes, Montrado, Bone, dan van Os.&lt;br /&gt;* 14 Juni 1859 : pertemuan Pangeran Hidayat dengan Andressen, namun buntu.&lt;br /&gt;* 15 juni 1859 : Sweeping oleh Belanda di Martapura.&lt;br /&gt;* 17 Juni 1859 : pertempuran di Sungai Raya.&lt;br /&gt;* 25 Juni 1859 : Sultan Tamjidillah II dimakhzulkan oleh Belanda, terjadi pertempuran di Cempaka.&lt;br /&gt;* 30 Juni 1859 : serangan ke Martapura dipimpin Demang Lehman, 10 pejuang gugur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juli 1859 : tenggelamnya Kapal Cipanas di Pulau Kanamit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* 16 Juli 1859 : Sultan Tamjidillah II dan Pangeran Adipati Panoto Negoro Adiprojo di buang ke Jawa.&lt;br /&gt;* Agustus 1859 : serangan ke Banjarmasin dipimpin Kyai Mangun Karsa, pertempuran di benteng Tabanio, dipimpin Demang Lehman dan H. Buyasin.&lt;br /&gt;* September 1859 : pertemuan Pangeran Hidayat dengan panglima-panglima, Pangeran Hidayat dinobatkan menjadi Raja.&lt;br /&gt;* 27 September 1859 : pertempuran di Gunung Lawak, dipimpin Demang Lehman, Aminullah, Antaludin, dan Ali Akbar.&lt;br /&gt;* 28 September 1859 : bantuan tentara Belanda dari Surabaya.&lt;br /&gt;* 13 November 1859 : Verspyck mengeluarkan ultimatum agar Pangeran Hidayatullah menyerah dalam 20 hari.&lt;br /&gt;* 14 November 1859 : gugurnya Pambakal Sulil di Sungai Basarah.&lt;br /&gt;* 23 Desember 1859 : pertempuran di Kuala Kapuas oleh suku Dayak.&lt;br /&gt;* 26 Desember 1859 : tenggelamnya Kapal Onrust oleh Tumenggung Surapati di Lontontour.&lt;br /&gt;* Desember 1859, Tumenggung Antaluddin bersama dengan Demang Lehman, Pangeran Aminullah, Kusin dan Ali Akbar, mempertahankan Benteng Munggu Tayur.&lt;br /&gt;* 2 Januari 1860 : serangan terhadap Kapal van Os di Pulau Petak&lt;br /&gt;* 9 Februari 1860 : serangan terhadap Kapal Suriname di Lontontour, kapal sampai rusak; pertempuran Masjid Amuntai.&lt;br /&gt;* 22 Februari 1860 : serangan terhadap Kapal Montrado di Lontontour&lt;br /&gt;* 31 Maret 1860 : penyerbuan Benteng Amawang dipimpin Demang Lehman.&lt;br /&gt;* 18 Maret 1860 : pertempuran di Pamangkih, Walangku, Kasarangan, Pantai Hambawang, Barabai, dan Aluan.&lt;br /&gt;* 15 Mei 1860 : pertempuran di Tanjung, dipimpin Tumenggung Jalil.&lt;br /&gt;* 11 Juni 1860 : Kesultanan Banjar dihapuskan secara sepihak oleh Belanda, dengan proklamasi yang ditandatangani Residen Surakarta FN.Nieuwenhuijzen yang merangkap Komisaris Pemerintah Belanda untuk Daerah Afdeeling Kalimantan Selatan-Timur.&lt;br /&gt;* 9 Agustus 1860 : serangan terhadap Benteng Kelua, dipimpin Pangeran Antasari.&lt;br /&gt;* 17 Agustus 1860 : Pangeran Antasari mendirikan Benteng Tabalong.&lt;br /&gt;* 27 Agustus 1860 : serangan di Martapura dipimpin Pangeran Muda.&lt;br /&gt;* September 1860 : pertempuran di Rumpanang dan Tambarangan, dipimpin Singa Jaya.&lt;br /&gt;* 3 September 1860 : Pertempuran Benteng Madang pertama, dipimpin Demang Lehman dan Tumenggung Antaludin.&lt;br /&gt;* 4 September 1860 : pertempuran Benteng Madang kedua&lt;br /&gt;* 13 September 1860 : pertempuran Benteng Madang ketiga&lt;br /&gt;* 15 September 1860 : pertempuran di Sungai Malang, Amuntai, dipimpin H. Abdullah.&lt;br /&gt;* 18 September 1860 : pertempuran Benteng Madang Keempat&lt;br /&gt;* 22 September 1860 : pertempuran Benteng Madang kelima.&lt;br /&gt;* 13 Oktober 1860 : pertempuran Benteng Batu Mandi, dipimpin Tumenggung Jalil.&lt;br /&gt;* 17 Oktober 1860 : pertempuran di Jati, dipimpin Kyai Jayapati.&lt;br /&gt;* 25 Oktober 1860 : pertempuran di Bulanin, dipimpin Demang Lehman.&lt;br /&gt;* 27 Oktober 1860 : pertempuran di Jati lagi, dipimpin Kyai Jayapati dan Demang Jaya Negara Seman.&lt;br /&gt;* November 1860 : pertempuran di masjid Jati, dipimpin Tumenggung Diparaksa.&lt;br /&gt;* 1 November 1860 : Belanda mendinamit bangkai Kapal Onrust di Lontontour.&lt;br /&gt;* 24 Februari 1861 : pertempuran di Amalang dan Maleno, dipimpin Demang Lehman dan Guna Wijaya.&lt;br /&gt;* 3 Maret 1861 : pertempuran di Rantau, dipimpin Jaya Warna.&lt;br /&gt;* 19 Maret 1861 : pertempuran di Karang Intan, dipimpin Tumenggung Gamar.&lt;br /&gt;* 21 April 1861 : Pertempuran benteng Amawang, 2 tahun Perang Banjar, dipimpin Tumenggung Antaludin dan Demang Lehman, tewasnya Von Ende.&lt;br /&gt;* 23 April 1861 : serangan di Bincau.&lt;br /&gt;* April 1861 : penangkapan dan hukuman mati untuk Pangeran Kasuma Ningrat (paman Pangeran Hidayat), Kyai Nakut, dan Pambakal Matamin; pertempuran di Binuang, Tumpakan Mati, Karang Jawa, Kandangan dan Nagara.&lt;br /&gt;* 4 Mei 1861 : Pertempuran Paringin antara pasukan Antasari melawan Belanda.&lt;br /&gt;* 13 Mei 1861 : pertempuran di Gunung Wowong, Karau, Dayu dan Sihong.&lt;br /&gt;* 16 Mei 1861 : serangan di Paringin dipimpin H. Dulgani.&lt;br /&gt;* 18 Mei 1861 : pertempuran di Pagat.&lt;br /&gt;* 27 Mei 1861 : pertempuran di Barabai dipimpin Gusti Wahid.&lt;br /&gt;* Mei 1861 : pertempuran di Martapura, Tanah Laut, Rantau, Kandangan, Barabai, Amuntai, Paringin, Tabalong dan daerah Barito.&lt;br /&gt;* 10 Juni 1861 : pertempuran di Gunung Kupang, Awang Bangkal, dan Batu Mahalon.&lt;br /&gt;* 18 Juni 1861 : serangan awal di Martapura.&lt;br /&gt;* 19 Juni 1861 : pertempuran di Gunung Pamaton dipimpin Pangeran Hidayatullah.&lt;br /&gt;* 20 Juni 1861 : pertempuran di Kuala Tambangan dipimpin Tumenggung Gamar.&lt;br /&gt;* 22 Juni 1861 : serangan di Mataraman dan Suwatu dipimpin Pambakal Mail dan Tumenggung Buko.&lt;br /&gt;* 3 Juli 1861 : serangan di benteng Barabai dipimpin Raksa Yuda.&lt;br /&gt;* 18, 22, 24 Juli 1861 : pertempuran di Buntok.&lt;br /&gt;* Agustus 1861 : Pertempuran di Gunung Pamaton dan Gunung Halau-halau dipimpin Tumenggung Antaludin dan Kiai Cakrawati (Galuh Sarinah).&lt;br /&gt;* 1 Agustus 1861 : pertempuran di benteng Limpasu, tewasnya Letnan Hoyyel.&lt;br /&gt;* 10 Agustus 1861 ; pertempuran di benteng Pagger dipimpin Pangeran Singa Terbang.&lt;br /&gt;* 2 September 1861 : pertempuran di benteng Batu Putih, gugurnya Pangeran Singa Anum dan Gusti Matali.&lt;br /&gt;* 24 September 1861 : gugurnya Tumenggung Jalil pada pertempuran Benteng Tundakan.&lt;br /&gt;* 2 Oktober 1861 : Demang Lehman masuk Martapura menemui Regent Martapura.&lt;br /&gt;* 6 oktober 1861 : Demang Lehman ke Banjarmasin berunding dengan Resident Verpyck, perundingan secara empat mata, selesai perundingan rombongan kembali ke Martapura.&lt;br /&gt;* 8 Oktober 1861 : pertempuran di Habang dan Kriniang dipimpin H. Badur&lt;br /&gt;* 18 Oktober 1861 : pertempuran di Banua Lawas dipimpin H. Badur&lt;br /&gt;* Oktober 1861 : pertempuran di Banua Lawas dan Teluk Pelaeng, gugur 18 orang.&lt;br /&gt;* 6 November 1861 : pertempuran di Pelari, dipimpin Pangeran Antasari dan Tumenggung Surapati.&lt;br /&gt;* 8 November 1861 : pertempuran di Gunung Tungka dipimpin Pangeran Antasari, Tumenggung Surapati dan Gusti Umar, tewasnya Kapten Van Vloten.&lt;br /&gt;* 9 November 1861 : serangan di Teluk Selasih, tewasnya Regent amuntai.&lt;br /&gt;* 25 Nopember 1861 : pertemuan Pangeran Hidayatullah dengan Demang Lehman, dan diputuskan Pangeran Hidayatullah menemui Ibu Ratu Siti di Martapura.&lt;br /&gt;* November 1861 ; pertempuran di Gunung Marta Niti Biru dan Kria Wijaya Bepintu, dipimpin Kyai Karta Nagara.&lt;br /&gt;* 5 Desember 1861 : pertempuran di Jatuh dipimpin Penghulu Muda, tewasnya Opsir Koch.&lt;br /&gt;* 15 Desember 1861 : pertempuran di Banua Lawas, tewasnya Letnan Ajudan I Cateau van Rosevelt.&lt;br /&gt;* 16 Desember 1861 : terbunuhnya Kontrolir Fujick di Margasari dan Letnan Croes juga tewas di Sungai Jaya, oleh Tagab Obang.&lt;br /&gt;* 28 Januari 1862 : Pangeran Hidayatullah dan Ratu Siti masuk Martapura, berdiam di rumah Residen Martapura.&lt;br /&gt;* 30 - 31 Januari 1862 : perundingan antara Pangeran Hidayatullah dengan Regent Letnan Kolonel Verpyck di pendopo rumah Asisten Resident, Pangeran Hidayatullah tertipu oleh janji Belanda.&lt;br /&gt;* 3 Februari 1862 : Pangeran Hidayatullah menuju ke Pasayangan.&lt;br /&gt;* 4 Februari 1862 : Pangeran Hidayatullah meninggalkan Pasayangan menuju Pamaton; Masjid Pasayangan berumur 140 tahun dibakar Belanda.&lt;br /&gt;* 22 Februari 1862 : tertangkapnya Ratu Siti; dibawanya Pangeran Wira Kasuma ke Banjarmasin.&lt;br /&gt;* 28 februari 1862 : Pangeran Hidayatullah masuk Martapura menemui Ratu Siti di pendopo Regent Martapura.&lt;br /&gt;* 3 Maret 1862 : Pangeran Hidayatullah dibawa dengan Kapal Bali menuju Batavia, dikawal Kontrolir Kuin Letnan Verstege.&lt;br /&gt;* 14 Maret 1862 (13 Ramadhan 1278 H) : Pangeran Antasari di dinobatkan sebagai Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin, sebagai kepala pemerintahan, pemimpin agama, dan panglima tertinggi pengganti Sultan Banjar.&lt;br /&gt;* 11 Oktober 1862 : wafatnya Pangeran Antasari di Tanah Kampung Bayan Begok Sampirang, Murung Raya.&lt;br /&gt;* 1862 - 1905 : masa pemerintahan Sultan Muhammad Seman.&lt;br /&gt;* 19 Oktober 1863 : tertangkapnya Sultan Kuning.&lt;br /&gt;* 1864 : serangan Tumenggung Surapati di Muara Teweh dan Montalat&lt;br /&gt;* 27 Februari 1864 : Demang Lehman dihukum gantung di lapangan Martapura, ketika tertangkap ia memegang pusaka Keris Singkir dan Tombak Kalibelah.&lt;br /&gt;* 1865 : Penghulu Rasyid gugur di Kelua, Tumenggung Naro gugur di Gunung Kayu, Balangan.&lt;br /&gt;* 26 Januari 1866 : H. Buyasin gugur.&lt;br /&gt;* 1867 : serangan Tagap Kurdi di Amuntai.&lt;br /&gt;* 1870 : serangan Panglima Wangkang di Marabahan dan Banjarmasin.&lt;br /&gt;* 1875 : wafatnya Tumenggung Surapati karena sakit.&lt;br /&gt;* 1883 : serangan Sultan Muhammad Seman di Tanjung, Amuntai dan Balangan.&lt;br /&gt;* 1 Juli 1883 : serangan di Lampihong.&lt;br /&gt;* 1885 : ditangkapnya Pangeran Perbatasari di Pahu, Kutai, kemudian ia dibuang ke Kampung Jawa Tondano, Minahasa.&lt;br /&gt;* 1886 : serangan Tumenggung Gamar di Tanah Bumbu.&lt;br /&gt;* 1899 : Residen C.A Kroesen memimpin Zuider en Ooster Afdeeling van Borneo&lt;br /&gt;* 1899 : peristiwa Amuk Hantarukung dipimpin Bukhari&lt;br /&gt;* 1904 : wafatnya Pangeran Hidayatullah di Cianjur; dibuangnya Gt. Muhammad Arsyad ke Bogor.&lt;br /&gt;* 1906 : dibuangnya Ratu Zaleha ke Bogor, berkumpul suaminya (Gt. Muhammad Arsyad).&lt;br /&gt;* 24 Januari 1905 : Sultan Muhammad Seman, putra Pangeran Antasari gugur melawan Belanda di benteng Baras Kuning.&lt;br /&gt;* 24 Agustus 1905 : Panglima Batur ditangkap di Muara Teweh&lt;br /&gt;* 1915 : Sarekat Islam mendirikan Madrasah Darussalam di Martapura.&lt;br /&gt;* 1919 : Banjarmasin mendapat otonom pemerintahan menjadi Gemeente Bandjermasin.&lt;br /&gt;* 1923 : National Borneo Congres ke-1&lt;br /&gt;* 29-31 Maret 1924 : National Borneo Congres ke-2, dihadiri wakil-wakil Perserikatan Dayak dan Sarekat Islam lokal.&lt;br /&gt;* 1927 : pemberontakan di Tabalong dipimpin Darmawi atas kerja paksa.&lt;br /&gt;* 5 Maret 1930 : Keluarnya ketetapan no. 253 dan 254 tentang berdirinya cabang Muhammadiyah di Banjarmasin dan Alabio&lt;br /&gt;* 1937 : kembalinya Ratu Zaleha dari pembuangan ke Martapura; pemberontakan Hariang, sehingga Kepala Distrik Kyai Masdhulhak tewas.&lt;br /&gt;* 1938 - 1942 : masa Gubernur Borneo dr. A. Haga&lt;br /&gt;* 1938 : Wester afdeeling van Borneo, Zuider en Ooster Afdeeling van Borneo menjadi sebuah propinsi di Hindia Belanda. Gemeente Bandjermasin ditingkatkan menjadi Stads Gemeente Bandjermasin.&lt;br /&gt;* 25 Desember 1941 : Jepang membom Lapangan Terbang Ulin&lt;br /&gt;* 21 Januari 1942 : Jepang menembak jatuh pesawat Catalina-Belanda di sungai Barito perairan Alalak, Barito Kuala,&lt;br /&gt;* 8 Februari 1942 : Jepang memasuki Muara Uya, Tabalong, Gubernur Haga mengungsi ke Kuala Kapuas menuju Puruk Cahu, Murung Raya.&lt;br /&gt;* 10 Februari 1942 : Tentara Jepang memasuki Banjarmasin, sejak 6 Februari 1942 pemerintahan kota sudah vacum.&lt;br /&gt;* Februari 1942 : Dengan persetujuan walikota Banjarmasin H. Mulder dibentuk Pimpinan Pemerintahan Civil (PPC) diketuai Mr. Rusbandi, sebagai pemerintahan sementara.&lt;br /&gt;* 12 Februari 1942 : Tentara Jepang mengeluarkan maklumat kota Bajarmasin dan daerahnya diserahkan kepada PPC (Pimpinan Pemerintahan Civil)&lt;br /&gt;* 5 Maret 1942 : A.A Hamidhan menerbitkan surat kabar Kalimantan Raya.&lt;br /&gt;* 17 Maret 1942 : Gubernur A. Haga menyerah dengan Jepang di Puruk Cahu, kemudian ditahan di Benteng Tatas.&lt;br /&gt;* 18 Maret 1942 : Kiai Pangeran Musa Ardi Kesuma ditunjuk Jepang sebagai Ridzie, penguasa penuh dan tertinggi pemerintah sipil meliputi wilayah Banjarmasin, Hulu Sungai dan Kapuas-Barito (Dayak Besar).&lt;br /&gt;* 17 April 1945 : Rakyat Banjarmasin mulai diwajibkan memberi hormat dengan membungkukkan badan kepada setiap tentara Jepang baik yang naik sepeda, mobil dan sebagainya.&lt;br /&gt;* 6 Mei 1945 : Pembentukan TRI pasukan MN 1001, MKTI (MN=Muhammad Noor)&lt;br /&gt;* 18 Agustus 1945 : Pemerintahan Sukarno-Hatta menunjuk Ir. H. Pangeran Muhammad Noor sebagai gubernurKalimantan&lt;br /&gt;* 23 Agustus 1945 : Berdirinya organisasi kelaskaran GEMIRI (Gerakan Rakyat Mempertahankan Republik Indonesia) di Kandangan, Hulu Sungai Selatan.&lt;br /&gt;* Agustus 1945 : Berdirinya organisasi kelaskaran Badan Pemberontak Rakyat Kalimantan di Kandangan, Hulu Sungai Selatan.&lt;br /&gt;* 23 September 1945 : Berdirinya organisasi kelaskaran Pasukan Berani Mati di Alabio, Hulu Sungai Utara.&lt;br /&gt;* November 1945 : Berdirinya organisasi kelaskaran Laskar Syaifullah di Haruyan, Hulu Sungai Tengah.&lt;br /&gt;* 9 November 1945 : Pertempuran di Banjarmasin melawan Sekutu.&lt;br /&gt;* 20 November 1945 : Berdirinya organisasi kelaskaran GERPINDOM (Gerakan Rakyat Pengajar/Pembela Indonesia Merdeka) di Amuntai, Hulu Sungai Utara.&lt;br /&gt;* 1945 : Berdirinya organisasi kelaskaran GERPINDOM (Gerakan Pemuda Indonesia Merdeka) di Birayang, Hulu Sungai Tengah, Barisan Pelopor Pemberontakan (BPPKL) di Martapura dan Banteng Borneo di Kota Rantau, Tapin serta Laskar Hasbullah di Martapura, Pelaihari, Rantau dan Hulu Sungai.&lt;br /&gt;* 30 Oktober 1945 : penyusupan Hasan Basry dan kawan-kawan dari Surabaya dengan kapal Bintang Tulen.&lt;br /&gt;* 5 - 7 Desember 1945 : Pertempuran Marabahan di Barito Kuala.&lt;br /&gt;* 24 September 1946 : penangkapan lasykar Saifullah oleh Belanda di Kandangan pada saat pasar malam.&lt;br /&gt;* 18 November 1946 : pembentukan Batalyon TNI ALRI DIVISI IV (A) oleh Hasan Basri dengan melebur Banteng Indonesia dan organisasi kemiliteran lainnya.&lt;br /&gt;* Mei 1947 : pertempuran di Hambawang Pulasan, Barabai di pimpin H. Aberanie Sulaiman, 48 serdadu Belanda tewas sedangkan 1 orang pejuang gugur yaitu Made Kawis.[7]&lt;br /&gt;* 3 Juli 1948 : Belanda melantik Dewan Banjar. [8]&lt;br /&gt;* 18 Juli 1948 : peristiwa pertempuran di Wawai, 16 orang pejuang gugur.&lt;br /&gt;* Agustus 1948 : pertempuran di Hambawang Pulasan, dekat Barabai dipimpin Aliansyah.&lt;br /&gt;* 21 Desember 1948 : Pertempuran Hawang, Hulu Sungai Tengah.&lt;br /&gt;* 2 Januari 1949 : Pertempuran di Negara di Hulu Sungai Selatan (Palagan Nagara).&lt;br /&gt;* 7 Januari 1949 : pembentukan Panitia Persiapan Proklamasi Kalimantan, dengan ketua H. Aberanie Sulaiman.&lt;br /&gt;* 6 Februari : Pertempuran Pagatan di Tanah Bumbu.&lt;br /&gt;* 14 Februari 1949 : pertempuran di Batu Tangga, Birayang, 2 orang pejuang gugur.&lt;br /&gt;* 15 April 1949 : Pertempuran Batakan di Tanah Laut.&lt;br /&gt;* 15 Mei 1949 : Perumusan teks proklamasi di Telaga Langsat, dipimpin H. Aberanie Sulaiman.&lt;br /&gt;* 16 Mei 1949 : penandatanganan teks proklamasi di Ni'ih oleh Hassan Basry.&lt;br /&gt;* 17 Mei 1949 : Proklamasi Gubernur Tentara ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan oleh Letkol. Hasan Basry (Pahlawan Nasional).&lt;br /&gt;* 3 Juni 1949 : Pertempuran Serangan Umum Kota Tanjung di Tabalong.&lt;br /&gt;* 8 Agustus 1949 : Pertempuran Garis Demarkasi di Karang Jawa.&lt;br /&gt;* 2 September 1949 : perundingan antara TNI ALRI DIVISI (A) yaitu Hasan Basri dengan Belanda diwakili Jenderal Mayor Suharjo dan UNCI sebagai penengah di Munggu Raya, Kandangan.&lt;br /&gt;* 2 September 1949 : pengakuan Angkatan Perang Republik Indonesia terhadap TNI ALRI DIVISI (A) sebagai bagian dari angkatan perang dan mengangkat Hasan Basri sebagai Komandan Batalyon dengan pangkat Letnan Kolonel.&lt;br /&gt;* 1 November 1949 : peleburan TNI ALRI DIVISI (A) ke dalamTNI Angkatan Darat Divisi Lambung Mangkurat, dengan panglima Letkol Hasan Basri dan Kepala Staf Mayor H. Aberani Sulaiman.&lt;br /&gt;* 01 Juni 1950 : pembentukan Kabupaten Kotabaru.&lt;br /&gt;* 29 Juni 1950 : Kepmendagri No. C/17/15/3 wilayah Kalimantan dibagi menjadi 6 Kabupaten Administratif dan 3 Swapraja. Salah satunya Afdeling Van Hoeloe Soengai dibentuk menjadi Kabupaten Hulu Sungai dangan ibukota Kandangan.&lt;br /&gt;* 14 Agustus 1950 : pembentukan Propinsi Kalimantan; pembentukan Kabupaten Banjar.&lt;br /&gt;* 14 Agustus 1950 â€“ 1953 : masa Gubernur dr. Mordjani&lt;br /&gt;* 2 Desember 1950 : pembentukan Kabupaten Hulu Sungai Selatan, dengan Bupati Syarkawi.&lt;br /&gt;* 2 Mei 1952 : Berdirinya Kabupaten Amuntai.&lt;br /&gt;* 1953 â€“ 1955 : masa Gubernur Mas Subardjo&lt;br /&gt;* 14 Januari 1953 : Perubahan nama Kabupaten Amuntai menjadi Kabupaten Hulu Sungai Utara.&lt;br /&gt;* 14 Januari 1953 : Perubahan nama Kabupaten Amuntai menjadi Kabupaten Hulu Sungai Utara.&lt;br /&gt;* 2-3 September 1953 : musyawarah tokoh-tokoh untuk pembentukan Kabupaten Barabai.&lt;br /&gt;* 24 September 1953 : Wafatnya Ratu Zaleha, putri Sultan Muhammad Seman, sebelumnya diasingkan di Cianjur.&lt;br /&gt;* 11 Januari 1954 : turun gunungnya Bulan Jihad (sahabat Ratu Zaleha) dari pedalaman Kalimantan.&lt;br /&gt;* 4 April 1954 : pembentukan Panitia Penuntutan Kabupaten Barabai di rumah Asisten Wedana Abdul Muis Ridhani, ditunjuk sebagai ketua adalah A. Zaini.&lt;br /&gt;* 1955 â€“ 1957 : masa Gubernur Raden Tumenggung Arya Milono.&lt;br /&gt;* 7 Desember 1956 : Terbentuknya provinsi Kalsel yaitu gabungan dari Kotawaringin, Dayak Besar, Daerah Banjar dan Federasi Kalimantan Tenggara. Belakangan Pasir (bagian Federasi Kalimantan Tenggara) bergabung ke provinsi Kalimantan Timur.&lt;br /&gt;* 1957 â€“ 1959 : masa Gubernur Syarkawi&lt;br /&gt;* 23 Mei 1957 : Wilayah Kotawaringin dan Dayak Besar membentuk provinsi Kalimantan Tengah.&lt;br /&gt;* 1958 : musyawarah masyarakat Tapin di Balai Rakyat menghasilkan Badan Musyawarah Penuntut Kabupaten Tapin, yang diketuai H Isbat&lt;br /&gt;* 15 Maret 1958 : pembentukan Panitia Penuntutan Kabupaten Tabalong dengan ketua Juhri.&lt;br /&gt;* 11 November 1958 : Pengangkatan kerangka Pangeran Antasari untuk dimakamkan di Komplek Makam Pahlawan Perang Banjar di Banjarmasin.&lt;br /&gt;* 1959 â€“ 1963 : masa Gubernur Maksid.&lt;br /&gt;* 24 Desember 1959 : pembentukan Kabupaten Hulu Sungai Tengah.&lt;br /&gt;* 4 Januari 1960 : pembentukan Kabupaten Barito Kuala.&lt;br /&gt;* 22 Agustus 1960 : pembekuan kegiatan PKI dan ormasnya oleh Kepala Penguasa Perang Daerah kalsel Brigjen Hasan Basri.&lt;br /&gt;* 3 Juni 1961 : pembentukan Panitia Penuntutan Kabuapaten Tanah Laut (Panitia 17), dengan ketua Soeparjan.&lt;br /&gt;* 1-2 Juli 1961 : musyawarah besar Tanah Laut menghasilkan pembentukan Panitia Penyalur Hasrat Rakyat Tuntutan Daswati II Tanah Laut yang diketuai H. M. N. Manuar.&lt;br /&gt;* 1963 - 1963 : masa Gubernur Abu Jahid Bustami.&lt;br /&gt;* 1963 - 1968 : masa Gubernur Aberani Sulaiman.&lt;br /&gt;* 30 November 1965 : pembentukan Kabupaten Tapin.&lt;br /&gt;* 1 Desember 1965 : pembentukan Kabupaten Tabalong.&lt;br /&gt;* 02 Desember 1965 : pembentukan Kabupaten Tanah Laut.&lt;br /&gt;* 1968 - 1970 : masa Gubernur Jasmani.&lt;br /&gt;* 23 Maret 1968 : pemberian Gelar Pahlawan Nasional untuk Pangeran Antasari.&lt;br /&gt;* 1970 - 1980 : masa gubernur Subarjo Sosroroyo.&lt;br /&gt;* 15 Januari 1979 : wafatnya Ir. Pangeran M. Noor, Gubernur Kalimantan pertama dimakamkan di Jakarta.&lt;br /&gt;* 1980 - 1984 : masa Gubernur Mistar Cokrokusumo.&lt;br /&gt;* 1984 - 1995 : masa Gubernur Ir. H.M. Said.&lt;br /&gt;* 15 Juli 1984 : wafatnya Brigjen Hasan Basri, dimakamkan di Liang Anggang, Banjarbaru&lt;br /&gt;* 10 November 1991 : Peresmian Museum Wasaka oleh Gubernur Kalsel Ir. H. Muhammad Said&lt;br /&gt;* 23 Mei 1997 : Peristiwa Jumat Kelabu di Banjarmasin, kampanye pemilu yang berakhir kerusuhan bernuansa SARA (partai)&lt;br /&gt;* 1995 - 2000 : masa Gubernur Gusti Hasan Aman.&lt;br /&gt;* 2000 - 2005 : masa Gubernur Syahriel Darham.&lt;br /&gt;* 20 April 2000 : pembentukan kota Banjarbaru.&lt;br /&gt;* 3 November 2001 : pemberian gelar Pahlawan kemerdekaan untuk Brigjen Hasan Basri.&lt;br /&gt;* 8 April 2006 : pembentukan Kabupaten Balangan dan Tanah Bumbu.&lt;br /&gt;* 2005 - 2010 : masa Gubernur Rudy Ariffin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" class="size-medium wp-image-362" height="300" src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/sultan-adam-kitlv.jpg?w=153" title="sultan adam" width="153" /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Silsilah Kerajaan Banjar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerajaan Banjar adalah nama lain dari  sebutan Kerajaan Banjarmasin atau  Kesultanan Banjar. Kerajaan Banjar menurut M. Idwar Saleh (1981/1982)  berdiri pada tanggal 24 September 1526 sebagai sebuah kerajaan Islam.  Sebelum kerajaan ini berdiri, di Kalimantan Selatan sudah ada kerajaan  lainnya yang bercorak sebagai negara suku yakni Nan Sarunai dan Tanjung  Pura dan negara awal  yakni  Negara Dipa dan Negara Daha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerajaan Tanjung Pura dan Nan Sarunai dapat dijelaskan sebagai negara  yang rakyatnya melulu dari satu etnik (terutama etnik Maanyan) dan  tatanannya diatur oleh tradisi yang ditransformasikan dari nenek moyang  ke generasi berikutnya. Sedangkan negara awal merupakan suatu bentuk  kerajaan transisi dari negara negara suku ke negara yang tatanan  pemerintahannya yang lebih fomal atau teratur. Kerajaan  Negara Dipa dan Negara Daha berperan dalam sejarah pembentukan  Kerajaan Banjar di kemudian hari, karena silsilah raja-raja Banjar  dapat ditelusuri atau berasal dari keturunan raja-raja  Negara Dipa dan   Negara Daha. Pada masa puncak kejayaannya, Kesultanan Banjar memiliki kekuasaan  teritorial yang sangat luas, yakni meliputi wilayah Kalimantan Selatan  dan Tengah dan bahkan pengaruhnya sampai ke sebagian wilayah Kalimantan  Timur dan Kalimantan Barat saat sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku Sejarah Banjar (Ideham, dkk. editor, 2003) disebutkan bahwa  sejak berdirinya kerajaan Banjar pada 24 September 1526 sampai  berakhirnya perang Banjar yang juga berakhirnya pemerintahan Pegustian  sebagai penerus kerajaan Banjar tahun 1905, terdapat 19 orang raja yang  pernah berkuasa. Sultan pertama adalah Sultan Suriansyah (1526-1545),  raja pertama yang memeluk agama Islam, dan raja terakhir adalah Sultan  Mohammad Seman yang meninggal dalam pertempuran melawan Belanda di  Menawing â€“ Puruk Cahu dalam tahun 1905. Kerajaan Banjar runtuh sebagai  akibat kalah perang dalam Perang Banjar (1859-1905), yang merupakan  perang menghadapi kolonialisme Belanda. Sultan Suriansyah sebagai  sebagai raja pertama berkeraton di Kuwin Utara sekarang yang dahulu  sebagai pusat pemerintahan dan pusat perdagangan, sedangkan raja  terakhir Sultan Mohammad Seman berkeraton di Menawing-Puruk Cahu sebagai  pusat pemerintahan pelarian dalam rangka menyusun kekuatan untuk  melawan kolonialisme Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja-raja Banjar sejak berdirinya kerajaan Banjar sampai lenyapnya pemerintahan Pegustian di Menawing, adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;1) Periode tahun 1526 - 1545: Pangeran Samudera, selanjutnya bergelar Sultan Suriansyah.&lt;br /&gt;2) Periode tahun 1545 - 1570: Sultan Rahmatullah.&lt;br /&gt;3) Periode tahun 1570 - 1595: Sultan Hidayatullah.&lt;br /&gt;4) Periode tahun 1595 - 1620: Sultan Mustain Billah, Marhum Panembahan,  yang dikenal sebagai Pangeran Kacil. Sultan inilah yang memindahkan  keraton ke Kayutangi Martapura, karena keraton di Kuwin hancur di serang  Belanda pada tahun 1612.&lt;br /&gt;5) Periode tahun 1620 - 1637: Ratu Agung bin Marhum Panembahan yang bergelar Sultan Inayatullah.&lt;br /&gt;6) Periode tahun 1637 - 1642: Ratu Anum bergelar Sultan Saidullah.&lt;br /&gt;7) Periode tahun 1642 - 1660: Adipati Halid (Pangeran Tapesana).&lt;br /&gt;&lt;img alt="8)" src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif" /&gt; Periode tahun 1660 - 1663: Amirullah Bagus Kesuma memegang kekuasaan, 1663.&lt;br /&gt;9) Periode tahun 1663 - 1679: Pangeran Adipati Anum setelah merebut  kekuasaan dari Amirullah Bagus Kesuma dan memindahkan keraton ke  Banjarmasin bergelar Sultan Agung.&lt;br /&gt;10) Periode tahun 1680 - 1700: Amirullah Bagus Kesuma.&lt;br /&gt;11) Periode tahun 1700 -“ 1734: Sultan Hamidullah gelar Sultan Kuning.&lt;br /&gt;12) Periode tahun 1734 - 1759: Pangeran Tamjid bin Sultan Amirullah Bagus Kesuma bergelar Sultan Tamjidillah.&lt;br /&gt;13) Periode tahun 1759 - 1761: Pangeran Muhammad Aliuddin Aminullah bin Sultan Kuning.&lt;br /&gt;14) Periode tahun 1761 - 1801: Pangeran Nata Dilaga sebagai wali putera  Sultan Muhammad Aliuddin yang belum dewasa tetapi memegang pemerintahan  dan bergelar Sultan Tahmidullah.&lt;br /&gt;15) Periode tahun 1801 - 1825: Sultan Suleman Almutamidullah bin Sultan Tahmidullah.&lt;br /&gt;16) Periode tahun 1825 - 1857: Sultan Adam Al Wasik Billah bin Sultan Suleman.&lt;br /&gt;17) Periode tahun 1857 - 1859: Pangeran Tamjidillah.&lt;br /&gt;18) Periode tahun 1859 - 1862: Pangeran Antasari yang bergelar Panembahan Amir Oeddin Khalifatul Mumin.&lt;br /&gt;19) Periode tahun 1862 - 1905: Sultan Muhammad Seman.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3509747544273203794-5977025860256950127?l=etnikprogresif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/feeds/5977025860256950127/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/09/catatan-sejarah-kalimantan-selatan.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/5977025860256950127'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/5977025860256950127'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/09/catatan-sejarah-kalimantan-selatan.html' title='Catatan Sejarah Kalimantan Selatan'/><author><name>mbah dinan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10973480357642906490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-zT11WGzH8D8/TrzZyXePTwI/AAAAAAAABGU/mvgB2aMy4Zc/s220/etnikprogresif.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3509747544273203794.post-5361386141008571306</id><published>2010-09-08T17:04:00.001+07:00</published><updated>2011-01-11T11:32:52.030+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>RUMAH BETANG: Rumah Adat dan Budaya Dayak yang Hampir Tersingkirkan</title><content type='html'>&lt;div style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" class="size-medium wp-image-384" height="225" src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/rumah-betang.jpg?w=300" title="rumah betang" width="300" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" class="size-full wp-image-385" height="199" src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/nontonteve-300x199.jpg" width="300" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Terinspirasi dan bersumber dari buku &lt;b&gt;Pergulatan Identitas Dayak Dan Indonesia: Belajar dari Tjilik Riwut&lt;/b&gt; Penerbit Galangpress, April 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Betang adalah rumah adat khas Kalimantan yang terdapat di berbagai penjuru Kalimantan, terutama di daerah hulu sungai yang biasanya menjadi pusat pemukiman suku Dayak, dimana sungai merupakan jalur transportasi utama bagi suku Dayak untuk melakukan berbagai mobilitas kehidupan sehari-hari seperti pergi bekerja ke ladang dimana ladang suku Dayak biasanya jauh dari pemukiman penduduk, atau melakukan aktifitas perdagangan (jaman dulu suku Dayak biasanya berdagang dengan menggunakan system barter yaitu dengan saling menukarkan hasil ladang, kebun maupun ternak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk dan besar rumah Betang ini bervariasi di berbagai tempat. Ada rumah Betang yang mencapai panjang 150 meter dan lebar hingga 30 meter. Umumnya rumah Betang di bangun dalam bentuk panggung dengan ketinggian tiga sampai lima meter dari tanah. Tingginya bangunan rumah Betang ini saya perkirakan untuk menghindari datangnya banjir pada musim penghujan yang mengancam daerah-daerah di hulu sungai di Kalimantan. Beberapa unit pemukiman bisa memiliki rumah Betang lebih dari satu buah tergantung dari besarnya rumah tangga anggota komunitas hunian tersebut. Setiap rumah tangga (keluarga) menempati bilik (ruangan) yang di sekat-sekat dari rumah Betang yang besar tersebut, di samping itu pada umumnya suku Dayak juga memiliki rumah-rumah tunggal yang dibangun sementara waktu untuk melakukan aktivitas perladangan, hal ini disebabkan karena jauhnya jarak antara ladang dengan tempat pemukiman penduduk.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Lebih dari bangunan untuk tempat tinggal suku dayak, sebenarnya rumah Betang adalah jantung dari struktur sosial kehidupan orang Dayak.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Budaya Betang merupakan cerminan mengenai kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari orang Dayak. Di dalam rumah Betang ini setiap kehidupan individu dalam rumah tangga dan masyarakat secara sistematis diatur melalui kesepakatan bersama yang dituangkan dalam hukum adat. Keamanan bersama, baik dari gangguan kriminal atau berbagi makanan, suka-duka maupun mobilisasi tenaga untuk mengerjakan ladang. Nilai utama yang menonjol dalam kehidupan di rumah Betang adalah nilai kebersamaan (komunalisme) di antara para warga yang menghuninya, terlepas dari perbedaan-perbedaan yang mereka miliki. Dari sini kita mengetahui bahwa suku Dayak adalah suku yang menghargai suatu perbedaan. Suku Dayak menghargai perbedaan etnik, agama ataupun latar belakang sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi pada masa sekarang pun banyak orang luar (bahkan orang Indonesia sendiri) beranggapan bahwa suku Dayak adalah suku yang tertutup, individual, kasar dan biadab. Sebenarnya hal ini merupakan suatu kebohongan besar yang diciptakan oleh para colonial Belanda waktu masa perjuangan kemerdekaan Indonesia untuk memecah belah persatuan dan kesatuan terutama di antara suku Dayak sendiri yang pada saat itu menjunjung tinggi budaya rumah Betang. Dan kebohongan tersebut masih dianggap benar sampai sekarang oleh mereka yang tidak mengenal benar orang Dayak. Sebagai contoh, tulisan karya orang Belanda bernama J. Lameijn yang berjudul Matahari Terbit, dimana tulisan tersebut sangat merendahkan martabat masyarakat Dayak. Bagian tulisan itu sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Setelah habis pertcakapan itu, cukuplah pengetahuan saya tentang orang Dayak. Sebelum itu saya sudah tahu, bahwa orang Dayak itu amat kasar dan biadab tabiatnya. Kalau tiada terpaksa, tiadalah saja berani berjalan sendiri ditanahnya, karena tentulah saja akan kembali tiada berkepala lagi&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Citra buruk masyarakat Dayak di perparah lagi dengan timbulnya kerusuhan-kerusuhan etnis yang terjadi di Kalimantan yang di ekspos besar-besaran hingga keluar negeri (terutama melalui media internet) tanpa memandang sebab sebenarnya dari kerusuhan tersebut hanya memandang berdasarkan pembantaian massal yang terjadi, seperti kerusuhan di Kalimantan Barat (Sambas) dan Kalimantan Tengah (Sampit dan Palangkaraya). Saya sendiri berada di kota Sampit saat kerusuhan pertama kali pecah tanggal 18 Februari 2001 dan 2 hari kemudian saya berada di Palangkaraya, saat itu saya masih kelas 3 SMP. Berdasarkan pandangan saya atas kerusuhan etnis di Sampit dan Palangkaraya, dimana disini saya tidak berpihak pada suku manapun tapi saya lebih melihat berdasarkan fakta yang ada di lapangan selama saya tinggal di Sampit dari saya kecil hingga saat pecahnya konflik Sampit. Kerusuhan tersebut bukanlah akibat adanya tokoh-tokoh intelektual yang ingin mengacaukan keadaan atau perasaan cemburu suku Dayak karena etnis tertentu lebih berhasil dalam mencari nafkah di Kalimantan, tetapi lebih kepada terlukanya perasaan masyarakat Dayak yang dipendam selama bertahun-tahun akibat tidak di hargainya budaya Betang yang mereka miliki oleh etnis tertentu, hingga perihnya luka tersebut tidak dapat ditahan lagi oleh masyarakat Dayak dan akhirnya mengakibatkan pecahnya konflik berdarah tersebut. Seharusnya etnis tertentu tersebut lebih memahami pepatah â€œDimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung, bukannya bersikap arogan dan ingin menang sendiri serta tidak menghargai budaya lokal (budaya rumah Betang yang menjunjung nilai kebersamaan, persamaan hak, saling menghormati, dan tenggang rasa ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://banuadayak.wordpress.com/2010/09/08/rumah-betang-rumah-adat-dan-budaya-dayak-yang-hampir-tersingkirkan/clip_99/" rel="attachment wp-att-381" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" class="size-full wp-image-381 " height="126" src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/clip_99.jpg" title="Clip_99" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, rumah betang yang menjadi hunian orang Dayak berangsur-angsur menghilang di Kalimantan. Kalaupun masih bisa ditemukan penghuninya tidak lagi menjadikannya sebagai rumah utama, tempat keluarga bernaung, tumbuh dan berbagi cerita bersama komunitas. Rumah Betang tinggal menjadi kenangan bagi sebagian besar orang Dayak. Di beberapa tempat yang terpencar, rumah Betang dipertahankan sebagai tempat untuk para wisatawan. Sebut saja, misalnya di Palangkaraya terdapat sebuah rumah Betang yang dibangun pada tahun 1990-an tetapi lebih terlihat sebagai monumen yang tidak dihuni. Generasi muda dari orang Dayak sekarang tidak lagi hidup dan dibesarkan di rumah Betang (termasuk saya sendiri). Rumah Betang konon hanya bisa ditemukan di pelosok, pedalaman Kalimantan tanpa mengetahui persis lokasinya. Pernyataan tersebut tentu saja mengisyaratkan bahwa rumah Betang hanya tinggal cerita dari tradisi yang berasosiasi dengan keterbelakangan dan ketertinggalan dari gaya hidup modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sekarang, dalam menghadapi kehidupan modern yang sangat individualis, yang hanya mementingkan kepentingan pribadi, materi dan penuh kemunafikan, masihkan budaya rumah Betang menjadi tatanan hidup bersama di Kalimantan ataukah budaya ini akan ikut menghilang seperti menghilangnya bangunan rumah Betang di Kalimantan. Apapun jawabannya hanya kita orang Kalimantan yang dapat menentukannya !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari: veni vidi vici&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3509747544273203794-5361386141008571306?l=etnikprogresif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/feeds/5361386141008571306/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/09/rumah-betang-rumah-adat-dan-budaya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/5361386141008571306'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/5361386141008571306'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/09/rumah-betang-rumah-adat-dan-budaya.html' title='RUMAH BETANG: Rumah Adat dan Budaya Dayak yang Hampir Tersingkirkan'/><author><name>mbah dinan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10973480357642906490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-zT11WGzH8D8/TrzZyXePTwI/AAAAAAAABGU/mvgB2aMy4Zc/s220/etnikprogresif.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3509747544273203794.post-7170707092732627274</id><published>2010-09-08T16:34:00.000+07:00</published><updated>2011-01-09T02:36:33.582+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Rumah Betang dan Nilai Kerukunan yang Mulai Tergantikan</title><content type='html'>[caption id="attachment_243" align="alignleft" width="300" caption="Rumah Betang Lambang Kerukunan Masyarakat Dayak"]&lt;a href="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/5.jpg"&gt;&lt;img class="size-medium wp-image-243" src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/5.jpg?w=300" alt="" width="300" height="198" /&gt;&lt;/a&gt;[/caption]&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Selain berupa penanda fisik berupa daun telinga yang panjang dan banyaknya tato yang tergambar pada tubuh mereka, ada satu hal yang menjadi kekhasan warga Dayak : rumah Betang/rumah Panjang. Rumah panjang ini setara dengan nilai kerukunan yang diusung warga Dayak. Para orang tua Dayak senantiasa menekankan pentingnya kebudayaan Dayak yang berupa dikap mau berbagi dan hidup rukun dengan para anggota rumah panjang. Hidup rukun seperti sudah mendarah-daging dalam kehidupan warga Dayak dahulu. Kerukunan warga Dayak ini seringkali menimbulkan kekaguman dari warga non-Dayak. Rumah panjang pun kemudian dipandang sebagai sebuah komponen penting dalam menjaga kerukunan dan hubungan-hubungan yang lebih akrab. Rumah Betang adalah rumah adat khas Kalimantan yang terdapat di berbagai penjuru Kalimantan, terutama di daerah hulu sungai yang biasanya menjadi pusat pemukiman suku.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dayak, dimana sungai merupakan jalur transportasi utama bagi suku Dayak untuk melakukan berbagai mobilitas kehidupan sehari-hari seperti pergi bekerja ke ladang dimana ladang suku Dayak biasanya jauh dari pemukiman penduduk, atau melakukan aktifitas perdagangan (jaman dulu suku Dayak biasanya berdagang dengan menggunakan sistem barter yaitu dengan saling menukarkan hasil ladang, kebun maupun ternak). 1.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Bentuk dan besar rumah Betang berbeda-beda di setiap tempat. Ada yang panjangnya mencapai 150 meter dan lebarnya mencapai 30 meter. Rumah Betang umumnya dibangun dalam bentuk panggung dengan ketinggian tiga sampai lima meter di atas tanah. Ketinggian Rumah Betang ini diperkirakan untuk menghindari dan mengantisipasi ancaman banjir yang sering menimpa daerah-daerah hulu sungai di Kalimantan. Banyaknya Rumah Betang di suatu pemukiman bisa lebih dari satu, tergantung banyaknya anggota komunitas di hunian tersebut. Setiap keluarga menempati bilik yang disekat-sekat dari Rumah Betang yang besar tersebut.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Di dalam rumah Betang ini setiap kehidupan individu dalam rumah tangga dan masyarakat diatur melalui kesepakatan bersama yang dituangkan dalam hukum adat. Nilai utama yangÂ  menonjol dalam kehidupan di rumah Betang adalah nilai kebersamaan (komunalisme) di antara para warga yang menghuninya, terlepas dari perbedaan-perbedaan yang mereka miliki. 2. Dari sini kita mengetahui bahwa suku Dayak adalah suku yang menghargai suatu perbedaan, mereka menghargai perbedaan etnik, agama ataupun latar belakang sosial. Budaya Rumah Betang adalah budaya yang menjunjung nilai kebersamaan, persamaan hak, saling menghormati, dan tenggang rasa.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Rasa kebersamaan dan persaudaraan tampak setiap ada permasalahan yang menimpa salah satu penghuni. Jika salah satu anggota keluarga ada yang meninggal dunia maka masa berkabung mutlak diberlakukan selama satu minggu bagi semua penghuni dengan tidak menggunakan perhiasan, tidak berisik, tidak minum tuak dan dilarang menghidupkan peralatan elektronik. 3.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kini, rumah betang yang menjadi hunian orang Dayak berangsur-angsur menghilang di Kalimantan. Kalaupun masih bisa ditemukan penghuninya tidak lagi menjadikannya sebagai rumah utama, tempat keluarga bernaung, tumbuh dan berbagi cerita bersama komunitas. Rumah Betang tinggal menjadi kenangan bagi sebagian besar orang Dayak. Dibeberapa tempat yang terpencar, rumah Betang dipertahankan sebagai tempat untuk para wisatawan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Generasi muda dari orang Dayak sekarang tidak lagi hidup dan dibesarkan di rumah Betang. Kini Rumah Betang konon hanya bisa ditemukan di pelosok, pedalaman Kalimantan tanpa mengetahui persis lokasinya. Pernyataan tersebut tentu saja mengisyaratkan bahwa rumah Betang hanya tinggal cerita dari tradisi yang berasosiasi dengan keterbelakangan dan ketertinggalan dari gaya hidup modern. Kini warga desa lebih banyak tinggal di rumah-rumah individual. Sebagian kalangan tua berpendapat bahwa tinggal di rumah-rumah individual telah membuat warga menjadi terlalu individualistik, sesuatu yang sebenarnya bukan ciri masyarakat Dayak.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Mengenai alasan mengapa warga banyak yang lebih memilih tinggal di rumah-rumah individual, warga mengatakan rumah individual jelas lebih baik karena lebih pribadi dan lebih bersih. Pak Din, salah satu warga yang lebih memilih untuk tinggal di rumah individual berpendapat, baginya ke-Dayak-an tidak hanya ditentukan oleh sebuah kehidupan yang rukun tetapi juga oleh hal-hal yang â€žmodernâ€Ÿ, termasuk pendidikan dan gaya hidup sehat.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Memang, pendapat Pak Din tersebut ada benarnya. Akan tetapi, bukankah lebih baik kebiasaan tinggal di suatu rumah bersama-sama tetap dipelihara? Nilai tinggal bersama sesama warga Dayak adalah nilai yang baik karena tinggal bersama juga menunjukkan keinginan warga untuk hidup rukun dan tidak menunjukkan ketamakan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Berlawanan dengan pendapat Pak Din, Pak Pebit, salah seorang kepala adat di sebuah desa Dayak di pedalaman, menegaskan bahwa konsep-konsep kerukunan dan kesetaraan harus dipertahankan dan dipelihara karena konsep-konsep tersebut esensial bagi identitas Dayak. Sekarang, nilai individualistik telah mulai merasuk dalam jiwa masyarakat Dayak. Hal itulah yang membuat mereka lebih memilih untuk tinggal di rumah individual dibanding di Rumah Betang. Hal ini disebabkan karena proses globalisasi dan modernisasi yang masuk dalam kehidupan masyarakat Dayak, globalisasi membuat nilai kerukunan yang tadinya menjadi ciri masyarakat Dayak menjadi pudar dan tergantikan oleh nilai individualistik. Padahal konsep kerukunan dan tinggal bersama di rumah Betang dan menghindarkan ketamakan adalah nilai budaya yang esensial bagi masyarakat Dayak, dan oleh karenanya nilai tersebut seharusnya dipelihara dan dilestarikan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kepustakaan&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;1. Rumah Betang, Rumah Adat, dan Budaya Dayak yang Hampir Tersingkirkan,http://fazz.wo rd p ress.co m/2 0 0 7 /0 5 /1 8/ rumah-betang-rumah-adat-dan-budaya-dayak-yang-hampir-tersingkirkan/, diakses pada 22 Mei 2008, pukul 15.58.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;2. Ibid.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;3. Rumah Betang Suku Dayak di Ambang Kepunahan. http://www.sinarharapan.co.id/berita/0506/15/sh12.html, diakses pada 18 Mei 2008, pukul 18.58.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3509747544273203794-7170707092732627274?l=etnikprogresif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/feeds/7170707092732627274/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/09/rumah-betang-dan-nilai-kerukunan-yang.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/7170707092732627274'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/7170707092732627274'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/09/rumah-betang-dan-nilai-kerukunan-yang.html' title='Rumah Betang dan Nilai Kerukunan yang Mulai Tergantikan'/><author><name>mbah dinan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10973480357642906490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-zT11WGzH8D8/TrzZyXePTwI/AAAAAAAABGU/mvgB2aMy4Zc/s220/etnikprogresif.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3509747544273203794.post-714022289875962103</id><published>2010-09-08T16:10:00.003+07:00</published><updated>2011-01-11T19:08:44.522+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Tradisi Dayak yang Terbaca Sunyi</title><content type='html'>&lt;div style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" class="size-medium wp-image-234  " height="300" src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/0001.jpg?w=70" title=" " width="70" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1. Mulai Punahnya Kebiasaan Memanjangkan Daun Telinga&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda identitas Dayak yang paling mencolok bagi orang-orang luar adalah praktik menindik dan memanjangkan daun telinga, meskipun tidak semua suku melakukan tradisi ini. Di Kalimantan Timur, tradisi ini masih terus dilakukan oleh orang-orang Dayak Kenyah, Bahau, dan Kayan.1. Di kalangan orang Dayak Kenyah, baik laki-laki maupun perempuan memiliki daun telinga yang sengaja dipanjangkan, akan tetapi panjangnya berbeda-beda antara laki-laki dan perempuan. Kaum laki-laki tidak boleh memanjangkan telinganya sampai melebihi bahunya, sedang kaum perempuan boleh memanjangkannya hingga sebatas dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses penindikan daun telinga ini sendiri dimulai sejak masa kanak-kanak, yaitu sejak berusia satu tahun. Kemudian setiap tahunnya mereka menambahkan satu buah anting atau subang perak. Anting atau subang perak yang dipakai pun berbeda-beda, gaya anting yang berbeda-beda ini menunjukkan perbedaan status dan jenis kelamin. Seperti misalnya kaum bangsawan memiliki gaya anting sendiri yang tidak boleh dipakai oleh orang-orang biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan menurut penduduk Dayak Kenyah, pemanjangan daun telinga di kalangan masyarakat Dayak secara tradisional berfungsi sebagai penanda identitas kemanusiaan mereka. Senada dengan hal itu, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menegaskan bagi masyarakat Kenyah dan Bahau, orang-orang yang tidak bertelinga panjang dianggap serupa dengan kera (1995/1996:125).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut penelitian Dr. Yekti Maunati yang berkunjung ke Desa Long Mekar, sebuah desa Dayak di mana Dayak yang otentik yang serupa dengan orang Dayak yang hidup di pedalaman tinggal, ternyata penduduk Desa Long Mekar sendiri tidak semua memiliki tato dan daun telinga yang panjang. Belakangan, terbukti bahwa hal ini hanya sebagian benar, karena banyak orang yang telah memotong daun telinga mereka yang [dulu sudah terlanjur] panjang8. Pemotongan daun telinga ini sendiri dilakukan di rumah sakit melalui sebuah operasi kecil. Hanya sedikit penduduk yang masih memiliki daun telinga yang panjang, itupun kebanyakan para manula yang berusia di atas 60 tahun. Dr. Yekti Maunati kemudian menceritakan mengenai perbincangannya dengan seorang perempuan tua bernama Mamak Ngah, yang sejak kedatanganya di Long Mekar dulu sudah memotong daun telinganya yang semula panjang. Berikut isi perbincangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya malu bertelinga panjang. Jadi saya pun memotongnya seperti yang dilakukan banyak orang lainya. Saya punya pengalaman buruk ketika orang-orang menertawakan saya karena daun telinga saya yangÂ&amp;nbsp; panjang itu. Ketika saya pergi ke Samarinda untuk pertama kalinya dulu, orang-orang datang dan mengerumuni saya dan memandangi saya seolah-olah saya ini orang aneh. Mereka berkata, Dia itu orang Dayak...dia makan manusia. Mereka menyentuh daun telinga saya yang panjang itu. saya merasa sangat tersinggung. Saya diperlakukan seolah saya ini sebuah benda. Saya putuskan untuk memotong daun telinga saya yang panjang agar orang tidak lagi selalu menonton saya dan mengira saya makan manusia. Dengan begitu orang tidak akan mengira kalau saya ini seorang Dayak. Tentu saja, orang masih bisa melihat tato-tato saya, tetapi sayato h bisa menyembunyikannya dengan mengenakan rok panjang dan baju berlengan panjang".2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkataan Mamak Ngah ini jelas menunjukkan sudah berkurangnya rasa kebanggaan yang dimiliki penduduk Dayak. Mereka menjadi kurang menghargai nilai-nilai budaya yang mereka miliki, mereka malu pada kebiasaan memanjangkan daun telinga yang sudah diterapkan suku Dayak sejak berpuluh-puluh tahun lamanya. Mereka tidak menyadari bahwa orang-orang non-Dayak akan mengagumi dan menghargai orang-orang Dayak yang bertelinga panjang. Alih-alih menghargai, mereka malah malu akan identitas ke-Dayak-annya. Sebuah penanda fisik seperti telinga yang panjang dianggap sesuatu yang memalukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isu mengenai apakah penanda fisik ke-Dayak-an ini , seperti daun telinga yang panjang, harus dilestarikan, kerap kali diperdebatkan oleh penduduk desa itu sendiri. Hanya sedikit orang yang berpendapat bahwa para orang tua yang mempunyai anak harus didorong untuk melestarikan tradisi, dengan cara memanjangkan daun telinga anak-anak mereka. Sebenarnya penduduk Dayak sendiri sadar bahwa mereka harus melestarikan tradisi mereka, karena jika tidak maka orang Dayak akan kehilangan tradisi yang berharga tersebut. Tetapi mereka juga berpendapat, bila suatu saat anak mereka pergi bersekolah ke kota-kota besar, maka anak mereka akan merasa malu karena terlihat berbeda dari anak-anak lain. Seperti pendapat Mely, tiga puluh tahun, yang memotong daun telinganya dan mengatakan bahwa ia tidak menyesali keputusannya untuk memotong daun telinganya. Ia menyatakan bahwa orang-orang tua boleh saja menyesalinya karena daun telinga yang panjang sekarang ini dapat menjadi sumber penghasilan, tetapi baginya seorang Dayak haruslah terpelajar dan punya pekerjaan yang layak.3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita analisis lebih lanjut, timbulnya rasa malu tersebut turut disebabkan oleh modernisasi dan globalisasi yang mulai merasuki kehidupan masyarakat Dayak. Globalisasi ini kemudian membuat rakyat Dayak menjadi kurang menghargai nilai-nilai budaya yang mereka miliki, karena mereka menjadi lebih menghargai nilai-nilai yang berlaku di dunia internasional. Kebiasaan memanjangkan telinga yang tidak biasa di dunia internasional membuat warga Dayak menjadi berada dalam kebingungan mengenai haruskah mereka melestarikan nilai-nilai budaya mereka, yang kini diangap sudah tidak sesuai dengan perkembangan jaman?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, sebelum globalisasi dan modernisasi masuk ke kehidupan masyarakat Dayak, mereka sangat menghargai nilai-nilai budayanya, dalam hal ini memanjangkan daun telinga yang dianggap sebagai pertanda bahwa mereka adalah bangsa yang beradab. Namun sejak globalisasi masuk, muncul anggapan bahwa bangsa yang beradab bukan seperti apa yang mereka pikirkan selama ini. Mereka mulai merasa mereka berbeda dari bangsa atau suku lain,Â&amp;nbsp; yang mendapat cap beradab lebih dari mereka. Keberbedaan itu lantas menimbulkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;keraguan dalam diri mereka, sehingga pada akhirnya mereka menjadi nilai budaya yang mengatakan bahwa memanjangkan daun telinga adalah tanda suatu bangsa yang beradab. Penolakan terhadap nilai budaya inilah yang kemudian menyebabkan hanya sedikit warga Dayak, terutama kalangan muda, yang masih menjalankan kebiasaan memanjangkan daun telinga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal daun telinga yang panjang tersebut merupakan hal yang unik, yang dikagumi oleh masyarakat non-Dayak. Tidak seharusnya masyarakat Dayak malu akan penanda fisik tersebut, karena rasa malu itu pada akhirnya dapat menyebabkan punahnya salah satu nilai budaya di masyarakat Dayak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_RhVmhCkGPx4/TSxHVXHSK8I/AAAAAAAAArc/FOEuo1ANaKI/s1600/etnikprogresif.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_RhVmhCkGPx4/TSxHVXHSK8I/AAAAAAAAArc/FOEuo1ANaKI/s1600/etnikprogresif.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;2. Punahnya Nilai Membuat Tato pada Masyarakat Dayak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain daun telinga yang panjang, penanda fisik ke-Dayak-an lainnya adalah tato. Perempuan dari kalangan usia paro baya dan manula di Dayak rata-rata memiliki tato di sekujur lengan dan kakinya. Bagi kaum perempuan, keberadaan tato di tubuh mereka menunjukkan mereka adalah anggota keluarga bangsawan. Orang-orang Kenyah, Bahau, Iban, dan Kayan memiliki tato, sedangkan kelompok-kelompok Dayak lainnya tidak mengikuti praktik ini. 4. Motif-motif untuk kaum perempuan Kenyah meliputi rantai-rantai anjing, motif-motif perang, tanduk-tanduk binatang di bagian lengan dan paha, dam motif-motif lingkaran di betis atau pergelangan kaki. Tato-tato pada suku Kenyah adalah tanda kedewasaan, sementara bagi kaum laki-laki tato merupakan tanda bahwa mereka sudah menjelajahi negeri orang. 5. dan telah melakukan sesuatu yang luar biasa, seperti membunuh musuh dalam peperangan. 6.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senada dengan penjelasan di atas, M. Sjaifullah dan Try Harijono dalam artikelnya di Kompas, 22 Oktober 2004 yang berjudul Makna Tato bagi Masyarakat Dayak mengatakan bahwa tato bagi sebagian masyarakat etnis Dayak merupakan bagian dari tradisi, religi, status sosial seseorang dalam masyarakat, serta bisa pula sebagai bentuk penghargaan suku terhadap kemampuan seseorang. Karena itulah, tato bagi masyarakat Dayak tidak dapat dibuat sembarangan. Meski demikian, secara religi tato memiliki makna sama dalam masyarakat Dayak, yakni sebagai "obor" dalam perjalanan seseorang menuju alam keabadian, setelah kematian14. Karena itu, jumlah tato yang semakin banyak menunjukkan semakin banyaknya obor yang akan menerangi perjalanan seseorang ke alam keabadian namun yang perlu diperhatikan di sini adalah pembuatan tato juga tidak bisa dibuat sebanyak-banyaknya secara sembarangan, karena harus memenuhi aturan adat.Â&amp;nbsp; Baik tato pada lelaki maupun perempuan, secara tradisional dibuat menggunakan duri buah jeruk yang panjang dan lambat-laun kemudian menggunakan beberapa buah jarumÂ&amp;nbsp; sekaligus15. Yang tidak berubah adalah bahan pembuatan tato yang biasanya menggunakan jelaga dari periuk yang berwarna hitam. Inilah yang membuat tato Dayak berbeda dengan tato-tato lainnya yang kerap menggunakan berbagai warna untuk alasan keindahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sayangnya nilai tato Dayak yang tadinya begitu luhur, yaitu menggambarkan obor yang akan menerangi jalan si empunya menuju alam keabadian, kini telah bergeser nilainya. Kini, tato Dayak tak lebih hanya dianggap sebagai lambang untuhgagah- gagahan, terutama bagi kalangan generasi mudanya. Anggapan tato sebagai simbol kegagahan ini serupa dengan anggapan masyarakat luar Dayak, tato biasa diidentikkan dengan preman-preman yang dapat dikatakan gagah. Anggapan inilah yang kemudian merasuk ke dalam pemuda-pemudi Dayak, melalui suatu proses globalisasi. Globalisasi telah membuat nilai Tato Dayak bergeser menjadi tato untukgaga h -gagahan dan kekerasan semata. Hanya beberapa orang tua di desa itu saja yang masih menaruh perhatian, seraya berpendapat bahwa modernisasi telah melemahkan aspek kebudayaan tradisional yang satu ini16. Menanggapi hal ini, Laurensius Ding Lie, yang menyebut dirinya pembuat Art Tatoo Dayak di Kampung Long Bagun Ilir, menyatakan keprihatinannya. Ia prihatin dengan citra tato yang identik dengan kekerasan. Apalagi belakangan ini semakin banyak warga non-Dayak yang meminta untuk ditato Dayak,&amp;nbsp; tanpa mengetahui esensi sebenarnya dari tato Dayak tersebut. Inilah yang sangat disayangkan, ketika nilai budaya dari suatu kebudayaan hilang dan tergantikan oleh nilai lain yang dapat dikatakan melenceng dari nilai aslinya karena proses modernisasi dan globalisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kepustakaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dr. Yekti Maunati, Identitas Dayak Komodifikasi dan Politik Kebudayaan, (Yogyakarta: LkiS Yogyakarta, 2004), hal.149.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ibid. hal. 151&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ibid. hal. 154.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Bagian Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya Kalimantan Timur, Wujud Arti dan Fungsi Puncak-Puncak Kebudayaan Lama dan Asli di Kalimantan Timur, (Samarinda: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Bagian Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya Kalimantan Timur, 1995/1996).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Konsepnegeri orang yang dimaksud di sini tidak selalu harus berarti negara lain, tapi juga dapat berarti wilayah yang menjadi milik kelompok lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Bagian Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya Kalimantan Timur,o p .cit, hal. 120-122.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. M. Sjaifullah dan Try Harijono, Makna Tato bagi Masyarakat Dayak, http://www2.kompas.com/kompas-cetak /0410/22/tanahair/1339279.htm, diakses pada 22 Mei 2008, pukul 15.32&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Ibid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Dr. Yekti Maunati,o p. cit, hal. 155.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3509747544273203794-714022289875962103?l=etnikprogresif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/feeds/714022289875962103/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/09/tradisi-dayak-yang-terbaca-sunyi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/714022289875962103'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/714022289875962103'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/09/tradisi-dayak-yang-terbaca-sunyi.html' title='Tradisi Dayak yang Terbaca Sunyi'/><author><name>mbah dinan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10973480357642906490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-zT11WGzH8D8/TrzZyXePTwI/AAAAAAAABGU/mvgB2aMy4Zc/s220/etnikprogresif.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_RhVmhCkGPx4/TSxHVXHSK8I/AAAAAAAAArc/FOEuo1ANaKI/s72-c/etnikprogresif.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3509747544273203794.post-9162132043525832881</id><published>2010-09-06T15:12:00.000+07:00</published><updated>2011-01-09T02:36:33.421+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Raja Singa Bansa; Simbol Kebersahajaan Orang Dayak</title><content type='html'>Setelah berselancar di beberapa blog akhirnya aku menemukan juga tulisan tentang raja dayak. Mungkin ini lebih dekenal dengan istilah kepala suku atau yang memimpin salah satu suku di daerah Dayak. Lain pengertian untuk &lt;em&gt;Raja Dayak&lt;/em&gt; yang memang merupakan pewaris tahta dari salah satu kerajaan Dayak. Dari pada banyak ngelantur gak karuan langsung saja sobat baca tulisan di bawah ini. Selamat Menikmati.....heehehehee kayak hidangan aja......sib....lanjut gan!!!!!!!!&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;diambil dari: http://edipetebang.blog.friendster.com/&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;[caption id="attachment_184" align="alignleft" width="300" caption="bolaeropa.kompas.com/photos/MATA%20AIR/5balian.jpg"]&lt;a href="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/dayak-balian.jpg"&gt;&lt;img class="size-full wp-image-184" title="dayak-balian" src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/dayak-balian.jpg" alt="" width="300" height="195" /&gt;&lt;/a&gt;[/caption]&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Raja identik dengan kekuasaan (wilayah kekuasaan) dan kekayaan. Tidak demikian halnya dengan raja Dayak: tanpa kekuasaan dan kekayaan. Belum ada setitikpun tercantum dalam berbagai buku sejarah Indonesia. Lebih tragis lagi, jangankan orang luar, orang Dayakpun banyak yang tidak tahu kalau mereka mempunyai raja. Penduduk kampung sekitarnyapun tidak tahu lagi apakah raja mereka masih ada. Sebaliknya, sebagian warga Dayak dari luar kabupatan Ketapang (di Kalbar) dan sebagian kecil Dayak di Sarawak (Malaysia) sampai kini datang memberi upeti dan masih percaya dan menghormatinya sebagai raja; apalagi mereka yang akrab dengan dunia kebathinan/supranatural.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Memang, jika pertama kali berjumpa kita akan terkejut melihat sosok seorang Raja Hulu Aik. Pembawaannya tenang, pendiam. Jika bicara dan mengambil keputusan barulah kharismanya sebagai raja nampak. Sangat bersahaja, sederhana, jujur dan apa adanya. Dialah Raja Singa Bansa (27 th), pewaris ke-6 tahta Raja Hulu Aik; satu-satunya Raja Dayak di Indonesia.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Raja Hulu Ai adalah sebutan untuk pemimpin Kerajaan Hulu Aik. Awal mula Kerajaan Hulu Aik di wilayah Pancur Sembore dan Tanjung Porikng, udik sungai Krio (kini masuk Desa Menyumbung, Kec. Sandai, Kab. Ketapang-Kalbar), sekitar tahun 1700-an. Pemimpin pertamanya Pang Ukir Empu Geremeng. Ia digantikan Bihukng Tiung. Sejak Bihukng inilah wilayah Pancur Sembore- Tanjung Porikng dinamakan kerajaan Hulu Aik. Bihukng sebagai raja I. Bihukng digantikan Bansa Pati (II), Ira Bansa (III), Temenggung Jambu (IV), Bebek (ayah Raja Singa Bansa, raja ke-5). Dan Raja Hulu Aik VI adalah Singa Bansa. Karena tidak ada wilyah kekuasaan yang jelas, pusat kerajaan Hulu Aik berpindah-pindah mengikuti siapa rajanya di sepanjang daerah aliran sungai Krio.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Secara material kehidupan keluarga Raja Singa Bansa memang sangat sederhana, bahkan bisa dikatakan miskin. Istana-nya(rumah-red.) terletak di daerah terpencil nun jauh di pedalaman, di kampung Sengkuang, Desa Menyumbung, Kec. Sandai, Kabupaten Ketapang (Kalbar). Dari Pontianak ke Ketapang, dan dari kota kabupaten Ketapang naik &lt;em&gt;speed boat&lt;/em&gt; 6 jam,dilanjutkan &lt;em&gt;speed boat&lt;/em&gt; kecil 15 PK sekitar 4 jam mudik menerjang jeram sungai Krio.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Rumahnya 8 X 7 meter3, berlantai dan berdinding papan, beratap kayu &lt;em&gt;sirap&lt;/em&gt;. Tangga dari sebatang balok kayu besi yang diberi buku-buku. Tidak ada satu kursipun di ruang tamu. Tetamu duduk di lantai beralaskan tikar pandan. Ini rumah pemberian pemerintah,katanya. Sebagai Raja Hulu Aik ia tidak boleh kerja keras, sehingga tidak mungkin bisa mempunyai rumah. Dulu rakyatnyalah yang membuatkan rumah. Di salah satu ruangan tersimpan pusaka keramat Kerajaan Hulu Aik, yakni &lt;em&gt;Bosi Koling Tungkat Rakyat&lt;/em&gt;; berujud sebuah keris dari besi kuning.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Bagi Singa Bansa, predikat Raja Hulu Aik merupakan kewajiban yang teramat berat. Sebenarnya saya sangat berat menerima jabatan ini. Namun karena sudah keturunan, tidak boleh ditolak. Mungkin inilah jalan hidup saya, katanya pasrah.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Agama Katolik yang dianutnya sejak kecilpun terpaksa harus ditinggalkan setelah dinobatkan sebagai Raja Hulu Aik VI. Istrinya, Anastasia Bijan (33 th), juga harus meninggalkan agama Katolik. Ia dan isterinya kembali ke kepercayaan kepada Duwata (Tuhanâ€”Dayak Krio) menurut orang Dayak Krio disana. Sedangkan Edi Kurniawan, anaknya, masih boleh beragama Katolik.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kewajiban utama setiap Raja Hulu Aik melaksanakan adat &lt;em&gt;Meruba&lt;/em&gt; setiap tahun. Yaitu adat memandikan/mencuci &lt;em&gt;Bosi Koling Tungkat Rakyat&lt;/em&gt; (artinya Besi Kuning Penopang Rakyat-red). Benda keramat itu berujud keris terbuat dari besi kuning, yang merupakan sumberkehidupan manusia menurut orang Dayak Krio. Benda keramat itu harus dipelihara para Raja Hulu Aik. Sebab jika habis, maka dunia pun akan berakhir.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Mulanya &lt;em&gt;Bosi Koling Tungkat Rakyat&lt;/em&gt; panjang nya sekitar 20 cm. Namun kini menurut RajaSinga Bansa tinggal 5 cm. Keris itu makin tahun mengecil karena banyak kesalahan yang dibuat oleh masyarakat,ujar Raja Singa Bansa.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Agar barang keramat tersebut tidak habis, maka setiap tahun harus dilaksanakan adat Meruba. Namun adat &lt;em&gt;Meruba&lt;/em&gt; bukan semata-mata Raja Hulu Aik mencuci &lt;em&gt;Bosi Koling Tungkat Rakyat, &lt;/em&gt;tetapi juga mengetahui apa yang bakal terjadi tahun yang akan datang.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sewaktu dilaksanakan adat Meruba tahun 1997 didalam peti tempat &lt;em&gt;Bosi Koling Tungkat Rakyat&lt;/em&gt;, terdapat pasir kering. Itu artinya, alam ini akan kemarau panjang dan semua makhluk hidup akan kesusahan. Kebetulan atai tidak, ternyata tahun 1997 Elnino menyebabkan kekeringan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sewaktu Meruba tahun 1998, di dalam peti terdapat lumpur dan air. Sedangkan Bosi koling tungkat rakyat yang dibalut kain kuning tujuh lilitan itu juga terasa panas. Artinya, situasi dunia penuh ketegangan, keruh dan kotor seperti lumpur, serta akan musim penghujan. Sampai kinipun orang Dayak Krio disana masih sangat percaya dengan pertanda alam dari adat &lt;em&gt;Meruba&lt;/em&gt;. Para petani sangat berkepentingan untuk mengetahui kondisi alam.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Selama mencuci keris dengan minyak kelapa, Raja pun tidak boleh melihat, hanya meraba sambil mengeluarkan kotoran di dalam peti. Jika dilihat, maka pelan tapi pasti akan akan buta. Ketika dilantik untuk pertama dan terakhir kalinya Raja Hulu Aik melihat keris itu, matanya pelan tapi pasti akan buta. Karena biasanya hanya melihat dengan sebelah mata, maka ciri khas Raja Hulu Aik adalah buta mata sebelah.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Raja Hulu Aik wajib berladang. Selain ladang adalah sumber dan pusat kebudayaan Dayak, hanya berladang aktivitas hidup yang tidak tergantung dengan orang lain. Hasil ladang bisa langsung dinikmati petaninya. Kalau pekerjaan lain, misalnya menyadap karet, terlebih dahulu harus dijual kepada orang lain. Mendapatkan upah dari orang lain tidak diperbolehkan bagi seorang Raja Hulu Aik.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ketika dinobatkan sebagai Raja Hulu Aik ke-6, Ia menyadari bahwa bekal ilmu pengetahuannya sebagai raja sangatlah kurang mengingat kompleksitas permasalahan manusia dewasa ini. Ia hanya sempat menamatkan SLTP. Saya rajin membaca buku-buku yang dikirimi teman-teman dari Pontianak untuk menambah wawasan,ujarnya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Harapan Raja Singa Bansa kini tertumpu pada anak satu-satunya, Elius Edi Kurniawan (7 th) yang kini duduk di kelas 2 SDN Sengkuang, Kec. Sandai (Ketapang-Kalbar). Dialah calon Raja Hulu Aik VII. â€œKalau bisa, Edi bukan hanya berpredikat Raja Hulu Aik, tetapi juga berpendidikan yang memadai,harap Singa Bansa pasrah. Bahkan pendidikan anaknya terancam gagal karena kesulitan biaya. Ia sadar, sebagai raja, sebagai panutan rakyatnya, dituntut mengikuti perkembangan jaman. Di sisi lain, setelah menjadi raja nanti aktivitas duniawinya banyak dikurangi, termasuk bekerja, dan banyak larangan (tabo).&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Symbol &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Raja Hulu Aik bukanlah raja yang mempunyai daerah kekuasaan secara definitif.Dulu wilayah kekuasaannya meliputi &lt;em&gt;Laman Sembilan Domong Sepuluh&lt;/em&gt;. Wilayah ini sekarang meliputi kabupaten Ketapang, sebagian Kab. Sanggau, dan sebagian kecil orang Dayak di Sarawak (Malaysia). Dulu, merekalah yang menghidupi Raja Hulu Aik. Raja Hulu Aik sebagai pemersatu dan perantara mereka mohon bantuan kepada Tuhan, karena raja memelihara &lt;em&gt;Bosi Koling Tungkat Rakyat&lt;/em&gt;.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kekuasan Raja Hulu Aik mulai pudar ketika datang penjajah Belanda. Dengan politik devide et impera, Dayak dan Melayu diadudomba. Menurut Mill Rockaert, sejarahwan dari Belgia, Belanda menguasai orang-orang Dayak dengan menjadikan golongan Melayu sebagai &lt;em&gt;proxy-&lt;/em&gt;nya, sehingga makin memperlemah eksistensi Raja Hulu Aik.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Setelah penjajahan berakhir, di alam kemerdekaan nasib Raja Hulu Aik malah nyaris tidak ada tempat di negara Indonesia. Dengan berbagaiteknik, model penundukkan dan penjajahan kultural gaya baru yang dibungkus pembangunan, modernisasi selama 53 tahun Indonesia merdeka, pelan tapi pasti kini Raja Hulu Aik hampir-hampir tidak ada lagi.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kami bukan tidak mau mengakui, menjunjung tinggi eksistensi Raja Hulu Aik. Tapi memang rakyat tidak pernah tahu karena dibuat sedemikian rupa agar tidak mengetahui Raja Hulu Aik,ujar Unus (65 tahun), kepala adat Dayak Kayong dan Patinggi Aris, kepala adat Dayak Simpang.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kemunculan pertama kali Raja Singa Bansa ke publik ketika pelaksanaan adat tolak bala mencegah kerusuhan di Ketapang pertengahan Juli 1998 lalu, sangat membanggakan masyarakat Dayak. Mereka kini tahu mempunyai raja. Bukan raja sebagai penguasa, punya wilayah kekuasaan; tapi raja sebagai simbol pemersatu orang Dayak untuk membangun Republik Indonesia ini.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;ïRaja Hulu Aik adalah simbol keterpinggiran orang Dayak di Republik ini. Maka kemunculannya ke muka umum dan diketahui masyarakat luas, semoga bisa membangkitkan semangat orang Dayak untuk menjadi subyek pembangunan, kata S. Djuweng, Direktur Institut Dayakologi (Pontianak).&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Raja Hulu Aik memang bukan raja seperti biasanya. Mungkin Ia raja luar biasa karena kesederhanaan dan keagungan prinsip hidupnya. Dia simbol kesederhanaan, kebersahajaan manusia Dayak yang dari dulu hingga kini termarjinalisasi di tanah tumpah darahnya sendiri.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dulu Ia dihormati, menjadi pemersatu. Kini tidak lagi. Menurut para ahli tentang Dayak, penjajahan, pembangunan dan modernisasi telah pelan tapi pasti berperan besar menghilangkan eksistensi Raja Hulu Aik. Orang Dayak itu mayoritas dalam jumlah, tapi minoritas dalam peranan,â€kata Mill Rockaert(1996). Lebih parah lagi, â€œmasyarakat Dayak itu antara ada dan tiada,â€ujar GP. Djaoeng, tokoh Dayak di Pontianak yang juga mantan anggota MPR 1993-1998.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Mungkin pelajaran 53 tahun berbangsa dan bernegara di Indonesia dengan berbagai akibatnya kini bisa mengubah pandangan para pejabat di Jakarta tentang konsep â€œmerdekaâ€ yang dituntut masyarakat adat di berbagai pelosok Nusantara, termasuk Dayak. Yakni merdeka untuk mengurus daerah sendiri dalam konteks negara kesatuan Republik Indonesia. By Edi Petebang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3509747544273203794-9162132043525832881?l=etnikprogresif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/feeds/9162132043525832881/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/09/raja-singa-bansa-simbol-kebersahajaan.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/9162132043525832881'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/9162132043525832881'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/09/raja-singa-bansa-simbol-kebersahajaan.html' title='Raja Singa Bansa; Simbol Kebersahajaan Orang Dayak'/><author><name>mbah dinan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10973480357642906490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-zT11WGzH8D8/TrzZyXePTwI/AAAAAAAABGU/mvgB2aMy4Zc/s220/etnikprogresif.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3509747544273203794.post-7669694297513236333</id><published>2010-09-06T14:44:00.001+07:00</published><updated>2011-01-11T19:59:53.723+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='musik'/><title type='text'>MUSIC OF DAYAK</title><content type='html'>Dayak tribe has various musical instruments, such as plucking instrument, beating instrument and woodwind instrument .In its daily life, music is also important means of communication and praising to the powerful, either the spirits or human being. Besides, these musical instruments were also used for accompanying various dances&amp;nbsp; Just like in the dance, they also have some forms of rhythm in the music and also certain songs to accompany a dance or certain ceremony. Each has its own uniqueness.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Drum&lt;br /&gt;There are many kinds of drums known by Dayak Tanjung tribe such as Prahi, Gimar, Tuukng Tuat and Pampong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Genikng&lt;br /&gt;It is a big gong which is hung on a supporting platform just like Javanese gongs.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gong&lt;br /&gt;It is similar with Javanese gongs, which is 50-60 cm in diameter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Glunikng&lt;br /&gt;It is a kind of beating musical instrument of which the blade are made of ulin timber. It is similar to saron in Java.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jatung Tutup&lt;br /&gt;It is a big drum with 3 m in length and 50 cm in diameter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jatung Utang&lt;br /&gt;It is a kind of beating musical instrument made of timber with shape similar to gambang (traditional instrument similar to xylophone.). It has 12 keys, hung from top to bottom and was played by both hands.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadire&lt;br /&gt;It is a woodwind musical instrument made of banana stem and has 5 bamboo pipes which is played by manipulating air inside the mouth cavity in order to produce buzzing tones.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klentangan&lt;br /&gt;It is a beating musical instrument consists of six small gongs which are arranged according to certain tone in a square-like supporting platform. It has similarity in shape to bonang instrument in Java. The small gongs are made of brass while the platform is made of timber.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampe&lt;br /&gt;It is a kind of guitar or plucking instrument with 3 or 4 strings. It usually decorated with special Dayak ornaments or carvings.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suliikng&lt;br /&gt;It is a woodwind musical instrument made of bamboo. There are some types of suliikng: Bangsi/Serunai, Suliikng Dewa, Kelaii and Tompong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taraai&lt;br /&gt;It is a small gong which is hung on a supporting platform. The beater is made of smoother timber.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uding (Uring)&lt;br /&gt;It is a kind of kecapi (plucking instrument) made of bamboo or coconut tree. This instrument is also known as Genggong (Bali) or Karinding (West Java).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MUSIC OF KUTAI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Voice/Musical Art of Kutai is largely influenced by Malay and Islamic culture. Some of them are:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tingkilan Music&lt;br /&gt;The special musical art of Kutai is Tingkilan music, which has something in common with Malayan art. Some musical instruments involved in Tingkilan are Gambus (a kind of six-string guitar) ketipung (a kind of small drum), kendang (a kind of rebana which is big and has only one side of leather). Tingkilan music is accompanied by song called betingkilan. Betingkilan means acting and replying each other. In the past, Tingkilan was held by two singers of man and women who were replying each other with the song containing advices, love, praise, or even teasing or mocking using funny words. This Tingkilan music is also used to accompany gathering dance of Kutai people, that is Jepen Dance.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Hadrah&lt;br /&gt;This art uses terbang or rebana instrument. This art is carried out while beating the terbang accompanied by songs in Arabic language taken from Barjanji Book. This kind of art is usually performed to accompany a procession of delivering groom to the bride?s house, besides, it also performed at Islamic holydays.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3509747544273203794-7669694297513236333?l=etnikprogresif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/feeds/7669694297513236333/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/09/music-of-dayak.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/7669694297513236333'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/7669694297513236333'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/09/music-of-dayak.html' title='MUSIC OF DAYAK'/><author><name>mbah dinan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10973480357642906490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-zT11WGzH8D8/TrzZyXePTwI/AAAAAAAABGU/mvgB2aMy4Zc/s220/etnikprogresif.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3509747544273203794.post-4362352949033136545</id><published>2010-09-06T14:12:00.001+07:00</published><updated>2011-01-11T19:04:27.900+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Dayak dalam Imajinasi Politik Elit</title><content type='html'>Barangkali kesan atau nasib keterbelakangan orang Dayak dan semacam itu belakangan ini tak nampak lagi. Di mana-mana, di Kalimantan Timur, dan mungkin di bagian lain pulau Borneo ini, Dayak telah menjadi salah satu ikon utama budaya daerah. Beragam artefak dan penanda kultural Dayak bisa kita saksikan hampir di berbagai tempat mendominasi wajah dunia perkotaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba cermati berbagai gedung dan bangunan fasilitas publik di kota Samarinda dan Balikpapan, seperti gedung pemerintahan, perguruan tinggi, bangunan pasar, dan bandar udara di sana. Ornamen-ornamen khas Dayak menghiasi hampir semua bangunan. Ukir-ukiran, lukisan dan patung-patung, bahkan rumah jabatan (pendopo) Gubernur Kalimantan Timur menggunakan nama lamin etam sebagai sebutan istimewanya. Selain itu lihat pula di pasar-pasar kota. Mudah sekali ditemukan pernik-pernik, souvenir seperti gantungan kunci, tas, patung dan lainnya yang berornamen Dayak dijual bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua gambaran tentang modernitas dan kemajuan itu justeru hadir bersamaan dengan menyoloknya citra etnik Dayak yang tradisional dan dulu dicitrakan primitif itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Dayak sudah bangkit. Begitu kesan banyak orang melihat gegap gempitanya representasi identitas Dayak dalam ruang publik itu. Apalagi beragam organisasi yang mengatasnamakan komunitas Dayak juga bermunculan. Kebanyakan para elitnya kalau tidak menduduki jabatan penting di birokrasi, sebagian menempati posisi sentral di partai politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak bisa dimungkiri semua kenyataan ini memperkuat kesan bahwa ekspresi kultural orang-orang Dayak bukan hanya telah terepresentasikan sepenuhnya dalam ruang publik. Di sisi lain mereka juga seolah memiliki akses kekuasaan yang terbuka atau setidaknya terwakili secara politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu adalah peristiwa langka bila orang Dayak yang tinggal di kampung terpencil bisa menghadiri kegiatan partai besar, apalagi mengenal kota Jakarta. Tapi, kini, pengalaman macam itu bukan peristiwa yang mustahil lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal September lalu, misalnya, seorang pengurus partai besar di Kaltim membawa serta seorang kakek tua warga Ritan menuju Jakarta. Tabang, nama orang itu, yang masih memelihara daun telinganya yang panjang, diajak mengikuti rakernas partai itu. Di Jakarta, lelaki tua ini menjadi tontonan peserta lainnya dan sibuk melayani ajakan foto bersama. Si politikus partai ini pun tersenyum bangga lantaran dipuji habis karena partainya mampu menembus pelosok-pelosok desa tempat tinggal si kakek tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gebyar budaya Dayak sebagai representasi identitas daerah semacam ini rupanya belakangan juga diramaikan oleh berbagai proyek kebudayaan. Keinginan untuk menggerakkan sektor pariwisata sebagai salah satu ladang penghasil devisa turut mendorong pemerintah untuk melakukan revitalisasi. Ritual-ritual, kesenian dan simbol-simbol budaya Dayak direkonstruksi habis-habisan. Seperti terlihat belakangan ini dimana pemda Kutai Kartanegara merencanakan proyek pembangunan lamin-lamin baru di sejumlah desa berpenghuni komunitas Dayak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah. Imajinasi tentang Dayak yang dulu dipandang primitif dan terbelakang itu direkonstruksi kembali. Tidak sekadar lewat himbauan dalam pidato-pidato para pejabat, tapi juga lewat promosi-promosi agen pariwisata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Siapa diuntungkan?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dicermati, dinamika semacam ini sebetulnya sudah mulai marak tahun 90-an abad lalu. Terutama soal upaya pemerintah untuk menggali sumber devisa alternatif di luar migas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, konteks kebutuhan pariwisata internasional yang memburu keotentikan dan keeksotisan budaya asli telah mendorong pemerintah dan lembaga-lembaga terkait untuk menghidupkan kembali keunikan tradisinya. Dalam konteks inilah kebudayaan Dayak yang barangkali sebagian sudah mulai ditinggalkan lalu direkonstruksi, direvitalisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamin-lamin baru dibangun kembali atas fasilitas pemerintah, yang meskipun merujuk pada model lama yang dianggap asli namun kini membawa makna dan fungsi-fungsi baru. Demikian pula simbol-simbol budaya Dayak, seperti patung, ukiran, burung Enggang atau tari-tarian yang dulu hanya bisa kita jumpai dalam upacara-upacara ritual, kini ambil bagian dalam proses komodifikasi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan beragam pertanyaan muncul di tengah gegap gempita perayaan budaya ini. Kegelisahan justru muncul dari lubuk hati warga komunitas Dayak sendiri yang tetap hidup miskin di kampung-kampung terpencil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta semacam yang berikut ini tak sedikit dijumpai di kampung-kampung itu dimana warga Dayak mulai mempertanyakan sendiri perubahan-perubahan yang dihadapinya. Seorang kontraktor pemerintah yang menggarap proyek pembangunan lamin di Desa Sungai Bawang, Kukar, menuai protes keras dari warga lantaran tak sesuai dengan fungsi tradisionalnya. â€œLamin yang dibangun itu tidak sesuai, masak dibangun seperti stadion, protes Mama Mona salah seorang penduduk Sungai Bawang. Apa yang dinyatakan sebagai ketaksesuaian itu sudah jelas tidak hanya berkenaan dengan bangunan lamin yang menurut warga Dayak sangat asing. Tetapi lebih dari itu karena dianggap tak sesuai dengan nilai dan fungsi rumah panjang itu bagi kehidupan warga Dayak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan lamin model baru itu dipastikan fungsi sosial dan budaya komunitas Dayak itu akan tergusur. Apalagi terdengar sebelumnya bahwa lamin baru itu nantinya hanya akan difungsikan sebagai tempat pertemuan adat, gelar tari-tarian, atau objek wisata belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Respon ini mau tak mau mendorong komunitas Dayak untuk mempertanyakan kembali seberapa besar keuntungan diperoleh dari kecenderungan-kecenderungan baru ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sedikit orang Dayak mengeluh terkait gambaran-gambaran negatif yang direproduksi seputar dirinya di dalam poster-poster pariwisata. Banyak pula yang kecewa lantaran mereka tidak banyak mengunduh untung dari artefak, ornamen dan simbol-simbol ke-Dayak-an yang kini dikonsumsi luas oleh orang-orang kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak patung burung Enggang dipasang di dinding dan puncak-puncak gedung pemerintahan. Tetapi tetap saja kami susah dan tidak berkesempatan hidup sejahtera, ujar Albert, seorang warga Ritan Tabang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan yang sama juga nyaris terlihat di pasar-pasar dan toko souvenir. Hampir semua penjual pernik-pernik dan hiasan khas Dayak ini didominasi oleh orang Bugis dan Banjar. Hanya sebagian kecil saja orang Dayak yang menjajakan dan menikmati buah warisan tradisi budayanya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilema-dilema macam inilah yang hampir pasti dirasakan oleh sebagian besar orang Dayak. Di satu sisi eksistensi diri dan ekspresi budaya mereka seolah diapresiasi secara luas oleh publik. Namun, di sisi lain, mereka justru menghadapi problem lama yang seolah tak pernah terselesaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama Wek dan Yurni, misalnya, mengaku revitalisasi itu tak begitu bermakna bagi hidupnya. Bagi perempuan warga Lung Anai ini, pembangunan desa budaya, lamin, dan revitalisasi seni tradisi Dayak hanyalah pengakuan artifisial terhadap tradisi budaya orang-orang Dayak. Karena yang penting bagi dirinya adalah bagaimana mereka bisa hidup tenang, nyaman dan aman di tanah tempat tinggalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mereka mengakui tradisi kami, seharusnya mereka juga mengakui hak atas tanah-tanah kami, tandas Yurni. Ya, memang menjadi sebuah ironi, bila imajinasi politik warga Dayak justeru berjarak lebar dengan imajinasi para elitnya.[] &lt;b&gt;Desantara&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3509747544273203794-4362352949033136545?l=etnikprogresif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/feeds/4362352949033136545/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/09/dayak-dalam-imajinasi-politik-elit.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/4362352949033136545'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/4362352949033136545'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/09/dayak-dalam-imajinasi-politik-elit.html' title='Dayak dalam Imajinasi Politik Elit'/><author><name>mbah dinan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10973480357642906490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-zT11WGzH8D8/TrzZyXePTwI/AAAAAAAABGU/mvgB2aMy4Zc/s220/etnikprogresif.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3509747544273203794.post-1495163989157922756</id><published>2010-09-05T01:50:00.003+07:00</published><updated>2011-01-11T19:14:23.178+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>sekilas tentang dayak punan</title><content type='html'>&lt;div style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" class="size-medium wp-image-160" height="200" src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/tarian_wadian_bulat_-_dayak_maanyan_20091030_1480570850.jpg?w=200" title="dayak" width="133" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Orang yang disebut Dayak itu hanyalah ada di Kalimantan, sedang kenapa mereka disebut Dayak atau Orang Dayak dalam bahasa Kalimantan secara umum berarti Orang Pedalaman yang jauh dan terlepas dari kehidupan kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DULUNYA memang begitu. Di mana-mana ada perkampungan suku dayak. Mereka selalu berpindah ke satu daerah lain, jika di mana mereka tinggal itu ada orang dari suku lain yang juga tinggal atau membuka perkampungan di dekat wilayah tinggal mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebut Dayak berarti tidaklah hanya untuk satu suku, melainkan bermacam-macam seperti Suku Dayak Kenyah, Suku Dayak Hiban, Suku Dayak Tunjung, Suku Dayak Bahau, Suku Dayak Benua, Dayak Basaf, dan Dayak Punan yang masih pula disertai puluhan Uma (anak suku) dan tersebar diberbagai wilayah Kalimantan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kurun waktu sebelum abad 20, secara keseluruhan Suku Dayak ini tak mengenal agama Kristen dan Islam. Yang ada pada mereka hanyalah kepercayaan pada leluhur, binatang-binatang, batu batuan, serta isyarat alam pembawaan kepercayaan Hindu kuno. Dalam menjalani kehidupan sehari-hari mereka mempercayai berbagai pantangan yang tandanya diberikan oleh alam. Pantangan dalam kehidupan masyarakat Dayak hanya ada dua. Yaitu pantangan yang membawa kebebasan sehingga populasi mereka bertambah banyak dan ada pula karena pantangan berakibat populasi mereka semakin sedikit dan kini malah hampir punah. Seperti misal kehidupan yang tak boleh berbaur dengan masyarakat lain dari suku mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantangan ini membuat mereka selalu hidup tak tenang dan selalu berpindah pindah. Sehingga kehidupan mereka tak pernah maju bahkan cendrung tambah primitif. Misalnya saja seperti Suku Dayak Punan. Suku yang satu ini sulitÂ&amp;nbsp; berkomunikasi dengan masyarakat umum. Kebanyakan mereka tinggal di hutan hutan lebat, di dalam goa-goa batu dan pegunungan yang sulit dijangkau. Sebenarnya hal tersebut bukanlah kesalahan mereka. Namun karena budayaÂ&amp;nbsp; pantangan leluhur yang tak berani mereka langgar terjadilah keadaan demikian. Hal ini sebenarnya adalah kesalahan dari leluhur mereka .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_RhVmhCkGPx4/TSxI_hSF4UI/AAAAAAAAArg/zBxUqu9T43Y/s1600/menganyam.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_RhVmhCkGPx4/TSxI_hSF4UI/AAAAAAAAArg/zBxUqu9T43Y/s1600/menganyam.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Dalam riwayat atau cerita, leluhur mereka ini asal-usulnya datang dari negeri yang bernama Yunan sebuah daerah dari daratan Cina. Mereka berasal dari keluarga salah satu kerajaan Cina yang kalah berperang yang kemudian lari bersama perahu-perahu, sehingga sampai ke tanah Pulau Kalimantan. Karena merasa aman, mereka lalu menetap di daratan tersebut. Walau demikian, mungkin akibat trauma peperangan, mereka takut bertemu dengan kelompok masyarakat manapun. Mereka kuatir pembantaian dan peperangan terulang kembali sehingga mereka bisa habis atau punah tak bersisa. Karena itulah oleh para leluhur mereka dilakukan pelarangan dan pantangan bertemu dengan orang yang bukan dari kalangan mereka.&lt;br /&gt;Memang pada Abad ke 13, daratan Cina penuh dengan pertikaian dan peperangan antara raja-raja yang berkuasa untuk menentukan salah satu kerajaan besar yang menguasai seluruh daratan Cina. Karena saling tak mengalah, maka terjadilah peperangan sesama mereka untuk menentukan kerajaan mana yang paling besar dan menguasai seluruh daratan Cina itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dayak Punan bermukim di daerah Bulungan yang kebanyakan tinggal di kawasan Kecamatan Pujungan (Long Sule) Kecamatan Lumbis dan Long Peso. Mereka terbagi dari 20 (Uma) dari Punan Basaf, Punan Berusu, Punan Bukat, dan Punan Ot. Secara umum mereka ini agak primitive dengan tinggal di goa-goa anak anak sungai dan lain sebagainya, tanpa memakai baju atau bisa disebut setengah telanjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan hidup primitif ini membawa mereka selalu berpindah pindah dari satu tempat ke lain tempat dan terus menghindar dari kelompok manusia lain. Dalam kepercayaan mereka para leluhur lah yang menghendaki demikian. Dengan banyak tanda yang diberikan semisal ada diantara mereka yang meninggal. Setelah dikubur, serentak mereka berpindah menuju daerah lain. Mereka sangat percaya kalau roh yang meninggal akan bergentayangan membuat mereka tak akan merasa tenteram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga Punan ini disebut juga warga pengembara dan hidup dalam satu kelompok tanpa berpisah pisah. Dalam keseharian jika ada di antara wanita dan pria yang saling suka, mereka melakukan hubungan intim di dalam hutan. Begitu juga dengan tradisi melahirkan, jika ada yang hamil tua dan mau melahirkan wanita tersebut dibawa ke dalam hutan atau tepi sungai untuk melahirkan bayinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keseluruhan Suku Dayak, orang Punan inilah yang paling terbelakang baik budaya maupun kehidupan mereka. Namun demikian dalam keseharian mereka selalu waspada dan siap berkelahi dengan siapapun, termasuk binatang-binatang ganas di dalam hutan. Tradisi siap tempur ini diwarisi semenjak nenek moyang mereka sebagaimana diceritakan di atas tadi. Mereka memiliki ilmu bela diri yang sangat tangguh dan berbeda dengan ilmu bela diri secara umum yang ada di masyarakat. Mungkin ilmu bela diri yang mereka miliki adalah ilmu yang mereka bawa dari daratan Cina asal-usul leluhur mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Punan ini juga memiliki kelebihan dengan penciuman mereka. Mereka tahu ada sesuatu melalui arahÂ&amp;nbsp; bertiupnya angin. Hebatnya mereka bisa membedakan bau manusia, dan binatang binatang dengan jarak yang cukup jauh. Walaupun dalam kondisi apapun mereka tahu kalau bau binatang atau manusia yang tercium membahayakan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka juga senang dengan makanan yang masih mentah seperti sayur sayuran hutan yang berasal dari pohon nibung atau banding (teras dala). Begitu pula dengan daun pakis, atau labu hutan yang memang banyak terdapat. Soal beras tak terlalu perlu bagi mereka. Makanan utama mereka adalah umbi dan umbut umbutan hutan, ditambah dengan daging buruan yang mereka temukan. Untuk daging inipun jarang mereka masak. Jika ada binatang buruan yang&lt;br /&gt;didapat mereka lebih suka menjemur daging-daging tersebut di matahari panas sehingga menjadi daging asinan atau dendeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_RhVmhCkGPx4/TSxJJKjQFzI/AAAAAAAAArk/QxB8UmqCBgQ/s1600/menyumpit.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_RhVmhCkGPx4/TSxJJKjQFzI/AAAAAAAAArk/QxB8UmqCBgQ/s1600/menyumpit.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Bagi Punan yang tinggal di dalam goa-goa, kebanyakan tak mengenal suami atau isteri. Secara umum jika mereka mau bergaul tergantung dari kesepakatan atau suka sama suka. Jadi bagi mereka tak ada istilah cemburu atau rasa memiliki sendiri. Jika ada yang hamil kemudian melahirkan, maka anak tersebut adalah anak bersama mereka. Di mana mereka saling sayang&lt;br /&gt;menyayangi dan saling merawat satu dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan dan kerja mereka sehari-hari berdasarkan limpahan kasih dari alam. Memang mereka bisa juga berhubungan dagang dengan masyarakat umum, tetapi tidak ditukar dengan uang namun dilakukan secara barter (Pertukaran). Yang dibawa mereka adalah seperti rotan, damar, kayu gaharu, sarang wallet. Yang dibarter dengan garam, gula, tembakau atau rokok, dan kain kainan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara penukaran barangpun tidak langsung bertemu dengan&amp;nbsp; orangnya, melainkan barang barang yang dibawa diletakkan disuatu tempat yang tersedia. Setelah barang mereka diambil dan dibayar pula dengan barang yang dibutuhkan mereka. Setelah yakin pengantar barang sudah tidak ada, maka barulah mereka mengambil barang yang menjadi milik mereka. Dayak Berusu, adalah salah satu anak suku Dayak Punan. Tetapi Dayak yang satu ini sudah mengenal kehidupan modern. Keberadaan mereka banyak di daerah pesisir, yaitu di daerah Sekatak Kabupaten Bulungan mendiami sekitar 13 desa. Kehidupan mereka sangat berbeda&lt;br /&gt;dengan mereka yang masih primitif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka dalam keseharian senang melakukan pesta memakan daging buruan serta meminum-minuman keras buatan mereka sendiri, yang terdiri dari bahan beras ketan dan tetumbuhan. Acara minum dan pesta tersebut mereka lakukan pada waktu panen terlebih jika ada yang meninggal dunia. Namun kebebasan bergaul sesama mereka tetap saja tak berubah. Di samping itu mereka juga tak pernah menerima masyarakat lain ke dalam kehidupan keluarga mereka. Walaupun masyarakat lain tersebut adalah orang orang dari Suku Dayak pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dihitung dari populasi keberadaan Dayak Punan ini kian tahun kian menurun bahkan cendrung punah. Tetapi walau demikian mereka tetap saja tak pula berubah dengan pola adat istiadat dari leluhur mereka yang dipercayai. Mereka juga tak mengenal pakaian bagus dan kemajuan zaman. Lebih aneh lagi dari kehidupan masyarakat Punan ini adalah secara umum mereka merasa takut dan alergi terhadap Sabun . Entah apa sebabnya tak ada yang mengetahui secara pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu semasa Orde Baru ada sermacam badan yang menangani masalah pemukiman masyarakat terasing dan liar yang bernama Resetlemen Penduduk. Rasanya keberadaan lembaga ini di bawah pemerintah daerah Propinsi Kalimantan Timur. Banyak keberhasilan dari Respen yang kini sudah berbuah dan terbukti semisal perkampungan masyarakat terasing di Gemar Baru alur Sungai Mahakam, atau perkampungan masyarakat terasing di Sungai Lati Kabupaten Berau yang dilaksanakan oleh Dinas Sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patut rasanya bagi pemerintah Daerah Kalimantan Timur memperhatikan keadaan Suku Punan. Masalahnya jika benar ditelusuri, kehidupan dan seni budaya mereka adalah merupakan suatu asset yang langka dan patut dilestarikan. Kepunahan mereka adalah juga kerugian kita bersama. Kita cukup kaya dengan berbagai keragaman adat, seni dan budaya bangsa. Untuk itu mereka adalah merupakan tanggung jawab kita bersama.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3509747544273203794-1495163989157922756?l=etnikprogresif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/feeds/1495163989157922756/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/09/sekilas-tentang-dayak-punan.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/1495163989157922756'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/1495163989157922756'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/09/sekilas-tentang-dayak-punan.html' title='sekilas tentang dayak punan'/><author><name>mbah dinan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10973480357642906490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-zT11WGzH8D8/TrzZyXePTwI/AAAAAAAABGU/mvgB2aMy4Zc/s220/etnikprogresif.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_RhVmhCkGPx4/TSxI_hSF4UI/AAAAAAAAArg/zBxUqu9T43Y/s72-c/menganyam.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3509747544273203794.post-565943811971737185</id><published>2010-09-04T14:50:00.002+07:00</published><updated>2011-01-11T19:23:54.273+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tradisi'/><title type='text'>TATO DAN EKSISTENSI BUDAYA DAYAK</title><content type='html'>&lt;div style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" class="alignleft size-medium wp-image-144" height="300" src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/kakek1.jpg?w=210" title="&amp;quot;kakek&amp;quot;" width="210" /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Tulisan ini di ikutkan dalam sayembara menulis "Quo Vadis Kebudayaan Dayak" oleh Institut Dayakology Pontianak Oktober 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abad demi abad selalu disertai oleh tanda dan simbol. Baik dalam bentuk visual maupun non visual. Manusia merupakan pelaku utama penanda itu, ia adalah mahkluk yang penuh daya cipta, ide, estetika, kreativitas, serta rasa kemanusiaannya. Dalam kehidupan komunal, manusia menyepakati berbagai aturan dan norma, bahasa, dan akhirnya menyepakati tanda, dan lambang sebagai identitas bersama. Eksistensi identitas itulah yang menuntun manusia mengurangi, menambah, mengatur dan mengubah bagian tubuh alamiahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tato adalah contoh penanda itu, karya seni hasil peradaban itu sendiri. Sekaligus merupakan sebuah media dalam masyarakat dan kelompok tertentu untuk saling mengenal dan berkomunikasi dan menunjukkan eksistensinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tato, dan tradisi yang menyertainya adalah bagian kehidupan manusia, ia ada dalam tradisi seluruh benua dibelahan bumi ini. Afrika, Amerika, Eropa, Asia, Oceania, di benua Australia dan sekitarnya. Awalnya ia adalah konsumsi lokal kelompok masyarakat semata, namun kini dalam era global ia dapat menjadi konsumsi siapa saja yang menjadi anak jaman. Kata Tato, adalah peng-Indonesiaan dari tatto (English). Yang dapat diartikan sebagai goresan, gambar, atau lambang yang membentuk sebuah desain pada kulit tubuh. Konon kata Tato, berasal dari bahasa Tahiti, yakni â€œtattauâ€�. Dan akhirnya memiliki istilah yang umumnya hampir sama diberbagai belahan dunia; tatoage, tatouage, tatowier, tattuagio, tatuar, tatuaje, tatoos, tattuaringer, tatuagens, tattoveringer, tattoos dan tatu. ( Tato, Hatib abdul kadir Olong, 83) Dalam bahasa Dayak ada yang menyebutnya Tutang, Pantang, Tedak .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tradisi orang Dayak, Tato adalah ritual tradisional yang terhubung dengan peribadatan, kesenian dan juga pengayauan. Ia melekat ditubuh secara permanen sehingga ia menjadi ikatan pertalian, penanda yang tidak terpisahkan hingga kematian, selain itu juga berfungsi menunjukkan status sosial pemakai maupun kelompok tertentu. Gambar dan motif tertentu pada tato yang dikenakan orang Dayak ada yang dipercaya penggunanya merupakan cara untuk menangkal pengaruh jahat dan membawa keselamatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bukunya Dragon and Hornbill, Bernard Sellato mengungkapkan bahwa selain Dayak Tunjung dan Dayak Daratan, hampir semua kelompok suku Dayak di Kalimantan mengenal Tato sebagai penanda dan identitas kelompoknya. Terutama yang mengemuka di Kalimantan Barat adalah kaum lelaki Iban, Kayan dan Taman. Pada orang Dayak Kayan dan Kenyah, wanita mengenakan lebih banyak tato pada tangan dan kakinya untuk mempercantik diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Sellato pula, motif yang dikenakan kaum pria Dayak pada umumnya merupakan lambang kejantanan, keberhasilan dalam perang, dan identifikasi dalam pertempuran. Motif tato yang sering di gunakan merupakan cara untuk menangkal pengaruh jahat, penyembuhan penyakit, dan mempunyai makna religius, serta merupakan lambang alam semesta yang saling melengkapi. Seorang lelaki dewasa Dayak Iban yang telah berpengalaman dalam Mengayau, ataupun perantau dan berbagai kelebihan individu segera mengenakan lambang-lambang yang menunjukkan keperkasaannya. Ini adalah kebanggaan, prestise dan sebuah fase yang didambakan kaum lelaki saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_RhVmhCkGPx4/TSxKmdTjvpI/AAAAAAAAAro/6Yl5Vk4uCXw/s1600/tato.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_RhVmhCkGPx4/TSxKmdTjvpI/AAAAAAAAAro/6Yl5Vk4uCXw/s1600/tato.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Kaum perempuan menunjukkan kepiwaiannya dalam menenun dan menari. Bagi perempuan saat itu, menenun sama dengan tindakan perang yang dijalankan kaum pria. Keindahan tenunan, pemilihan motif merupakan sebuah keahlian yang bukan sembarangan, kemampuan ini diakui masyarakat sebagai prestasi yang patut ditandai dengan tato sebagai penghargaan dan penanda. Catatan ini menerangkan bahwa Tato pada perempuan Dayak Iban dan Kayan sangat berarti. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Tato pada masa itu sangat penting keberadaannya ditengah masyarakat Dayak yang menyepakati untuk mengenakkannya. Ia adalah lambang, sekaligus representasi konsep hidup, konsep religiusitas ke-Tuhanan, sekaligus sebuah doa, bekal dan pesan bagi kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu jauh Tato berjalan mengarungi dunia, menembus semua lapisan, batasan. Namun Tato tetap bukan produk modernisme, ia lahir dan berasal dari budaya pedalaman, tradisional bahkan kuno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunga Terung yang biasa dikenakan lelaki Iban, tertanam juga di bahu Flea, bassis Red Hot Chilli Papers (Band musik Rock biasa disingkat RHCP). Mike Tyson, meletakkan motif Maori di pipi dan dahinya. Sebaliknya, seorang mahasiswa Dayak di Yogyakarta dengan gagah menyimpan Che Guevara didadanya, lalu lambang S Superman di lengan kanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tato tradisi Dayak, ditengah fenomena globalisasi yang melanda seluruh muka bumi, sejauh apa ia diperlakukan, dikenakan dan dicintai dan dipelajari sebagai bagian dari sejarah dan tradisi? Dunia tidak merampasnya, namun ia kini tak lagi hanya menjadi milik orang Dayak saja, ia menjadi bagian dari budaya yang dimiliki dunia pula, dunia telah memintanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah terjadi kedangkalan pemahaman masyarakat kita menterjemahkan Tato dalam hidup sehari-hari ( seperti disampaikan dalam opini Bapak A.Halim.R Pontianak Post, Kamis, 3 Januari 2008).Banyak anak muda yang seolah latah mengenakan Tato sebagai identitas baru. Hal ini dapat disaksikan dikalangan pemuda Dayak di Kalimantan Barat. Konsepsi Tato adat dan tradisi tak lagi dipegang teguh bahkan tidak dipahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat disayangkan, karena kedangkalan itu melanda kaum muda Dayak di Kalimantan, daerah yang memiliki tradisi dan budaya Tato yang pernah menjadi pusat perhatian dan dihargai dunia. Kalimantan Barat khususnya, adalah pemilik aset budaya tersebut, namun pengetahuan dan eksotisme lokal ini ternyata dilewatkan begitu saja sebagai suatu hal yang sia dan tak mendapat perhatian. Bukankah Tato tradisi Dayak dan orang yang mengenakannya sesungguhnya adalah sebuah aset budaya yang tak ternilai bagi pariwisata, ilmu pengetahuan dan sejarah lokal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencermati keterpurukan pemahaman dalam berbagai aspek budaya di Indonesia, dalam bukunya Semangat Indonesia: Suatu Perjalanan Budaya, Umar kayam mengungkapkan, Modernitas adalah mutlak dalam sebuah negara kebangsaan baru, dan dapat bersikap sangat keras terhadap kesenian tradisional. Modernitas menciptakan efisiensi yang tidak hanya merubah irama serta memendekkan kesenian tradisional itu, akan tetapi sesungguhnya merombak hal-hal yang paling dasar dari kesenian.( Umar Kayam,Sesuatu Indonesia)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_RhVmhCkGPx4/TSxKz10bS2I/AAAAAAAAArs/oYmqVMzKbP8/s1600/tato+tangan.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_RhVmhCkGPx4/TSxKz10bS2I/AAAAAAAAArs/oYmqVMzKbP8/s1600/tato+tangan.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Modernitas dan gelombang globalisasi memang tak dapat dihindari, namun itu tidak berarti kita boleh membiarkannya dengan leluasa mengambil dan mengganti warna, memporak porandakan tradisi semaunya. Semakin pudarnya eksistensi Tato dan berkurangnya minat generasi muda Dayak menyandang tato tradisi tak lepas dari kesadaran baru masyarakat saat masuknya agama besar, dan kombinasi faktor lainnya dalam tatanan hidup masyarakat Dayak. Namun yang harus dikritisi adalah sikap pemerintah Indonesia melalui instansi yang berwenang di Kalimantan. Telah terjadikah sebuah usaha untuk tetap menjaga Tato (dengan segala dinamika, baik dan buruknya) sebagai bagian tradisi sebagai sebuah jejak leluhur yang patut untuk dipelajari, dikaji sebagai tanggung jawab moral terhadap generasi muda Indonesia?&lt;br /&gt;Dibalik keberhasilan ekonomi dan propaganda pembangunannya, Orde Baru adalah gurita, yang mencengkeram seluruh aspek kehidupan masyarakat. Pemuda dan generasi yang sudah dewasa tentu ingat fenomena Petrus sekitar tahun 1983-1985. Shock therapy yang dimobilisasi oleh negara demi sebuah alasan ketertiban dan keamanan. Eksistensi negara dalam Petrus saat itu di akui oleh Alm. Soeharto (mantan presiden ke dua) dalam biografinya : Soeharto, Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya (1989). Tato menjadi sebuah stigmatisasi kejahatan, kriminalitas dan keberingasan yang harus ditumpas. Masyarakat kota di Jawa terhenyak dengan kerap ditemukan mayat dengan tubuh penuh lubang peluru, tusukan dan bekas penganiayaan: Umumnya tubuh itu bertato. Negara melakukan kontrol terhadap nasyarakatnya, dan masyarkat Dayak saat itu adalah masyarakat yang serta merta menjadi orang terhukum ditanah air, tempat adat istiadat dan budayanya berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak mempunyai cukup pengetahuan dan data tentang apa yang terjadi di Kalimantan saat itu, namun dengan luasnya akses informasi mengenai seluruh rangkaian kejadian tersebut dapatlah dibayangkan bagaimana kecemasan Dayak-dayak yang terlanjur bertato demi menghormati tradisinya. Sebuah hasil karya seni, tradisi yang hidup jauh sebelum mereka menjadi bagian integral Republik ini, bahkan sebelum Indonesia di proklamirkan. Identitas budaya terseret menjadi lambang kriminalitas, dan stigmatisasi itu hidup hingga kini. Sehingga ada ungkapan yang diskriminatif pada 1960-1980, bahwa â€œorang bertato tak berhak menjadi ABRI dan Pegawai Negeri. Memahami, menjalankan tradisi, ternyata dapat menjerumuskan nasib dinegara ini. Stigmatisasi yang hidup itu, mengakibatkan kecemasan dan unconfidence untuk menyatakan diri sebagai Dayak dengan tradisi mengenakan Tato sesuai tradisi Dayak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini ketika rezim telah berganti, apa yang terjadi ditengah masyarakat di Kalimantan Barat (terutama kaum muda Dayak), sesungguhnya adalah sebuah pencarian baru, aktualisasi diri atas identitas budaya dan kebanggaan sebagai empunya tradisi. Terjadi sebuah kegamangan ketika kedayakkan dipertanyakan. Saya tak bermaksud berdalih, namun generasi Dayak yang hidup dan dewasa dalam masa Orde Baru adalah generasi yang terkungkung dan terlanjur di seragamkan menjadi nasionalis setengah jadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_RhVmhCkGPx4/TSxLErP8d4I/AAAAAAAAArw/77pKZIdCF4A/s1600/edy+barau.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_RhVmhCkGPx4/TSxLErP8d4I/AAAAAAAAArw/77pKZIdCF4A/s1600/edy+barau.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Benar adanya seperti yang disampaikan Jenkins didalam catatan Van Hulten, bahwa terjadi pembudayaan terhadap orang Dayak dimasa itu, dimana keberadaan mereka dianggap dapat merusak image Indonesia sebagai negara yang progresiv ( Herman Josef Van Hulten, Hidupku diantara Suku Daya,1992). Sehingga terjadilah aneka program yang dilakukan pemerintah dengan tujuan merubah, mengajarkan, mempengaruhi dan semua itu tanpa pertimbangan bahwa negara seharusnya memberikan perlindungan yang memadai bagi budaya tradisi lokal warga negaranya. Masyarakat lokal ketika itu tidak dipersiapkan dengan baik untuk menerima para transmigran, sehingga semakin terhimpit dan goyah dalam mengidentifikasi kedudukannya ditengah masyarakat yang kian mejemuk. Setelah satu persatu rumah Panjang dirubuhkan untuk diganti dengan pola yang baru, sesungguhnya orang Dayak telah kehilangan kedaulatan adat dan tradisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak dapat di sangkal pula, melalui media elektronik terutama Televisi, pengaruh Eropa dan Amerika (barat), juga menjadi bagian penting perubahan besar yang terjadi pada masyarakat tradisi. Televisi menghantarkan realitas kedua dari belahan dunia lain, sehingga memotivasi untuk segera menjadi bagian dari dunia baru itu. Persoalan mode dan pola hidup adalah contoh yang paling cepat terlihat dari dampak itu. Pakaian, asesori dan aneka jenis perhiasan segera mempengaruhi gaya hidup. Globalisasi segera menyeragamkan manusia dalam suatu budaya massa yang sewarna, sehingga apa yang dialami masyarakat Dayak adalah fenomena biasa yang juga sedang terjadi dan dialami masyarakat dunia dibelahan bumi yang lain. Gencarnya arus globalisasi menjadi warna dan pengaruh besar yang memotivasi seorang atau kelompok segera menjadi bagian dari arus besar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdebatan dan eksistensi Tato tradisi saat ini memang tak lagi up to date untuk di benturkan dengan kekinian. Dalam agama Islam, dalam moralitas agama Kristen, Katolik juga terdapat himbauan dan larangan untuk tidak ber-Tato, yang mencerminkan manusia merupakan citra Allah. Norma dan kepantasan yang tertanam dalam masyarakat juga demikian adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serupa dengan perdebatan tentang pornografi dan pornoaksi beberapa waktu yang lalu, agama dan Seni akan selalu memiliki batas yang abstrak. Seni dan kebudayaan merangkum semua pola pikir, aktivitas sosial hingga hasil dari aktivitas tersebut. Dalam hal ini agama juga dianggap merupakan hasil dari kebudayaaan manusia setara dengan kesenian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_RhVmhCkGPx4/TSxLQsx1LEI/AAAAAAAAAr0/aMbgdeOfO_c/s1600/tato+tangan+II.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="132" src="http://4.bp.blogspot.com/_RhVmhCkGPx4/TSxLQsx1LEI/AAAAAAAAAr0/aMbgdeOfO_c/s200/tato+tangan+II.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Tato (baik dengan ritual tradisi atau tidak) merupakan anak kandung seni yang lahir dari kebudayaan, akan menjadi batu dan kerikil bila di pertemukan dengan konsep moralitas agama. Sebab (mungkin) agama akan mengurainya secara hitam dan putih, surga dan neraka. Indonesia sepantasnya berbangga bahwa tato tradisi Dayak (Kalimantan) diakui sebagai bagian dari rupa tato kuno yang hingga saat ini sebagian kecil masih bertahan eksistensinya. Tato tradisi dalam masyarakat Dayak adalah salah satu acuan dan referensi kebudayaan dunia. Untuk itu ada baiknya ia diteliti, dipelajari dan dipahami sebagai identitas budaya di Kalimantan sendiri. Sehingga ia tidak lagi disalah arti menjadi simbol sebuah ancaman ketertiban dan keamanan, ke-tidakberadab-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muatan Lokal dalam silabus dan kurikulum tentang Kalimantan Barat telah dimulai di sekolah-sekolah, apakah Tato juga layak diangkat sebagai sebuah pengetahuan baru? Seorang teman yang pernah menempuh pendidikan di SMP Negeri 4 Kabupaten Bantul di Provinsi DI. Yogyakarta pada 1998-2001 mengaku mendapatkan muatan lokal membatik, mengenal motif-motif dan membedakan motif Pekalongan, Cirebon, Yogyakarta dan Solo. Selain itu dipelajari pula kriya kayu, ukir, sablonase musik gamelan dalam karawitan Jawa dan berbagai aspek yang berkaitan dengan seni tradisi Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tak elok membandingkan secara harafiah kualitas pendidikan dikedua daerah, namun apa yang telah dilakukan di Bantul dapat menjadi contoh bagi pendidikan daerah lain terutama di Kalimantan. Dimana pendidikan tak melepaskan basis budaya dan kemanusiaan sebagai bekal bagi siswa untuk menjadi seorang anak Indonesia yang maumengenal tradisi daerah asalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan sebagai dasar pijakan, adalah sangat penting bagi generasi muda Dayak dan Kalimantan secara umum. Nasionalisasi sebagai Indonesia harus diakui politis dan berkiblat pada pola yang dipengaruhi oleh etnis (dan mungkin) agama yang dominan, sehingga apa yang disebut kearifan lokal (yang tak sejalan) diabaikan demi politisasi kebudayaan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya banyak intelektual Dayak yang menyadari, namun mengabaikan proses ini dan menganggapnya adalah kewajaran. Tak akan ada generasi Dayak yang mampu membicarakan berbagai aspek budayanya bila tak ada kesadaran kolektiv dari generasi pendahulu untuk segera mendelegasikan sebuah pengetahuan yang baik tentang budaya Dayak. Hal ini tak dapat dimulai oleh komunitas lain, ia harus dimulai oleh Dayak-Dayak itu sendiri. Intelektual Dayak, terlihat sangat sibuk berpolitik, merebut posisi yang nantinya diharapkan akan mampu membuat semuanya terlihat sangat mudah terjadi oleh kekuasaan. Akses dan kedudukan sebagai decision maker dalam politik tentu sangat penting, namun tidak serta merta merubah nasib Dayak seperti membalikkan tangan. Yang terjadi berikutnya adalah perpecahan prinsip dan orientasi antara elite itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_RhVmhCkGPx4/TSxLcNb2SHI/AAAAAAAAAr4/H7GoUmKIe2o/s1600/tatto+belakang.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/_RhVmhCkGPx4/TSxLcNb2SHI/AAAAAAAAAr4/H7GoUmKIe2o/s320/tatto+belakang.jpg" width="212" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini jelas tak sempurna. Melalui ini saya berharap keresahan tentang eskistensi budaya Dayak, terutama tentang Tato sedikit terobati. Tulisan ini tidak juga bermaksud untuk mengajak generasi muda Dayak saat ini untuk ber-tato massal sebagai identitas baru. Masih banyak cara lain untuk bangga sebagai Dayak. Ketika Rumah Betang kini dapat dihitung jumlahnya, sebagai pusat perkembangan budaya ia sebenarnya tak lagi punya wibawa yang sama sepeti dimasa silam. Untuk itu diperlukan sebuah Dayak Centre, dimana pusat studi dan pengkajian dapat dilakukan secara terpadu. Diperlukan pula perpustakaan yang menyimpan data mengenai seluruh aspek budaya Dayak. Ini mendesak untuk dilakukan mengingat pola pewarisan lisan yang diandalkan oleh generasi sebelumnya terbukti tak cukup mampu manjadi pijakan dan sumber pembelajaran. Cerita rakyat, syair-syair, pantun, mantra-mantra, hukum adat, pemetaan wilayah, catatan, jurnal, makalah, hasil penelitian, berbagai hasil kesenian (musik,senirupa,kriya), motif ukir dan semua pengetahuan yang mungkin didokumentasi segera dilakukan dengan sadar. Semua ini dilakukan tidak untuk menciptakan generasi yang primordial, etnosentris dengan fanatisme kedaerahan dan militansi suku, namun untuk menciptakan kesadaran bersama bahwa kebudayaan Dayak adalah aset daerah dan aset kekayaan budaya bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mempelajari rupa, motif, makna dan rupa Tato disekolah tidak serta merta menghimbau generasi muda untuk bertato, namun menyebarkan pengetahuan budaya. Sehingga bila Tato memang tak lagi dikenakan sebagai sebuah tanda dan identitas, ia tetap hidup sebagai hasil dari seni dan tradisi di Kalimantan Barat. Selanjutnya kita akan memiliki generasi yang paham tentang baik dan buruknya, juga sejarahnya. Dengan demikian tidak mudah terjadi latah untuk bertato tanpa memahami makna didalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebudayaan dan Tradisi Dayak banyak diperkirakan oleh Borneian akan segera hilang dari percaturan budaya nasional Indonesia, dan dunia. Ia akan segera menjadi sebuah kenangan dan memori indah masa lalu, bahwa di Kalimantan atau Borneo pernah hidup Dayak dengan kebesaran tradisi dan nilai didalam budaya. Ia akan tetap dikenang sebagai The great head hunters, atau bangsa penguasa rimba Kalimantan yang tak ada tandingnya. Dengan usaha kita bersama, berkarya dan berharaplah bahwa semua perkiraan itu tak demikian mudah terjadi, sebab ada generasi yang sadar dan disiapkan untuk menjadi generasi yang mencintai dan mau hidup didalam tradisi itu melalui transformasi budaya yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Institut Dayakologi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3509747544273203794-565943811971737185?l=etnikprogresif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/feeds/565943811971737185/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/09/tato-dan-eksistensi-budaya-dayak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/565943811971737185'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/565943811971737185'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/09/tato-dan-eksistensi-budaya-dayak.html' title='TATO DAN EKSISTENSI BUDAYA DAYAK'/><author><name>mbah dinan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10973480357642906490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-zT11WGzH8D8/TrzZyXePTwI/AAAAAAAABGU/mvgB2aMy4Zc/s220/etnikprogresif.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_RhVmhCkGPx4/TSxKmdTjvpI/AAAAAAAAAro/6Yl5Vk4uCXw/s72-c/tato.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3509747544273203794.post-3620440336931557971</id><published>2010-09-04T14:09:00.001+07:00</published><updated>2011-01-11T11:37:57.901+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>BELAJAR MEMAHAMI MULTIKULTURISME</title><content type='html'>&lt;div style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="&amp;quot;merayakan sungai&amp;quot; (30x70)fotoprint satin polyposter indoor" class="size-full wp-image-128" height="240" src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/62.jpg" title="&amp;quot;merayakan sungai&amp;quot;" width="120" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Belajar memahami MULTIKULTURALISME: melalui Pendidikan  Seni dan  Kebudayaan.&lt;br /&gt;Oleh: Iwan Djola&lt;br /&gt;&lt;a href="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/4.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Multikultural menurut kamus istilah  berarti : berkenaan dengan lebih dari dua kebudayaan. Sedangkan  Multikulturalisme sendiri dimaknai sebagai keanekaragaman kebudayaan  dalam suatu komuniti atau bangsa.&lt;br /&gt;Dengan sadar atau tidak,  multikultural telah menjadi ilham sebelum Indonesia diproklamirkan.  Keberadaan aneka suku dan budaya membuat negara ini menjadi sangat kaya  dengan perbedaan yang ada di dalamnya. Siapapun boleh menghitung ada  berapa suku yang hidup berdampingan sepanjang Sabang sampai Merauke, dan  ada berapa pengelompokan budaya yang berkembang menyertainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembicaraan  mengenai multikulturalisme sebagai konsep maupun ideologi tak akan  lepas dari sebuah cita-cita untuk menemukan sebuah tempat yang damai,  indah dan memungkinkan bagi setiap kelompok tersebut untuk hidup secara  berdampingan.  Ini tentu disebabkan oleh kecenderungan kita semua  sebagai manusia untuk mengejar standar hidup dan kesejahteraan duniawi.  Muara yang paling jelas adalah Nasionalisme sebagai satu Indonesia.  Namun pada perjalanannya tak semua proses persentuhan budaya yang  didambakan ideal dan sesuai dengan pikiran dan khayal. Tidak selamanya  asmilasi dan integrasi yang terjadi dapat berjalan dengan mulus tanpa  hambatan.  Tak pelak lagi Indonesia sebagai negeri dengan populasi besar  dan keanekaragaman paling kaya di dunia telah mengalami banyak sekali  ujian dan cobaan berkaitan dengan permasalahan tersebut diatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/4.jpg" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="&amp;quot;lapoek&amp;quot; (40x60, fotoprint diatas kanvas)" class="size-full wp-image-127" height="240" src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/4.jpg" title="&amp;quot;lapoek&amp;quot;" width="162" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Bagaimana  dengan Kalimantan Barat?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah wawancara yang dimuat Kompas  (10/2/2007), William Chang seorang pengamat permasalahan sosial dan  Rektor STT Pontianak menyampaikan bahwa Kalimantan Barat telah menjadi  provinsi sebagai â€œLaboratorium resolusi konflik dan menjadi penelitian  dan pengamatan oleh banyak pihak. Tak hanya dari dalam  tapi juga dari  luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguhkah Kalimantan Barat telah berhasil menjadi  daerah yang menjunjung tinggi multikulturalisme dalam sendi kehidupan  masyarakatnya? Siapa yang berhasil sesungguhnya? Pemerintah Daerahkah?  Tentara dan Polisi?  lembaga-lembaga, Ataukah masyarakatnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman  dalam konflik  membuat Kalimantan Barat pernah menjadi salah satu  daerah rawan. Bahkan indikasi itu tetap ada dengan terus  dipertahankannya Kodam Tanjungpura yang sebelumnya sempat di alihkan di  provinsi lain di Kalimantan. Hal tersebut memang tak serta merta menjadi  ukuran, namun Kalimantan Barat memang memiliki sejarah panjang mengenai  konflik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;William Chang juga  menyampaikan bahwa gesekan yang terjadi  adalah permasalahan budaya dan filsafat hidup yang belum, bahkan tidak  dikomunikasikan dengan jujur dan terbuka, sehingga persoalan lain,  segera terakumulasi menjadi kebencian dan kemarahan dengan bentuk  kekerasan fisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lutfi Firdausi mengungkapkan  keresahan yang sama  dalam opininya (AP Post, Sabtu 3/2/2007). Bahwa sangat diperlukan   proses asimilasi yang wajar,jujur, dan alamiah tanpa ada penggiringan  atau bahkan pilot project untuk kepentingan kelompok tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibutuhkan  usaha yang benar-benar mengedepankan kesadaran rakyat dari lapisan  paling bawah.Bahwa menghormati manusia lain adalah sebuah kewajiban dan  jaminan untuk dapat dihormati pula sebagai manusia. Keresahan ini  beralasan sebab politisasi dengan berbagai metode sangat sering kita  temui dibalik layar sebagai ketidak jujuran baru yang menyakitkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah Daerah dapat memulainya dari perbaikan pada semua  infrastrukur pendidikan dasar, menengah dan atas. Termasuklah didalamnya  kurikulum dengan muatan lokal yang sesuai dengan potensi daerah dan  budaya lokal. Pendidikan merupakan pintu penyadaran yang baik dimana  masyarakat akan semakin terbuka wawasannya terhadap pengetahuan baru dan   persentuhan dengan orang lain di luar keluarga serta  lingkungannya.Tomasevski  mmengungkapkan tiga pokok pikiran seperti dikutip Bpk.Aswandi (AP Post  Senin,9/10/2006) yaitu;  (1) pendidikan sebagai hak sipil dan politik  mempersyaratkan pemerintah untuk mengizinkan pendirian sekolah yang  menghargai kebebasan terhadap pendidikan dan dalam pendidikan;  (2)  pendidikan sebagai hak sosial dan ekonomi mempersyaratkan pemerintah  menjamin pendidikan wajib dan tanpa biaya bagi anak sekolah; dan (3)  pendidikan sebagai hak budaya mempersyaratkan dihargainya keragaman,  khususnya hak bagi kelompok minoritas dan penduduk asli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini  berkaitan dengan pepatah Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung.  Pertanyaan selanjutnya siapakah yang harus menghormati budaya lokal  ditengah persentuhan dan pembauran yang bersentuhan langsung dengan  budaya lain? Pertama yang wajib menghormatinya adalah kita sendiri  masyarakat yang lahir dari budaya tersebut dan menjadi pendukungnya.  Harapan terhadap pendidikan dengan pola tersebut dikembangkan sebagai  jawaban untuk sebuah kebanggaan, identitas, dan rasa memiliki yang  terbina sejak dini. Koentjaraningrat (Kebudayaan,mentalitas dan  Pembangunan)  menyampaikan suatu syarat mutlak bagi eksistensi suatu  budaya adalah kebanggaan, kekhasan, masyarakat pendukungnya. Saya tak  bisa membayangkan, sebuah ketergesaan yang mengakibatkan tergerusnya  budaya lokal, atau bahkan hilang sama sekali. Ketergesaan ini dapat  mementahkan segala usaha kita untuk memahami multikulturalisme sebagai  satu syarat kemajuan pembangunan. Masyarakat yang kehilangan kearifan  budayanya akan menjadi kelompok tanpa karakter dan tanpa kebanggaan, ia  potensial melahirkan fundamentalisme yang lebih ekstrim dari fanatisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meminjam  pokok pemikiran Anthony Giddens dalam Runaway World. Bahwa  keterhimpitan identitas ini dapat terjadi disebabkan oleh tradisi yang  terkepung oleh berbagai problematika modernitas dan globalisasi. Dan  pada akhirnya keresahan akan identitas itu dapat berakibat fatal sebab  ia tidak mentolerir perbedaan,kemajemukan, keragaman identitas. Ia akan  meletakkan tradisi sebagai satu-satunya jalan dan kemungkinan melakukan  dialog dengan dunia yang perdamaian serta kelangsungannya tergantung  oleh dialog tersebut. Perkiraan ini telah terjadi di belahan lain dunia  ini sebagai jawaban atas dominasi barat terhadap budaya, tradisi dan  agama lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koentjaraningrat juga menegaskan bahwa hanya ada satu  unsur kebudayaan yang dapat menonjolkan sifat khas yang saat ini masih  dimungkinkan.Baik dalam nasionalisme maupun kedaerahan sebagai pendukung  budaya dan karakter nasional. Yaitu : Kesenian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;img alt="&amp;quot;tajau&amp;quot; karya: andreas ding" class="size-medium wp-image-129" height="300" src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/guci-1.jpg?w=258" title="&amp;quot;tajau&amp;quot;" width="258" /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Kesenian menjadi  bahasa universal yang mampu menembus batas-batas identitas, suku, agama  dan kelompok. Ia mampu menjadi sebuah perekat oleh keindahan serta  kedalaman makna dalam keindahan itu sendiri. Pemerintah Daerah  sesungguhnya menyadari dan mengetahui bahwa kesenian daerah, kesenian  tradisi, budaya lokal merupakan sebuah modal yang tak boleh diabaikan  begitu saja. Ia menjadi sangat penting untuk menjaga Kalimantan Barat  menjadi sebuah daerah yang menerima kemajemukan tanpa harus kehilangan  kebanggaanya terhadap identitas lokal. Namun apakah kesungguhan  Pemerintah Daerah dalam mengembangkan pemahaman itu talah berjalan baik,  seimbang dan tulus? Itu yang perlu terus dikawal.&lt;br /&gt;Untuk itu,  tumbuhnya minat generasi muda hendaknya ditanggapi dengan usaha nyata  dengan dikembangkannya sarana pendidikan seni, ruang publik, galeri,  gedung pertunjukan. Kita bahkan memerlukan kawasan konservasi budaya dan  seni di tengah kota Pontianak untuk menjawab hal tersebut. Taman Budaya  provinsi dan Kabupaten hendaknya mampu dimaksimalkan memegang peranan  itu. Sebagai jalur komunikasi antar pemerintah dengan kalangan seniman  dan budayawan untuk terus berdialog tanpa henti, ia mungkin pantas kita  sebut mata rantai awal konservasi tersebut. Kegiatan berkesenian  sebaiknya tidak sekadar memunculkan nilai seni dari segi estetis belaka,  melainkan juga dilengkapi dengan aspek manfaat lain seperti pencerahan,  pemberdayaan, kesejahteraan, atau mempertinggi nilai- nilai  kemanusiaan,"( Danny Setiawan Gubernur Jawa Barat dalam sambutan Dies  Natalis STSI Bandung. Kompas, Rabu 30/8/ 2006).&lt;br /&gt;Yang sangat perlu di  perhatikan adalah membuat definisi dan pemahaman terhadap seni dan  budaya, budaya tradisi secara tepat. Untuk kemudian dilakukan pembinaan  dan pendampingan dengan formula yang tepat pula. Yang terjadi selama ini  adalah instant, seni dan budaya tradisi hanya dieksploitasi dan dikeruk  bagi kepentingan pariwisata yang cepat saji dan tidak mengakar pada  masyarakat tradisi tersebut. Dalam sebuah diskusi di Bantul,ditegaskan  pentingnya pemahaman tersebut, karena pariwisata adalah berbeda dengan  pemahaman seni budaya dan tradisi, pariwisata sesungguhnya tak terlalu  berpengaruh dengan eksistensi budaya tradisi.Tanpa ada pariwisata pun,  seni dan budaya tradisi tak otomatis berantakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/guci-7.jpg"&gt;&lt;img alt="&amp;quot;tajau II&amp;quot; karya: andreas ding" class="size-medium wp-image-130" height="300" src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/guci-7.jpg?w=264" title="&amp;quot;tajau II&amp;quot;" width="264" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kiranya harapan dan  mimpi tidak berlebihan. Kalimantan Barat akan tumbuh dari sebuah kerja  sama ditengah kemajemukan dan pluralitas yang menjadi kebanggaan dan  kekuatan bersama. Berharaplah mengharapkan slogan diatas tak hanya  sebatas spanduk yang manis dan berbunga-bunga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, bukan sebuah  pusat perbelanjaan megah yang dapat dianggap identitas Pontianak dan  Kalimantan Barat, tentu saja kita pantas sedikit malu karena terlanjur  meniru. Penghargaan dan pengembangan terhadap seni dan budaya lokal  menjadi hal yang tak boleh ditawar, ia menjadi warna utama daerah.  Ditengah Perdebatan  problematika Budaya Massa  di dunia yang semakin  global sebaiknya menyadarkan kita untuk tidak menjadi anak bawang. Dan  yang membuat kita mampu tetap merasa sebagai seorang tokoh utama adalah  : eksistensi seni, tradisi, budaya Kalimantan Barat.Ia adalah  identitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah tulisan Afrizal Malna menyampaikan :  Indonesia adalah sebuah diskusi budaya dan politik yang belum selesai  dibicarakan. Mungkin demikian adanya dengan Kalimantan Barat yang kita  cintai. Dan dalam menyambut Pilkada Kalimantan Barat, perlu dicermati  pasangan mana yang nantinya tak hanya sekedar menjual bunga-bunga. Tapi  menanam bunga-bunga, untuk terus menjaga Kalimantan Barat yang  multikultural dengan sebuah usaha serius melalui pembinaan seni dan  budaya tradisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Iwan Djola&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3509747544273203794-3620440336931557971?l=etnikprogresif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/feeds/3620440336931557971/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/09/belajar-memahami-multikulturisme.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/3620440336931557971'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/3620440336931557971'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/09/belajar-memahami-multikulturisme.html' title='BELAJAR MEMAHAMI MULTIKULTURISME'/><author><name>mbah dinan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10973480357642906490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-zT11WGzH8D8/TrzZyXePTwI/AAAAAAAABGU/mvgB2aMy4Zc/s220/etnikprogresif.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3509747544273203794.post-7826609102792952961</id><published>2010-09-04T13:31:00.000+07:00</published><updated>2011-01-09T02:36:33.225+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='musik'/><title type='text'>MUSIK DAN KEHIDUPAN</title><content type='html'>[caption id="attachment_116" align="alignleft" width="300" caption="kebun kopi percussion solo concert"]&lt;a href="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/41322_105337036192561_100001487960876_41435_3471510_n.jpg?w=300"&gt;&lt;img class="size-medium wp-image-116 " title="&amp;quot;KAKIRIMBA I&amp;quot;" src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/41322_105337036192561_100001487960876_41435_3471510_n.jpg?w=300" alt="kebun kopi percussion" width="300" height="200" /&gt;&lt;/a&gt;[/caption]&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;marilah sejenak kita merenungi tentang musik dan  kehidupan. terkadang  kita bertanya, apakah arti kehidupan dan apa musik itu  sebenarnya.Â  sebagian orang berpendapat bahwa kehidupan adalah  sebuah perjalanan  dan perjuangan anak manusia di dunia. hasil dari  perjuangan itu adalah sebuah  hasil atau manifestasi dari kehidupan  dunia yang kita petik pada kehidupan selanjutnya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Musik  merupakan susunan nada-nada yang teratur tinggi  rendahnya yang  diorganisasi menjadi sebuah harmoni indah. banyak lagi beberapa   pendapat tentang hidup dan musik, namun terkadang kita berpikir bahwa  semua  pendapat dapat saja dikatakan benar, tergantung dari mana kita  memandang kedua  objek tersebut.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;[caption id="attachment_117" align="alignright" width="300" caption="kebun kopi percussion solo concert"]&lt;a href="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/58420_105339606192304_100001487960876_41472_2206194_n.jpg"&gt;&lt;img class="size-medium wp-image-117 " title="&amp;quot;KAKIRIMBA I&amp;quot;" src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/58420_105339606192304_100001487960876_41472_2206194_n.jpg?w=300" alt="kebun kopi percussion pontianak" width="300" height="200" /&gt;&lt;/a&gt;[/caption]&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Musik  dan kehidupan adalah dua sisi yang bersifat  abstrak,namun keberadaannya nyata.  ia tidak dapat dilihat, tidak dapat  diraba, tetapi dapat dirasakan kehadirannya.  dalam kehidupan ada dua  elemen penting yang selalu berkaitan dan tidak dapat  dipisahkan,  seperti layaknya jasmani dan rohani manusia. dua elemen itu adalah   bunyi dan waktu. kehidupan manusia selalu terkait, dalam kata lain tidak  dapat  terpisah dari bunyi dan waktu. bunyi merupakan melodi indah,  bahasa alam yang  membelai jiwa-jiwa dalam kehidupan. dengan bunyi  manusia dapat mengerti dan  menjabarkan segala sesuatu tentang apa yang  ia jalani dan ia rasakan dalam  kehidupan. secara singkat tidak ada  manusia yang terlepas dari bunyi. orang tuli  sekalipun masih dapat  mendengar walau hanya menggunakan rasa. seperti bethooven  sewaktu  menciptakan sonata terakhirnya dalam kondisi tuli, namun ia masih bisa   mendengar dengan perasaannya. sedangkan waktu adalah langkah-langkah  kehidupan  yang membelenggu perjalanan manusia, sekaligus mendaulat masa  menjadi usang atau  menjadi sejarah untuk dikenang dalam kehidupan  manusia.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;[caption id="attachment_119" align="alignleft" width="300" caption="racun bullanak"]&lt;a href="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/59455_105339006192364_100001487960876_41464_4235128_n1.jpg"&gt;&lt;img class="size-medium wp-image-119" title="kebun kopi percussion" src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/09/59455_105339006192364_100001487960876_41464_4235128_n1.jpg?w=300" alt="kebun kopi percussion pontianak concert" width="300" height="199" /&gt;&lt;/a&gt;[/caption]&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Waktu mengikat  manusia, bahkan dengan waktu  pula kehidupan kita dibatasi. coba kita pikir,  bahwa ketuaan adalah  bentuk abstrak dari penjara waktu didunia. pernahkan kamu  mendengar  orang mati sering disebut bahwa "waktu hidupnya di dunia telah habis"   atau kontrak hidup di dunia telah habis masa berlakunya". jadi kehidupan  tidak  terlepas dari konsep bunyi dan waktu, yang bisa membebaskan dari  keduanya adalah  kematian. itupun mungkin hanya bersifat sementara,  karena mungkin kita akan  berhadapan lagi pada kehidupan selanjutnya.  kesimpulannya dalam hidup tidak  terlepas dari bunyi dan waktu. dalam  dunia musik, bunyi dapat dikatakan sebagai  nada. (kita harus membedakan  antara bunyi yang tak beraturan atau suara dengan  bunyi yang beraturan  atau nada). waktu adalah tempo atau jarak waktu dari satu  nada ke nada  berikutnya. melalui pengorganisasian bunyi (nada) dan waktu (tempo), dari sinilah sebuah musik tercipta. kita menyusun nada dan menentukan register  waktu  dalam sebuah musik sehingga menghasilkan gabungan nada dengan  tempo tertentu  menjadi sebuah karya yang indah. kesimpulannya musik  adalah mengorganisasi,  mengolah, memilih dan menyusun, nada dan waktu  menjadi musik. jadi mencipta  sebuah musik adalah melahirkan kehidupan  yang baru dalam kehidupan dunia ini.  oleh karena itu musik dapat  dikatakan sama dengan kehidupan atau bentuk  kehidupan baru dalam  kehidupan yang telah ada. namun harus kita sadari bahwa  kehidupan musik  dihuni oleh spesies lain dari manusia dan mempunyai tatanan  serta  aturan sendiri dalam dunianya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3509747544273203794-7826609102792952961?l=etnikprogresif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/feeds/7826609102792952961/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/09/musik-dan-kehidupan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/7826609102792952961'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/7826609102792952961'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/09/musik-dan-kehidupan.html' title='MUSIK DAN KEHIDUPAN'/><author><name>mbah dinan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10973480357642906490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-zT11WGzH8D8/TrzZyXePTwI/AAAAAAAABGU/mvgB2aMy4Zc/s220/etnikprogresif.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3509747544273203794.post-38269102066445698</id><published>2010-09-03T19:48:00.000+07:00</published><updated>2011-01-09T02:36:33.193+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='musik'/><title type='text'>sekilas musik indonesia menurut pembagian jenis instrumen</title><content type='html'>Indonesia  adalah sebuah negara yang terdiri dari ribuan pulau yang terbentang dari  Papua hingga Aceh. Dari sekian banyaknya pulau beserta dengan  masyarakatnya  tersebut lahir, tumbuh dan berkembang.   Seni tradisi yang merupakan identitas, jati diri, media  ekspresi dari masyarakat pendukungnya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hampir diseluruh wilayah Indonesia mempunyai seni musik  tradisional yang khas. Keunikan tersebut bisa dilihat dari teknik  permainannya, penyajiannya maupun bentuk/organologi instrumen musiknya.  Hampir seluruh seni tradisional Indonesia mempunyai semangat  kolektivitas yang tinggi sehingga dapat dikenali karakter khas  orang/masyarakat Indonesia, yaitu ramah dan sopan.  Namun berhubung  dengan perjalanan waktu dan semakin ditinggalkanya spirit dari seni  tradisi  tersebut, karekter kita semakin berubah dari sifat yang  menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan menjadi individual/egoistis.  begitu banyaknya seni tradisi yang dimiliki bangsa Indonesia, maka untuk  lebih mudah mengenalinya dapat di golongkan menjadi beberapa kelompok  yaitu alat musik/instrumen perkusi, petik dan gesek&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="text-decoration:underline;"&gt;Instrumen  Musik Perkusi.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Perkusi adalah sebutan bagi semua instrumen musik  yang teknik permainannya di pukul, baik menggunakan tangan maupun stik.  Dalam hal ini beberapa instrumen musik yang tergolong dalam alat musik  perkusi adalah, Gamelan, Arumba, Kendang, kolintang, tifa, talempong,  rebana, bedug, jimbe dan lain sebagainya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Gamelan adalah alat musik yang terbuat dari bahan  logam. Gamelan berasal dari daerah Jawa Tengah, DI. Yogyakarta, Jawa  Timur juga di Jawa Barat yang biasa disebut dengan Degung dan di Bali (Gamelan Bali).  Satu perangkat  gamelan terdiri dari  instrumen saron, demung, gong,  kenong, slenthem, bonang dan beberapa instrumen lainnya. Gamelan  mempunyai nada pentatonis/pentatonic.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Talempong adalah  seni musik tradisi dari Minangkabau/Sumatera Barat. Talempong adalah  alat musik bernada diatonis (do, re, mi, fa, sol, la, ti, do)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kolintang atau kulintang berasal dari daerah Minahasa/  Sulawesi Utara. Kolintang mempunyai tangga nada diatonis/diatonic yang  semua instrumennya terdiri dari bas, melodis dan ritmis. Bahan dasar  untuk membuat kulintang adalah   kayu. Cara untuk memainkan  alat musik ini di pukul dengan menggunakan stik.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Arumba  (alunan rumpun bambu) berasal  dari daerah Jawa Barat. Arumba adalah alat musik yang terbuat dari bhan  bambu yang di mainkan dengan melodis dan ritmis. Pada awalnya arumba  menggunakan tangga nada pentatonis namun dalam perkembangannya  menggunakan tangga nada diatonis.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kendang adalah  sejenis alat musik perkusi yang membrannya berasal dari kulit hewan.  Kendang atau gendang dapat dijumpai di banyak wilayah Indonesia.  Di Jawa barat kendang mempunyai peraanan penting dalam tarian Jaipong.  Di Jawa Tengah, Bali, DI Yogyakarta, Jawa  timur kendang selalu digunakan dalam permainan gamelan baik untuk  mengiringi, tari, wayang, ketoprak.  Tifa adalah alat musik  sejenis kendang yang dapat di jumpai di daerah Papua, Maluku dan Nias.  Rebana adalah jenis gendang yang ukuran bervariasai dari yang kecil  hingga besar. Rebana adalah alat musik yang biasa di gunakan dalam  kesenian yang bernafaskan Islam. Rebana dapat di jumpai hampir di  sebagian wilayah Indonesia.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="text-decoration:underline;"&gt;Instrumen Musik Petik &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kecapi adalah alat musik petik yang berasal dari  daerah Jawa Barat. Bentuk organologi kecapi adalah sebuah kotak kayu  yang diatasnya berjajar dawai/senar, kotak kayu tersebut berguna sebagai  resonatornya. Alat musik yang menyerupai Kecapi adalah siter dari  daerah Jawa tengah.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sasando adalah alat musik petik berasal dari daerah  Nusa tenggara timur (Timor) kecapi ini  terbuat dari bambu dengan diberi dawai/senar sedangkan untuk resonasinya  di buat dari anyaman daun lontar yang mempunyai bentuk setengah  bulatan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sampek  (sampe/sapek) adalah alat musik yang bentuknya menyerupai gitar berasal  dari daerah kalimantan. Alat musik ini terbuat dari bahan kayu yang di  penuhi dengan ornamen/ukiran yang indah. Alat musik petik lainnya yang  bentuknya menyerupai sampek adalah Hapetan daerah Tapanuli, Jungga dari  daerah Sulawesi Selatan&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="text-decoration:underline;"&gt;Instrumen  Musik Gesek.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Instrumen musik tradisional yang menggunakan teknik  permainan digesek adalah Rebab. Rebab berasal dari daerah Jawa barat,  Jawa Tengah, Jakarta  (kesenian betawi). Rebabb terbuat dari bahan kayu dan resonatornya  ditutup dengan kulit tipis, mempunyai dua buah senar/dawai dan mempunyai  tangga nada pentatonis. Instrumen musik tradisional lainnya yang  mempunyai bentuk seperti rebab adalah Ohyan yang resonatornya terbuat  dari tempurung kelapa,  rebab jenis ini dapat dijumpai di  bali, Jawa dan kalimantan selatan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="text-decoration:underline;"&gt;Instrumen  Musik Tiup&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Suling adalah instrumen musik tiup yang terbuat dari  bambu. hampir semua daerah di indonesia dapat dijumpai alat  musik ini.  Saluang adalah alat musik tiup dari  Sumatera  Barat,  serunai dapat dijumpai di sumatera utara, Kalimantan. Suling Lembang berasal dari daerah  Toraja yang mempunyai panjang antara 40-100cm dengan garis tengah 2cm.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Tarompet, serompet, selompret adalah jenis alat musik  tiup yang mempunyai 4-6 lubang nada dan bagian untuk meniupnya  berbentuk corong. Seni musik tradisi yang menggunakan alat musik seperti  ini adalah kesenian rakyat Tapanuli, Jawa Barat, Jawa Timur, Madura,  Papua.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3509747544273203794-38269102066445698?l=etnikprogresif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/feeds/38269102066445698/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/09/sekilas-musik-indonesia-menurut.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/38269102066445698'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/38269102066445698'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/09/sekilas-musik-indonesia-menurut.html' title='sekilas musik indonesia menurut pembagian jenis instrumen'/><author><name>mbah dinan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10973480357642906490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-zT11WGzH8D8/TrzZyXePTwI/AAAAAAAABGU/mvgB2aMy4Zc/s220/etnikprogresif.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3509747544273203794.post-6900711411654264353</id><published>2010-09-01T00:42:00.000+07:00</published><updated>2011-01-09T02:36:33.084+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>KEPERCAYAAN DAN AGAMA ORANG DAYAK</title><content type='html'>Masyarakat Dayak memiliki keyakinan tentang wujud tertinggi dimana segala kekuatan yang ada di jagad raya berasal dari Yang Tunggal. Wujud tertinggi itu menguasai manusia, dewa, roh halus, dan roh leluhur. Dewa dan roh halus diberi tugas untuk menjaga dan menguasai suatu tempat tertentu dalam dunia ini, sehingga untuk mewujudkan keyakinan tersebut, orang Dayak senantiasa melakukan hubungan religius dengan Jubata, roh leluhur, dan roh halus yang banyak memberikan pertolongan dalam kehidupan mereka.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sistem kepercayaan atau agama asli bagi masyarakat Dayak Kanayatn tidak dapat dipisahkan dengan nilai-nilai kehidupan mereka. Kepribadian, tingkah laku, sikap, perbuatan dan kegiatan sosial sehari-hari dibimbing, didukung, dan dihubungkan tidak saja dengan sistem kepercayaan dan ajaran agama, tetapi juga dengan nilai budaya dan etnisitas. Kompleksitas kepercayaan tersebut berhubungan erat dengan tradisi dalam masyarakat yang mengandung dua hal prinsip, yaitu (1) unsur kepercayaan nenek moyang yang menekankan pada pemujaan, dan (2) kepercayaan terhadap Tuhan Yang Esa dengan kekuasaan tertingginya sebagai kausa prima dari kehidupan manusia.1. Sistem kepercayaan seperti ini mengandung emosi religius yang merupakan unsur kesatuan dan memerlukan penegasan yang direalisasikan dalam bentuk upacara tersebut.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kebanyakan orang Dayak tidak mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa (zaman dulu-penulis), namun sikap keyakinannya tidak dapat dikategorikan dalam animisme, sebab agama justru berkembang dari asumsi dasar bahwa di dalam alam terdapat daya hidup atau kekuatan hidup dalam benda-benda tertentu atau gejala-gejala alam, seperti sungai yang mengalir deras dan bergemuruh, gunung yang tinggi, pohon besar, matahari yang bersinar terang, kilat dan petir yang menyambar dahsyat. Daya hidup atau kekuatan penghidup itulah yang dinamakan roh. Roh itu kemudian dihubungkan dengan benda-benda dan kemudian dipuja. Alam dipandang sebagai suatu kekuatan yang mengerikan, sekaligus mempesonakan. Keindahannya bukan pertama yang diperhatikan, melainkan kedahsyatan dan kekuasaan tertinggi yang terkandung dalam fenomena alam tersebut.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Bahasa untuk komunikasi yang dipakai pertama-tama adalah lambang-lambang suara dan bunyi-bunyian, seperti musik dan mantra. Maksud lambang-lambang itu sama dengan lambang bahasa, yaitu untuk mengenal, mengidentifikasi, menjinakkan dan menguasai dunia luar yang dahsyat tadi.2. Melalui bahasa simbol itu masyarakat menginterpretasikan hubungan dan eksistensi dunia gaib yang dipercaya ada untuk dapat dipahami dan diungkapkan maknanya dalam kehidupan di alam nyata.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Selain benda dan gejala alam ada pula benda yang tidak dianggap oleh orang Dayak sebagai daya penghidup, melainkan hanya sebagai sarana penampakan roh, kekuatan gaib, atau sebagai tempat keramat. Manusia menjadi sadar terhadap keberadaan yang sakral, karena yang sakral memanifestasikan dirinya, menunjukkan dirinya sebagai sesuatu yang berbeda secara menyeluruh dari yang profan. Hal ini dinamakan hierophany, yakni sesuatu yang sakral menunjukkan dirinya kepada manusia. Dari sini dapatlah dikatakan bahwa sejarah agama-agama dari primitif hingga yang paling tinggi dibentuk oleh sebagian besar hierophany, yaitu oleh manifestasi-manifestasi realitas-realitas yang sakral tadi. Misalnya yang sakral dapat mewujud dalam pantak. Pantak itu tidak disembah, tetapi pantak menunjukkan dirinya sebagai suatu yang sakral dan realitas ini dirubah menjadi realitas supranatural. Bagi mereka yang mempunyai pengalaman religius, setiap benda mempunyai kemampuan untuk menjadi perwujudan kesakralan kosmik. Bahkan kosmos ini dalam keseluruhannya dapat menjadi hierophany.3. Mereka tidak menyembah pantak tetapi melihat hierophany atau realitas-realitas sakral dalam pantak tersebut.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Setiap benda atau beberapa benda tertentu dianggap mempunyai suatu kesakralan yang dapat berpengaruh dalam kehidupan manusia. Kekuatan sakral tersebut dapat pula digunakan untuk membantu beberapa kegiatan atau pekerjaan manusia, seperti digunakan pamaliatn (dukun) untuk memanggil roh halus yang kemudian digunakan untuk membantunya dalam ritual pengobatan. Kekuatan-kekuatan seperti ini merupakan sebagian dari hierophany yang dimaksud.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Masyarakat Dayak menyebut Tuhan Yang Maha Kuasa dengan sebutan Eneâ€™ Daniang (sebagian masyarakat Dayak di Kalbar-penulis) atau Jubata, yakni penguasa jagad raya beserta isinya. Jubata berada di langit ketujuh. Ia mempunyai enam bawahan, yaitu; Neâ€™ Pangedaong, Neâ€™ Patampaâ€™ yang dipercaya membuat patung-patung dari tanah liat bentuk menyerupai manusia. Neâ€™ Amikng dan Neâ€™ Pamijar yang memberi napas kepada manusia. Neâ€™ Taratatn memberi kesegaran jasmani maupun rohani. Neâ€™ Pangingu memberikan berkat perlindungan, sedangkan Neâ€™ Pajaji dipercaya yang menjadikan manusia berbudi dan memelihara hidupnya sampai pada semua keturunannya.4. Menurut kisah penciptaan nama-nama bawahan itu adalah nama lain dari Jubata, maksudnya satu pribadi pencipta dengan beberapa nama atau satu nama dengan berbagai sifat-sifat kekuasaanNya. Hal ini sama hal nya dengan nama Allah dalam agama Islam yang mempunyai 99 nama sesuai dengan kekuasaan dan kesempurnaannya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Masyarakat Dayak meyakini dunia ini terbagi menjadi tiga bagian. Pertama adalah Dunia Atas, yaitu dunia yang ditempati oleh Jubata, dukun, dan nenek moyang yang meninggal sebagai pahlawan. Kedua adalah Dunia Tengah atau dunia fana yang ditempati manusia. Ketiga adalah Dunia Bawah yang dihuni oleh roh orang mati. Dunia Bawah ini merupakan sebuah dunia yang tidak dikenal, terisolasi, dan gelap. Setelah meninggal, setiap manusia kecuali dukun dan nenek moyang yang meninggal sebagai pahlawan akan menuju dan tinggal disitu selama-lamanya. Begitu juga dengan sumangat (jiwa) orang yang meninggal, ia tidak akan pernah kembali kekehidupan manusia dan tidak pernah pergi kemana-mana. Namun hal tersebut tergantung apakah waktu meninggal orang yang bersangkutan sudah melewati upacara adat kematian atau belum.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Masyarakat Dayak Kanayatn mempercayai adanya setan atau iblis yang disebut Pantokng Bangok Pilas Galikng. Mereka mempercayai jiwa orang jahat akan bangkit dari kuburnya dan menghantui orang yang masih hidup. Hantu semacam ini biasanya dapat menjelma dalam rupa binatang dan manusia, maka untuk menghindari gangguan roh jahat tersebut biasanya mereka memberinya dengan berbagai macam makanan atau sesaji, seperti lamang (ketan), tumpiâ€™ (cucur), minuman, daging babi dan ayam, telur, nasi dan lain sebagainya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sebagian besar masyarakat Dayak Kanayatn saat ini memeluk agama Katolik dan Protestan. Sejak tahun 1835 agama Kristen Protestan masuk ke Kalimantan, yaitu di Tangguhan dekat Mandumai, Kalimantan Tengah. Agama ini disebarkan oleh seorang misionaris berkebangsaan Jerman bernama Barnstein ke masyarakat Dayak.5. Selanjutnya agama tersebut berkembang sampai ke Kalimantan Barat dan dianut sebagian masyarakat Dayak yang bermukim di muara sungai Kapuas dan daerah pedalaman.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Penyebaran agama Kristen Katolik di Kalimantan Barat dimulai tahun 1894 oleh seorang misisonaris utusan dari Vatikan, Roma, tepatnya di daerah Sejiram. Penyebaran ini diperluas ke tempat-tempat yang banyak dihuni orang Dayak. Bukti penyebaran agama tersebut dapat dilihat dengan berdirinya Sekolah Seminari St Paulus, Yayasan Misi Nyarumkop. Sekolah ini banyak melahirkan barawan-biarawati dan guru-guru agama untuk melanjutkan misi penyebaran agama Katolik pada masyarakat Dayak Kanayatn.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Agama Islam masuk ke Kalimantan Barat sekitar tahun 1521 yang disebarkan oleh Kerajaan Johor. Masuknya agama ini melalui Kerajaan Sambas, tetapi Kerajaan tersebut tidak menyebarkan agama Islam pada suku Dayak, sehingga banyak suku Dayak memeluk agama Kristen dan hanya orang Melayu yang menganut Islam.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Masuknya Islam dalam masyarakat Dayak karena dipengaruhi suku Melayu. Bagi orang Dayak â€œmasuk Melayuâ€ sinonim dengan â€œmasuk Islamâ€.6. Oleh karena itu orang Dayak yang sudah menjadi Muslim tidak menamakan diri mereka dengan sebutan Dayak lagi, tetapi dengan sebutan Melayu yang biasanya di sebut orang Haloâ€™ atau Senganan. Selain ketiga agama di atas, di Kalimantan Barat juga terdapat agama Budha yang dianut oleh orang Cina. Masuknya agama ini dimulai pertengahan abad ke 18 tahun 1750. Waktu itu Sultan Mempawah menerima suku bangsa Tiog Hoa (sebutan untuk Cina) dari Brunai untuk menggali emas dan menyebarkan agama Budha. Sampai sekarang agama Budha masih dianut oleh orang-orang Cina yang berada di wilayah tersebut. Begitu juga dengan agama Hindu, meskipun penganutnya sangat sedikit di kalangan orang Dayak, namun agama tersebut mempunyai kedekatan dengan sistem kepercayaan nenek moyang orang Dayak, yaitu Kaharingan atau sering disebut Hindu Kaharingan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Kepustakaan&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;1. Syarif Ibrahim Alqadri, â€œMesianisme dalam Masyarakat Dayak di Kalimantanâ€, dalam Paulus Florus, ed., op.cit., p. 19.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;2. Dick Hartoko, Manusia dan Budaya (Yogyakarta: Kanisius, 1984), p. 23.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;3. Mircea Eliade, â€œThe Sacred and The Profaneâ€, terj. Nuwanto, Sakral dan Profan: Menyingkap Hakikat Agama (Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2002), pp. 3-5.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;4. Maniamas Miden Sood, Dayak Bukit, Tuhan, Manusia, Budaya (Pontianak: Institute of Dayakology Research and Development, 1999), p. 7.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;5. Tjilik Riwut, Kalimantan Membangun: Alam dan Kebudayaan (Yogyakarta: PT. Tiara Wacana, 1993), p. 133.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;6. Mikhail Coomans, Manusia Dayak; Dulu, Sekarang, Masa Depan (Jakarta: Gramedia, 1987), p. 119.&lt;strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3509747544273203794-6900711411654264353?l=etnikprogresif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/feeds/6900711411654264353/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/09/kepercayaan-dan-agama-orang-dayak.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/6900711411654264353'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/6900711411654264353'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/09/kepercayaan-dan-agama-orang-dayak.html' title='KEPERCAYAAN DAN AGAMA ORANG DAYAK'/><author><name>mbah dinan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10973480357642906490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-zT11WGzH8D8/TrzZyXePTwI/AAAAAAAABGU/mvgB2aMy4Zc/s220/etnikprogresif.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3509747544273203794.post-7465124103131973674</id><published>2010-08-31T19:27:00.000+07:00</published><updated>2011-01-09T02:36:33.057+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='musik'/><title type='text'>KREATIFITAS: kebebasan atau kebablasan......?</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;!-- .fullpost{display:inline;} --&gt;Susah mengartikan sebuah kata kreatifitas, walau nyata idiom pengertian namun karbur dalam prakteknya. siapa yang mesti disalahkan. Apakah kesalahan penafsiran atau kurangnya kesadaran dalam menerapkan sebuah proses kreatif dalam berkesenian. Mungkin juga keterbatasan logika untuk menampung pengertian global atau kita yang tidak menangkap dengan jelas apa yang dimaksud dengan kebebasan dalam kreatifitas. Sungguh problematika yang panjang dan melelahkan untuk dicerna menurut pemikiran umum tentang kreatifitas itu sendiri. &lt;p&gt;Tulisan ini bermula dari beberapa perdebatan kawan-kawan tari dan saya sebagai orang musik dalam lingkup tradisi. Adanya pandangan bahwa kebanyakan gerakan dalam tari dan musik yang masih ke-jawa-an, artinya beberapa pola gerak dan irama musik di Kalimantan Barat terasa sangat kental nuansa Jawa-nya. Mungkin ini adalah kebebasan dalam kreatifitas dalam artian bebas memasukkan unsur gerak dan irama dalam karya apa saja. Alasannya agar tidak menghambat kreatifitas dan pengayaan nilai dalam karya itu sendiri. Beberapa kawan berpendapat dengan memasukkan unsur budaya lain kedalam sebuah karya merupakan sebuah pengayaan dan perluasan wahana pengembangan, baik secara keilmuan dan nilai estetis dalam karya itu sendiri. Saya pribadi sangat setuju dengan hal ini. Namun tidak semua pengayaan melepaskan nilai budaya yang sudah ada dalam kesenian yang akan kita angkat, baik itu dalam bentuk kreasi, kontemporer, maupun modern art.&lt;/p&gt; &lt;div&gt;&lt;a href="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/08/21559_1214015356901_1424326978_30572718_7962390_n.jpg"&gt;&lt;img src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/08/21559_1214015356901_1424326978_30572718_7962390_n.jpg?w=300" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt; &lt;p&gt;Mengartikan sebuah kebebasan kreatifitas bukan harus meninggalkan bentuk yang sudah ada, sehingga adanya kecenderungan penggabungan dengan unsur budaya lain (akulturasi)namun lebih banyak menimbulkan unsur budaya daerah lain di dalam karya yang kita ciptakan. Hal ini karena adanya anggapan bahwa daerah yang budayanya maju patut dicontoh. Kemajuan budaya patut dicontoh dengan saringan dan menerapkannya dengan penyesuaian terhadap budaya setempat. Bukan mencontoh keseluruhan sampai-sampai kepada pola gerak tari dan irama musik. Mungkin ini dianggap style seorang seniman akan mengarah pada suatu budaya dimana ia belajar atau berproses kesenian. Saya masih ingat apa yang dikatakan Wayan Senen seorang dosen Etnomusikologi ISI Yogyakarta bahwa mencontoh budaya adalah mencontoh perilaku individu, sosial dalam mentransformasi budaya yang mereka terima, termasuk juga perlakuan mereka terhadap budaya baru tersebut ke dalam budaya yang mereka miliki. Dari sini dapat kita lihat bahwa mencontoh suatu referensi budaya buakan memasukkan unsur tabuhan secara membabi buta namun mencontoh proses dan apresiasi mereka terhadap apa yang dipelajari dan diterapkan dalam kehidupan mereka. Hal ini adanya kesesuaian antara yang diterima dan pengembangannya dalam lingkup budaya setempat sebagai wadah dan acuan untuk mengembangkan kreatifitas. Memasukkan unsur budaya lain itu sah-sah saja, namun bila sampai tingkatan memasukkan secara berlebihan (mengadopsi) akan menyebabkan kaburnya nilai budaya yang telah terkandung dalam kesenian itu sendiri. Hal inilah yang perlu diperhatikan seniman dalam berposes kreatif untuk menciptakan sebuah karya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menganggap sebuah pengayaan khasanah karya itu sendiri bukan harus memasukkan pola gerak dan style dari referensi suatu kelompok atau budaya lain. Saya yakin masih banyak peluang perkembangan yang dapat kita aplikasikan untuk pengembangan kesenian yang kita miliki, termasuk dari pola gerak tari dan irama musik. disamping itu sebuah referensi bukan harus kita telan mentah-mentah untuk diaplikasikan dalam budaya kita, karna sudah pasti hasilnya ketidak cocokan atau akan menghilangkan ciri khas budaya yang kita miliki.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebagian pekerja seni bertanya kenapa budaya luar yang lebih maju seperti Jogja dan Bali begitu cepat menerima budaya luar yang up to date dan menyesuaikannya dengan budaya mereka. Sebenarnya jawabannya ada dalam pertanyaan itu sendiri. Mereka mengadakan penyesuaian bukan mencontoh sehingga nilai-nilai budaya dan ciri khas kesenian mereka tidak hilang. Bila kita hanya mencontoh niscaya kita akan kehilangan jejak dengan karya kita sendiri. Sesuatu hal yang dilematis dan menyedihkan bagi perkembangan kesenian kita masing-masing.&lt;/p&gt; &lt;div&gt;&lt;a href="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/08/dsc_0106.jpg"&gt;&lt;img src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/08/dsc_0106.jpg?w=300" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt; &lt;p&gt;Solusi untuk permasalahan seperti ini adalah pengakjian karakter gerak, baik dalam tari dan musik perlu diperdalam. Dari pengkajian tersebut kita akan memahami pola masing-masing kesenian tiap budaya, sehingga kita dapat memahami bagaimana pengaplikasian terhadap karya dan penyesuaian terhadap budaya yang kita miliki. Tidak akan sama pola permainan Gamelan Yogya dan Solo walau ada beberapa kemiripan dalam pola tabuhan. begitu juga dengan pola kesenian yang berkembang di daerah kita masing-masing, tentu akan berbeda dengan pola kesenian di tempat lainnya. hal ini karena masing-masing miliki pola permainan dan latar belakang budaya yang berbeda sesuai budaya yang melingkupi kesenian tersebut. Melalui ini kita menyadari bahwa pendekatan karakter itu sangat penting dalam mempertahankan ciri khas kesenian masing-masing, karena masing-masing kesenian telah kaya dengan nilai-nilai estetis sesuai dengan budaya dimana ia lahir dan berkembang. Sekali lagi saya tidak mengatakan tidak setuju dengan kebebasan kreatifitas, namun perlu kita cerna ulang dengan pendangan budaya bahwa kreatifitas bukan menjadi sebuah produk kebablasan. Dari sini jelas bahwa dalam kreatifitas ada kebebasan bukan kebablasan.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3509747544273203794-7465124103131973674?l=etnikprogresif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/feeds/7465124103131973674/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/08/kreatifitas-kebebasan-atau-kebablasan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/7465124103131973674'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/7465124103131973674'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/08/kreatifitas-kebebasan-atau-kebablasan.html' title='KREATIFITAS: kebebasan atau kebablasan......?'/><author><name>mbah dinan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10973480357642906490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-zT11WGzH8D8/TrzZyXePTwI/AAAAAAAABGU/mvgB2aMy4Zc/s220/etnikprogresif.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3509747544273203794.post-5319816490110190497</id><published>2010-08-31T19:25:00.000+07:00</published><updated>2011-01-09T02:36:33.029+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='musik'/><title type='text'>SENIMAN MUSIK KALBAR: sosok yang terjebak antara karya dan makna</title><content type='html'>&lt;div id="hit-counter"&gt;&lt;a rel="follow" href="http://www.musikji.net/"&gt; &lt;br/&gt; &lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br/&gt;&lt;img class="alignnone" src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/08/3129961220_d46751c366_m.jpg?w=128" border="0" alt="" /&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;ketika seorang seniman bersetubuh dengan kreatifitas , ada beberapa hal yang perlu dikaji ulang, yaitu kepada siapa karya itu akan diapresiasikan &lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;&lt;a name="more" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=146952633482271314&amp;amp;postID=1403905247888701535"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;dan siapa yang bertanggung jawab memberi apresiasi, menjelaskan makna dan nilai-nilai penting dalam kesenian tersebut?Yang lebih penting lagi apakah sebuah seni perlu membeberkan sebuah makna dan bagaiman cara membacanya? Sebuah ruang ide yang menyiratkan banyak dilema.&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Berkesenian merupakan abstraksi dari ide dan olah kreatifitas seorang yang bernama seniman. Disamping itu berkesenian merupakan bagian dari pencerahan pengalaman batin menyangkut kehidupan. Suatu tindakan yang cukup arif bila seniman menuangkannya dalam sebuah karya. Namun pada sisi lain kita harus mengakui bahwa karya seni merupakan wadah penyampaian makna atau ide kepada penonton. Disnilah fenomena yang dapat menjebak kita mati dalam kreatifitas, lebih parah lagi karya hanya penggambaran kerontangnya makna. Tanpa bisa berkata, bisu terbaca angin berlalu.&lt;br/&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/08/s1152427783_30133463_7251981.jpg"&gt;&lt;img src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/08/s1152427783_30133463_7251981.jpg?w=128" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br/&gt;Kompleksitas kehidupan menjadi sebuah penjabaran zaman dalam menyapih perjalanan anak manusia di muka bumi. Begitu pula dengan karya seni, muatan-muatan nilai estetis dan simbol-simbol bunyi yang terkadang dikaitkan dengan ide merupakan jalinan kemajemukan, sekaligus rumit untuk ditelaah. belum lagi ketika kita membicarakan fungsi dan kedudukan seni itu sendiri dalam masyarakat, sebab yang menggantung seniman adanya kenyataan kompleksitas nilai dan ide yang ingin disampaikan. Sedang ide adalah geliat pengalaman hidup seniman.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Pada sisi lain mengemas ide hingga menjadi karya merupakan hal yang cukup berat. Terkadang setelah karya itu jadi kita harus berdamai dengan keterbatasan skill, peralatan, bahkan bisa jadi keterbatsan biaya yang membuat kita harus mengalah dan mengadakan peromabakan karya. Inilah yang membuat seniman terkadang tidak dapat mengekspresikan kreatifitas secara penuh. problematika inilah yang terjadi iklim berkesenian di Kalimantan Barat. bukan untuk menafikan eksistensi seorang seniman atau mengeluh karena keterbatasan tadi, namun yang perlu dicermati adalah prinsip kita terhadap kemajemukan seni yang berlapis di Kalimantan Barat. Seperti yang diutarakan Rihat Natsir Silalahi, mantan kepala Kebudayaan dan Pariwisata kepada Mbah Dinan untuk membuat suatu musik gabungan dari seluruh musik yang ada di Kalimantan Barat sehingga musik tersebut mampu mencirikan sekaligus mewakili musik Kalbar. Hal ini sama beratnya ketika Jacob Sumardjo (2000) memetakan hubungan budaya (seni) dan masyarakat.Menurutnya masyarakat Indonesia sekarang ini bergerak dari kebudayaan daerah atau kesukuan menuju kebudayaan nasional, padahal kebudayaan nasional tengah membentuk dirinya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;berkaca pada pendapat Jacob Sumardjo terhadap pandangan seniman kalbar juga demikian. Tanpa sadar kita menganggap segala sesuatu berakar pada tradisi sampai untuk membentuk kebudayaan kalbar. Padahal musik tradisi telah membentuk identitasnya masing-masing dan telah kaya dengan sentuhan-sentuhan budaya masyarakat pemiliknya. keadaan ini terjadi pula pada peletakan ide dalam karya. sebuah karya seni merupakan gabungan pola bunyi untuk dapat menggambarkan ide. selain itu bunyi teramat absurd untuk dapat ditafsirkan sebagai ide. dua masalah ini menjadi muka berbeda yang menurut seniman sekaligus filsuf harus arif dalam menafsirkannya, sekaligus meletakkannya sebagai bobot karya seni.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sebenarnya bunyi dapat dianggap sebagai wadah penggambaran suatu ide atau cerita yang akan disampaikan. Keseluruhan rangkaian bunyi sah-sah saja diartikan sebagai cerita. sedang makna adalah muatan dalam ide cerita tersebut. Melali pemilihan ini seniman dapat berlega hati dan melonggarkan ruang pilih dalam mengaplikasi kemampuannya. Bunyi si sini diartikan sebagai kota penggambaran dari cerita yang ingin disampaikan. Tanpa sadar desain dramatis dalam seni telah terbangun. Selanjutnya tinggal mengatur flot dan penyesuaian rangkaian motif dalam (penggalan karya) menjadi kesatuan utuh dan mempunyai konektifitas dengan tema.&lt;br/&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/08/img_9362.jpg"&gt;&lt;img src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/08/img_9362.jpg?w=128" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br/&gt;Langkah selanjutnya adalah tugas dari audiens untuk membaca makna dari suguhan karya. namun yang harus diingat bahwa seorang seniman juga harus mampu mengungkap arti penting dari apa yang disampaikan. Kedalaman penangkapan inilah yang berbeda, tergantung banyaknya pengalaman dan kontemplasi seorang seniman terhadap masalah yang ia angkat dalam sebuah karya seni. Harus pula diakui kedalaman penglaman tidak mempengaruhi kualitas karya, karna ini tergantung pada seberapa dalam pengetahuan musik dan komposisi yang ia kuasai.Dari sini tanpa disadari akan hadir sifat kerendahan menghormati semua karya, karena tidak adanya ke-aku-an dalam berkarya. Karya akan hidup dengan ruh dan nafasnya sendiri, sedang seniman tidak tersesat di ladang kreatifitasnya sendiri.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Pandangan lain yang menyebabkan seorang seniman terjepit kaku diantara karya dan makna adalah hanya menitik beratkan penilaian pada aspek estetis. Bila hal demikian menjadi pilihan, seniman hanya berkarya sebatas merangkai pola bunyi sehingga menjadi bentuk keindahan. hal yang dilupakan untuk diperhatikan adalah fungsi dari jalinan-jalinan motif tadi. bayangkan jika membuat rumah dengan sepuluh ruang namun yang berfungsi hanya 6 ruang. Ruang lain yang tidak berfungsi cenderung mengganggu, baik dari segi keindahan dan efektifitas. Terkadang ada karya sederhana namun enak untuk dinikmati dan ditelaah maknanya. Bila ada karya atau repertoar besar, terkadang itu bukan karyanya yang besar, namun hanya melibatkan alat musik atau pemain dalam jumlah besar. Karya tersebut belum tentu mempunyai jalinan yang berfungsi dan saling mendukung. Kesatuan yang saling mendukung, bergayut, dan saling mengangkat fungsi inilah yang disebut UNITY atau kesatuan. Kira-kira di sinilah letak salah satu kekuatan karya seni. disamping itu akan menghadirkan kekuatan yang menopang penggambaran makna yang ingin disampaikan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;sudah saatnya seniman melepaskan keakuan dalam berkarya dan menyingkirkan anggapan bahwa makna yang gambarkan oleh karya. karya manggambarkan sebuah cerita tentang hidup dan di dalamnya terdapat makna dari cerita yang disampaikan melali karya seni. sudah saatnya pula untuk lebih memperhatikan jalinan fungsi dalam bagian-bagian karya (motif) atau bahkan fungsi karya itu sendiri dalam masyarakat, agar nantinya dapat mendukung kekuatan karya dan pemaknaannya. inilah yang dinamakan konseptualitas dalam karya seni. Sekali lagi bukan mau menapikan karya seni itu sendiri, namun karya juga mempunyai ruh yang ditiupkan oleh senimannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3509747544273203794-5319816490110190497?l=etnikprogresif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/feeds/5319816490110190497/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/08/seniman-musik-kalbar-sosok-yang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/5319816490110190497'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/5319816490110190497'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/08/seniman-musik-kalbar-sosok-yang.html' title='SENIMAN MUSIK KALBAR: sosok yang terjebak antara karya dan makna'/><author><name>mbah dinan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10973480357642906490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-zT11WGzH8D8/TrzZyXePTwI/AAAAAAAABGU/mvgB2aMy4Zc/s220/etnikprogresif.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3509747544273203794.post-3354931211227063850</id><published>2010-08-31T19:23:00.000+07:00</published><updated>2011-01-09T02:36:33.003+07:00</updated><title type='text'>TIGA PELUANG PENGEMBANGAN SENI TRADISIONAL</title><content type='html'>Menyoroti perkembangan kesenian tradisional di Kalimantan Barat, terasa belum mencapai hasil yang memadai. Artinya belum ada pemaksimalan fungsi dari pengembangan dan tidak adanya kejelasan tujuan. Rekonstruksi perkembangan kesenian tradisi belum memanfaatkan peluang beberapa segi mendasar, seperti pengembangan pelaku seni (seniman), pengembangan materi (kesenian yang diangkat), dan faktor pendukung (budaya yang berkaitan). tiga hal pokok ini perlu diperhatikan karena mempunyai hubungan yang bergayut dan saling melengkapi satu sama lainnya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Pelaku kesenian identik dengan sebuah karya seni yang dihasilkan. Segenap curahan pemikiran (estetik intelektualistik), tenaga dan perlakukan terhadap seni (estetik behavior dalam kesenian), dan penjiwaan perlu mendapat perhatian, setidaknya memperhatikan kembali nilai-nilai budaya yang terkait. Seorang seniman tidak hanya menciptakan sesuatu kesenian yang begitu jadi dianggap sebagai materi yang siap saji. Perlu adanya peninjauan ulang dari segi artistik, audiens, dan konektivitas budaya dimana kesenian itu tumbuh dan berkembang, sehingga karya seni dapat membawa pesan estetik dan nilai budaya sesuai dengan latar belakang tradisi dan perkembangan zaman.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Aspek artistik merupakan keseluruhan dari elemen karya seni, baik itu nilai-nilai yang terkandung dalam karya berupa nilai budaya, dinamika, harmoni, ritme, tekstur, penjiwaan, pembawaan, dan penampilan secara keseluruhan, serta kesatuan dari keseluruhan elemen tersebut (unity). Disamping itu memperhatikan nilai-nilai yang berada diluar karya, seperti dekorasi panggung, pencahayaan (lighting), tata letak instrumentasi pementasan (peralatan dan aksesoris), tata rias dan busana. Beberapa hal ini perlu penggalian yang sesuai dengan materi yang akan ditampilkan dan hubungannya dengan budaya seni itu sendiri, agar tidak menghilangkan jejak tradisi yang diusung dalam sebuah karya seni. Hal-hal inilah yang perlu pendalaman dari beberapa pelaku kesenian untuk menumbuhkan sadar budaya dan tidak mengaburkan kesenian itu sendiri. mengangkat kesenian yang tanpa mengacu atau mempelajari budaya budaya ditakutkan akan mengaburkan budaya itu sendiri karena kesesatan persepsi tentang seni itu sendiri.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Pengembangan pelaku kesenian harus mengacu pada menumbuh kesadaran nilai dan kecintaan terhadap budaya, sehingga nantinya dapat menuangkan nilai budaya dan pesan kehidupan masyarakat pemilik kesenian tersebut. hal ini karena dalam kesenian tergambar budaya dimana kesenian itu hidup dan berkembang. Langkah-langkahnya dengan pemberian materi pelatihan, diskusi, seminar umum tentang seni, dan lain sebagainya. dari usaha ini harus dilanjutkan pada kerja nyata berupa pengembangan materi kesenian.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Pengembangan materi adalah usaha mengembangkan materi seni dalam lingkup pengembangan budaya yang bersangkutan. Pemberian pemahaman pengembangan budaya adalah mencoba untuk menuangkan budaya seni yang ada dengan melakukan modifikasi dengan tidak menghilangkan nunasa tradisi yang ada di dalamnya. Hal ini perlu diperhatikan untuk antisipasi pengembangan yang merusak dan mengaburkan nilai budaya itu sendiri. Saya yakin banyak sekali peluang perkembangan dengan mengusung motif tradisi dalam kesenian yang kita miliki, baik itu dalam musik, tari dan kesenian lainnya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Pengembangan kesenian juga harus dapat memberikan pencerahan dalam kesenian itu sendiri dan dapat bermanfaat bagi kehidupan dan kelangsungan budaya berkaitan. Artinya pengembangan dapat sejalan dengan cita-cita luhur masyarakatnya dan memberikan kontribusi bagi kelangsungan adat istiadat dalam kehidupan bermasyarkat yang berkesinambungan. Melalui ini perkembangan seni dapat melihat tujuan yang jelas dan bermanfaat bagi kehidupan masyarakat dan budaya, sesuai dengan faktor pendukung budaya yang dimiliki.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Pengembangan faktor pendukung dalam seni dapat dilihat dari dua sisi, yaitu: 1. Budaya seni dimana seni itu hidup dan berkembang; 2. Kesatuan artistik seperti yang disebutkan sebelumnya. Mengusung budaya seni harus melihat kemana arah yang sesuai dengan pengembangan. Perlunya perlakuan pembenahan dan perbaikan ide pengembangan dapat mempersempit kebuntuan dalam proses pengembangan yang selama ini dilakukan. Artinya seni dan budaya saling berkaitan dan dapat saling mendukung untuk saling mengisi dan memperkaya khasanah kekayaan daerah. Seni itu bukan hanya diangkat dan dipertontonkan, namun juga harus dipelajari dan didokumentasikan secara tertulis dan audio visual. inilah yang menjadi warisan kekayaan seni dari budaya yang kita miliki.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Tulisan ini bukan sebuah kritik namun hanya sebuah pengingat bagi kita semua yang merasa benar dalam mengambangkan kesenian namun melupan budaya yang terkandung dalam kesenian itu sendiri. Tulisan ini juga bukan bertujuan untuk menggurui, namun lebih kepada memberikan masukan untuk menyikapi kebuntuan perkembangan kesenian di Kalimantan Barat. Lebih kurangnya adalah tugas kita bersama untuk memebenahi perkembanga kesenian itu sendiri, sehingga kesenian itu dapat berkembangan dengan membawa ciri khas budayanya masing-masing. disamping itu kesenian yang berkembanga dapat memeberikan manfaat bagi kelangsungan kehidupan dan budaya yang kita miliki. Sepatah kata yang saya tinggalkan "perkembangan kesenian bukan membuat kesenian baru, namun dapat mengembangan nilai tradisi dalam suasana baru".&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3509747544273203794-3354931211227063850?l=etnikprogresif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/feeds/3354931211227063850/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/08/tiga-peluang-pengembangan-seni.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/3354931211227063850'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/3354931211227063850'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/08/tiga-peluang-pengembangan-seni.html' title='TIGA PELUANG PENGEMBANGAN SENI TRADISIONAL'/><author><name>mbah dinan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10973480357642906490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-zT11WGzH8D8/TrzZyXePTwI/AAAAAAAABGU/mvgB2aMy4Zc/s220/etnikprogresif.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3509747544273203794.post-7654399110015354256</id><published>2010-08-31T19:21:00.000+07:00</published><updated>2011-01-09T02:36:32.914+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='musik'/><title type='text'>UPACARA DAN KESENIAN DALAM MASYARAKAT DAYAK KANAYATN KALIMANTAN BARAT</title><content type='html'>Upacara dalam masyarakat Dayak Kanayatn tidak dapat dipisahkan dari sistem kepercayaan dan religi. Perwujudannya direalisasikan melalui berbagai ritus atau upacara ritual, agar mereka memperoleh pertolongan roh gaib, roh para leluhur, dan Jubata. Upacara dalam konsep kepercayaan seperti itu dimaksudkan sebagai pembuktian keyakinan terhadap Jubata sekaligus pemantapannya. Ia merupakan transpormasi hubungan manusia dengan alam gaib sebagaimana tergambar dalam setiap prosesi upacara. Di sinilah masyarakat memperjelas dan mempertegas konsep tentang apa yang mereka yakini dan adat yang mereka jalankan. Usaha memperjelas itu dilalui dengan tindakan, mantra-mantra, nyanyian, musik dan tari, sampai pada penuangan simbol-simbol tertentu. Konsep seperti ini akhirnya membawa posisi religi lebih mendominasi dalam kehidupan mereka. Mereka membagi upacara-upacara tersebut menjadi beberapa macam sebagai beikut.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;a. Upacara yang Berkaitan dengan Inisiasi&lt;br/&gt;1) Upacara sebelum perkawinan.&lt;br/&gt;Biasanya sebelum upacara pernikahan diadakan, terlebih dahulu pihak keluarga melakukan Bahaupm (musyawarah). Pada upacara ini calon mempelai laki-laki dan mempelai perempuan akan menentukan apakah suami ikut istri atau sebaliknya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;2) Upacara Ngaladakng Buntikng&lt;br/&gt;Upacara ini dilaksanakan di kamar suami istri pada saat hamil 3 bulan. Upacara ini dilakukan dengan maksud menghindari keguguran, terutama saat hamil pertama.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;3) Upacara Batalah&lt;br/&gt;Upacara Batatah, yaitu upacara untuk memberi nama pada bayi yang baru lahir. Upacara ini dilakukan setelah tiga atau tujuh hari kelahiran bayi yang didahului dengan prosesi pemandian bayi. Apabila upacara ini dilakukan pada hari ketiga setelah kelahiran bayi, maka upacara ini harus disertai dengan penyembelihan seekor ayam untuk selamatan. Bila upacara dilaksanakan pada hari ketujuh, maka disembelih seekor babi untuk perjamuan dan balas jasa yang menolong kelahiran.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;4). Upacara Batenek&lt;br/&gt;Batenek adalah upacara melubangi telinga anak perempuan. Upacara ini dilakukan setelah anak berumur antara dua sampai tiga tahun.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;5) Upacara Babalak&lt;br/&gt;Babalak adalah upacara penyunatan anak laki-laki di bawah usia sepuluh tahun. Upacara ini masih tetap dijalankan walaupun orang Dayak masih memegang kuat kepercayaan lama. Dalam upacara ini biasanya disembelih tiga ekor babi dan dua belas ekor ayam. Bagi keluarga yang tidak mampu, perayaannya dapat digabungkan dengan keluarga lain yang mampu, namun harus menyumbang seekor ayam, tiga kilogram beras sunguh (beras biasa), dan tiga kilogram beras pulut (ketan).&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;6) Upacara adat Karusakatn.&lt;br/&gt;Karusakatn adalah upacara yang berhubungan dengan kematian. Bagi orang Dayak Kanayatn, orang yang meninggal harus dikuburkan paling lama satu malam setelah meninggal. Upacara kematian ini terdiri atas beberapa bagian, yaitu: (a) Upacara adat Basubur, yakni upacara untuk memberi makan orang yang telah meninggal; (b) Upacara Barapus, yaitu upacara yang dilakukan tiga hari setelah pemakaman untuk memberitahukan kepada orang yang meninggal bahwa ia telah meninggal dunia; (c) Upacara Malahi, yaitu upacara yang dilakukan di tengah ladang seperti orang yang meninggal itu melakukan sesuatu, seperti mengerjakan ladang atau sedang panen. Pelaksanaan upacara ini bertujuan agar arwah orang yang meninggal tidak mengganggu ladang; (d) Upacara Ngalapasatn tahun mati, yakni upacara untuk melepas arwah orang yang telah meninggal setelah tiga tahun. Jika belum genap tiga tahun, maka keluarga orang yang meninggal harus memberi sesaji setiap ada upacara adat.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;b. Upacara yang Berkaitan dengan Pertanian&lt;br/&gt;Masyarakat Dayak Kanayatn merupakan masyarakat agraris, yaitu masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari pertanian. Sebagai masyarakat petani, orang Dayak Kanayatn memiliki beberapa tradisi yang berkaitan dengan siklus pertanian selama satu tahun, yang dkenal dengan adat bahuma batahutn. Menurut aturan adat dikenal sejumlah upacara yang dilakukan pada setiap tahapan pertanian. Tahap-tahap pertanian ini dimulai setiap bulan Juni sampai bulan April. Adapun urutan upacara yang dilakukan adalah sebagai berikut.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;1) Upacara Naboâ€™ Panyugu Nagari&lt;br/&gt;Sebelum membuka suatu lahan pertanian, pertama-tama seluruh penduduk desa harus meminta ijin bersama-sama dengan cara berdoa di Panyugu (tempat ibadat) ketemenggungan. Agar doa ini terkabul, maka penduduk harus bapantang (menjalankan pantang) selama tiga hari tiga malam. Selama masa bapantang itu masyarakat tidak boleh bekerja, tidak makan daging, pakis, rebung, cendawan, dan keladi. Mereka juga tidak boleh mengeluarkan kata-kata kotor atau umpatan yang dapat menyebabkan bapantang itu gagal.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;2) Upacara Naboâ€™ Panyugu Tahutn&lt;br/&gt;Upacara ini dilakukan untuk menetapkan lokasi pertanian dengan sembahyang di Panyugu untuk memohon keselamatan dan berkah yang baik. Hal ini dilakukan karena masyarakat Dayak Kanayatn parcaya bahwa keberhasialan ritual dapat menentukan keberhasilan panen mereka tahun itu.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;3) Upacara Ngawah&lt;br/&gt;Upacara ini dilakukan malam hari untuk mencari tempat yang cocok untuk menanam padi. Pencarian lahan dilakukan dengan cara mengetahui gajala-gejala alam seperti bunyi burung dan binatang yang dapat memberi petunjuk kepada mereka dalam menentukan lahan pertanian. Adapun binatang-binatang itu, seperti kunikng, kalingkoet, tampiâ€™ seak, adaâ€™atn. Jika terdengar bunyi di atas bukit, berarti pertanian di dataran tinggi akan berhasil (ladang), namun bila bunyi berasal dari lembah, maka hal itu merupakan tanda pertanian ladang akan suram. Bila ditemukan bangkai binatang di atas lahan pertanian, menandakan bahwa lahan yang sudah ditentukan itu baik untuk ditanami.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;4) Upacara Mandangar Rasi&lt;br/&gt;Upacara ini dilakukan setelah upacara Ngawah. Upacara ini merupakan tanda bunyi dari alam yang menyatakan baik atau buruk hasil pertanian nanti (pesan rasi). Apabila pesan rasi dianggap baik, maka pekerjaan diteruskan, sebaliknya bila pesan dari rasi tidak baik, maka pekerjaan harus dihentikan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;5) Kegiatan Ngaratas&lt;br/&gt;Ngaras merupakan kegiatan membuat lajur batas atas lahan pertanian dengan lahan tetangga. Setelah itu barulah bahuma (menebas) hutan sampai dengan selesai. Hal ini dilakukan untuk menghindari kesalahpahaman dan agar tidak terjadi pengambilan batas tanah ladang orang lain.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;6) Nabakng&lt;br/&gt;Nabakng adalah upacara menebang pohon setelah kegiatan menebas. Setelah itu dilakukan upacara baremah dengan membuat persembahan untuk Jubata, agar diperbolehkan memakai lahan pertanian atau ladang yang akan digarap. Bila ada pohon besar, maka pohon tersebut tidak ditebang, melainkan hanya dikurangi cabang-cabangnya. Orang Dayak Kanayatn percaya bahwa pohon besar biasanya dihinggapi burung tingkakok atau burung berkat padi yang menjaga dan menimbang buah padi, sehingga pada waktu panen nanti akan mendapat padi yang baik (berisi) dan melimpah.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;7) Ngarangke Rabaâ€™&lt;br/&gt;Ngarangke Rabaâ€™ adalah upacara mengeringkan tebasan dan tebangan dalam beberapa waktu untuk kemudian dibakar. Sebelum dibakar dilakukan ngarakiâ€™ yaitu membersihkan daerah sekeliling yang akan dibakar untuk pencegahan merambatnya api secara luas. Upacara ini dilakukan untuk meminta berkah pada roh pelindung sebelum pekerjaan selanjutnya dilaksanakan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;8) Membuat Solor atau Jaujur&lt;br/&gt;Upacara ini adalah upacara pembuatan tanda batas antara ladang milik sendiri dengan ladang tetangga agar jangan sampai terjadi kesalahpahaman karena kesalahan pemakaian batas tanah garapan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;9) Upacara Batanam Padi&lt;br/&gt;Upacara Batanam padi ini terdiri dari: (a) Upacara Ngalabuhan, yakni upacara memulai tanam padi; (b) Upacara Ngamala Lubakng Tugal. Upacara ini dilakukan di sawah atau ladang secara intensif agar padi yang ditanam dapat tumbuh dengan baik, berhasil dan tidak diganggu hama; (c) Upacara Ngiliratn penyakit padi atau menghanyutkan padi-padi bekas gigitan hama maupun binatang ke sungai dengan maksud membuang sial (penyakit).&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;10) Upacara Ngabati&lt;br/&gt;Upacara ini dilaksanakan di tengah ladang pada saat hendak panen padi atau saat padi menguning. Upacara ini merupakan permohonan agar padi yang telah menguning tersebut tidak diganggu hama tikus dan agar semua padi berisi, sehingga bila panen tiba hasilnya banyak.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;11) Upacara Naik Dango&lt;br/&gt;Upacara Naik Dango merupakan upacara inti dari beberapa tahapan upacara yang berkaitan dengan panen padi (pesta penen). Upacara ini merupakan upacara syukuran padi yang dilaksanakan masyarakat Dayak Kanayatn setiap setahun sekali pada tanggal 27 April. Pelaksanaannya dilakukan secara bergiliran setiap kecamatan di Kabupaten Landak. Upacara ini merupakan upacara besar yang banyak melibatkan masyarakat dan kesenian di dalamnya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;3. Tradisi Lisan dan Adat Dayak Kanayatn&lt;br/&gt;Tradisi lisan Dayak Kanayatn sama halnya dengan adat yang berlaku dalam kehidupan mereka. Adat ini meliputi seluruh aspek kehidupan dan berpengaruh pada kehidupan masyarakat. Ia mengatur kehidupan masyarakat dalam berinteraksi. Ketika masyarakat Dayak Kanayatn melanggar hukum adat, mereka sangat malu ketimbang mereka melanggar peraturan pemerintah. Hal ini karena adat merupakan peraturan warisan nenek moyang yang bersifat universal dan mengikat. Tidak menghormati adat dianggap â€œtidak beradatâ€. Bila masyarakat Dayak Kanayatn tidak beradat, maka dapat disamakan bukan orang Dayak. Hal seperti inilah yang menyebabkan tradisi lisan dan adat sangat dihormati, serta dijunjung tinggi dalam kehidupan masyarakatnya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Tradisi lisan Dayak Kanayatn terkait erat dengan upacara. Semua tata pergaulan, perilaku dan upacara dalam masyarakat Dayak Kanayatn diatur oleh adat dan adanya sangsi bagi setiap pelanggaran. Melalui adat ini pula semua bentuk upacara dan musik dalam upacara dapat terjaga kelestariannya. Artinya adat atau tradisi lisan Dayak Kanayatn mengharuskan adanya upacara, sedangkan upacara berkaitan erat dengan musik sebagai bagian upacara.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Tradisi lisan masyarakat Dayak Kanayatn merupakan bagian dari mitos yang berhubungan dengan kepercayaan. Mitos-mitos ini menerangkan suatu kejadian yang suci atau suatu peristiwa yang dialami nenek moyang jaman dahulu. Masa purba merupakan masa yang suci dan pada waktu itu masih terjadi pertemuan dengan Ilahi. Keseluruhan mitos ini menjadi dasar tingkah laku untuk mendukung stabilitas pergaulan di masyarakat. Masyarakat sangat menghormati mitos, karena adat lahir dari mitos tersebut. Oleh karena itu wajar saja bila sebagian orang menganggap mitos sebagai kitab sucinya masyarakat Dayak Kanayatn, bahkan bagi seluruh masyarakat Dayak di Kalimantan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Tradisi lisan Dayak Kanayatn terbagi menjadi dua bagian, yaitu yang bercorak cerita, seperti cerita rakyat, legenda, epik, dan yang bercorak bukan cerita, seperti ungkapan, nyanyian puisi lisan, peraturan dan upacara adat.1. Adapun tradisi lisan tersebut adalah sebagai berikut.&lt;br/&gt;a. Bercorak Cerita&lt;br/&gt;1) Singara, jenis cerita rakyat biasa yang berhubungan dengan situasi kehidupan di masyarakat, seperti cerita jenaka, cerita pelipur lara, cerita binatang dan cerita percintaan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;2) Gesah, adalah cerita yang berhubungan dengan agama lama atau agama asli dan asal usul kehidupan. Contohnya cerita pahlawan, asal usul dunia, kehidupan, manusia, asal usul padi dan bercocok tanam (berladang), dan lain sebagainya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;3) Osolatn, yaitu kisah asal usul keturunan (jujuhatn) atau tentang silsilah keturunan suatu keluarga yang dapat dilacak lewat cerita tersebut. Contohnya seperti Osolatn atau jujuhatn Bukit Talaga.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;4) Batimakng, yaitu kegiatan yang bersifat hiburan atau bujukan orang tua untuk anak-anak. Biasanya dibawakan pada waktu senggang atau saat mau tidur, seperti pepatah, pantun atau lagu (lagu pengantar tidur).&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;5) Pantutn, yaitu cerita berbentuk puisi yang berisi nasehat, peringatan, dan kasih sayang. Pantun ini banyak dibawakan dalam lagu-lagu Jonggan&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;6) Sungkalatn atau sungkaatn, yaitu cerita berbentuk perumpamaan atau pepatah tentang peringatan, penjelasan dan nasehat.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;7) Salong, yaitu cerita dalam bentuk sindiran tentang suatu kebiasaan atau perilaku yang kurang baik mengenai pergaulan dalam masyarakat.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;b. Bercorak Bukan Cerita&lt;br/&gt;1) Samporeâ€™, yaitu upacara yang berhubungan dengan rehabilitasi hubungan yang pernah cacat atau selisih, seperti dalam upacara perobatan Lenggang, Liatn, Dendo, Babuis (karena jukat atau roh halus yang mengganggu), Bapipis dan Batapukng Tawar.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;2) Lalaâ€™, adalah semacam pantang atau larangan bagi masyarakat Kanayatn untuk makan makanan jenis tertentu, melakukan perkerjaan tertentu. Sebagai contoh bapantang sehabis mengadakan upacara kaâ€™ Panyugu yang dilakukan masyarakat Dayak Kanayatn di sekitar Bukit Talaga.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;3) Tanung, yaitu menentukan jenis perbuatan untuk mencari cara terbaik sebelum melakukan sesuatu dalam keadaan mendesak, seperti keadaan gawat, perang dan lain sebagainya. Tanung ini terbagi menjadi 5 macam, yaitu Tanung Aiâ€™, Tanung Tali, Tanung Karakeâ€™, Tanung Sarakng Pinang, dan Tanung Dapaâ€™ Layakng.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;4) Baremah, yaitu permohonan penutup dalam suatu upacara atau sebagai tanda syukur atas hasil pekerjaan, seperti upacara pasca panen.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;5) Renyah, yaitu sejenis pantun yang dilagukan yang biasanya berisi nasehat, sindiran, dan pesan yang terkait dengan kehidupan. Renyah biasanya dituturkan saat ke ladang, kebun dan hutan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;6) Baceceâ€™, yaitu perundingan para tokoh kampung, sanak keluarga, kerabat sekampung mengenai budi, hutang orang yang telah meninggal.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;7) Pangkaâ€™, yaitu upacara untuk memperingati Neâ€™ Baruakng sewaktu turun ke bumi membawa padi dan mengajarkan tradisi berladang kepada manusia.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;8) Muraâ€™atn, yaitu melakukan doa secara pribadi agar tidak ditimpa malapetaka.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;9) Liatn, yaitu upacara ritual yang bersifat magis dan sakral dalam bentuk tarian dan doa atau vokal mantra (mantra yang dinyanyikan). Tujuannya pelaksanaan upacara ini tergantung dari orang atau keluarga yang melaksanakan, seperti berobat, mayar niat (membayar niat), ngangkat paridup (mengharap kehidupan yang lebih baik), dan lain sebagainya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;10) Mulo, yaitu pengucilan bagi orang yang melanggar adat istiadat dalam suatu masyarakat adat.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;11) Gawe atau Gawai, yaitu upacara syukur atas apa yang telah diberikan Jubata atau menandai awal suatu kehidupan baru, seperti Gawe pasca panen, Gawe Balak (awal masa remaja), dan Gawe Penganten (menempuh hidup baru dalam berkeluarga).&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;12) Totokng, yaitu upacara penghormatan kepada kepala kayauan (kepala hasil mangayau) agar jangan sampai terkena kutuk kepala tersebut. Upacara ini dapat pula dikatakan untuk membuang sangar (dosa) atas kesalahan yang dilakukan saat Mangayau (memotong kepala) zaman dahulu.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;13) Nyangahatn, yaitu upacara sembahyang atau berdoa menurut agama asli orang Dayak Kanayatn. Nyangahatn biasanya dilakukan sebelum melakukan sesuatu atau pada awal melakukan suatu upacara agar selamat dan terhindar dari gangguan makhluk halus. Nyangahatn juga digunakan untuk memanggil roh halus yang akan dimintai bantuannya dalam ritual pengobatan tradisional, seperti pengobatan dalam upacara liatn.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;14) Dendo dan Lenggang, yaitu ritual perdukunan tradisi Dayak Kanayatn yang bersifat magis dan mendapat pengaruh budaya Melayu dan Cina. Tujuan upacara ini biasanya menyesuaikan niat orang atau keluarga yang melaksanakan upacara tersebut.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;C. Kesenian&lt;br/&gt;1. Seni Rupa&lt;br/&gt;a. Seni Pahat dan Seni Ukir&lt;br/&gt;Seni patung dalam masyarakat Dayak Kanayatn biasa disebut pantak. Pantak merupakan simbol penting dalam pemujaan sebagai penggambaran arwah nenek moyang yang telah meninggal. Pantak dibuat untuk menangkal roh jahat yang mengancam warga (malapetaka). Biasanya dipasang di jalan masuk kampung maupun panyugu.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Seni topeng dan seni patung saat ini sukar sekali ditemukan, terutama ketika agama Kristen dan Islam mulai masuk dalam kehidupan orang Dayak. Bentuk kesenian ini dilarang karena dianggap menyembah berhala atau bertentangan dengan konsep keimanan yang berlaku dalam agama tersebut.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Seni ukir merupakan salah satu bentuk penyimbolan yang paling menonjol dalam kebudayaan Dayak. Karakter kehidupan dan budaya masyarakatnya tergambar dalam kesenian tersebut, sehingga dengan melihat kesenian itu dapat diketahui kebudayaan suku yang bersangkutan. Hal ini karena kesenian tradisional tumbuh sebagai bagian dari kebudayaan masyarakat diwilayahnya, dengan demikian ia mengandung sifat-sifat atau ciri-ciri yang khas dari masyarakatnya pula.â€2.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Seni ukir biasanya terdapat pada ornamen tiang utama rumah panjang atau tiang teras. Selain itu juga ada tiang sandung (tempat menyimpan tulang orang mati) yang didirikan di depan rumah penduduk sebagai lambang keperkasaan sesorang. Di bagian atap tiang sandung dihiasi ukiran burung enggang yang melambangkan keagungan dan kewibawaaan tuan rumah.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ketika arus modernisasi masuk dalam kehidupan orang Dayak, seni ukir ini hampir tidak ditemukan lagi, seiring musnahnya rumah panjang dan pengaruh agama baru. Seni ukir telah tergantikan dengan pekerjaan lain untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman, sehingga segala macam kesenian yang tidak dapat bertahan telah terpinggirkan atau digantikan dengan pekerjaan lain yang lebih menguntungkan dan dianggap dapat mengatasi masalah perekonomian hidup masyarakat Dayak Kanayatn secara umum. Hal ini berkaitan dengan istilah â€œnegara yang sedang berkembangâ€, dimana pengertian proses pengintegrasian unsur-unsur tradisional untuk suatu solidaritas nasional, mencakup juga pengembangan hasil integrasi unsur-unsur tadi untuk peningkatan kesejahteraan kehidupan bangsa yang menjunjung unsur-unsur kebudayaan itu. Warisan lama yang berbentuk pengaturan kehidupan material yang dianggap tidak mungkin bisa mengatasi tuntutan persoalan mereka yang baru akan ditinjau kembali dan diusahakan pembaharuanâ€.3. Oleh karena itu seni ukir yang dianggap tidak dapat mengatasi permasalahan ekonomi ditinggalkan dan diganti dengan pekerjaan lain yang dianggap mampu mengatasi masalah mereka. Selain itu tidak ada pengenalan dan pembelajaran kepada generasi berikutnya mengenai kesenian tersebut, sehingga kaum muda Dayak Kanayatn tidak banyak mengetahui tentang seni ukir yang pernah ada dalam kebudayaan mereka.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;b. Seni Anyam&lt;br/&gt;Kegiatan kreatif bagi masyarakat Dayak Kanayatn adalah seni anyam. Seni semacam ini sudah lama diwariskan secara turun-temurun. Bahannya kebanyakan dari rotan, sedangkan hasilnya berupa bakul-bakul kecil dan besar, keranjang, topi besar atau caping yang motifnya beragam. Disamping itu ada pula seni menganyam mute warna-warni yang dijadikan baju, ikat kepala, sampai kepada gantungan kunci dan tempat pena sebagai souvenir.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;c. Seni Menempa Besi&lt;br/&gt;Masyarakat Kanayatn banyak yang pandai menempa besi yang biasa disebut pantanatn. Beragam bentuk benda atau alat dari hasil pekerjaan menempa besi memiliki arti penting dalam kehidupan sehari-hari, yaitu untuk melambangkan keterikatan mereka dengan adat dan tradisi. Hasilnya berupa parang, seraut, beliung (sejenis kampak) dan lain sebagainya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;d. Seni Tenun&lt;br/&gt;Menenun dikerjakan sebagai pekerjaan sambilan kaum wanita Dayak Kanayatn. Pekerjaan ini menggunakan alat sederhana dan tradisional. Barang yang menghasilkan terbilang indah dan unik, seperti baju adat yang dihiasi oleh motif-motif tradisional Dayak Kanayatn.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Masuknya modernisasi menyebabkan perkerjaan tenun telah ditinggalkan masyarakat. Hal ini karena perkembangan zaman menuntut masyarakat untuk bersaing disegala bidang kehidupan yang berorientasi pada peningkatan ekonomi. Mereka menganggap bahwa pekerjaan menenun banyak memboroskan waktu dan hasilnya tidak dapat dijadikan penunjang perekonomian, sehingga pekerjaan ini ditinggalkan dan tidak dikerjakan lagi. Akhirnya kesenian yang sebenarnya berpotensi besar bagi penunjang kehidupan ekonomi dan budaya telah tenggelam ditinggalkan pemiliknya sendiri.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;2. Seni Pertunjukan&lt;br/&gt;a. Seni Tari&lt;br/&gt;Seni tari Dayak Kanayatn umumnya dibagi menjadi dua kelompok, yaitu tari untuk upacara ritual dan tarian kesenian. Perbedaan yang mendasar dari kedua bentuk kesenian itu teletak pada proses penggunaannya, sebagai tarian ritual khusus dibawakan pada upacara ritual. Tarian tersebut dianggap sakral dan harus digunakan pada tempatnya. Tarian kesenian tradisi, walaupun terkadang sama-sama diperuntukan dalam konteks upacara, namun hanya sebagai hiburan yang dibawakan sesudah upacara inti selesai dan dapat digunakan dalam konteks lain.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ada beberapa jenis tarian upacara ritual dalam masyarakat Dayak Kanayatn, antara lain tari Amboyo, tari Totokng, tari Baliatn. Tari Amboyo adalah tari yang digunakan pada upacara Naik Dango, yaitu upacara syukuran padi atau pesta panen. Tari Totokng adalah tarian yang digunakan pada upacara Notokng, yaitu upacara penghormatan kepada kepala kayauan. Upacara ini dilakukan untuk membuang sangar atau dosa bekas pekerjaan mengayau (berburu untuk memotong kepala) jaman dahulu, dan memohon agar selalu diberikan keselamatan. Tari Baliatn adalah tarian yang digunakan dalam upacara Baliatn. Semua tarian yang dibawakan dalam upacara itu senantiasa diiringi irama musik Dayak Kanayatn. Penggunaan musik dan tarian tersebut disesuaikan dengan upacara, sehingga masyarakat Dayak Kanayatn banyak mempunyai jenis tarian dan musik yang terkait erat dengan upacara.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;b. Seni Musik&lt;br/&gt;Musik tradisional bagi masyarakat Dayak Kanayatn merupakan salah satu aspek kebudayaan yang memiliki bentuk dan ciri khas dari setiap kelompok. Meskipun demikian, hampir semua kelompok mempunyai ciri-ciri dasar yang hampir sama antara satu dengan lainnya. Musik itu pada umumnya ditampilkan sebagai bagian upacara besar dalam siklus kehidupan dan peringatan waktu tertentu. Disamping itu digunakan pula sebagai hiburan, seperti dalam kesenian Jonggan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Irama musik Dayak Kanayatn tergolong musik yang sangat fleksibel, sehingga dapat digunakan dalam upacara atau untuk mengiringi kesenian lain sebagai hiburan, seperti iringan tari, teater daerah, dan bentuk sajian tunggal (komposisi). Adapun jenis-jenis irama musik Kanayatn adalah sebagai berikut.&lt;br/&gt;1). Irama Musik Bagu&lt;br/&gt;Irama musik ini diciptakan oleh Abakng Nyawatn. Menurut tradisi lisan proses penciptaannya terinspirasi dari tujuh riam yang terdapat di sungai Bagu, sehingga musik tersebut dianggap sebagai replika bunyi dari ketujuh riam tersebut. Irama musik ini dibagi menjadi 7 bagian, yaitu Bagu, Samoko Lajakng, Samoko Batimang, Samoko Bagantung, Samoko Tapang, Taredek, dan Marenseâ€™.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;2). Irama Musik Jubata&lt;br/&gt;Irama musik Jubata dicipatakan oleh seorang Pamaliat (dukun) yang bernama Neâ€™ Apeâ€™ Mantohari. Irama musik ini dibagi menjadi empat bagian, yaitu Jubata Lajakng atau Jubata Mantaâ€™, Jubata Masak, Jubata Bagael atau Jubata Babulakng, Pate Mangkok atau Jubata Pulakng.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;3). Irama Musik Totokng&lt;br/&gt;Pencipta irama musik Totokng adalah Samine Nak Janyahakng Tatek. Menurut cerita lisan beliau diajari langsung oleh roh halus bernama Kamang Mantekng. Irama musik ini dibagi menjadi enam bagian, yaitu Totokng Maniamas, Totokng Palanteatn, Totokng Weâ€™ Ongan, Totokng Binalu, Ledang Lajakng, dan Ledang Panyaot.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;4). Irama Musik Bawakng&lt;br/&gt;Irama Bawakng berasal dari Neâ€™ Saruna Nak Ujatn Jantuâ€™. Menurut cerita beliau mendapatkan pengetahuan tentang irama musik tersebut dari Neâ€™ Nyalaâ€™ Nang Nukukng Pajaji. Musik ini dibagi menjadi tujuh bagian, yaitu Bawakng Lajakng, Bawakng Samoko, Bawakng Nyangkodo, Bawakng Joragan, Bawakng Kadedeng, Bawakng pulo atau Bawakng Panca, dan Bawakng Baramutn.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;5). Irama Musik Dendo&lt;br/&gt;Irama musik ini berasal dari Neâ€™ Dara Enokng. Ia memperoleh pengetahuan irama musik tersebut dari Sinede Pamalitn Pujut. Irama musik ini dibagi mejadi tiga bagian, yaitu Dendo 1, Dendo 2, Dendo 3.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;6). Irama Musik Panyinggon.&lt;br/&gt;Irama musik ini diperkenalkan oleh Neâ€™ Rendeng yang dipelajari langsung dari Sijore Pamaliatn Mawing. Musik ini dibagi menjadi empat bagian, yaitu Panyinggon, Kaldoleng, Gundali, Denayu.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;7). Irama Musik Sipanyakng Kuku&lt;br/&gt;Irama musik Sipanyakng Kuku diciptakan oleh Neâ€™ Tumas yang dipelajari dari Oera Pamaliatn Buntianak. Musik ini dibagi menjadi tiga bagian, yaitu Sipanyakng Kuku, Dara Enek, dan Sigurinti.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;8). Irama Musik Ngaranto&lt;br/&gt;Irama musik ini diciptakan oleh Dayakng Dadompa yang dipelajarinya langsung dari Bang Kire Pamaliatn Subayatn. Irama musik ini dibagi menjadi sembilan belas bagian, yaitu Singkalumaâ€™, Patabakng Urakng Mati, Guruh Ari atau Olaâ€™ Oleh, Anyut-anyut Titisawa, Goraâ€™-Goraâ€™, Jajaâ€™ Nyango, Neâ€™ Nange, Titi Bajoa, Batakng Singunang, Tingkakok, Saka Barime, Rumah Neâ€™ Jule, Rangkat Tabu, Sare Andang, Sokaâ€™ Soke, Ranto Padakng, Rinduâ€™ Ati, Burukng Bapuput, dan Danakng Liokng.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Irama musik Dayak Kanayatn merupakan tabuhan pokok yang banyak digunakan sebagai iringan tari dalam ritual perdukunan dan ansambel kesenian Jonggan. Selain tabuhan tersebut terdapat pola tabuhan Melok untuk mengiringi tarian pencak (silat) dalam upacara Pangkaâ€™, kemudian tabuhan Amboyo yang digunakan dalam upacara Naik Dango.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kesenian tradisi di Indoneseia tumbuh dan berkembang sejalan dengan tuntutan kehidupan manusia yang kebanyakan berhubungan dengan kepercayaan atau agama. Berbagai bentuk pemujaan sebagai manifestasi religius diungkapkan bersamaan dengan penuangan nilai keindahan. Keterkaitan kedua unsur tersebut akhirnya membentuk harmonisasi sosial yang diwadahi dalam sebuah upacara, sehingga segala elemen penting yang terkait menjadi bagian yang saling mendukung dalam pemberian makna terhadap kehidupan masyarakat. Begitu pula dengan musik Dayak Kanayatn sebagai refleksi keindahan, ia menjadi satu kesatuan dengan upacara yang diikutinya. Hilangnya salah satu unsur penting upacara (musik) menyebabkan berubahnya nilai yang telah ada sejak awal pembentukannya. Berubahnya nilai akan merubah pula arti dasar upacara yang dapat menyebabkan disintegrasi fungsi bagi masyarakat. Lambat laun masyarakat dapat saja tidak lagi membutuhkan kesenian tersebut, karena tidak sesuai lagi dengan adat dan budaya mereka. Oleh karena itu musik dan upacara, serta segala elemen di dalamnya harus dipandang sebagai kesatuan yang tidak terpisahkan untuk mendukung eksistensi masyarakat itu sendiri.&lt;br/&gt;Keterkaitan antara upacara, musik, sesaji dan kepercayaan masyarakat dapat dipandang sebagai wujud kebudayaan yang tidak terpisahkan. Kebudayaan ideal (kepercayaan) dan adat akan memberi arah kepada tindakan manusia, seperti pikiran dan ide-ide. Selanjutnya tindakan dari ide itu akan menghasilkan karya, seperti musik dan sesaji. Hal ini berhubungan dengan apa yang dikatakan Koentjaraningrat bahwa:&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kebudayaan mempunyai tiga wujud, yaitu: (1) wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, norma-norma, peraturan dan sebagainya; (2) wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia; (3) wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia. Wujud pertama (cultural system) adalah wujud ideal dari kebudayaan dan sifatnya abstrak yang terdapat dalam alam pikiran manusia. Wujud kedua (social system) adalah tindakan berpola dari manusia itu sendiri. Wujud ketiga (kebudayaan fisik) adalah hasil dari tindakan atau karya manusia dalam bentuk fisik.4.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Semua unsur kebudayaan, seperti kepercayaan, upacara, musik dan sesaji dalam upacara dapat dipandang dari sebagai wujud kebudayaan untuk memperjelas kedudukannya. Sebagai contoh kepercayaan dan adat yang menjadi landasan upacara, adalah kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, dan peraturan yang berhubungan dengan tata cara pemujaan dalam suatu upacara. Semua realisasi norma dan peraturan dalam bentuk tingkah laku, seperti menari, membaca mantra, dan memainkan musik dalam upacara dapat dilihat sebagai kompleks aktivitas dan tindakan berpola yang terkait dengan kehidupan serta budaya masyarakatnya. Selanjutnya Semua bentuk karya manusia sebagai hasil dari aktifitas, seperti sesaji, tempat sesaji, properti upacara, alat musik, bahkan musik itu sendiri merupakan bentuk dari wujud fisik kebudayaan. Meskipun musik tidak berbentuk fisik, namun ia merupakan hasil karya manusia yang lahir dari tingkah laku tertentu. Di sini musik dipandang sebagai bagian dari karya, bukan tingkah laku, karena musik merupakan bunyi yang dihasilkan dari tingkah laku musikal manusia.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kebanyakan upacara besar yang dilaksanakan masyarakat Dayak Kanayatn disertai dengan penampilan musik, seperti dalam upacara Baliatn Nyande. Musik tersebut dimainkan hampir disetiap prosesi. Tanpa ada musik upacara tersebut tidak dapat berjalan, karena dalam masyarakat Dayak Kanayatn antara tarian, musik, sesaji dan upacara merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Penggunaan musik dalam sebuah upacara merupakan keharusan. Bila tidak ada musik, dapat dikatakan upacara batal menurut adat atau tidak sah.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Keselamatan pemaliatn dalam upacara Baliatn ditentukan oleh musik, penyampang, dan pajaji (sesaji).5. Kesalahan musik dan sesaji dapat menyebabkan pamaliatn (dukun) pingsan saat melakukan upacara, sedangkan penyampakng (asisten dukun) berperan penting dalam membantu pengobatan pamaliatn. Panyampakng harus mempunyai ilmu yang lebih tinggi dari pamaliatn, meskipun tidak mempunyai tanda atau takdir menjadi pamaliatn, setidaknya ia mempunyai ilmu yang setingkat dengan pamaliatn. Bila suatu kejadian yang tidak diinginkan terjadi saat pengobatan berlangsung, maka sewaktu-waktu panyampakng dapat membantu pamaliatn.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Penyajian irama musik Dayak Kanayatn kebanyakan digunakan untuk mengiringi vokal mantra dan pamaliatn menari. Musik dan tari-tarian itu tidak bisa lepas satu dengan lainnya. Hal ini dikarenakan musik dalam tradisi Dayak Kanayatn sulit dipisahkan dari kesenian lain, terutama seni tari dan ritus-ritus tertentu, semua itu saling berhubungan erat satu sama lain.25. Keduanya bersifat paralel (saling terkait) dan menjadi satu kesatuan sistem simbolik dalam pemujaan.&lt;br/&gt;Keberadaan musik Dayak Kanayatn dianggap mempunyai peranan penting sebagai pengekspresian hubungan manusia dengan alam gaib. Hal ini dilatarbelakangi oleh lahirnya musik tersebut sebagai musik ritual untuk mengiringi pamaliatn menari dan membacakan mantra dalam upacara Baliatn.6. Pada sisi lain musik tersebut dianggap masyarakat dapat memenuhi kebutuhan mereka terhadap tuntutan batin akan nilai keindahan, sehingga keberadaannya dapat memberi arti penting secara menyeluruh (complexity) terhadap kehidupan masyarakat, baik sebagai hiburan, maupun sebagai penunjang keberadaan masyarakat itu sendiri.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Kepustakaan&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;1. Stepanus Djuweng ed., Manusia Dayak, Orang Kecil yang Terperangkap Modernisasi (Pontianak: Institute of Dayakology Research and Development, 1998) pp. 59-71.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;2. Umar Kayam, Seni, Tradisi, Masyarakat (Jakarta: Sinar Harapan, 1981), p. 60.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;3. Ibid , p. 58.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;4. Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi (Jakarta: Rineka Cipta, Cetakan kelapan, 1990), pp. 186-188.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;5. Wawancara langsung dengan Maniamas Miden Sood, Seniman dan Dukun Dendo, 29 April 2006, Dsn. Asong Pala, Ds. Aur Sampuk, Kec. Sengah Temila, Kab. Landak, Kalimantan Barat. Diijinkan untuk dikutip.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;6. Al Yan Sukanda, â€œTradisi Musikal dalam Kebudayaan Dayakâ€, dalam Paulus Florus, ed., op.cit., p. 133.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3509747544273203794-7654399110015354256?l=etnikprogresif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/feeds/7654399110015354256/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/08/upacara-dan-kesenian-dalam-masyarakat.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/7654399110015354256'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/7654399110015354256'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/08/upacara-dan-kesenian-dalam-masyarakat.html' title='UPACARA DAN KESENIAN DALAM MASYARAKAT DAYAK KANAYATN KALIMANTAN BARAT'/><author><name>mbah dinan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10973480357642906490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-zT11WGzH8D8/TrzZyXePTwI/AAAAAAAABGU/mvgB2aMy4Zc/s220/etnikprogresif.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3509747544273203794.post-7040646341477898391</id><published>2010-08-31T19:20:00.000+07:00</published><updated>2011-01-09T02:36:32.880+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='musik'/><title type='text'>FUNGSI MUSIK DAYAK DALAM UPACARA PERDUKUNAN (BALIATN)</title><content type='html'>Fungsi pada dasarnya adalah sistem yang saling berkaitan antara unsur-unsur pembentuknya. Istilah sistem (systema, dalam bahasa Yunani) bisa berarti entitas atau alat analisis.Suatu sistem merupakan entitas yang tersusun dari berbagai unsur, unit, komponen secara integral atau teratur untuk menjaga keseimbangan sistem itu sendiri. Sistem merupakan keseluruhan perangkat yang tersusun dari sekian banyak bagian dan berfungsi secara timbal balik. Ia saling memberi dan menerima guna memelihara dan mendukung suatu keseimbangan. Relasi yang terjadi diantara komponen dalam sistem umumnya bersifat teratur dan berkesinambunganâ€.1.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Suatu budaya musik mencakup gagasan-gagasan, tindakan, karena musik adalah suatu gejala manusia, untuk manusia dan mempunyai fungsi sosial dalam situasi sosial.2. Hal ini karena berbagai unsur dalam sistem bersifat fungsional. Fungsi sosial musik dalam masyarakat harus dilihat bahwa musik itu berperan dan dapat memberi, sehingga ia dapat bertahan dalam kehidupan masyarakat. Begitu juga dengan keberadaan musik Dayak dalam masyarakat pemiliknya, mereka memerlukan keberadaan sebuah musik untuk kepentingannya, baik kepentingan pribadi maupun kepentingan sosial. Hal ini karena pandangan yang tumbuh dalam masyarakat Dayak menyatakan bahwa musik mempunyai hubungan dengan kehidupannya, memiliki fungsi, simbol, dan nilai yang berhubungan dengan kepercayaan, adat istiadat, sekaligus sebagai ciri budaya lokal.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hubungan sosial masyarakat mempunyai kesatuan yang dinamakan kesatuan fungsional.3. Hubungan antara fungsi itu saling terkait dan mendukung antara satu dengan lainnya. Begitu pula dengan musik dan upacara, ia merupakan sesuatu yang mempunyai fungsi bagi masyarakat dan berperan sebagai tonggak keberlangsungan budaya sebagai efek dari kebudayaan adat atau pranata solidaritas sosial.4. Kenyataan fungsionalitas ini akhirnya memposisikan musik sebagai hasil dari aktivitas artistik dan dijadikan sebagai literatur estetik bagi masyarakat itu sendiri.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Irama musik Dayak mempunyai fungsi secara internal dan eksternal. Secara internal musik mempunyai fungsi bagi upacara itu sendiri. Meskipun pada dasarnya musik adalah bagian upacara, namun ia juga mempunyai peranan untuk mempertegas posisinya, sehingga musik tersebut memberikan makna khusus bagi upacara yang diikutinya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Fungsi internal sejalan dengan fungsi upacara, karena musik merupakan bagian dari upacara yang mempunyai fungsi sama dengan fungsi upacara. Musik sebagai bagian upacara tidak terlepas dari peranan upacara itu sendiri. Upacara memberikan ruang gerak kepada musik, sehingga musik mempunyai keleluasaan untuk membentuk jalinan fungsi di dalamnya. Begitu juga sebaliknya, upacara ditunjang oleh keberadaan musik sebagai unsur penting di dalamnya yang mambuat upacara itu bermakna dan berfungsi bagi masyarakat pemiliknya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Upacara berperan sebagai pembentuk identitas budaya. Ia merupakan wadah kreatifitas dari sumbangan yang diberikan kepada keseluruhan sistem sosial. Hal ini terjadi karena suatu unsur kebudayaan akan tetap bertahan apabila memiliki fungsi dalam kehidupan masyarakatnya, sebaliknya unsur itu akan punah bila tidak berfungsi lagi.5. Fungsi musik secara internal melibatkan peran musik dalam menentukan bentuk pemberian musik sesuai penempatannya. Misalnya musik dimainkan pada prosesi tertentu, maka prosesi itu telah berperan sebagai wadah yang menyebabkan musik berfungsi bagi prosesi upacara tersebut. Hubungan keduanya menciptakan keharmonisan antara peranan musik yang berfungsi dan peranan upacara sebagai wadah dari fungsi. Fungsi musik di sini dapat dikategorikan menjadi tujuh fungsi, yaitu: (1) sebagai pemanggil kekuatan gaib; (2) Penjemput roh-roh leluhur pelindung untuk hadir di tempat pemujaan; (3) memanggil roh-roh baik untuk mengusir roh-roh jahat; (4) sebagai pelengkap upacara sehubungan dengan peringatan tingkat-tingkat kehidupan seseorang; (5) pelengkap upacara sehubungan dengan saat-saat tertentu dalam perputaran waktu; (6) peringatan kepada nenek moyang dengan menirukan kegagahan dan kesigapannya; (7) Perwujudan dari hasrat untuk mengungkapkan keindahanâ€.6.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Musik Dayak juga mempunyai fungsi eksternal, yaitu yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat. Fungsi ini lebih mengarah kepada peranannya dalam masyarakat, sehingga musik tersebut dianggap dapat memberikan sesuatu hal penting bagi masyarakat. Fungsi eksternal mencakup gagasan-gagasan atau ide-ide yang sejalan dengan kebutuhan masyarakat. Ia harus dilihat sebagai â€œsesuatu yang memberiâ€ untuk melengkapi kehidupan masyarakat, baik berhubungan dengan konsep kepercayaan atau bagian dari suatu tatanan sosial yang dibangun bersama.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sesungguhnya fungsi musik dalam masyarakat tidak terlepas dari peran masyarakat pendukungnya. Perkembangannya sejalan dengan perkembangan intelektualitas dan kreativitas masyarakat pemiliknya. Segala sesuatu yang berhubungan dengan konsep kepercayaan maupun adat yang berlaku dituangkan ke dalam musik, sehingga musik mempunyai fungsi sebagai penyelaras kehidupan sosial yang bersifat normatif. Ia dapat menyelaraskan hubungan antar individu dan hubungan manusia dengan dunia gaib. Disamping itu musik juga diperlukan untuk penghayatan nilai-niali estetis dan pembelajaran falsafah kehidupan, sebagai contoh fungsi musik dalam upacara Baliatn di masyarakat Dayak Kanayatn.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Secara etimologi Baliatn terdiri dari dua suku kata, yaitu Ba dan Liatn. Ba mempunyai arti melakukan atau sedang melakukan, sedangkan Liatn adalah nama salah satu jenis ritual perdukunan dalam masyarakat Dayak Kanayatn. Baliatn berarti mengerjakan atau melaksanakan upacara ritual perdukunan, sama artinya dengan Badendo dan Belenggang atau melakukan ritual Dendo dan Lenggang.7.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Bentuk Penyajian&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;Penyajian merupakan segala sesuatu yang dipakai sebagai suguhan, jamuan atau hidangan.8. Istilah penyajian dalam sebuah pertunjukan dapat berarti atraksi maupun adegan yang dikemas menjadi salah satu peristiwa kesenian, seperti bagaimana sebuah musik disajikan dan bagaimana konteks pementasannya. Aspek ini merupakan sarana untuk mempermudah mengetahui konsep nilai, penggunaan, fungsi dan hubungannya dengan aspek lain, sehingga dapat dilihat dan dipelajari ciri-ciri musik tersebut sebagai sebuah pertunjukan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sebuah sajian musik dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu sajian ritual dan sajian hiburan. Sajian ritual cenderung terkait dengan upacara dan berhubungan dengan hal-hal gaib, seperti makhluk halus, roh leluhur, dewa, dan Tuhan. Penyajian musik ini secara spesifik biasanya berhubungan dengan agama atau kepercayaan masyarakat pemiliknya. Sajian musik hiburan tujuan hanya untuk menghibur dan tidak terkait dengan unsur ritual. Adapaun Ciri-ciri ritual suatu penyajian musik atau upacara dapat dikenal dengan bentuk pertujukan, yaitu: (1) Untuk apa musik itu disajikan; (2) Waktu penyajian; (3) Tempat pergelaran; (4) Instrumen yang digunakan; (5) Kostum; (6) Lagu yang dibawakan, dan; (7) Pemain.9. Melalui ciri-ciri inilah dapat diketahui bahwa musik tersebut termasuk dalam kategori musik ritual atau bukan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;1) Tujuan Penyajian Musik dan Upacara&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;Secara mendasar tujuan penggunaan musik dalam upacara ritual adalah untuk mendukung upacara, sekaligus sebagai bagian penting upacara. Upacara dianggap sebagai wadah sakral yang dapat menghubungkan manusia dengan segala kekuatan di jagad raya ini, termasuk pula hubungan manusia dengan Tuhan. Ia dianggap sebagai suatu yang suci, megah, dan sakral, terutama dijumpai pada upacara-upacara besar yang melibatkan banyak pelaku. Pelaksanaannya senantiasa dimeriahkan dengan musik sebagai lambang kemegahan upacara.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Upacara ritual dapat dikatakan sebagai sebuah wadah perilaku religius yang sarat dengan kekuatan gaib. Ia tidak mengandung arti apa-apa bila tidak disertai tindakan dan peralatan yang bersifat sakral dan religius. Tindakan itu dapat berupa mantra, tarian, dan laku persembahan, sedangkan peralatan sakral itu dapat berupa sesaji, kostum, jimat, dan instrumen musik yang digunakan dalam upacara. Tanpa dua pendukung upacara itu, sebuah upacara hanya bersifat profan (formal) seperti upacara kenegaraan dan lain sebagainya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Tujuan penyajian musik dapat dilihat dari pelaksanaan upacara. Tujuan upacara ritual pada dasarnya untuk mengadakan hubungan religius dengan penguasa atau kekuatan gaib. Jenis-jenis ritual itu dapat berupa pengobatan, perdamaian dengan makhluk halus karena diganggu, perbaikan tingkat kehidupan, keselamatan, ungkapan syukur, peringatan daur kehidupan, dan lain sebagainya. Pada tahapan ini musik berfungsi sebagai media komunikasi antara manusia dengan sesuatu yang gaib. Melalui ciri-ciri inilah dapat diketahui bahwa sebuah upacara bersifat sakral atau formal, dan secara otomatis dapat pula diketahui bahwa musik yang digunakan dalam upacara bersifat ritual atau bukan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;2) Waktu&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;Waktu terkait erat dengan sistem upacara, karena antara waktu penggunaan musik dengan upacara biasanya menjadi satu kesatuan yang saling mendukung penempatannya masing-masing. Penggunaan musik Dayak dalam upacara perdukunan (liatn) disesuaikan dengan pelaksanaan upacara yang biasanya dilaksanakan malam hari. Hal ini karena waktu tersebut dipercaya masyarakat setempat sebagai masa makhluk halus berkeliaran, sehingga mudah dipanggil untuk diberi makan atau dimintai tolong untuk melakukan sesuatu.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;3). Tempat&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;Penyajian musik dalam upacara liatn biasanya bertempat di ruangan tengah atau tempat yang agak luas. Hal ini dilakukan agar pelaku upacara dapat bergerak dengan leluasa, terutama agar pamaliatn dapat menari dengan bebas. Posisi pemain musik berdekatan dengan tempat pamaliatn menari agar dapat melihat langsung tari yang diiringi. Disamping itu tempat sengaja dipilih berdekatan dengan pamaliatn untuk mengetahui jalannya upacara.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;4) Pemain Musik&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;Pemain adalah orang yang terlibat langsung dalam sebuah pertunjukan kesenian. Ia merupakan seorang penyaji atau seniman yang mempresentasikan karyanya untuk tujuan tertentu. Sehubungan dengan hal tersebut, penggunaan irama musik Dayak Kanayatn dalam upacara biasanya berorientasi pada nilai-nilai estetis yang dapat menyentuh penikmatnya. Penyajian ini dilalui dengan berbagai proses dari pencarian dan pengembangan ide, penuangan teknik, kemudian menyajikannya dalam sebuah upacara. Penyajian ini berhubungan langsung dengan teknik dan gaya penampilan presentasi musikal, karena sebuah presentasi mencakup konsep, ide musikal, bentuk, dan teknik penyajian tertentu sebagai bagian daya tarik penampilan sebuah musik. Disamping itu pemain musik bukan sekedar memainkan musik apa adanya, melainkan ada beberapa hal yang harus ia ketahui dan harus dijalani (laku ritual) sebelum upacara, sampai kepada penampilannya saat upacara berlangsung.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;5) Instrumen&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;Semua perlengkapan dan tingkah laku dalam upacara, seperti menyanyikan atau membacakan mantra, menari, memainkan musik, termasuk sesaji dan properti yang dikenakan pamaliatn (dukun) dipercaya mempunyai kekuatan gaib. Kekuatan itu dapat dimanfaatkan untuk melindungi dirinya dari gangguan makhluk halus dan dipercaya oleh masyarakat Dayak dapat mendatangkan roh halus yang dipanggil. Hal ini karena kekuatan gaib tersebut tidak hanya terdapat atau bersemayam dalam perilaku upacara saja, namun melekat pula pada semua bahan atau properti yang digunakan dalam upacara. Antara instrumen, jimat, dan properti lainnya dalam suatu upacara ritual merupakan satu kesatuan sakral yang penggunaannya tidak dapat dipisahkan antara satu dengan lainnya.&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;&lt;br/&gt;6) Kostum&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;Kostum adalah pakaian kebesaran yang digunakan dalam suatu kegiatan.13. Kostum di sini meliputi baju dan celana yang dikenakan pelaku upacara, seperti pamaliatn, panyampakng, anak samang, dan pemain musik. Kostum yang digunakan berfungsi untuk memperindah penampilan. Sebagai contoh kostum yang digunakan dalam upacara Baliatn.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sesungguhnya pemain musik dalam upacara liatn tidak mempunyai keharusan untuk memakai baju tertentu, kecuali pamaliatn harus menggunakan sarung seperti seorang perempuan. Hal ini karena nenek moyang pamaliatn pertama adalah seorang perempuan, sehingga untuk menghormati hal tersebut pamaliatn menggunakan sarung sebagai lambang seorang perempuan yang pertama kali menjadi pamaliatn.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;7) Pelaksanaan upacara &lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;Pelaksanaan upacara Baliatn ((melakukan perdukunan) yang biasanya diiringi musik Dayak pemakaiannya ditentukan oleh &lt;em&gt;Pamaliatn&lt;/em&gt; (Dukun). Panyampakng (pembantu dukun dalam menjalankan ritual) memberitahukan musik apa yang harus ditabuh oleh pemain musik setelah ia mendapat instruksi dari pamaliatn. Musik yang dimainkan pada tiap prosesi berbeda-beda, menyesuaikan penyakit atau niat penyelenggara. Oleh karena itu dalam prosesi Bajampi (membuang penyakit) banyak musik yang dipakai. Adapun pemakaian musik Dayak dalam upacara liatn menyesuaikan dengan prosesi upacara dan perintah dari Pamaliatn.14.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Kepustakaan&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;1. Lahajir, Etnoekologi Perladangan Orang Dayak Tunjung Linggang (Yogyakarta: Galang Press, 2001), p. 50.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;2. Alan P. Meriam, â€œThe Anthropology of Musicâ€ seperti dikutip I Komang Sudirga dalam bukunya Cakepung: Ansambel Vokal Bali (Yogyakarta: Kalika Press, 2005), p. 20.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;3. A.R Redcliffe Brown, Struktur dan Fungsi dalam Masyarakat Primitif (Kuala Lumpur: Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka, 1980), p. 210.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;4. A.R. Redcliffe Brown, â€œStruktur dan Fungsi dalam Masyarakat Primitifâ€, seperti yang dikutip I Komang Sudirga, op.cit., p. 128.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;5. Mulyadi, et.al., Upacara Tradisional Sebagai Kegiatan Sosialisasi Daerah Istimewa Yogyakarta (Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan DIY, 1984), p. 4.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;6. Edy Sedyawati, Pertumbuhan Seni Pertunjukan (Jakarta: Sinar Harapan, 1981), p. 53.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;7. Wawancara langsung dengan Maniamas Miden Sood, Seniman dan Dukun Dendo, 28 April 2006, Dsn. Saleh Bakabat, Ds. Aur Sampuk, Kec. Sengah Temila, Kab. Landak, Kalimantan Barat. Diijinkan untuk dikutip.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;8. Bambang Marhijanto, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Populer (Surabaya: Bintang Timur, 1995), p. 250.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;9. I Wayan Senen, â€œAspek Ritual Musik Nusantaraâ€, makalah yang diajukan dalam rangka peringatan Lustrum II ISI Yogyakarta, 23 Juli 1994, p. 4.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;10. Regina, Mantra in Baliatn in The Dayak Society (Malang: IKIP Malang, Tesis S-2, 1997), pp. 58-59.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;11. Sebagian masyarakat zaman dahulu percaya, bahwa dukun Baliatn Daniang dapat menghidupkan orang mati.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;12. Regina, op.cit., pp. 59-60.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;13. Bambang Marhijanto, op.cit., p. 334.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;14. Wawancara langsung dengan Maniamas Miden Sood, Seniman dan Dukun Dendo, 30 April 2006, Dsn. Saleh Bakabat, Ds. Aur Sampuk, Kec. Sengah Temila, Kab. Landak, Kalimantan Barat. Diijinkan untuk dikutip.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3509747544273203794-7040646341477898391?l=etnikprogresif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/feeds/7040646341477898391/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/08/fungsi-musik-dayak-dalam-upacara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/7040646341477898391'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/7040646341477898391'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/08/fungsi-musik-dayak-dalam-upacara.html' title='FUNGSI MUSIK DAYAK DALAM UPACARA PERDUKUNAN (BALIATN)'/><author><name>mbah dinan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10973480357642906490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-zT11WGzH8D8/TrzZyXePTwI/AAAAAAAABGU/mvgB2aMy4Zc/s220/etnikprogresif.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3509747544273203794.post-93128507370079035</id><published>2010-08-31T19:18:00.000+07:00</published><updated>2011-01-09T02:36:32.852+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='musik'/><title type='text'>SIMBOL DALAM MUSIK DAYAK KANAYATN KALIMANTAN BARAT</title><content type='html'>Manusia mempunyai hubungan erat dengan kebudayaan dan dapat dikatakan sebagai makhluk yang berbudaya. Kebudayaan itu terdiri atas gagasan-gagasan, simbol-simbol dan nilai-nilai luhur sebagai hasil dari kehidupan manusia. Begitu eratnya hubungan manusia dengan simbol-simbol, ia dapat dikatakan sebagai makhluk yang bersimbol. Manusia berpikir, berperasaan, dan bersikap dengan ungkapan simbolis. Ungkapan-ungkapan simbolis inilah yang menggambarkan kehidupan, tingkah laku, perjalanan hidup, dan nilai-nilai budaya yang dimiliki suatu masyarakat.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Manusia tidak pernah menghadapi lingkungan fisik secara langsung. Mereka selalu mendekati alam (dan isinya) melalui budaya, melalui berbagai sistem simbol, makna dan nilai.1. Seperti dikatakan Ernst Cassirer bahwa:&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;â€œManusia dapat disebut sebagai hewan yang bersimbol (Animal Simbolicum). Manusia tidak pernah melihat, menemukan dan mengenal dunia secara langsung kecuali dengan berbagai simbolâ€.2.&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;Masyarakat Dayak mengenal alam nyata dan hubungan dengan alam gaib melalui simbol-simbol. Simbol tersebut merupakan ide-ide yang melambangkan maksud tertentu.3. Dalam kehidupan masyarakat Dayak, simbol-simbol yang dikomunikasikan merupakan konsep hubungan relegius antara manusi dengan Tuhan, manusia dengan alam gaib, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam nyata (lingkungannya) yang kemudian ditranspormasikan ke dalam musik yang mereka miliki. Apa yang digambarkan dapat dimengerti lewat musik tersebut, sehingga musik itu dapat dipastikan mengandung simbol-simbol sebagai pengejawantahan persepsi masyarakat tentang kehidupannya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Musik dapat dikatakan sebagai sebuah bahasa simbolik. Musik merupakan sebuah bentuk yang bermakna (significant form). Makna tersebut adalah sesuatu yang diungkapkan melalui simbol. Musik merupakan objek rasa dengan melalui kecemerlangan struktur dinamikanya dapat mengungkapkan bentuk-bentuk pengalaman penting yang tidak dapat diungkapkan oleh bahasa.4. Dengan demikian tidak dapat diragukan lagi, bahwa musik bersifat simbolik.5. Melalui musik pula masyarakat Dayak memberikan pemaknaan tentang kebudayaannya yang terangkum dalam ide musikal mengenai alam pikiran, alam budi, tata susila, termasuk pula karya manusia.&lt;br/&gt;&lt;div style="text-align:center;"&gt;&lt;a href="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/08/40335_108723432517148_100001384765349_70018_8240481_n.jpg"&gt;&lt;img src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/08/40335_108723432517148_100001384765349_70018_8240481_n.jpg?w=300" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br/&gt;Kebanyakan nilai kehidupan masyarakat Dayak dilambangkan dalam bentuk simbol, sehingga apa yang diungkapkan melalui simbol dapat ditangkap oleh manusia lainnya, kemudian dipelajari, dihayati maknanya, dan diterapkan dalam kehidupan. Contohnya seperti simbol-simbol pada Pantak, tari, upacara, dan musik Dayak. Pantak dianggap sebagai lambang penghormatan kepada nenek moyong yang telah berjasa dalam kehidupan. Musik dianggap sebagai bahasa komunikasi simbol, sedangkan upacara dianggap sebagai wadah sakral yang dapat menghubungkan dunia gaib dan hubungan manusia dengan Jubata. Oleh karena itu musik dapat dianggap sebagai refleksi kehidupan sosial yang dijalani masyarakat Dayak. Ia juga dianggap sebagai transpormasi nilai-nilai kehidupan yang tersimpul dalam adat dan tradisi, lambang penghormatan kepada pada leluhur, dan hubungan manusia dengan Sang Maha Pencipta.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Simbol-simbol dalam budaya masyarakat Dayak secara menyeluruh dapat dilihat dalam setiap upacara ritual. Simbol itu dapat dibagi menjadi dua bagian: Simbol Material, yaitu simbol-simbol yang melekat pada medium benda yang sifatnya yang dapat dilihat dan diraba (peralatan atau alat peraga upacara), seperti sesaji dan perangkat upacara lainnya. Simbol nonmaterial, yaitu simbol-simbol yang melekat pada medium yang tidak dapat dilihat dan diraba, seperti musik.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Antara sesaji dan musik merupakan sesuatu yang harus ada dalam setiap upacara ritual. Kedua medium ini tidak dapat dipisahkan, karena simbol material mengandung makna penghormatan dan pengagungan, sedangkan simbol nonmaterial mengandung makna komunikasi terhadap roh halus, roh para leluhur, dan Jubata. Seperti kata pepatah Nanaâ€™ musik Jubata bera, nana pajaji antu bera, artinya tidak ada musik (dalam upacara) Jubata marah, tidak ada sesaji (dalam upacara) makhluk halus (hantu) marah.6. Hal ini berhubungan dengan pernyataan Noerid Haloei Radam yang mengatakan bahwa:&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;â€œUpacara dan perlengkapan atau peralatan adalah dua unsur religi yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya amat berkaitan erat dalam pengertian yang satu memerlukan yang lain. Dalam religi masyarakat bersahaja, suatu upacara tidak atau belum boleh dilaksanakan bila peralatan yang harus menyertainya tidak atau belum lengkap.â€.7.&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sifat-sifat religi masyarakat yang dapat digolongkan bersahaja sering dikatakan sintetik dan relativistik. Hal ini dapat dijelaskan dari pemahaman dualisme dan pluralisme yang merupakan keutuhan, kebulatan, dan totalitas tunggal.8. Sistem kepercayaan seperti ini masih terdapat pada mitos yang dianggap sebagai kitab suci orang Dayak, karena masyarakat percaya bahwa mitos sebagai sumber lahirnya adat dan norma sosial. Mitos dikatakan sebagai simbol yang mengandung penggambaran kehidupan nenek moyang yang diturunkan secara turun-temurun dari generasi kegenerasi, oleh karena itu musik Dayak mempunyai kebulatan makna menyeluruh dari adat istiadat dan hubungan religius dalam kehidupan yang dijalani masyarakatnya. Keterkaitan kedua simbol material dan non material ini tidak dapat dipisahkan, karena keduanya merupakan kebulatan yang saling melengkapi dan memberikan arti antara satu dengan lainnya.&lt;br/&gt;&lt;div style="text-align:center;"&gt;&lt;a href="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/08/41345_108723179183840_100001384765349_70017_584922_n.jpg"&gt;&lt;img src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/08/41345_108723179183840_100001384765349_70017_584922_n.jpg?w=300" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br/&gt;Mengamati musik Dayak yang digunakan dalam upacara dan beberapa ritual, dapat dikemukakan beberapa simbol. Simbol ini dapat terkait dengan penamaan beberapa jenis irama musik yang dapat dilihat pada irama musik Dayak Kanayatn, seperti Bagu, Bawakng, Jubata, dan lain-lain. Adapun simbol-simbol tersebut adalah sebagai berikut. (sebagai contoh diambil irama musik Dayak Kanayatn, Kalimantan Barat)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;1. Simbol Penyucian&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;Pembersihan diri biasanya dilakukan sebelum upacara maupun saat upacara berjalan. Lambang penyucian ini terdapat dalam irama musik Bagu. Musik ini menggambarkan penyucian manusia dengan air yang mengalir di sungai Bagu sebelum pamaliatn melakukan perjalanan religius ke gunung Bawakng. Sesuatu yang disucikan adalah badan kasar dan badan halus manusia, sesaji, tempat upacara, dan perlengkapan upacara. Kelima media yang disucikan itu dianggap sebagai wilayah sakral pada alam manusia dan merupakan gerbang untuk berhubungan dengan dunia gaib.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Pandangan masyarakat Dayak menyatakan bahwa sesuatu yang bukan dunia manusia belum merupakan sebuah dunia. Sesuatu wilayah dapat dijadikan milik manusia hanya dengan membuatnya baru kembali, yaitu dengan mentahbiskan atau mensucikannya.9. Melalui irama musik Bagu sebagai lambang kesucian, mereka mentahbiskan wilayah sakral tersebut.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Secara harafiah air dianggap sebagai lambang kehidupan manusia yang dapat mensucikan. Sama halnya dengan air yang digunakan untuk bersuci sebelum sholat oleh umat Islam, ia merupakan simbol penyucian badan halus dan badan kasar sebelum menghadap kepada Tuhan. Air juga merupakan salah satu kebutuhan hidup manusia yang paling mendasar, baik untuk dikonsumsi maupun untuk kepentingan lainnya. Oleh karena itu irama musik Bagu diibaratkan sebagai air sungai yang dapat membersihkan dan sebagai sumber kehidupan baru bagi orang yang diobati. Jika di India ada sungai Gangga, maka di masyarakat Dayak Kanayatn ada sungai Bagu.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;2. Simbol Perjalanan Religius&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;Perjalanan religius yang dimaksud adalah perjalanan menuju gunung Bawakng yang merupakan suatu tempat asal mula nenek moyang suku Dayak Kanayatn. Tempat ini dianggap keramat, karena dipercaya sebagai tempat Neâ€™ Baruakng Kulub turun ke bumi dan menurunkan padi kepada manusia. Selanjutnya beliau mengajarkan Adat Nang Lima (adat lima) kepada keturunannya. Daerah ini dipercaya pula sebagai tempat asal mula Baliatn Tujuh.10. Simbol ini terdapat dalam irama musik Bawakng dan bila irama musik tersebut mau ditabuh &lt;em&gt;Pamaliatn&lt;/em&gt; (dukun) mengucap Kaâ€™ Bawakng yang artinya menuju gunung Bawakng.11.&lt;br/&gt;&lt;div style="text-align:center;"&gt;&lt;a href="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/08/40335_108723439183814_100001384765349_70020_4399875_n.jpg"&gt;&lt;img src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/08/40335_108723439183814_100001384765349_70020_4399875_n.jpg?w=300" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;3. Simbol Hubungan Religius (Komunikasi)&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;Religi dalam masyarakat Dayak mencakup pula tentang simbol-simbol yang menyatakan hubungan mereka dengan Tuhan. Simbol-simbol itu berfungsi sebagai rujukan untuk menjelaskan dan menata hubungan dengan dunia gaib yang sangat abstrak untuk dimengerti, tentang ilah-ilah atau segala sesuatu yang dipandang tidak dapat dilukiskan. Oleh karena itu mereka mengungkapkannya melalui benda-benda upacara, seperti sesaji, perlengkapan upacara, dan musik yang dianggap sakral dan dapat menghubungkan para pemakainya dengan kekuatan gaib yang samar tersebut. Melalui simbol-simbol itu manusia (orang Dayak) dapat memanfaatkannya untuk mencapai tujuan hidup atau melindungi diri dari kekuatan gaib tertentu yang dapat berpengaruh buruk dalam hidupnya. Seperti dikatakan J. Van Baal bahwa:&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;em&gt;â€œReligi adalah suatu sistem simbol yang dengan sasaran tersebut manusia berkomunikasi dengan jagad rayanya. Simbol itu adalah sesuatu yang serupa dengan model-model yang menjembatani berbagai kebutuhan yang saling bertentangan untuk pernyataan dan penguasaan diri. Bila tujuan (yakni objek yang dikomunikasikan itu) menyerupai sesuatu yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata lisan, maka simbol-simbol itu digunakan sebagai perisai yang melindungiâ€.12.&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Umumnya benda-benda yang dipakai dalam upacara hanya memiliki makna khusus ketika upacara itu berlangsung. Di luar peristiwa itu ia akan menjadi sesuatu hal yang biasa dan kembali kepada maknanya yang intrinsik. Contohnya seperti ayam hitam dalam upacara ritual. Ia dianggap sebagai makanan kesukaan roh-roh halus yang diundang, tetapi di luar konteks itu ia hanya sebagai binatang piaraan. Begitu juga dengan musik dalam upacara ritual, ia dianggap sakral dan mengandung kekuatan gaib. Bila musik itu dimainkan di luar upacara atau dalam kesenian Jonggan, ia hanya sebagai sarana penghibur yang tidak mempunyai kekuatan gaib. Kekuatan gaib itulah yang mendorong manusia dapat berkomunikasi dengan makhluk halus. Hubungan religius ini yang diaplikasikan pada irama musik Dayak Kanayatn dalam bentuk simbol. Di situlah masyarakat menyampaikan segala hajat melalui upacara, karena upacara merupakan kesatuan rangkaian berbagai bentuk dan unsur komunikasi dengan ilah-ilah Hyang, roh alam, atau roh nenek moyang.13. Oleh karena itu upacara dan musik merupakan simbol kesatuan dan kesucian yang diungkapkan melalui berbagai bentuk komunikasi terhadap ilah-ilah tersebut.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;4. Simbol Keagungan&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;Masyarakat Dayak menganggap Jubata mempunyai sifat Agung. Ia harus dipanggil atau didatangkan dengan menggunakan irama musik yang indah untuk memujiNYA. Irama yang menggabarkan tabuhan ini (dalam Tradisi Musik Dayak Kanayatn), seperti Jubata Manta (sesaji dibersihkan dan didandani sebelum dipotong), Jubata Masak (sesaji dibersihkan setelah dipotong), Jubata Babulakng (musik dan tarian untuk Jubata), dan Jubata Pulakng (mengantar Jubata pulang dengan musik). Melalui beberapa irama musik tersebut, Tuhan diagungkan dengan pemberian sesaji. Melalui musik itu pula Jubata sebagai penguasa tertinggi dijunjung dangan segala kemegahan upacara untuk memohon segala restu dan berkah dalam kehidupan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;5. Simbol Perjalanan ke Alam Gaib&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;Simbol ini mengandung makna perjalanan badan halus Pemaliatn ke alam gaib untuk mengadakan hubungan dengan makhluk halus yang mengganggu manusia dan mengembara mencari semangat orang yang diobati. Pengembaraan pencarian semangat ini dinamakan Ngarantoâ€™. Di sini tergambar adanya dua dunia sebagai wujud kesatuan, yaitu hadirnya dunia gaib pada dunia manusia. Kehadiran itu melalui suatu jembatan yang dilambangkan dengan irama musik Ngaranto.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Daya-daya magi yang terkandung dalam tari dan syair-syair lagu merupakan perwujudan ruang dan waktu yang bersifat magis. Di situ digambarkan hubungan manusia dengan Tuhan sebagai kesatuan lingkaran, dimana dalam ritual yang dianggap sakral, pemimpin upacara dipercaya dapat menyatu dengan kekuatan magis tersebut. Pada tahapan ini totalitas dunia atas dan dunia manusia senantiasa diperlukan. Dunia atas adalah substansi tak berwujud, abstrak dan tidak terindera, namun terasa kehadirannya. Epistemologi dunia atas bukan empirik dan rasional, tetapi mistik dan berhubungan dengan batin. Ia ada di dunia manusia tetapi tidak dikenal secara empirik keseharian dan di luar nalar akal manusia. Oleh karena itu, pertanda kehadiran dunia atas di dunia manusia harus dikenal lewat simbol-simbol. Seperti halnya dalam irama musik Dayak Kanayatn, dimana Dunia Atas dilambangkan dengan Agukng. Dunia Tengah atau dunia manusia dilambangkan dengan Dau. Perpaduan keduanya dilambangkan dengan â€œbunyiâ€ sebagai simbol hubungan transenden dua dunia tersebut.&lt;br/&gt;&lt;div style="text-align:center;"&gt;&lt;a href="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/08/40335_108723442517147_100001384765349_70021_6397682_n.jpg"&gt;&lt;img src="http://banuadayak.files.wordpress.com/2010/08/40335_108723442517147_100001384765349_70021_6397682_n.jpg?w=300" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;6. Simbol Penghormatan&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;Simbol penghormatan terdapat dalam irama musik Totokng yang dibawakan dalam upacara Totokng, yaitu upacara pemberian makan (prosesi Ngantukng) Kepala Kayauan (kepala manusia yang didapat dengan Mangayau).14. Di sini yang dihormati bukan orang yang mengayau, tetapi roh orang yang kepalanya dikayau. Tujuannya adalah untuk &lt;em&gt;Muakng Sangar&lt;/em&gt; (membuang dosa) atau menghindari kutuk dari orang yang dikayau.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Musik dan semua tingkah laku dalam upacara Totokng merupakan simbol penghormatan untuk roh orang yang diKayau. Hal ini karena segala sesuatu yang diekspresikan dalam upacara bertujuan untuk penghormatan, sekaligus memohon keselamatan dan keberhasilan hidup yang akan datang. Upacara ini merupakan refleksi pernyataan ketundukan manusia kepada Tuhan yang menguasai kehidupan dan jagad raya, sehingga dalam upacara tersebut terdapat dua tujuan, yaitu penghormatan kepada roh halus dan kepada Jubata yang merupakan lambang kesatuan antara Dunia Atas (kepada Jubata), Dunia Bawah (kepada roh kepala Kayauan), dan Dunia Tengah (manusia sebagai pelakunya).&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;7. Simbol Perdamaian&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;Arti perdamaian yang dikandung irama musik Dayak Kanayatn adalah lambang perdamaian dengan makhluk halus, dimana makhluk tersebut sengaja didatangkan untuk dimintai perdamaian agar tidak mengganggu manusia lagi. Perbedaan pendapat atau perselisihan dapat saja terjadi tanpa disengaja. Apalagi terhadap makhluk halus yang tidak terlihat mata telanjang. Masyarakat setempat percaya terkadang manusia mempunyai kesalahan karena kelalaiannya sendiri, seperti jalan sembarangan tanpa permisi, sehingga merusak tempat atau mainan makhluk halus dan kencing sembarangan yang dapat mengenai makhluk halus atau rumah mereka. Inilah yang menjadi penyebab makhluk halus itu marah dan membuat manusia sakit (balas dendam), sehingga kalau diobati makhluk halus tersebut harus dipanggil dan diadakan perdamaian dengan cara memberi sesaji dan memainkan irama musik Dayak Kanayatn.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Konon kabarnya jaman dahulu bila ada perdamaian antara dua suku yang bertikai, maka harus diadakan upacara adat yang diiringi musik sambil dilakukan pembayaran denda adat. Bila pertikaian kembali terjadi pada kedua suku yang bertikai tadi, maka musik ditabuh kembali untuk mengingatkan perdamaian yang pernah dilakukan kedua suku tersebut.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;8. Simbol Persatuan&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;Musik dapat dijadikan lambang persatuan masyarakat. Melalui musik orang dapat mengenali tradisinya, karena ia mempunyai ciri-ciri sesuai dengan budaya yang melingkupinya. Begitu pula musik Dayak, ia merupakan perwujudan budaya dan mengandung ciri budaya masyarakat pemiliknya. Musik dianggap sebagai gambaran ruang dan wadah kreatifitas masyarakat, serta gambaran ikatan kekeluargaan. Musik mengajarkan kepada mereka tentang nenek moyang yang sama dan menganjurkan mereka bersatu dalam ikatan kekeluargaan. Bukan saja pada manusia, melainkan juga dengan makhluk halus yang ada di dunia ini, karena mereka mempunyai satu nenek moyang sama, hanya keturunannya saja yang berbeda. Oleh karena itu setiap upacara, makhluk halus yang jahat pun mereka undang dan mereka hormati, sebagaimana layaknya manusia. Sebagai contoh ketika irama musik Dayak Kanayatn dimainkan, masyarakat akan merasa dalam suatu ikatan kekeluargaan. Rasa kebersamaan ini berimbas pula pada pergaulan di luar masyarakat Dayak. Mereka menganggap setiap orang harus dihormati, sampai kepada tradisi penyambutan tamu, dimana setiap orang datang selalu di beri makan. Seperti kata pepatah â€œjangankan talino, asu atakng kame mereâ€™ makanâ€ artinya â€œjangankan manusia, anjing datang kami beri makanâ€. Inilah yang dilambangkan dalam irama musik Dayak Kanayatn.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Simbol persatuan itu sama halnya dengan bendera. Ia hanya kain berwarna merah dan putih, namun ia mengandung simbol persatuan rakyat Indonesia. Seandainya kain merah dan putih itu belum dirangkai menjadi satu, maka kain itu bukan sebagai simbol persatuan, melainkan hanya kain biasa. Ketika dirangkai dan ditampilkan dalam bentuk bendera negara, barulah ia diakui sebagai lambang persatuan. Begitu pula dengan instrumen, hanya merupakan benda budaya biasa. Ketika instrumen itu dimainkan menjadi sebuah musik, barulah ia menjadi sebuah musik yang mengandung simbol dan diakui sebagai milik bersama. Hal demikian membuktikan bahwa musik tersebut merupakan sebuah simbol dan setelah ia diakui sebagai milik bersama, secara otomatis ia menjadi sebuah lambang persatuan masyarakat pemilik kesenian tersebut.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Kepustakaan&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;1. Lahajir, &lt;em&gt;Etnoekologi Perladangan Orang Dayak Tunjung Linggang &lt;/em&gt;(Yogyakarta: Galang Press, 2001), p. 41.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;2. Ernst Cassirer, â€œAn Easy On Man, An Introduction to a Philosophy of Human Cultureâ€, seperti yang dikutip Budiono Herusatoto dalam bukunya &lt;em&gt;Simbolisme dalam Budaya Jawa&lt;/em&gt;, op.cit., p. 9.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;3. Susan K. Langer, &lt;em&gt;â€œProblem of Artâ€, terj., Fx. Widaryanto, Problematika Seni&lt;/em&gt; (Bandung: ASTI Bandung, 1988), p. 128.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;4. Susan K. Langer, â€œFelling and Formâ€, seperti dikutip oleh Alan P. Merriam dalam bukunya â€œAnthropology of Musicâ€, terj. Triyono Bramantyo, &lt;em&gt;Antropologi Musik&lt;/em&gt; (Yogyakarta: Perpustakaan Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Bagian 3, 2005), p. 3.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;5. Alan P. Merriam, Ibid., p. 3.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;6. Wawancara langsung dengan Alimin Ala, pemain Dau Weâ€™nya, 12 April 2005, Pal 20 Ngabang, Kab. Landak, Kalimantan Barat. Diijinkan untuk dikutip.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;7. Noerid Haloei Radam, &lt;em&gt;Religi Orang Bukit&lt;/em&gt; (Yogyakarta: Yayasan Semesta, 2001), p. 30.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;8. Jakob Sumardjo, &lt;em&gt;Arkeologi Budaya Indonesia: Pelacakan Hermeneutis-Historis Terhadap Artefak-Artefak Kabudayaan Indonesia&lt;/em&gt; (Yogyakarta: Penerbit Qalam, 2002),p. 10.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;9. Mircea Eliade, â€œThe Sacred and The Frofaneâ€, terj. Nuwanto, &lt;em&gt;Sakral dan Profan: Menyingkap Kebenaran Agama&lt;/em&gt; (Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2002), p. 26.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;10. Wawancara langsung dengan Alimin Ala, pemain Dau Weâ€™nya, 12 April 2005, Pal 20 Ngabang, Kab. Landak, Kalimantan Barat. Diijinkan untuk dikutip.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;11. Dukun pergi ke gunung Bawakng untuk berkomunikasi dengan roh leluhur, roh halus, dan Jubata.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;12. J. Van Baal, â€œSymbols For Communication: An Introduction to the Anthropologycal Study of Religionâ€, seperti dikutip Noerid Haloei Radam dalam bukunya &lt;em&gt;Religi Orang Bukit&lt;/em&gt;, op.cit., p. 3.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;13. Koentjaraningrat,&lt;em&gt; Beberapa Pokok Antropologi Sosial&lt;/em&gt; (Jakarta: Dian Rakyat, 1974), p. 251.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;14. Wawancara langsung dengan Sujarni Aloy, Peneliti Institut Dayakologi, 3 Mei 2005, Jl. Budi Utomo Blok A3 No.2-4, Pontianak, Kalimantan Barat. Diijinkan untuk dikutip.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3509747544273203794-93128507370079035?l=etnikprogresif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/feeds/93128507370079035/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/08/simbol-dalam-musik-dayak-kanayatn.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/93128507370079035'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3509747544273203794/posts/default/93128507370079035'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etnikprogresif.blogspot.com/2010/08/simbol-dalam-musik-dayak-kanayatn.html' title='SIMBOL DALAM MUSIK DAYAK KANAYATN KALIMANTAN BARAT'/><author><name>mbah dinan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10973480357642906490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-zT11WGzH8D8/TrzZyXePTwI/AAAAAAAABGU/mvgB2aMy4Zc/s220/etnikprogresif.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3509747544273203794.post-7329467955838900420</id><published>2010-08-31T18:57:00.001+07:00</published><updated>2011-01-11T19:33:48.614+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suku'/><title type='text'>SUKU DAYAK BENTIAN: Suku Besar Dayak Lawangan</title><content type='html'>&lt;b&gt;DAYAK LAWANGAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Suku Besar Dayak Lawangan&lt;/b&gt; adalah Suku Besar yang menggabungkan beberapa suku Dayak dari Rumpun Ot Danum yang memiliki kedekatan kebudayaan dan adat istiadat, yaitu&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Lawangan" title="Suku Lawangan"&gt;Suku Lawangan&lt;/a&gt; ( lbx )&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Pasir" title="Suku Pasir"&gt;Suku Pasir&lt;/a&gt; ( lbx )&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Benuaq" title="Suku Benuaq"&gt;Suku Benuaq&lt;/a&gt; ( lbx )&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Bentian" title="Suku Bentian"&gt;Suku Bentian&lt;/a&gt; ( lbx )&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Suku &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dayak_Bawo" title="Dayak Bawo"&gt;Dayak Bawo&lt;/a&gt; ( lbx )&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Tunjung" title="Suku Tunjung"&gt;Suku Tunjung&lt;/a&gt; ( tjg )&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;Bahasa rumpun ini termasuk ke dalam &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Barito" title="Bahasa Barito"&gt;bahasa Barito&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Suku Bentian&lt;/b&gt; adalah suku &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dayak" title="Dayak"&gt;Dayak&lt;/a&gt; yang termasuk &lt;b&gt;Suku Besar Dayak Lawangan&lt;/b&gt;, termasuk &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rumpun_Ot_Danum" title="Rumpun Ot Danum"&gt;rumpun Ot Danum&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Suku Bentian mendiami kecamatanÂ&amp;nbsp;:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bentian_Besar,_Kutai_Barat" title="Bentian Besar, Kutai Barat"&gt;Bentian Besar, Kutai Barat&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan_Timur" title="Kalimantan Timur"&gt;Kalimantan Timur&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Muara_Lawa,_Kutai_Barat" title="Muara Lawa, Kutai Barat"&gt;Muara Lawa, Kutai Barat&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan_Timur" title="Kalimantan Timur"&gt;Kalimantan Timur&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;SUKU LAWANGAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Suku Lawangan&lt;/b&gt; merupakan salah satu dari suku-suku Dusun (Kelompok Barito bagian Timur) sehingga disebut juga &lt;b&gt;Dusun Lawangan&lt;/b&gt;. Suku-suku Dusun termasuk golongan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sukubangsa_Dayak" title="Sukubangsa Dayak"&gt;sukubangsa Dayak&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rumpun_Ot_Danum" title="Rumpun Ot Danum"&gt;rumpun Ot Danum&lt;/a&gt; sehingga disebut juga &lt;b&gt;Dayak Lawangan&lt;/b&gt;. Suku Lawangan menempati bagian timur &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan_Tengah" title="Kalimantan Tengah"&gt;Kalimantan Tengah&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Menurut situs "Joshua Project" suku Lawangan berjumlah 109.000 jiwa.&lt;br /&gt;Organisasi suku ini adalah "Dusmala" yang menggabungkan 3 suku &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dayak" title="Dayak"&gt;Dayak&lt;/a&gt; yaitu &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Dayak_Dusun" title="Suku Dayak Dusun"&gt;Dusun&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Dayak_Maanyan" title="Suku Dayak Maanyan"&gt;Maanyan&lt;/a&gt; dan Lawangan".&lt;br /&gt;Subetnis suku Dayak Lawangan adalah&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Dayak_Benuaq" title="Suku Dayak Benuaq"&gt;Suku Dayak Benuaq&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Dayak_Bentian" title="Suku Dayak Bentian"&gt;Suku Dayak Bentian&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Suku &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dayak_Bawo" title="Dayak Bawo"&gt;Dayak Bawo&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Dayak_Tunjung" title="Suku Dayak Tunjung"&gt;Suku Dayak Tunjung&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Pasir" title="Suku Pasir"&gt;Suku Pasir&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Suku_Tawoyan&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Suku Tawoyan (halaman belum tersedia)"&gt;Suku Tawoyan&lt;/a&gt; (kedekatan bahasa 77%)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Dusun_Deyah" title="Suku Dusun Deyah"&gt;Suku Dusun Deyah&lt;/a&gt; (kedekatan bahasa 53%)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;SUKU PASIR&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Suku Pasir&lt;/b&gt; adalah suku bangsa yang tanah asalnya berada di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tenggara" title="Tenggara"&gt;tenggara&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan_Timur" title="Kalimantan Timur"&gt;Kalimantan Timur&lt;/a&gt; yaitu di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Pasir" title="Kabupaten Pasir"&gt;Kabupaten Pasir&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Penajam_Paser_Utara" title="Kabupaten Penajam Paser Utara"&gt;Kabupaten Penajam Paser Utara&lt;/a&gt;. Suku Pasir sebagian besar beragama &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Islam" title="Islam"&gt;Islam&lt;/a&gt; dan telah mendirikan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan" title="Kerajaan"&gt;kerajaan&lt;/a&gt; Islam yaitu &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Pasir" title="Kesultanan Pasir"&gt;Kesultanan Pasir&lt;/a&gt; (Kerajaan Sadurangas) jadi termasuk ke dalam suku yang berbudaya &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Melayu" title="Melayu"&gt;Melayu&lt;/a&gt; (budaya kesultanan/lingkungan hukum adat Melayu). Kemungkinan suku Pasir masih berkerabat dengan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Dayak_Lawangan" title="Suku Dayak Lawangan"&gt;suku Dayak Lawangan&lt;/a&gt; yang termasuk suku &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dayak" title="Dayak"&gt;Dayak&lt;/a&gt; dari rumpun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ot_Danum" title="Ot Danum"&gt;Ot Danum&lt;/a&gt;. Suku Pasir sekarang menyebut dirinya dengan nama &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Paser" title="Paser"&gt;Paser&lt;/a&gt;. Orang &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Paser" title="Paser"&gt;Paser&lt;/a&gt; telah mengakui dirinya sebagai orang &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dayak" title="Dayak"&gt;Dayak&lt;/a&gt;. Pengakuan ini dapat terlihat dengan bergabungnya Lembaga Adat Paser d/h Orang Paser ke dalam organisasi &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dayak" title="Dayak"&gt;Dayak&lt;/a&gt; yaitu Persekutuan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dayak" title="Dayak"&gt;Dayak&lt;/a&gt; Kalimantan Timur (PDKT).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;SUKU BENUAQ &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dayak Benuaq&lt;/b&gt; adalah salah satu anak suku &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dayak" title="Dayak"&gt;Dayak&lt;/a&gt; di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan_Timur" title="Kalimantan Timur"&gt;Kalimantan Timur&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Berdasarkan pendapat beberapa ahli suku ini dipercaya berasal dari &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dayak_Lawangan" title="Dayak Lawangan"&gt;Dayak Lawangan&lt;/a&gt; sub suku &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ot_Danum" title="Ot Danum"&gt;Ot Danum&lt;/a&gt; dari &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan_Tengah" title="Kalimantan Tengah"&gt;Kalimantan Tengah&lt;/a&gt;. Lewangan juga merupakan induk dari &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Tunjung" title="Suku Tunjung"&gt;suku Tunjung&lt;/a&gt; di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan_Timur" title="Kalimantan Timur"&gt;Kalimantan Timur&lt;/a&gt;. Benuaq sendiri berasal dari kata &lt;i&gt;Benua&lt;/i&gt; dalam arti luas berarti suatu wilayah/daerah teritori tertentu, seperti sebuah negara/negeri. pengertian secara sempit berarti wilayah/daerah tempat tinggal sebuah kelompok/komunitas. Menurut cerita pula asal kata Benuaq merupakan istilah/penyebutan oleh orang Kutai, yang membedakan dengan kelompok Dayak lainnya yang masih hidup nomaden. Orang Benuaq telah meninggalkan budaya nomaden. Mereka adalah orang-orang yang tinggal di "Benua", lama-kelamaan menjadi &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Benuaq" title="Benuaq"&gt;Benuaq&lt;/a&gt;. Sedangkan kata &lt;i&gt;&lt;b&gt;Dayak&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; menurut aksen Bahasa Benuaq berasal dari kata &lt;i&gt;&lt;b&gt;Dayaq&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;&lt;b&gt;Dayeuq&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; yang berarti &lt;i&gt;&lt;b&gt;hulu&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;Menurut leluhur orang Benuaq dan berdasarkan kelompok dialek bahasa dalam Bahasa Benuaq, diyakini oleh bahwa Orang Benuaq justru tidak berasal dari Kalimantan Tengah, kecuali dari kelompok Seniang Jatu. Masing-masing mempunyai cerita/sejarah bahwa leluhur keberadaan mereka di bumi langsung di tempat mereka sekarang. Tidak pernah bermigrasi seperti pendapat para ahli.&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Salah satu versi cerita leluhur mereka adalah &lt;b&gt;Aji Tulur Jejangkat&lt;/b&gt; dan &lt;b&gt;Mook Manar Bulatn&lt;/b&gt;. Keduanya mempunyai keturunan Nara Gunaq menjadi orang Benuaq, Sualas Gunaq leluhurnya orang Tonyoy/Tunjung, Puncan Karnaq leluhurnya orang Kutai.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Orang Benuaq di kawasan hilir Mahakam dan Danau Jempang dan sekitarnya hingga Bongan dan Sungai Kedang Pahu mengaku mereka keturunan &lt;b&gt;Seniang Bumuy&lt;/b&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Seniang Jatu&lt;/b&gt; dipercaya merupakan leluhur orang Benuaq di kawasan Bentian dan Nyuatan. Dikisahkan bahwa Seniang Jatu diturunkan di Aput Pererawetn, tepi Sungai Barito, sebelah hilir Kota &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Muara_Teweh" title="Muara Teweh"&gt;Muara Teweh&lt;/a&gt; (Olakng Tiwey). Kedatangan suku (mungkin orang Lewangan, Teboyan, Dusun dan sebagainya) dari Kalimantan Tengah justru berasimilasi dengan Orang Benuaq, dan ini menyebabkan Orang Benuaq mempunyai banyak dialek.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sedangkan orang Benuaq di kawasan hulu Kedang Pahu mengaku mereka keturunan &lt;b&gt;Ningkah Olo&lt;/b&gt;. Menurut legenda Ningkah Olo pertama kali turun ke bumi, menginjakkan kakinya di daerah yang disebut dalam Bahasa Benuaq, Luntuq Ayepm (Bukit Trenggiling). Tempat ini diyakini sebagai sebuah bukit yang merupakan ujung dari Jembatan Mahakam, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Samarinda_Seberang" title="Samarinda Seberang"&gt;Samarinda Seberang&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Samarinda" title="Kota Samarinda"&gt;Kota Samarinda&lt;/a&gt;. Sisa Suku Dayak Benuaq di Kota Samarinda, akhirnya menyingkir ke utara kota, di kawasan Desa Benangaq, Kelurahan Lempake, Kecamatan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Samarinda_Utara&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Samarinda Utara (halaman belum tersedia)"&gt;Samarinda Utara&lt;/a&gt;. Jadi menurut orang &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dayak" title="Dayak"&gt;Dayak&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Benuaq" title="Benuaq"&gt;Benuaq&lt;/a&gt; justru merekalah yang pertama menjejakkan kaki di Bumi &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Samarinda" title="Samarinda"&gt;Samarinda&lt;/a&gt; jauh sebelum &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Kutai" title="Kerajaan Kutai"&gt;Kerajaan Kutai&lt;/a&gt; resmi berdiri di abad 4 M. Selanjutnya sebagian keturunannya berangsung-angsur menuju muara &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sungai_Mahakam" title="Sungai Mahakam"&gt;Sungai Mahakam&lt;/a&gt; bermukim di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Jahitan_Layar&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Jahitan Layar (halaman belum tersedia)"&gt;Jahitan Layar&lt;/a&gt; dan Tepian Batu dan sekitarnya. Sebagian yang menuju muara Mahakam, selanjutnya berlayar/berjalan ke arah selatan (Balikpapan, Paser dan Penajam). Hal ini mungkin bisa menjelaskan hubungan kekerabatan Dayak Benuaq dan Paser. Orang Benuaq di Kecamatan Bongan, Kutai Barat, berbahasa Benuaq berdialeq Paser Bawo. Sebagian lagi menuju pedalaman &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sungai_Mahakam" title="Sungai Mahakam"&gt;Sungai Mahakam&lt;/a&gt;. Sebagian keturunan yang masih 'tertinggal' di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tenggarong" title="Tenggarong"&gt;Tenggarong&lt;/a&gt;, bermukim di Kecamatan Tenggarong dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Tenggarong_Seberang&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Tenggarong Seberang (halaman belum tersedia)"&gt;Tenggarong Seberang&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;table id="toc"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;h4&gt;Tokoh Dayak Benuaq&lt;/h4&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Korrie_Layun_Rampan" title="Korrie Layun Rampan"&gt;Korrie Layun Rampan&lt;/a&gt;, Sastrawan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Yurnalis_Ngayoh" title="Yurnalis Ngayoh"&gt;Yurnalis Ngayoh&lt;/a&gt;, Wakil Gubernur &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan_Timur" title="Kalimantan Timur"&gt;Kalimantan Timur&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=1998-2003,_2003-2006&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="1998-2003, 2003-2006 (halaman belum tersedia)"&gt;1998-2003, 2003-2006&lt;/a&gt;, Gubernur &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan_Timur" title="Kalimantan Timur"&gt;Kalimantan Timur&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=2006-2008&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="2006-2008 (halaman belum tersedia)"&gt;2006-2008&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;h4&gt;Penyebaran Geografis Suku Dayak Benuaq&lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;Suku Dayak Benuaq dapat ditemui di sekitar wilayah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sungai_Kedang_Pahu" title="Sungai Kedang Pahu"&gt;Sungai Kedang Pahu&lt;/a&gt; di pedalaman &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan_Timur" title="Kalimantan Timur"&gt;Kalimantan Timur&lt;/a&gt; dan di daerah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Danau_Jempang&amp;amp;action=edit&amp;amp
